Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar
Yosua melangkah dengan iman saat ragu sebagai simbol ketaatan kepada Tuhan
Tatkala Ragu
Keraguan adalah bagian dari hidup. Saat menghadapi tanggung jawab baru, melangkah ke wilayah yang belum pernah kita masuki, hati sering kali diliputi kebimbangan. Kita ingin taat, tetapi di sisi lain takut gagal. Perasaan inilah yang juga dialami Yosua.

Setelah Musa meninggal, Yosua dipanggil Tuhan untuk memimpin Israel memasuki tanah Kanaan. Ia memang telah ditunjuk sebagai pemimpin, tetapi tugas itu bukan perkara mudah. Ia harus melanjutkan perjuangan besar, memimpin bangsa yang tidak selalu mudah diatur, dan memasuki wilayah yang penuh tantangan.

Tuhan sebenarnya telah menjanjikan kemenangan dan kepastian. Tanah Kanaan akan menjadi milik mereka. Namun, Tuhan tetap berkata kepada Yosua, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu.” Kata-kata ini menunjukkan bahwa di balik panggilan besar itu, ada hati yang masih berjuang melawan rasa takut dan ragu.

Tuhan tidak hanya meminta Yosua untuk berani, tetapi juga untuk taat sepenuhnya kepada firman Tuhan yang telah disampaikan melalui Musa. Kekuatan Yosua bukan terletak pada kemampuannya sendiri, melainkan pada kesetiaannya berjalan sesuai kehendak Tuhan dan keyakinannya bahwa Tuhan menyertai.

Penguatan dari Tuhan itu tidak sia-sia. Yosua melangkah dengan mantap. Ia memimpin bangsa Israel bersiap masuk ke tanah perjanjian, bahkan dengan bijaksana mengingatkan suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye akan komitmen mereka. Ia tidak ragu mengutip dan melanjutkan apa yang Musa ajarkan. Yosua tidak takut reputasinya tersaingi. Ia sadar, tugasnya bukan menonjolkan diri, melainkan melanjutkan karya Tuhan.

Firman Tuhan kepada Yosua sesungguhnya juga ditujukan kepada kita hari ini. Saat kita ragu, takut, atau merasa tidak sanggup, Tuhan mengajak kita untuk menguatkan dan meneguhkan hati, lalu melangkah bersama-Nya.

Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Di bagian hidup mana aku sedang ragu? Apakah aku berani melangkah sambil tetap berpegang pada firman Tuhan?

Tuhan tidak menuntut kita sempurna, tetapi setia. Ketika kita melangkah bersama Dia, kita akan dimampukan bertindak dengan bijaksana, penuh pertimbangan, dan tanpa dikuasai oleh ketakutan. Kita pun diajak menghargai dan melanjutkan kebaikan yang telah ditanamkan oleh para pendahulu kita, tanpa perlu meniadakan jejak mereka.

Doa
Tuhan, Engkau mengenal setiap keraguan di dalam hatiku. Ajarlah aku untuk menguatkan dan meneguhkan hati, bukan dengan kekuatanku sendiri, tetapi dengan bersandar penuh kepada firman-Mu. Tolong aku melangkah taat, setia, dan rendah hati, serta berani melanjutkan kebaikan yang telah Engkau kerjakan melalui orang-orang sebelumku. Amin.
Share:

Renungan Harian "Kematian yang Berharga di Mata Allah"

Musa di Gunung Nebo memandang tanah perjanjian sebagai simbol kematian yang berharga di mata Allah
Kematian yang Berharga di Mata Allah
Setiap manusia akan menghadapi kematian sebagai konsekuensi dosa. Namun, firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat kematian dari sudut pandang yang berbeda—bukan sekadar akhir hidup, melainkan bagian dari rencana Allah yang indah bagi orang percaya.

Musa, hamba Tuhan yang setia, naik ke Gunung Nebo atas perintah Tuhan. Dari sana, Allah memperlihatkan seluruh negeri Kanaan—tanah perjanjian yang selama ini Musa perjuangkan bersama bangsa Israel. Musa melihatnya dengan jelas, tetapi ia tidak memasukinya. Setelah tugasnya selesai, Musa meninggal di sana, dalam keadaan masih kuat, matanya tidak rabun, dan tenaganya tidak berkurang.

