Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian "Anugerah yang Manusiawi"

Yosua membuat perjanjian dengan orang Gibeon tanpa meminta keputusan Tuhan

Anugerah yang Manusiawi

Yosua 9

Banyak keputusan dalam hidup diambil tanpa sungguh-sungguh bertanya kepada Tuhan. Atau kita bertanya, tetapi ketika tidak ada jawaban yang jelas, kita menafsirkan perasaan atau pikiran tertentu sebagai suara Tuhan. Akhirnya, keputusan lebih banyak lahir dari tafsir kita sendiri daripada dari penantian yang sabar akan kehendak-Nya.

Dalam Yosua 9, kita dapat bersimpati kepada Yosua. Ketika raja-raja bangsa Kanaan bersatu melawan Israel, orang Gibeon justru memakai siasat. Mereka berpura-pura datang dari negeri yang jauh, membawa roti kering dan kantong anggur yang usang, agar Israel mengira mereka bukan bagian dari tanah yang harus ditaklukkan.

Teks itu menyatakan dengan jelas: “Orang-orang Israel mengambil bekal mereka, tetapi tidak meminta keputusan TUHAN.” (ay.14). Di situlah letak persoalannya. Bukan pada kecerdikan orang Gibeon semata, tetapi pada kelalaian Israel untuk mencari wajah Tuhan.

Yosua lalu mengikat perjanjian damai dengan mereka atas nama TUHAN. Secara manusiawi, keputusan itu masuk akal. Secara rohani, ada langkah yang terlewat: bertanya kepada Allah.

Namun yang menarik, kita tidak melihat Tuhan murka secara langsung kepada Israel dalam bagian ini. Bahkan dalam pasal berikutnya, Tuhan tetap menyertai Israel ketika mereka harus membela Gibeon dari serangan raja-raja lain. Di sini kita melihat sesuatu yang indah: Allah yang penuh anugerah tetap bekerja di tengah keputusan manusia yang tidak sempurna.

Lebih jauh lagi, Israel tidak membatalkan perjanjian itu ketika mengetahui bahwa mereka telah tertipu. Mereka tetap setia karena perjanjian itu dibuat di hadapan TUHAN. Mereka takut akan Allah yang setia menepati janji-Nya. Karena Allah setia, mereka pun belajar setia.

Dari kisah ini kita belajar dua hal penting:

  1. Kita dipanggil untuk melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan.

  2. Ketika kita sudah terlanjur salah langkah, anugerah Tuhan tetap menyertai dan menuntun kita bertumbuh.

Setiap keputusan adalah bagian dari perjalanan iman. Tidak semua keputusan kita sempurna. Namun Allah melihat hati yang rindu taat. Ia tidak membuang kita ketika kita keliru. Ia mendidik, membentuk, dan menumbuhkan kita melalui proses itu.

Mari belajar untuk lebih peka mencari kehendak Tuhan. Dan ketika kita menyadari kesalahan, mari tetap bertanggung jawab dan setia pada komitmen yang telah kita buat di hadapan-Nya.

Doa

Tuhan, ajarku untuk tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Beri aku hati yang mau mencari kehendak-Mu lebih dahulu. Dan ketika aku keliru, tolong aku bertumbuh dalam anugerah-Mu dan tetap setia pada komitmen yang telah kuucapkan. Amin.

Share:

Renungan Harian "Bukan PHP (Pemberi Harapan Palsu)"

 

Yosua setia membacakan Taurat sebagai tanda integritas dan ketaatan

Bukan PHP (Pemberi Harapan Palsu)

Yosua 8:30–35

Dalam masa sulit, kita mudah mengucapkan janji. “Kalau Tuhan menolongku keluar dari masalah ini, aku akan lebih setia.” “Kalau usahaku berhasil, aku akan lebih banyak melayani.” Namun ketika keadaan sudah membaik, janji itu perlahan menghilang dari ingatan.

Yosua tidak seperti itu.

Setelah kemenangan atas Ai, Yosua melakukan sesuatu yang mungkin dianggap tidak mendesak secara militer: ia membangun mezbah bagi Tuhan dan membacakan seluruh hukum Taurat di hadapan umat. Ia melakukan apa yang dahulu diperintahkan Musa. Padahal Musa sudah tiada. Tidak ada lagi yang “mengawasi”. Namun Yosua tetap setia.

Ia tidak melupakan pesan yang pernah diterimanya. Ia tidak memilih jalan praktis. Ia tidak menjadi pemimpin yang hanya pandai berjanji, tetapi lalai menepati.

Sikap Yosua mencerminkan karakter Tuhan sendiri—Allah yang tidak pernah memberi harapan palsu. Apa yang Ia janjikan, Ia genapi. Kesetiaan Tuhan menjadi dasar bagi kesetiaan umat-Nya.

Menariknya, Yosua tidak hanya setia secara pribadi. Ia memastikan seluruh umat mendengar firman Tuhan—tua, muda, laki-laki, perempuan, bahkan orang asing di tengah mereka. Ia tahu bahwa keberhasilan bangsa itu tidak bergantung pada kekuatan militer, tetapi pada ketaatan kepada firman.

