Di Balik Keheningan
Sore itu menjadi sangat sunyi.
Teriakan sudah berhenti. Kerumunan telah pergi.
Golgota kini hening… Yesus telah mati.
Di tengah keheningan itu, dua orang datang: Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus.
Mereka tidak datang saat Yesus melakukan mukjizat.
Mereka tidak muncul saat orang banyak bersorak.
Mereka datang justru ketika semuanya terasa selesai.
Dengan penuh kasih, mereka menurunkan tubuh Yesus.
Mereka membawa rempah-rempah yang mahal dan menguburkan-Nya dengan layak.
Apa yang mereka lakukan adalah bentuk kasih yang tulus dan penghormatan yang dalam.
Namun yang paling menyentuh adalah ini:
mereka setia di saat sunyi.
Mereka tidak mencari perhatian.
Tidak ada sorotan. Tidak ada pujian.
Hanya keheningan… dan hati yang mengasihi Tuhan.
Bukankah ini sering menjadi pergumulan kita?
Kita mudah melayani saat dilihat orang.
Kita bersemangat saat dihargai.
Namun ketika tidak ada yang melihat, hati kita mulai melemah.
Firman hari ini mengajak kita untuk melihat kembali hati kita.
Apakah kita mengasihi Tuhan dengan tulus, atau karena ingin dilihat?
Yusuf dan Nikodemus mengajarkan bahwa iman sejati tetap hidup,
bahkan ketika suasana tidak mendukung.
Kesetiaan tidak bergantung pada ramai atau sepi,
tetapi pada hubungan kita dengan Tuhan.
Di masa “keheningan” seperti ini, Tuhan rindu kita datang lebih dekat.
Bukan sekadar sibuk melayani, tetapi juga membangun hubungan yang intim dengan-Nya.
Hari ini, mari kita belajar setia—
tetap mengasihi, tetap berdoa, tetap melakukan yang benar,
meskipun tidak ada yang melihat.
Karena Tuhan melihat hati yang tulus.
Doa
Tuhan Yesus,
di saat-saat sunyi dalam hidupku, ajar aku untuk tetap setia kepada-Mu.
Ampuni aku jika aku sering mencari pujian manusia.
Bentuk hatiku agar melayani dengan tulus dan mengasihi-Mu dengan sungguh.
Tolong aku untuk tetap dekat dengan-Mu,
baik dalam keramaian maupun dalam keheningan.
Amin.













.png)

