Kemuliaan Hanya Bagi Tuhan
Dalam hidup, kita sering merasa bangga saat berhasil.
Ketika usaha kita membuahkan hasil,
kita mudah berkata, “Ini karena aku.”
Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan sesuatu yang penting.
Saat Gideon hendak berperang,
Tuhan justru mengurangi jumlah pasukannya.
Secara logika, ini tidak masuk akal.
Semakin sedikit pasukan, semakin kecil peluang menang.
Namun Tuhan punya tujuan:
agar Israel tidak menyombongkan diri.
Tuhan tidak ingin mereka berkata,
“kami menang karena kekuatan kami sendiri.”
Bukankah ini juga sering terjadi dalam hidup kita?
Saat berhasil, kita lupa Tuhan.
Saat kuat, kita merasa tidak butuh Tuhan.
Saat semuanya berjalan baik, kita mulai mengandalkan diri sendiri.
Padahal, semua yang kita miliki berasal dari Tuhan.
Yang indah dari Gideon adalah responsnya.
Ketika ia tahu Tuhan akan memberi kemenangan,
ia tidak meninggikan diri—
ia justru sujud menyembah.
Ia sadar, kemenangan itu bukan karena dirinya,
tetapi karena Tuhan.
Hari ini, kita diajak untuk memiliki hati yang sama.
Bukan hanya datang kepada Tuhan saat kita lemah,
tetapi juga tetap rendah hati saat kita kuat.
Karena hidup kita bukan tentang membuktikan diri,
tetapi tentang memuliakan Tuhan.
Apa pun yang kita capai hari ini—
pekerjaan, pelayanan, keluarga, keberhasilan—
semua itu karena anugerah Tuhan.
Mari belajar berkata dengan tulus:
“Kemuliaan hanya bagi Tuhan.”
Doa
Tuhan,
terima kasih untuk setiap berkat dalam hidupku.
Ampuni aku jika aku sering menyombongkan diri
dan melupakan peran-Mu dalam hidupku.
Ajarku untuk tetap rendah hati,
dan selalu mengingat bahwa semua berasal dari-Mu.
Biarlah hidupku memuliakan nama-Mu,
dalam setiap keberhasilan dan pencapaianku.
Amin.
