Renungan ini mengajak kita bertanya:
Apakah kita mudah berjanji kepada Tuhan dan sesama, tetapi lambat menepatinya?

Kesetiaan bukan soal dilihat atau tidak. Kesetiaan adalah soal integritas di hadapan Tuhan. Janji yang kita ucapkan seharusnya selaras dengan firman-Nya, dan ketika kita mengucapkannya, kita bertanggung jawab untuk menepatinya.

Hari ini mari kita belajar dari Yosua. Jangan menjadi pemberi harapan palsu—baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. Biarlah hidup kita mencerminkan kesetiaan Allah yang lebih dahulu setia kepada kita.

Doa

Tuhan, ampunilah aku jika aku pernah lalai menepati janji. Ajarku memiliki hati yang setia dan berintegritas. Tolong aku hidup dalam terang firman-Mu dan setia melakukan apa yang telah kujanjikan sesuai kehendak-Mu. Amin

Share:

Renungan Harian " Jalan Tuhan Mustahil Ditebak"

Tuhan memakai strategi dan hikmat Yosua untuk mengalahkan Ai

Jalan Tuhan Mustahil Ditebak

Yosua 8:1–29

Sering kali ketika Tuhan menolong kita dengan cara tertentu, kita berharap Ia akan selalu memakai cara yang sama. Jika dulu Ia menolong melalui seseorang, kita berharap orang itu lagi yang dipakai. Jika dulu masalah selesai secara ajaib, kita berharap mukjizat yang sama terulang.

Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: jalan Tuhan tidak pernah bisa ditebak.

Setelah kekalahan karena dosa tersembunyi, Israel kembali menghadapi kota Ai. Tuhan kembali menjanjikan kemenangan. Tetapi kali ini caranya berbeda. Tidak seperti di Yerikho, mereka tidak hanya berjalan mengelilingi kota. Tuhan memerintahkan mereka maju menyerang dengan strategi yang matang.

Yosua menyusun taktik perang. Ada penyergapan, ada perhitungan waktu, ada kecerdikan. Dan Tuhan memakai semua itu untuk memberi kemenangan.

Di sini kita belajar sesuatu yang penting:
Tuhan bisa bekerja secara ajaib tanpa usaha manusia, tetapi Ia juga bisa bekerja melalui kecerdasan dan usaha kita.

Karya Allah tidak meniadakan hikmat, kreativitas, atau kemampuan yang Ia sendiri tanamkan dalam diri kita. Justru kadang Tuhan memakai akal budi, pengalaman, dan strategi kita sebagai bagian dari rencana-Nya.

Itulah sebabnya kita tidak bisa membatasi Tuhan. Kadang Ia membuka jalan dengan mukjizat yang tidak masuk akal. Kadang Ia membuka jalan melalui proses, kerja keras, dan keputusan bijaksana.

Renungan ini mengajak kita bertanya:
Apakah kita sedang memaksa Tuhan bekerja sesuai pola yang kita inginkan?

Mungkin kita sedang menunggu “manna dari langit”, padahal Tuhan sedang memberi kita kemampuan untuk bekerja. Atau kita terlalu mengandalkan strategi sendiri tanpa mencari kehendak-Nya.

Yang jelas, Tuhan tetap berdaulat. Jalan-Nya lebih tinggi dari jalan kita. Cara-Nya lebih luas dari pemahaman kita.

Tugas kita adalah tetap taat, terus belajar, memperlengkapi diri dengan pengetahuan dan hikmat, serta peka terhadap pimpinan-Nya. Ketika Tuhan memilih memakai kemampuan kita, lakukanlah dengan setia. Ketika Ia memilih bekerja di luar dugaan kita, percayalah dengan rendah hati.

Karena pada akhirnya, bukan metode yang menyelamatkan kita—melainkan Tuhan sendiri.

Doa

Tuhan, ajar aku untuk tidak membatasi-Mu dengan pikiranku. Beri aku hikmat dan kemampuan untuk melakukan bagianku dengan setia. Tolong aku percaya pada jalan-Mu, meskipun aku tidak selalu memahaminya. Pimpin aku untuk taat dalam setiap langkah hidupku. Amin.

Share:

Renungan Harian "Jadilah Berkat, Bukan Beban"

Dosa satu orang membawa dampak bagi seluruh umat Israel

Jadilah Berkat, Bukan Beban

Yosua 7

Sering kali kita berpikir bahwa kesalahan pribadi adalah urusan pribadi. Selama tidak diketahui orang lain, rasanya tidak ada yang dirugikan. Namun firman Tuhan hari ini menunjukkan kenyataan yang berbeda: satu ketidaktaatan bisa berdampak luas.

Bangsa Israel baru saja mengalami kemenangan besar di Yerikho. Tetapi ketika mereka menghadapi kota kecil bernama Ai, mereka justru kalah. Hati bangsa itu menjadi tawar dan penuh ketakutan. Mengapa? Ternyata ada dosa tersembunyi di tengah umat. Satu orang mengambil barang yang telah dikhususkan bagi Tuhan.

