Memoar Iman & Sejarah Perjuangan GKKK Pos Pelayanan Tepas, Blitar

Pengantar: Tanah Tepas dan Kerinduan yang Bersemi

Desa Tepas berdiri kokoh di sebelah utara Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, sekitar 7 kilometer melintasi jalan alternatif yang menanjak. Di atas topografi yang berbukit ini, hidup sekitar 5.600 jiwa yang tersebar di empat dusun: Tepas Krajan, Rembang, Mberkalong, dan Dawung Randuasri.

Masyarakatnya hidup dalam kesahajaan—sebagian besar berprofesi sebagai petani, buruh, dan pedagang, sementara sebagian kecil mengabdi sebagai pegawai negeri, guru, swasta, atau mengadu nasib ke luar daerah dan luar negeri. Dalam kehidupan sosial, mereka dikenal ramah, terbuka, dan menjunjung tinggi nilai gotong royong. Secara spiritual, mayoritas penduduk memeluk agama Islam dan Hindu, berdampingan erat dengan tradisi penghormatan leluhur yang masih mengakar kuat.

Di tengah lanskap sosiologis inilah, sebuah benih iman Kristen ditaburkan, bertumbuh lambat namun pasti melalui berbagai badai zaman, hingga mekar menjadi Pos Pelayanan GKKK Tepas.

Kronika Perjalanan Iman GKKK Tepas

1. Fajar Kekristenan di Tengah Prahara (Fase 1965)

Sejarah mencatat bahwa gejolak politik nasional pasca-peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965 memicu pencarian spiritual yang masif di kalangan masyarakat yang ingin mempertegas identitas iman mereka. Di Tepas, benih kekristenan rupanya telah tertanam jauh sebelum itu melalui kehadiran Tuan Roon (Ndoro Roon), seorang pejuang kemerdekaan asal luar Jawa yang menetap di Dusun Dawung Randuasri bersama istrinya, seorang wanita setempat.

Meskipun Tuan Roon wafat dalam usia muda dan masyarakat kala itu belum memahami kekristenan, keteladanan hidupnya meninggalkan kesan mendalam bagi satu-dua orang di sekitarnya. Salah satunya adalah Bapak Kasmo, yang setelah peristiwa 1965 mantap mengikrarkan imannya kepada Kristus.

Sebuah Pesan Warisan

Sebelum berpulang, Tuan Roon meninggalkan pesan berharga kepada anak angkatnya, Ibu Karni: "Di tanahku harus didirikan gereja." Kelak, Ibu Karni mewujudkan amanat tersebut dengan menjual tanah warisan tersebut untuk dibelikan lahan tempat gereja berdiri saat ini. Sementara itu, Bapak Kasmo menjadi satu-satunya saksi iman yang menetap dan konsisten menjaga pelita imannya di Tepas hingga akhir hayatnya pada tahun 1985.

2. Langkah Awal yang Sunyi (Fase 1966–1967)

Perjalanan iman di masa ini menuntut ketangguhan fisik dan mental. Tanpa sarana transportasi dan jalan beraspal, Bapak Kasmo harus berjalan kaki atau mengayuh sepeda sejauh 7 km melewati jalan tanah berlumpur menuju Kesamben demi beribadah. Saat itu, persekutuan mula-mula dilayani oleh para penginjil dari MAAT (Madrasah Alkitab Asia Tenggara, kini SAAT) Malang di rumah-rumah jemaat.

Secara tak sengaja, di Kesamben Bapak Kasmo kerap bertemu dengan Bapak Heru Sudjanto, seorang guru asal Tepas yang tinggal di Kemirigede yang juga baru mengenal Kristus. Pertemuan ini membawa dampak berantai; melalui kesaksian Bapak Heru, orang truaku dan kerabatnya di Tepas membuka hati, hingga terbentuklah kelompok kecil yang terdiri dari 4 keluarga (sekitar 5–6 jiwa).

3. Meretas Jalan Menuju Kemandirian (Fase 1969–1979)

Ketika Pos Pelayanan GKKK Kemirigede berdiri pada tahun 1969—berjarak 1,5 km lebih dekat dibanding Kesamben—keempat keluarga ini (Bapak Kasmo, Bapak Mukohaji, Bapak Pujianto, dan Bapak Harnoto) memutuskan beribadah di sana. Namun, kerinduan untuk memiliki tempat ibadah di desa sendiri terus membara. Atas kesepakatan bersama, mereka mulai mengadakan ibadah di rumah Bapak Sumo Salimin (orang tua dari Bapak Heru Sudjanto) di Tepas.

