Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian "Hidupku Hanya untuk Memuliakan-Mu"

Daftar kemenangan Israel sebagai anugerah Tuhan  Judul Teks Thumbnail

Hidupku Hanya untuk Memuliakan-Mu

Yosua 12

Prestasi dan ambisi sering kali menyusup secara halus dalam pelayanan dan kehidupan rohani kita. Kita melayani Tuhan, tetapi diam-diam ingin diakui. Kita bekerja keras, tetapi berharap nama kita dikenang.

Yosua 12 adalah pasal yang berisi daftar panjang raja-raja yang ditaklukkan dan wilayah yang diduduki Israel (ay.1–24). Jika mengikuti kebiasaan raja-raja dunia timur dekat kuno, daftar seperti ini biasanya menjadi monumen kejayaan pribadi seorang penguasa—catatan kebanggaan yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Namun daftar ini berbeda.

Alkitab tidak menonjolkan satu nama sebagai pahlawan tunggal. Yang ditekankan justru kebersamaan umat dan karya Allah.
“Orang Israel menduduki…” (ay.1)
“Musa, hamba TUHAN itu, beserta orang Israel…” (ay.6)
“Yosua dan orang Israel…” (ay.7)

Penaklukan itu bukan proyek pribadi Musa atau Yosua. Itu adalah karya Allah melalui umat-Nya. Raja-raja Kanaan takluk bukan karena strategi militer yang luar biasa, melainkan karena kehendak Tuhan yang setia pada janji-Nya.

Di sinilah kita belajar satu hal penting: kemenangan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu merupakan hasil dari anugerah Tuhan.

Betapa mudahnya kita mengambil kredit atas keberhasilan hidup:

  • Karier yang berhasil

  • Pelayanan yang berkembang

  • Keluarga yang diberkati

  • Masalah yang teratasi

Tanpa sadar kita berkata dalam hati, “Karena kerja kerasku… karena kepintaranku… karena strategiku…”

Padahal jika Tuhan tidak menyertai, tidak ada satu pun kemenangan yang bisa kita raih.

Pasal ini mengajak kita berhenti sejenak dan melihat ke belakang, seperti Israel yang melihat daftar kemenangan mereka. Tetapi alih-alih membanggakan diri, mereka diingatkan bahwa semuanya terjadi karena Tuhan.

Hidup kita pun seharusnya menjadi daftar panjang kesetiaan Tuhan—bukan daftar prestasi pribadi.

Maka respons yang tepat bukanlah mencari nama, melainkan memuliakan Nama-Nya. Bukan mengejar kebesaran, melainkan menjadi hamba yang taat. Ketaatan lahir dari hati yang percaya penuh kepada Allah yang kita kasihi.

Kiranya setiap pencapaian dalam hidup membuat kita semakin rendah hati, semakin bergantung, dan semakin rindu berkata:

“Tuhan, hidupku hanya untuk memuliakan-Mu.”

Doa

Tuhan, ampuni aku jika sering mengambil kemuliaan yang seharusnya menjadi milik-Mu. Ajarku menyadari bahwa setiap keberhasilan adalah anugerah-Mu. Biarlah hidupku, pelayananku, dan setiap pencapaianku hanya memuliakan nama-Mu. Amin.

Share:

Renungan Harian "Jalani Proses Hidup Ini"

Proses panjang penaklukan Kanaan bersama Tuhan

Jalani Proses Hidup Ini

Yosua 11:16–23

Berjalan bersama Tuhan bukanlah perjalanan instan. Kita hidup di zaman yang serba cepat—jawaban cepat, hasil cepat, perubahan cepat. Namun pertumbuhan rohani tidak pernah lahir dari proses yang tergesa-gesa.

Sekilas, kisah penaklukan Kanaan tampak seperti rangkaian kemenangan yang cepat dan spektakuler. Tetapi Alkitab mencatat bahwa Yosua berperang melawan raja-raja itu dalam waktu yang lama (ay.18). Penaklukan itu mencakup pegunungan, tanah Negeb, tanah datar, lereng-lereng gunung, bahkan wilayah orang Enak (ay.16–17, 21–22). Proses itu memakan waktu sekitar tujuh tahun.

