Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian "Batu Peringatan"

Batu peringatan di Gilgal sebagai tanda karya Tuhan

Batu Peringatan

Yosua 4

Dalam hidup, orang sering membuat tanda untuk mengenang sesuatu yang penting. Ada batu peresmian bangunan, ada pula batu nisan. Semua itu menjadi penanda bahwa pernah terjadi sesuatu yang bermakna.

Demikian juga Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk membuat batu-batu peringatan setelah mereka menyeberangi Sungai Yordan. Batu-batu itu diambil dari tengah sungai, dari tempat para imam berdiri ketika air terbelah. Lalu batu-batu itu ditegakkan di Gilgal.

Mengapa Tuhan memerintahkan hal itu?

Supaya umat-Nya tidak lupa. Supaya mereka selalu ingat bahwa Tuhanlah yang membuat Sungai Yordan terbelah dan memberi mereka jalan masuk ke Tanah Perjanjian. Batu-batu itu akan menjadi bahan cerita bagi anak cucu mereka. Ketika generasi berikutnya bertanya, “Apa arti batu-batu ini?”, mereka bisa menceritakan tentang kuasa dan kesetiaan Tuhan.

Tuhan tahu manusia mudah lupa. Kita cepat melupakan pertolongan-Nya ketika hidup kembali terasa biasa. Kita sering lebih mengingat masalah daripada mukjizat.

Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Apakah kita memiliki “batu peringatan” dalam hidup kita?

Mungkin bukan batu secara harfiah. Bisa berupa catatan doa yang dijawab Tuhan, kesaksian hidup, foto momen pemulihan, atau cerita yang terus kita bagikan kepada keluarga. Hal-hal itu menolong kita mengingat bahwa Tuhan pernah dan terus bekerja.

Ketika kita mengingat karya Tuhan, iman kita diteguhkan. Ketika kita menceritakannya, iman orang lain dibangun. Iman tidak hanya dijaga, tetapi juga diwariskan.

Mari mulai membangun “batu-batu peringatan” dalam hidup kita. Ingatlah setiap kebaikan Tuhan. Ceritakan kepada anak, keluarga, dan siapa pun yang mau mendengar. Supaya semakin banyak orang percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Doa

Tuhan, ajar aku untuk tidak melupakan karya-Mu dalam hidupku. Tolong aku peka melihat pertolongan-Mu setiap hari. Mampukan aku menceritakan kebaikan-Mu kepada generasi berikutnya, supaya iman kami semakin kuat. Amin.

Share:

Renungan Harian "Panggilan-Nya Pasti Diteguhkan"

Tuhan meneguhkan panggilan Yosua melalui mukjizat Sungai Yordan
Panggilan-Nya Pasti Diteguhkan
Setiap orang menerima panggilan hidup yang unik dari Tuhan. Namun, tidak jarang kita meragukan panggilan itu—terutama saat menghadapi kesulitan, masa krisis, atau bahkan di tengah rutinitas yang terasa biasa saja. Kita ingin diyakinkan: Benarkah Tuhan memanggil aku?

Keraguan semacam ini juga pernah dialami Yosua. Ia dipanggil untuk memimpin Israel menggantikan Musa—seorang pemimpin besar yang sulit tergantikan. Tanggung jawab itu berat. Namun, Tuhan tidak membiarkan Yosua melangkah dengan keraguan. Tuhan meneguhkan panggilan-Nya.

Sebagaimana Musa diteguhkan melalui peristiwa Laut Teberau yang terbelah, demikian pula Yosua diteguhkan melalui mukjizat Sungai Yordan. Sungai yang biasanya berarus deras itu tiba-tiba berhenti mengalir. Airnya terbelah, dan bangsa Israel berjalan di tanah yang kering. Mukjizat ini bukan sekadar peristiwa ajaib, melainkan tanda jelas bahwa Tuhan menyertai Yosua dan meneguhkan panggilannya di hadapan seluruh umat.

Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa panggilan Tuhan tidak pernah berdiri sendiri. Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang setia meneguhkan. Peneguhan itu bisa datang dalam bentuk yang luar biasa, tetapi sering kali juga hadir lewat hal-hal sederhana—pertolongan kecil, kekuatan di saat lemah, atau damai sejahtera yang tidak dapat dijelaskan.

Renungan ini mengajak kita untuk menengok kembali perjalanan hidup kita. Di mana saja kita melihat tangan Tuhan bekerja? Mungkin bukan melalui mukjizat besar, tetapi melalui kesetiaan-Nya yang terus menyertai langkah demi langkah.