Alkitab mencatat sesuatu yang sangat menyentuh: Allah sendiri yang menguburkan Musa. Tidak ada seorang pun yang tahu di mana kuburnya sampai hari ini. Seolah Tuhan ingin menjaga Musa dari segala kemungkinan disalahgunakan, bahkan setelah kematiannya. Kematian Musa dijaga dengan penuh hormat oleh Allah sendiri.

Musa tidak mati karena sakit atau kelemahan tubuh, melainkan karena panggilannya telah selesai. Ia telah setia sampai akhir. Bangsa Israel pun berkabung selama tiga puluh hari, tanda betapa Musa dikasihi dan dihargai sebagai pemimpin.

Kita mungkin tidak seperti Musa, tetapi satu hal yang pasti: setiap orang percaya juga berharga di mata Allah. Hidup kita tidak diukur dari seberapa besar pencapaian kita di mata manusia, melainkan dari kesetiaan kita menjalani panggilan Tuhan. Bahkan ketika hidup kita berakhir, Allah tetap memperhatikan dan menghargai setiap jiwa yang kembali kepada-Nya.

Renungan ini mengajak kita bertanya secara pribadi:
Apakah aku sedang hidup dengan kesadaran bahwa hidupku adalah milik Tuhan? Apakah aku setia menjalani panggilan-Nya, apa pun tahap hidupku saat ini?

Kiranya selama kita masih diberi waktu, kita hidup dengan setia, taat, dan penuh pengharapan, sampai suatu hari kita pun boleh pulang dengan damai kepada-Nya.

Doa
Tuhan, terima kasih untuk hidup yang Engkau percayakan kepadaku. Ajarlah aku hidup setia dalam setiap panggilan-Mu, baik dalam hal besar maupun kecil. Tolong aku agar tidak takut akan akhir hidup, tetapi mempersiapkan diriku dengan hidup yang berkenan kepada-Mu setiap hari. Kiranya saat aku selesai menjalani tugasku di dunia ini, hidupku pun berharga di mata-Mu. Amin.
Share:

Renungan Harian "Hukuman yang Menjadi Berkat"

Ilustrasi suku Lewi mengajar firman Tuhan sebagai berkat dari kesetiaan menurut Ulangan 33
Hukuman yang Menjadi Berkat
Sering kali kita memandang hukuman Tuhan sebagai akhir dari segalanya. Kita mengira setelah ditegur atau didisiplinkan, tidak ada lagi harapan. Namun firman Tuhan hari ini menunjukkan sesuatu yang indah: di tangan Allah, hukuman dapat diubah menjadi berkat, khususnya bagi mereka yang setia.

Menjelang akhir hidupnya, Musa memberkati suku-suku Israel. Di antara semua berkat itu, berkat bagi suku Lewi menarik perhatian khusus. Lewi disebut sebagai orang yang dikasihi Tuhan. Mereka dipercaya memegang Tumim dan Urim—alat untuk menanyakan kehendak Tuhan—sebuah tanggung jawab rohani yang sangat besar.

Mengapa Lewi menerima kepercayaan itu? Karena mereka lulus dalam ujian dan tantangan. Di Masa dan Meriba, tempat ujian dan pergumulan, Lewi menunjukkan kesetiaan. Saat bangsa Israel jatuh dalam dosa penyembahan lembu emas, Lewi berdiri di pihak Tuhan. Mereka menaati firman Tuhan, meski harus berhadapan dengan keputusan yang sangat berat, bahkan terhadap keluarga sendiri. Kesetiaan mereka tidak setengah-setengah.

Karena itulah Lewi dipilih untuk mengajarkan hukum Tuhan kepada umat. Mereka menjadi alat Tuhan untuk menjaga iman Israel tetap hidup. Padahal sebelumnya, pelayanan kepada Tuhan seharusnya dilakukan oleh anak-anak sulung Israel. Namun Tuhan menggantikan peran itu dengan suku Lewi—sebuah kepercayaan yang lahir dari kesetiaan.