Dahulu, orang Enak adalah sumber ketakutan besar bagi Israel pada zaman Musa (Bilangan 13–14). Postur tubuh mereka yang besar membuat para pengintai gentar dan bangsa itu kehilangan iman. Namun dalam bagian ini, ketakutan itu tidak lagi menguasai. Orang Enak ditaklukkan. Apa yang dahulu menjadi momok, kini menjadi bagian dari kemenangan.

Mengapa? Karena selama proses itu, umat belajar melihat penyertaan TUHAN yang nyata.

Kita sering menginginkan kemenangan yang cepat atas pergumulan hidup—atas dosa, kelemahan, konflik, atau ketidakpastian masa depan. Kita ingin perubahan yang drastis dalam waktu singkat. Namun kisah Yosua mengingatkan bahwa Tuhan sering membentuk kita melalui proses yang panjang.

Bahkan sampai akhir hidupnya, pekerjaan penaklukan belum sepenuhnya selesai (bdk. Hakim-hakim 1). Artinya, perjalanan iman adalah perjalanan seumur hidup. Selalu ada wilayah baru yang harus ditaklukkan—wilayah karakter, ketaatan, dan kepercayaan kepada Tuhan.

Saat proses terasa lambat, kita mudah menjadi tidak sabar. Kita merasa tidak ada kemajuan. Namun ketika kita menoleh ke belakang, sering kali kita menyadari: Tuhan tidak pernah berhenti bekerja.

Apa yang dulu menakutkan, sekarang sudah bisa kita hadapi.
Apa yang dulu mustahil, kini menjadi kesaksian.
Apa yang dulu membuat kita ragu, kini menguatkan iman.

Jalani proses itu. Jangan menyerah pada keinginan untuk serba instan. Tuhan lebih tertarik membentuk hati kita daripada sekadar memberi hasil cepat.

Karena dalam proses itulah kita belajar mengenal-Nya lebih dalam—dan itulah kemenangan yang sejati.

Doa

Tuhan, ampuni aku ketika aku menjadi tidak sabar dalam proses hidupku. Ajarku menikmati setiap tahap pertumbuhan yang Engkau izinkan terjadi. Tolong aku percaya bahwa Engkau tetap bekerja, bahkan ketika aku belum melihat hasilnya. Amin.

Share:

Renungan Harian "Taat Saja, Itu Cukup!"

Yosua taat pada perintah Tuhan saat menghadapi pasukan besar

Taat Saja, Itu Cukup!

Yosua 11:1–15

Ketaatan adalah wujud nyata iman. Sebaliknya, ketidaktaatan sering kali lahir dari hati yang ragu atau tidak percaya sepenuhnya kepada Tuhan.

Dalam Yosua 11, tantangan yang dihadapi Israel jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Yabin, raja Hazor, menggalang kekuatan dari banyak raja di wilayah utara. Pasukan mereka digambarkan “sebanyak pasir di tepi laut” dengan kuda dan kereta perang yang sangat banyak (ay.1–5). Secara militer, ini ancaman yang menakutkan.

Namun Tuhan kembali berfirman, “Janganlah takut kepada mereka…” (ay.6). Janji penyertaan dan kemenangan kembali ditegaskan.

Apa respons Yosua? Ia taat.

Ia tidak menawar perintah Tuhan. Ia tidak mencari strategi alternatif yang lebih “aman”. Ia melakukan tepat seperti yang diperintahkan TUHAN (ay.9). Bahkan dicatat bahwa ia melakukan semuanya seperti yang telah diperintahkan TUHAN kepada Musa (ay.12, 15). Tidak dikurangi, tidak ditambah.

Di sinilah letak kekuatan Yosua: bukan pada kecakapannya sebagai panglima, tetapi pada ketaatannya sebagai hamba Tuhan.

Sering kali kita merasa taat ketika keadaan mendukung. Namun ketaatan sejati justru terlihat ketika situasi terasa mustahil. Ketika lawan tampak lebih besar. Ketika sumber daya terbatas. Ketika hasil belum terlihat.