Seperempat dekade 1970-an, persekutuan kecil ini bertahan dengan 6 hingga 8 jiwa di bawah bimbingan GKKK Kemirigede. Kebaktian dilayani secara bergiliran oleh mahasiswa Sekolah Alkitab Wlingi (SAKWI), Bapak Heru S., dan Majelis GKKK Kesamben.

Tantangan Pelayanan Transisi:

  • Jalanan tanah yang berlumpur memaksa penginjil seperti Ibu Ester (SAAT) dan Bapak Daryono (I3-Batu) menginap hingga berhari-hari bahkan berbulan-bulan.
  • Lahirnya Sekolah Minggu yang dirintis oleh Bapak Suyono (GKKK Kemirigede) menjadi oase dengan merangkul 15–16 anak-anak setempat.

4. Pembangunan Fisik dan Sentuhan Kemanusiaan (Fase 1979–1984)

Perubahan mulai terasa seiring dengan masuknya program pembangunan nasional. Pengaspalan jalan sepanjang 15 km dari Kesamben hingga Resapombo membuka keterisolasian Tepas, melancarkan mobilitas warga dan pelayanan antarpos GKKK.

Pada masa ini, kehadiran kantor pelayanan sosial Prokeska Kalam Kudus (Proyek Kesejahteraan Sosial) yang didukung oleh World Vision International (WVI) membawa berkat nyata bagi warga Tepas melalui:

  • Bantuan biaya pendidikan dan peralatan sekolah anak kurang mampu.
  • Bantuan biaya pengobatan.
  • Pengadaan pipanisasi air bersih ke rumah penduduk.
  • Pemutaran film rohani dan pendidikan.

Misi kemanusiaan ini dipimpin oleh Bapak Mukohaji, yang kemudian dilanjutkan oleh Bapak Saridal setelah Bapak Mukohaji wafat pada tahun 1984. Sebagai pendatang yang menetap di Tepas, Bapak Saridal membawa gairah baru dalam penginjilan dan mempelopori pengadaan rumah ibadah mandiri.

Jemaat akhirnya berhasil membeli sebuah bangunan sederhana berukuran 5 x 6 meter berbahan kayu dan bambu (gubuk) di atas lahan seluas kurang lebih 600 m². Melalui komitmen bersama, bantuan sinode, serta keikhlasan jemaat yang merelakan tanah pribadi sebagai pengganti, lahan tersebut sepenuhnya menjadi milik gereja. Kehadiran jemaat pun melonjak hingga mencapai 10 keluarga dan sekitar 30 anak sekolah minggu.

5. Pasang Surut Iman dan Pembangunan Gedung Gereja (Fase 1985–1990)

Guna menggantikan bangunan "gubuk" yang mulai reot, jemaat bertekad membangun gedung gereja permanen berukuran 7 x 14 meter. Namun, karena keterbatasan dana, pembangunan sempat terhenti pada kondisi 30% (hanya dinding bata tanpa atap).

Di tengah ancaman kerusakan akibat cuaca dan robohnya satu sisi dinding diterpa angin, jemaat bahu-membahu memasang atap genteng secara mandiri hingga gedung bisa digunakan untuk berteduh walau baru mencapai kondisi 60%.

Potret Kehidupan Jemaat Akhir 80-an:

  • Belum ada listrik; ibadah malam beralaskan tikar di bawah temaram lampu minyak.
  • Kebaktian keluarga malam hari justru lebih diminati (25–30 orang) karena jemaat baru pulang dari sawah selepas sore.
  • Kebiasaan sinkretisme leluhur (sesaji sawah, kenduri kematian) masih membayangi iman sebagian jemaat tua.
  • Kemeriahan Natal selalu menjadi magnet kerukunan dengan mengundang warga lintas iman.

Ketiadaan gembala tetap dan berakhirnya program Prokeska sempat membawa kelesuan spiritual. Jemaat seperti berjalan di tempat, hanya mengandalkan mahasiswa praktik dari STT IAA Wlingi atau SAAT Malang yang datang silih berganti.