Menariknya, Lewi tidak menerima tanah pusaka seperti suku-suku lain. Mereka justru diserakkan di seluruh Israel. Jika dilihat sepintas, ini tampak seperti kerugian. Bahkan jauh sebelumnya, Yakub pernah menubuatkan bahwa Simeon dan Lewi akan diserakkan karena kesalahan masa lalu. Namun di tangan Tuhan, hukuman itu berubah menjadi sarana berkat. Karena tersebar, Lewi justru dapat menjangkau seluruh Israel dan mengajarkan firman Tuhan ke mana-mana.

Firman ini menguatkan kita hari ini. Mungkin ada bagian hidup kita yang terasa seperti hukuman—kehilangan, keterbatasan, atau kegagalan. Namun, ketika kita tetap setia dan berpegang pada firman Tuhan, Allah sanggup mengubahnya menjadi berkat, bukan hanya bagi kita, tetapi juga bagi banyak orang.

Tuhan tidak menyia-nyiakan kesetiaan. Apa yang dulu terasa menyakitkan, di tangan Tuhan bisa menjadi alat untuk kemuliaan-Nya.

Respons Pribadi
Renungkan pengalaman hidup Anda. Adakah hal yang Anda anggap sebagai hukuman atau kerugian? Mintalah Tuhan menolong Anda melihat rencana-Nya dan tetap setia di dalam proses itu.
Doa
Tuhan yang setia, aku percaya bahwa Engkau sanggup mengubah setiap keadaan hidupku. Tolong aku tetap setia meski jalannya tidak mudah. Pakailah hidupku menjadi berkat, bahkan melalui hal-hal yang dulu terasa sebagai hukuman. Amin.
Share:

Renungan Harian "Anugerah Allah dalam Hukuman"

Ilustrasi Musa di Gunung Nebo melihat Tanah Perjanjian sebagai tanda anugerah Allah dalam hukuman
Anugerah Allah dalam Hukuman
Mengikuti Tuhan bukanlah perjalanan yang mudah. Dalam ketaatan, kita sering kali tersandung oleh kelemahan dan kegagalan. Namun, penghiburan besar bagi kita adalah ini: Allah tetap menyatakan anugerah-Nya, bahkan di tengah hukuman.

Bangsa Israel akan segera menyeberangi Sungai Yordan di bawah kepemimpinan Yosua. Sementara itu, Musa menerima perintah yang sangat berat. Tuhan menyuruhnya naik ke Gunung Nebo. Dari sana, Musa diizinkan memandang Tanah Kanaan—negeri yang Tuhan sendiri berikan kepada umat-Nya. Namun, Musa tidak diperkenankan masuk ke sana.

Hukuman ini diberikan karena ketidaksetiaan Musa dan Harun di peristiwa air Meriba. Mereka tidak menghormati kekudusan Tuhan di hadapan umat. Kesalahan itu berakibat besar. Musa, pemimpin besar yang setia memimpin Israel puluhan tahun, harus menerima kenyataan pahit: melihat, tetapi tidak menikmati.

Tentu ini sangat menyedihkan. Musa sangat rindu masuk ke Tanah Perjanjian. Ia bahkan pernah memohon kepada Tuhan, tetapi permohonannya tidak dikabulkan. Hukuman Tuhan sungguh nyata dan berat.

Namun, di balik hukuman itu, kita melihat anugerah Allah yang lembut. Tuhan tidak langsung mengakhiri hidup Musa tanpa penghiburan. Ia mengizinkan Musa memandang tanah itu dari kejauhan. Musa boleh melihat janji Tuhan dengan matanya sendiri. Bahkan, jauh di masa depan—dalam peristiwa transfigurasi Yesus—Musa akhirnya berdiri di tanah itu bersama Elia, di hadapan Kristus.

Firman ini mengajarkan kita bahwa hukuman Tuhan tidak pernah lepas dari kasih-Nya. Tuhan mendidik, bukan membinasakan. Ketika Tuhan menegur dan menghukum, Ia tetap menyertakan anugerah agar kita tidak kehilangan pengharapan.