Jika hari ini kita masih bertanya-tanya tentang panggilan hidup kita, firman Tuhan meneguhkan bahwa Ia tidak pernah lalai. Ia menciptakan kita dengan maksud yang baik dan rencana yang mulia. Karena itu, jangan berkecil hati. Teruslah percaya, hayati panggilan Tuhan atas hidup kita, dan jalani setiap langkah dengan penuh syukur.

Doa
Tuhan, terima kasih karena Engkau mengenal hidupku dan memanggilku dengan tujuan yang indah. Ketika aku ragu, teguhkanlah hatiku. Tolong aku peka melihat karya-Mu dalam hidupku dan setia melangkah bersama-Mu. Amin.
Share:

Renungan Harian "Sembada Iman"

Rahab menunjukkan iman yang berani melalui tindakan nyata kepada Allah
Sembada Iman
Yosua 2
Dalam budaya Jawa, kata sembada menggambarkan seseorang yang mampu menjalankan tugas dan berani menanggung akibat dari pilihannya. Sikap inilah yang tampak jelas dalam diri Rahab.

Rahab bukan orang Israel. Ia tinggal di Yerikho, kota yang sebentar lagi akan ditaklukkan. Namun, dari cerita-cerita yang ia dengar, Rahab mengenal siapa Allah Israel. Ia mendengar bagaimana Tuhan membuka jalan di Laut Teberau dan mengalahkan musuh-musuh Israel. Dari sanalah tumbuh keyakinan di hatinya bahwa Allah Israel adalah Allah yang hidup dan berkuasa.

Ketika para pengintai yang diutus Yosua datang, Rahab dihadapkan pada pilihan sulit. Jika ia melindungi mereka, nyawanya dan keluarganya terancam. Jika ia menyerahkan mereka, ia mungkin aman untuk sementara, tetapi melawan suara hatinya. Rahab memilih untuk berpihak pada Allah. Ia menyembunyikan para pengintai dan mengatur jalan agar mereka dapat kembali dengan selamat.

Iman Rahab tidak berhenti pada pengakuan di bibir. Ia mewujudkan imannya melalui tindakan nyata. Dengan penuh risiko, ia melindungi orang-orang yang ia yakini berada di pihak Allah. Ia pun memohon keselamatan bagi keluarganya, dan Tuhan menghargai imannya.

Kisah Rahab menegur kita dengan lembut: iman sejati bukan iman yang pasif. Iman yang hidup selalu mendorong tindakan, meskipun penuh risiko dan tidak mudah. Rahab mengajarkan bahwa percaya kepada Allah berarti berani mengambil keputusan yang benar, walau tidak selalu aman di mata manusia.

Renungan ini mengajak kita bertanya:
Apakah imanku hanya berhenti pada pengakuan, ataukah sudah terlihat dalam sikap dan tindakanku sehari-hari?

Tuhan rindu melihat iman yang sembada—iman yang berani taat dan siap menanggung konsekuensi, karena percaya bahwa Allah setia menyertai.

Doa
Tuhan, ajar aku memiliki iman yang hidup dan berani. Bukan hanya percaya di dalam hati, tetapi juga setia melakukan kehendak-Mu dalam tindakan nyata. Beri aku keberanian untuk memilih yang benar, meskipun ada risiko. Amin.
Share:

Renungan Harian "Tatkala Ragu"

Yosua melangkah dengan iman saat ragu sebagai simbol ketaatan kepada Tuhan
Tatkala Ragu
Keraguan adalah bagian dari hidup. Saat menghadapi tanggung jawab baru, melangkah ke wilayah yang belum pernah kita masuki, hati sering kali diliputi kebimbangan. Kita ingin taat, tetapi di sisi lain takut gagal. Perasaan inilah yang juga dialami Yosua.

Setelah Musa meninggal, Yosua dipanggil Tuhan untuk memimpin Israel memasuki tanah Kanaan. Ia memang telah ditunjuk sebagai pemimpin, tetapi tugas itu bukan perkara mudah. Ia harus melanjutkan perjuangan besar, memimpin bangsa yang tidak selalu mudah diatur, dan memasuki wilayah yang penuh tantangan.

Tuhan sebenarnya telah menjanjikan kemenangan dan kepastian. Tanah Kanaan akan menjadi milik mereka. Namun, Tuhan tetap berkata kepada Yosua, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu.” Kata-kata ini menunjukkan bahwa di balik panggilan besar itu, ada hati yang masih berjuang melawan rasa takut dan ragu.

Tuhan tidak hanya meminta Yosua untuk berani, tetapi juga untuk taat sepenuhnya kepada firman Tuhan yang telah disampaikan melalui Musa. Kekuatan Yosua bukan terletak pada kemampuannya sendiri, melainkan pada kesetiaannya berjalan sesuai kehendak Tuhan dan keyakinannya bahwa Tuhan menyertai.