6. Badai Konflik dan Kebangkitan Kembali (Fase 1991–1995)

Awal era 90-an menjadi periode ujian terberat bagi jemaat Tepas. Kehilangan beberapa keluarga yang bertransmigrasi, arus urbanisasi kaum muda, serta masuknya arus modernisasi (TV/Radio) tanpa pembinaan iman yang kuat memicu kemerosotan moral. Puncaknya, terjadi konflik internal antartokoh jemaat yang memicu perpecahan. Sebagian jemaat undur diri, dan beberapa keluarga memutuskan menyeberang ke denominasi lain.

Melihat situasi kritis ini, Majelis Umum (MU) turun tangan ke Tepas. Mereka mengadakan forum terbuka dan mengedukasi jemaat tentang tata kelola organisasi gereja. Langkah konkret pun diambil:

  • 26 April 1993: Terbentuk kepengurusan mandiri pertama GKKK Tepas periode 1993–1995.
  • 20 Juni 1993: Peneguhan pengurus oleh Pdt. Hariyono (GKKK Kesamben).
  • Kehadiran Ev. Chris Biantoro (STT IAA Wlingi): Mahasiswa praktik yang kemudian menetap satu tahun ini menjadi motor penggerak pemulihan spiritualitas jemaat.

Perlahan, awan mendung berganti cerah. Jiwa-jiwa yang terhilang kembali pulang, kelas Sekolah Minggu kembali semarak, dan angka baptisan dewasa meningkat. Pembenahan fisik pun dikejar: pemasangan plafon, penggantian bangku, dan instalasi listrik dilakukan hingga gereja tampil anggun menyambut Natal 1994.

Rekonsiliasi indah terjadi ketika tokoh jemaat yang sempat berselisih menyerahkan dokumen kepemilikan tanah gereja secara baik-baik di depan jemaat sebelum berpamitan mundur secara damai. Pada pertengahan 1995, Ev. Chris Biantoro, Sm.Th. resmi ditunjuk sebagai gembala tetap GKKK Tepas, menempati pastori baru yang kini telah dilengkapi fasilitas memadai.

7. Era Konsolidasi dan Kemandirian (Fase 1996–2000)

Memasuki gerbang milenium baru, GKKK Tepas telah bertransformasi menjadi gereja yang sehat, mandiri, dan berdampak. Transparansi keuangan bulanan mulai diterapkan secara terbuka di hadapan jemaat. Kompleks gereja kini dilengkapi pagar halaman yang rapi, fasilitas kolam ikan pendukung operasional, serta kapasitas ruang ibadah yang mampu menampung hingga 120 jiwa.

Gereja juga aktif menerima pembinaan dari dosen-dosen SAAT Malang serta LPMI Blitar. Di tengah kemajemukan Desa Tepas, jemaat merawat toleransi dengan sangat baik—terlibat dalam kegiatan nasional dan merajut silaturahmi saat hari raya keagamaan lain.

Kini, GKKK Tepas telah mengantongi sertifikat tanah serta Izin Mendirikan Bangunan (IMB) resmi. Jemaatnya yang kini mencakup 29 kepala keluarga (sekitar 120–130 jiwa) hidup menetap dalam radius yang berdekatan di sekitar gereja, menjaga api iman agar tetap menyala di tanah Tepas.

Struktur Kegiatan Ibadah GKKK Tepas

Untuk menjaga pertumbuhan iman dan persekutuan yang harmonis, berikut adalah jadwal pelayanan rutin yang diselenggarakan di GKKK Tepas:

Hari Waktu Kegiatan
Minggu 10:00 WIB Kebaktian Umum
19:00 WIB Kebaktian Sekolah Minggu
Senin 19:00 WIB Ibadah Keluarga (Anjangsana)
Rabu 19:00 WIB Persekutuan Doa
Kamis 19:00 WIB Persekutuan Kaum Bapak
Jumat 19:00 WIB Persekutuan Kaum Ibu
Sabtu 19:00 WIB Kebaktian Remaja / Pemuda

Lembar Pengesahan Sejarah

Kisah perjalanan iman ini disusun berdasarkan kesaksian para pelaku sejarah yang mengawal jalannya pelayanan di GKKK Pos Pelayanan Tepas:

  • Saksi Generasi Pertama: Ev. Chris Biantoro & Ev. Nita Kusuma
  • Saksi Generasi Kedua: Bp. Saridal, Bu Sriasih, Bp. Karji, & Bu Karti
  • Penanggung Jawab (PIC): Pdt. Yanes Susanto, S.Th.