Mungkin hari ini kita sedang menanggung konsekuensi dari kesalahan sendiri. Mungkin hukuman Tuhan terasa berat dan menyakitkan. Namun, jangan lupa: di dalam hukuman-Nya, Tuhan tetap menyimpan anugerah. Ia masih bekerja, memelihara, dan memberi pengharapan.

Respons Pribadi

Renungkan situasi hidup Anda saat ini. Apakah Anda sedang merasakan disiplin Tuhan? Mintalah hati yang lembut untuk melihat anugerah-Nya yang tetap bekerja, bahkan di tengah teguran-Nya.

Doa

Tuhan yang penuh kasih, aku mengakui bahwa sering kali aku gagal dan tidak setia. Terima kasih karena Engkau tidak pernah berhenti mengasihiku. Tolong aku melihat anugerah-Mu, bahkan ketika aku sedang ditegur dan dididik oleh-Mu. Aku tetap berharap kepada-Mu. Amin.

Share:

Renungan Harian "Allah yang Melukai dan Menyembuhkan"

Ilustrasi Allah yang melukai dan menyembuhkan umat-Nya berdasarkan Ulangan 32:26–43
Allah yang Melukai dan Menyembuhkan
Bagian lanjutan dari nyanyian Musa ini kembali mengingatkan kita bahwa hukuman Allah atas ketidaksetiaan umat bukanlah tindakan tanpa tujuan. Allah memang menghukum, tetapi Ia tidak membinasakan umat-Nya sepenuhnya. Ia bertindak dengan penuh kedaulatan dan kasih.

Allah menyatakan bahwa Ia tidak menghabiskan umat Israel, bukan karena mereka layak, melainkan supaya musuh tidak menyombongkan diri dan mengira bahwa kekuatan merekalah yang menang. Tuhan ingin semua orang tahu bahwa Dialah yang berkuasa atas sejarah, kemenangan, dan kekalahan.

Tuhan juga menyingkapkan kebodohan umat-Nya. Mereka tidak menyadari bahwa kekalahan yang mereka alami terjadi karena mereka meninggalkan Gunung Batu keselamatan mereka. Tuhan sendiri yang menyerahkan mereka ke dalam tangan musuh sebagai bentuk didikan dan teguran.

Namun, nyanyian ini tidak berhenti pada penghukuman. Ketika umat berada dalam keadaan tidak berdaya, Tuhan bangkit untuk membela dan mengasihani mereka. Ia adalah Allah yang adil sekaligus penuh belas kasihan. Puncaknya, Tuhan menyatakan dengan tegas bahwa tidak ada Allah lain selain Dia. Dialah yang mematikan dan menghidupkan, yang melukai dan yang menyembuhkan. Tidak ada satu kuasa pun yang dapat melepaskan dari tangan-Nya.

Firman ini menolong kita memahami penderitaan dalam terang iman. Tidak semua penderitaan berarti hukuman, tetapi tidak ada penderitaan yang berada di luar kendali Tuhan. Baik sebagai akibat dari ketidaktaatan, maupun sebagai proses pembentukan, Tuhan tetap bekerja untuk kebaikan umat-Nya.

Ketika kesulitan datang, respons terbaik bukanlah menjauh, melainkan mendekat kepada Tuhan. Di hadapan-Nya, kita belajar untuk bertobat, disembuhkan, dan dibentuk menjadi serupa dengan Kristus. Disiplin Tuhan adalah tanda kasih-Nya sebagai Bapa.

Karena itu, jangan kehilangan pengharapan. Allah yang mengizinkan luka terjadi adalah Allah yang sama yang sanggup memulihkan. Di tangan-Nya ada kehidupan, pemulihan, dan masa depan yang penuh pengharapan.

Respons Pribadi
Renungkan pergumulan yang sedang Anda alami. Apakah Anda sedang ditegur atau dibentuk oleh Tuhan? Datanglah kepada-Nya dengan hati yang terbuka dan percaya bahwa Ia sedang bekerja untuk kebaikan Anda.

Doa
Tuhan yang berdaulat, aku percaya bahwa hidupku ada di dalam tangan-Mu. Ketika aku terluka dan mengalami kesesakan, ajarku untuk tetap berharap kepada-Mu. Pulihkan aku dan bentuk aku sesuai kehendak-Mu. Amin.
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.