Penguatan dari Tuhan itu tidak sia-sia. Yosua melangkah dengan mantap. Ia memimpin bangsa Israel bersiap masuk ke tanah perjanjian, bahkan dengan bijaksana mengingatkan suku Ruben, Gad, dan setengah suku Manasye akan komitmen mereka. Ia tidak ragu mengutip dan melanjutkan apa yang Musa ajarkan. Yosua tidak takut reputasinya tersaingi. Ia sadar, tugasnya bukan menonjolkan diri, melainkan melanjutkan karya Tuhan.

Firman Tuhan kepada Yosua sesungguhnya juga ditujukan kepada kita hari ini. Saat kita ragu, takut, atau merasa tidak sanggup, Tuhan mengajak kita untuk menguatkan dan meneguhkan hati, lalu melangkah bersama-Nya.

Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Di bagian hidup mana aku sedang ragu? Apakah aku berani melangkah sambil tetap berpegang pada firman Tuhan?

Tuhan tidak menuntut kita sempurna, tetapi setia. Ketika kita melangkah bersama Dia, kita akan dimampukan bertindak dengan bijaksana, penuh pertimbangan, dan tanpa dikuasai oleh ketakutan. Kita pun diajak menghargai dan melanjutkan kebaikan yang telah ditanamkan oleh para pendahulu kita, tanpa perlu meniadakan jejak mereka.

Doa
Tuhan, Engkau mengenal setiap keraguan di dalam hatiku. Ajarlah aku untuk menguatkan dan meneguhkan hati, bukan dengan kekuatanku sendiri, tetapi dengan bersandar penuh kepada firman-Mu. Tolong aku melangkah taat, setia, dan rendah hati, serta berani melanjutkan kebaikan yang telah Engkau kerjakan melalui orang-orang sebelumku. Amin.
Share:

Renungan Harian "Kematian yang Berharga di Mata Allah"

Musa di Gunung Nebo memandang tanah perjanjian sebagai simbol kematian yang berharga di mata Allah
Kematian yang Berharga di Mata Allah
Setiap manusia akan menghadapi kematian sebagai konsekuensi dosa. Namun, firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat kematian dari sudut pandang yang berbeda—bukan sekadar akhir hidup, melainkan bagian dari rencana Allah yang indah bagi orang percaya.

Musa, hamba Tuhan yang setia, naik ke Gunung Nebo atas perintah Tuhan. Dari sana, Allah memperlihatkan seluruh negeri Kanaan—tanah perjanjian yang selama ini Musa perjuangkan bersama bangsa Israel. Musa melihatnya dengan jelas, tetapi ia tidak memasukinya. Setelah tugasnya selesai, Musa meninggal di sana, dalam keadaan masih kuat, matanya tidak rabun, dan tenaganya tidak berkurang.

Alkitab mencatat sesuatu yang sangat menyentuh: Allah sendiri yang menguburkan Musa. Tidak ada seorang pun yang tahu di mana kuburnya sampai hari ini. Seolah Tuhan ingin menjaga Musa dari segala kemungkinan disalahgunakan, bahkan setelah kematiannya. Kematian Musa dijaga dengan penuh hormat oleh Allah sendiri.

Musa tidak mati karena sakit atau kelemahan tubuh, melainkan karena panggilannya telah selesai. Ia telah setia sampai akhir. Bangsa Israel pun berkabung selama tiga puluh hari, tanda betapa Musa dikasihi dan dihargai sebagai pemimpin.

Kita mungkin tidak seperti Musa, tetapi satu hal yang pasti: setiap orang percaya juga berharga di mata Allah. Hidup kita tidak diukur dari seberapa besar pencapaian kita di mata manusia, melainkan dari kesetiaan kita menjalani panggilan Tuhan. Bahkan ketika hidup kita berakhir, Allah tetap memperhatikan dan menghargai setiap jiwa yang kembali kepada-Nya.

Renungan ini mengajak kita bertanya secara pribadi:
Apakah aku sedang hidup dengan kesadaran bahwa hidupku adalah milik Tuhan? Apakah aku setia menjalani panggilan-Nya, apa pun tahap hidupku saat ini?

Kiranya selama kita masih diberi waktu, kita hidup dengan setia, taat, dan penuh pengharapan, sampai suatu hari kita pun boleh pulang dengan damai kepada-Nya.

Doa
Tuhan, terima kasih untuk hidup yang Engkau percayakan kepadaku. Ajarlah aku hidup setia dalam setiap panggilan-Mu, baik dalam hal besar maupun kecil. Tolong aku agar tidak takut akan akhir hidup, tetapi mempersiapkan diriku dengan hidup yang berkenan kepada-Mu setiap hari. Kiranya saat aku selesai menjalani tugasku di dunia ini, hidupku pun berharga di mata-Mu. Amin.
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.