Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 15 Maret 2026

 

Share:

Renungan Harian "Tetap Berpaut pada Tuhan"

Orang berpegangan pada batu karang sebagai simbol berpaut pada Tuhan dalam firman Tuhan

Tetap Berpaut pada Tuhan

Renungan dari Yosua 23

Setiap orang yang berada di akhir hidupnya biasanya akan menyampaikan pesan yang paling penting bagi orang-orang yang ditinggalkan. Pesan itu bukan sekadar kata-kata biasa, tetapi sesuatu yang dianggap sangat berharga.

Demikian juga dengan Yosua. Di akhir hidupnya, ia memberikan wasiat kepada bangsa Israel. Dari seluruh pesan yang ia sampaikan, inti pesannya sebenarnya sangat sederhana namun sangat penting:

tetap berpaut kepada Tuhan.

Bangsa Israel saat itu sedang menikmati masa yang baik. Mereka telah memasuki tanah perjanjian. Mereka hidup dalam keamanan dan kelimpahan. Justru dalam keadaan seperti itulah bahaya sering muncul—hati manusia mudah berpaling dari Tuhan.

Yosua tahu bahwa godaan terbesar bagi umat Tuhan bukan hanya penderitaan, tetapi juga kenyamanan. Ketika hidup terasa cukup, kita bisa mulai bersandar pada kekuatan sendiri, pada harta, atau pada hal-hal yang terlihat.

Karena itu Yosua mengingatkan mereka akan dua hal penting.

Pertama, ingatlah perbuatan Tuhan di masa lalu.
Semua yang mereka miliki bukan hasil kekuatan mereka sendiri. Tuhanlah yang berperang bagi mereka, Tuhanlah yang memberi kemenangan, dan Tuhanlah yang membawa mereka sampai di tanah perjanjian.

Ketika kita mengingat karya Tuhan dalam hidup kita, hati kita akan tetap rendah hati dan terus bergantung kepada-Nya.

Kedua, jangan terpengaruh oleh lingkungan yang menjauhkan dari Tuhan.
Bangsa Israel hidup di tengah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Jika mereka tidak berhati-hati, mereka bisa mengikuti cara hidup yang sama dan akhirnya berpaling dari Tuhan.

Hal ini juga berlaku bagi kita. Dunia di sekitar kita sering menawarkan banyak hal yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Apakah aku masih berpaut pada Tuhan?
Ataukah aku mulai lebih bergantung pada diriku sendiri?

Tetaplah dekat dengan Tuhan. Ingatlah selalu kebaikan-Nya, dan jagalah hati agar tidak terbawa oleh pengaruh yang menjauhkan kita dari-Nya.

Doa

Tuhan, terima kasih atas segala kebaikan-Mu dalam hidupku. Engkau yang memimpin dan menolongku sampai hari ini. Tolong aku untuk selalu berpaut kepada-Mu dan tidak mengandalkan kekuatanku sendiri. Jagalah hatiku agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang menjauhkan aku dari-Mu. Amin.

Share:

Renungan Harian "Menghindari Konflik dengan Komunikasi yang Bijak"

Dua kelompok berdialog damai sebagai simbol komunikasi bijak dalam firman Tuhan

Menghindari Konflik dengan Komunikasi yang Bijak

Renungan dari Yosua 22:9–34

Konflik sering muncul dalam hubungan manusia.
Di keluarga, di tempat kerja, bahkan di dalam pelayanan. Banyak konflik sebenarnya bukan karena masalah besar, tetapi karena kesalahpahaman dan komunikasi yang buruk.

Hal seperti itu juga hampir terjadi di antara suku-suku Israel.

Ketika suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye kembali ke wilayah mereka di sebelah timur Sungai Yordan, mereka mendirikan sebuah mezbah yang besar. Suku-suku Israel lainnya yang tinggal di Kanaan langsung curiga. Mereka mengira mezbah itu didirikan untuk menyembah allah lain.

Kecurigaan ini sangat serius. Dalam pengalaman sebelumnya, penyembahan kepada allah lain pernah mendatangkan hukuman Tuhan atas seluruh bangsa. Karena itu, mereka sangat waspada.

Namun yang menarik adalah cara mereka menyelesaikan masalah ini.

Mereka tidak langsung menyerang.
Mereka tidak langsung menghakimi.