Yosua menunjukkan bahwa firman Tuhan cukup menjadi pegangan. Janji Tuhan cukup menjadi dasar keberanian. Ia tidak perlu melihat seluruh peta kemenangan; ia hanya perlu melangkah dalam ketaatan.

Dalam hidup, banyak hal tidak bisa kita kendalikan:

  • Kita tidak bisa mengontrol tindakan orang lain.

  • Kita tidak selalu memahami alasan di balik situasi sulit.

  • Kita tidak selalu memiliki semua fakta.

Tetapi satu hal yang bisa kita kendalikan adalah respons kita: apakah kita akan taat atau tidak.

Ketaatan mungkin tampak sederhana. Bahkan terkadang terasa “hanya itu-itu saja.” Namun justru di situlah letak kedewasaan iman. Taat saja. Itu cukup.

Karena pada akhirnya, kemenangan bukan hasil kepintaran kita, melainkan karya Tuhan bagi mereka yang setia melakukan kehendak-Nya.

Doa

Tuhan, ajarku untuk taat bukan karena keadaan mendukung, tetapi karena aku percaya kepada-Mu. Ketika tantangan terasa besar, kuatkan aku untuk tetap berpegang pada firman-Mu. Biarlah hidupku ditandai oleh ketaatan yang setia. Amin.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 22 Februari 2026

 

Share:

Renungan Harian "Pembalasan Bukan Hakmu"

Yosua percaya Tuhan berperang bagi Israel saat melawan raja-raja Amori

Pembalasan Bukan Hakmu

Yosua 10

Dibohongi itu menyakitkan. Hati terasa dikhianati. Secara manusiawi, ketika orang yang pernah menipu kita datang meminta tolong, respons yang muncul bisa saja: “Rasakan sendiri akibatnya.”

Namun, itulah yang tidak dilakukan Yosua.

Ketika orang Gibeon—yang sebelumnya memperdaya Israel (Yosua 9)—memohon pertolongan karena dikepung lima raja Amori (ay.5–6), Yosua tidak menolak. Ia tidak mengungkit masa lalu. Ia tidak menunda bantuan. Sebaliknya, ia segera berangkat bersama seluruh tentaranya (ay.7).

Mengapa?

Karena baginya, perjanjian yang telah dibuat di hadapan TUHAN tetaplah perjanjian. Integritas lebih penting daripada rasa sakit pribadi. Dan lebih dari itu, Yosua percaya pada janji penyertaan Tuhan. Tuhan sendiri menegaskan, “Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyerahkan mereka ke dalam tanganmu.” (ay.8).

Kemenangan demi kemenangan yang dicatat dalam pasal ini bukan terutama tentang kehebatan militer Israel, melainkan tentang Tuhan yang berperang bagi umat-Nya. Bahkan Tuhan membuat matahari dan bulan seakan berhenti, menunjukkan bahwa kuasa-Nya melampaui hukum alam.

Di sini kita melihat dua hal penting:

  1. Integritas di atas emosi.
    Yosua tidak membiarkan luka masa lalu menentukan tindakannya.

  2. Percaya bahwa Tuhan yang membela.
    Ia tidak perlu membalas, karena Tuhanlah yang berperang.

Sering kali kita merasa perlu membalas supaya keadilan ditegakkan. Namun kisah ini mengingatkan: pembalasan bukan hak kita. Ketika kita memilih setia pada komitmen dan menyerahkan pembelaan kepada Tuhan, kita sedang memberi ruang bagi Allah untuk bekerja.

Tidak mudah membantu orang yang pernah menyakiti kita. Tetapi sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk hidup melampaui reaksi spontan. Kita dipanggil menjadi perpanjangan tangan Tuhan—bahkan kepada mereka yang pernah bersalah kepada kita.

Biarlah hidup kita tidak digerakkan oleh dendam, melainkan oleh iman kepada Allah yang berdaulat. Dia melihat. Dia tahu. Dan Dia yang berperang bagi umat-Nya.

Doa

Tuhan, ajarku untuk tidak dikuasai oleh keinginan membalas. Beri aku hati yang berintegritas dan iman yang percaya bahwa Engkaulah yang membela dan berperang bagiku. Pakailah aku menjadi alat-Mu untuk menolong dan memberkati orang lain. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.