Satu orang. Satu dosa. Namun seluruh bangsa merasakan akibatnya.

Tuhan ingin menunjukkan bahwa kekudusan itu penting. Ia tidak menghendaki umat-Nya hidup dalam kebohongan dan ketidaktaatan. Ketika dosa disembunyikan, relasi dengan Tuhan terganggu. Dan ketika relasi dengan Tuhan terganggu, kekuatan pun hilang.

Kisah ini bukan hanya tentang hukuman, tetapi tentang tanggung jawab. Tuhan menginginkan umat-Nya hidup dalam kejujuran dan pertobatan. Ketika kesalahan diakui, pemulihan bisa terjadi. Tetapi ketika disembunyikan, dampaknya meluas.

Renungan ini mengajak kita merenung:
Apakah ada “dosa kecil” yang kita anggap sepele, padahal mungkin sedang memengaruhi keluarga, pelayanan, atau komunitas kita?

Kita dipanggil bukan hanya untuk menjaga diri sendiri, tetapi juga untuk menjadi berkat bagi orang lain. Hidup kita selalu terhubung dengan orang lain. Pilihan kita memengaruhi sekitar kita.

Tuhan rindu kita hidup dalam ketaatan, bukan karena Ia ingin menghukum, tetapi karena Ia ingin melindungi dan memberkati. Kekudusan bukan beban, melainkan perlindungan.

Hari ini, mari berani memeriksa hati. Jika ada yang perlu dibereskan, datanglah kepada Tuhan. Pengakuan membawa pemulihan. Pertobatan membawa hidup.

Jangan biarkan hidup kita menjadi beban bagi sesama. Biarlah melalui ketaatan, kita menjadi saluran berkat.

Doa

Tuhan, selidiki hatiku dan tunjukkan jika ada kesalahan yang masih kusimpan. Beri aku keberanian untuk mengaku dan bertobat. Pulihkan relasiku dengan-Mu agar hidupku menjadi berkat bagi keluarga dan sesamaku. Amin.

Share:

Renungan Harian "Allah, Bukan Kamu"

Tembok Yerikho runtuh karena kuasa Allah bukan kekuatan manusia 

Allah, Bukan Kamu

Yosua 6

Kisah runtuhnya tembok Yerikho sering kita dengar sejak kecil. Bangsa Israel berjalan mengelilingi kota, meniup sangkakala, lalu tembok itu roboh. Sebuah mukjizat besar terjadi.

Namun di balik kisah itu ada satu pesan yang sangat jelas: kemenangan itu bukan karena kekuatan Israel, melainkan karena Allah.

Tuhan sudah lebih dulu berfirman kepada Yosua bahwa Ia telah menyerahkan Yerikho ke tangan mereka. Janji itu datang sebelum peperangan dimulai. Artinya, kemenangan bukan hasil strategi manusia, tetapi karya Allah yang berdaulat.

Menariknya, Tuhan tidak menyuruh Israel menyerang dengan senjata atau memanjat tembok tinggi itu. Mereka hanya diminta berjalan mengelilingi kota dengan taat. Perintah yang sederhana. Bahkan tampak tidak masuk akal secara militer.

Melalui cara itu, Tuhan sedang mengajar umat-Nya satu hal penting:
Dialah yang berperang. Dialah yang memberi kemenangan.

Ketaatan Israel memang penting. Namun ketaatan itu bukan sumber mukjizat. Ketaatan hanyalah respons iman. Tuhan tidak membutuhkan bantuan manusia untuk menggenapi kehendak-Nya. Tetapi dalam kasih-Nya, Ia mengundang kita untuk ambil bagian agar kita belajar percaya.

Betapa sering kita tanpa sadar berpikir bahwa doa kita dijawab karena kita sudah cukup taat, sudah cukup baik, atau sudah melakukan banyak hal rohani. Seolah-olah perbuatan kita menjadi kunci yang membuka tangan Tuhan.

Renungan ini menegur hati kita dengan lembut:
Apakah kita bergantung pada Tuhan, atau pada usaha kita sendiri?

Ketaatan tetap penting. Namun ketaatan adalah wujud cinta dan kepercayaan kita, bukan alat untuk “memaksa” Tuhan bekerja. Semua yang terjadi tetap berada di bawah kedaulatan-Nya.

Jika hari ini kita sedang menghadapi “tembok Yerikho” dalam hidup—masalah besar, ketakutan, atau tantangan yang tampak mustahil—ingatlah: bukan kekuatan kita yang merobohkannya. Tuhanlah yang bertindak.

Tugas kita sederhana: percaya, taat, dan berjalan bersama-Nya.

Doa

Tuhan, ampuni aku jika aku sering mengandalkan kekuatanku sendiri. Ajarku untuk taat bukan demi mendapatkan sesuatu dari-Mu, tetapi sebagai bukti cintaku kepada-Mu. Tolong aku percaya bahwa Engkaulah yang berperang dan memberi kemenangan dalam hidupku. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.