Sebaliknya, mereka mengutus delegasi yang dipimpin oleh Pinehas untuk berbicara dengan suku Ruben, Gad, dan Manasye. Mereka bertanya dan mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika penjelasan diberikan, barulah mereka mengerti bahwa mezbah itu bukan untuk penyembahan lain. Mezbah itu hanya menjadi tanda pengingat bahwa mereka tetap satu umat yang menyembah Tuhan yang sama.

Kesalahpahaman pun selesai. Konflik besar yang hampir terjadi berhasil dihindari.

Dari kisah ini kita belajar dua hal penting tentang komunikasi yang sehat.

Pertama, bertanya sebelum menuduh.
Sering kali kita cepat mengambil kesimpulan tentang orang lain tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya.

Kedua, mau mendengarkan dengan hati terbuka.
Ketika kita benar-benar mendengar, sering kali kita menemukan bahwa masalahnya tidak sebesar yang kita bayangkan.

Renungan ini mengajak kita untuk lebih bijaksana dalam berkomunikasi. Jangan terburu-buru menilai orang lain. Jangan biarkan prasangka merusak hubungan.

Belajarlah bertanya dengan rendah hati dan mendengarkan dengan empati. Dengan cara itu, banyak konflik dapat diselesaikan bahkan sebelum menjadi besar.

Doa

Tuhan, ajar aku untuk memiliki hati yang bijaksana dalam berkomunikasi. Tolong aku untuk tidak cepat menuduh atau menghakimi orang lain. Beri aku kerendahan hati untuk mendengar dan memahami. Pakailah kata-kataku untuk membawa damai, bukan konflik. Amin.

Share:

Renungan Harian "Jangan Melupakan Tuhan"

Seseorang bersyukur di puncak bukit sebagai simbol mengingat Tuhan dalam firman Tuhan

Jangan Melupakan Tuhan

Renungan dari Yosua 22:1–8

Dalam hidup, sering kali kita lebih mudah mencari Tuhan saat sedang kesulitan. Ketika masalah datang, ketika kebutuhan terasa berat, kita berdoa dengan sungguh-sungguh dan berharap Tuhan menolong kita.

Namun ketika keadaan berubah menjadi lebih baik, ketika berkat datang dan hidup terasa nyaman, tanpa sadar kita mulai melupakan Tuhan.

Inilah salah satu godaan terbesar dalam perjalanan iman.

Bangsa Israel akhirnya memasuki tanah Kanaan. Tuhan telah menepati janji-Nya. Mereka menerima tanah pusaka, menikmati ketenteraman, dan merasakan berkat yang melimpah. Orang Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye juga sudah menerima bagian mereka seperti yang dijanjikan Tuhan melalui Musa.

Di tengah situasi yang penuh berkat itu, Yosua memberikan pesan yang sangat penting:
jangan melupakan Tuhan.

Yosua mengingatkan mereka untuk tetap mengasihi Tuhan, berpegang pada firman-Nya, dan setia melakukan kehendak-Nya. Berkat yang mereka terima seharusnya tidak membuat mereka jauh dari Tuhan, tetapi justru semakin mendekat kepada-Nya.

Renungan ini juga berbicara kepada kita hari ini.

Tuhan telah memberikan begitu banyak kebaikan dalam hidup kita. Ia memberi keselamatan melalui Yesus Kristus. Ia memelihara hidup kita setiap hari. Ia menolong kita melewati berbagai pergumulan.

Tetapi apakah kita tetap mengingat Tuhan ketika hidup berjalan baik?

Jangan sampai berkat membuat kita lupa kepada Sang Pemberi berkat. Jangan sampai kenyamanan membuat kita berhenti bersandar kepada Tuhan.

Sebaliknya, setiap berkat seharusnya menjadi alasan untuk semakin mengasihi Tuhan dan hidup setia kepada-Nya.

Mari kita belajar untuk tetap dekat dengan Tuhan, baik saat susah maupun saat senang.

Doa

Tuhan, terima kasih atas segala kebaikan dan berkat-Mu dalam hidupku. Ampuni aku jika sering melupakan Engkau ketika hidup terasa nyaman. Tolong aku untuk selalu mengingat-Mu, mengasihi-Mu, dan hidup setia kepada firman-Mu dalam setiap keadaan. Amin.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 8 Maret 2026

 

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.