Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian "Kesetiaan Allah dan Ketidaksetiaan Umat"

Ilustrasi Gunung Batu sebagai simbol kesetiaan Allah dalam Ulangan 32:1–25

Kesetiaan Allah dan Ketidaksetiaan Umat
Allah memerintahkan Musa menuliskan sebuah nyanyian. Nyanyian ini bukan sekadar puisi rohani, tetapi menjadi saksi atas hubungan Allah dengan umat-Nya. Musa bahkan memanggil langit dan bumi sebagai saksi, karena apa yang akan dinyanyikan adalah kebenaran yang besar dan serius.

Nyanyian Musa dimulai dengan menggambarkan siapa Allah itu. Tuhan disebut sebagai Gunung Batu—kokoh, teguh, dan dapat diandalkan. Semua perbuatan-Nya sempurna, jalan-jalan-Nya adil, dan kesetiaan-Nya tidak pernah bercela. Tidak ada kecurangan atau ketidakbenaran pada-Nya. Ia setia sepenuhnya.

Kesetiaan Tuhan nyata dalam cara Ia memperlakukan umat-Nya. Ia membagi-bagikan tanah pusaka, memelihara umat di padang gurun yang tandus, menjaga dan melindungi mereka dengan penuh perhatian. Seperti rajawali yang melindungi anaknya di atas kepaknya, demikianlah Tuhan menuntun Israel dengan kasih dan kuasa-Nya.

Namun, respons umat sangat menyakitkan. Setelah mereka hidup berkecukupan dan menjadi kuat, mereka justru melupakan Tuhan. Mereka memandang rendah Allah yang menyelamatkan mereka dan berpaling kepada ilah-ilah asing. Kesetiaan Tuhan dibalas dengan pengkhianatan. Kasih yang besar dibalas dengan ketidaksetiaan yang tidak masuk akal.

Ketidaksetiaan itu membangkitkan murka Allah. Akibatnya, umat harus menghadapi malapetaka yang mengerikan—bahaya di luar dan ketakutan di dalam. Hukuman itu menunjukkan bahwa Allah bukan hanya penuh kasih, tetapi juga adil. Kesabaran Tuhan tidak boleh disalahartikan sebagai pembiaran.

Firman hari ini mengajak kita bercermin. Betapa sering kita menikmati berkat Tuhan, tetapi perlahan hati kita menjauh dari-Nya. Kita mengandalkan kekuatan sendiri dan melupakan sumber berkat itu sendiri. Nyanyian Musa menjadi peringatan keras: kesetiaan Allah seharusnya dibalas dengan kesetiaan umat.

Allah tetap setia, tetapi Ia juga kudus. Ia memanggil kita untuk hidup setia, rendah hati, dan tidak melupakan Dia, terutama saat hidup sedang diberkati.

Respons Pribadi
Luangkan waktu untuk memeriksa hati. Apakah Anda masih setia kepada Tuhan, atau mulai nyaman dan melupakan-Nya? Kembalilah kepada Allah yang setia dan perbarui komitmen Anda di hadapan-Nya.

Doa
Tuhan yang setia, aku mengakui bahwa sering kali aku menikmati berkat-Mu tanpa sungguh mengingat Engkau. Ampuni ketidaksetiaanku. Tolong aku hidup dengan hati yang setia dan menghormati Engkau sepanjang hidupku. Amin.
Share:

Renungan Harian "Menyediakan Sarana untuk Pertobatan"

Ilustrasi firman Tuhan sebagai sarana pertobatan berdasarkan Ulangan 31:14–30
Menyediakan Sarana untuk Pertobatan
Sebagai orang percaya, kita sering menyadari satu kenyataan: hati kita masih rapuh. Kita rindu setia kepada Tuhan, tetapi tidak jarang kita jatuh, gagal, dan berpaling. Allah yang kita sembah mengetahui kelemahan itu jauh sebelum kita mengalaminya. Namun, yang mengherankan adalah cara Tuhan menanggapi ketidaksetiaan manusia.

Tuhan berkata kepada Musa bahwa setelah ia meninggal, umat Israel akan berpaling kepada ilah-ilah asing. Mereka akan meninggalkan Tuhan dan mengingkari perjanjian yang telah dibuat. Tuhan mengetahui hal itu dengan sangat jelas, bahkan sebelum umat masuk ke Tanah Perjanjian. Ketidaktaatan mereka bukan kejutan bagi Tuhan.

Akibat dari pemberontakan itu pun dinyatakan dengan tegas. Umat akan mengalami kesesakan dan penderitaan. Namun, di balik peringatan itu, kita melihat kasih Tuhan yang dalam. Tuhan tidak hanya menyatakan hukuman, tetapi juga menyediakan jalan untuk kembali.

Tuhan memerintahkan Musa menuliskan sebuah nyanyian dan mengajarkannya kepada umat Israel. Nyanyian ini akan menjadi saksi—mengingatkan mereka tentang siapa Tuhan dan bagaimana mereka telah melanggar perjanjian-Nya. Saat mereka hidup berkecukupan, kenyang, dan diberkati, nyanyian itu akan menegur ketika hati mereka mulai menjauh dari Tuhan.

Betapa luar biasanya Allah kita. Ia tetap membawa umat masuk ke tanah yang berlimpah susu dan madu, meskipun Ia tahu mereka akan berkhianat. Bahkan sebelum kegagalan terjadi, Tuhan sudah menyiapkan sarana agar umat dapat bertobat dan kembali kepada-Nya.

Firman ini menghibur kita hari ini. Tuhan mengetahui dosa, kelemahan, dan kecenderungan hati kita. Namun, Ia tidak menyerah atas hidup kita. Ia menyediakan pengingat, firman, teguran, dan kesempatan untuk bertobat. Anugerah Tuhan selalu lebih besar daripada kegagalan manusia.

Karena itu, ketika kita jatuh, jangan menjauh dari Tuhan. Ingatlah bahwa Ia telah lebih dulu menyediakan jalan kembali. Datanglah dengan hati yang hancur dan terbuka, sebab Tuhan rindu memulihkan, bukan membinasakan.

Respons Pribadi
Renungkan kembali hidup Anda. Apakah ada bagian hati yang mulai menjauh dari Tuhan karena kenyamanan dan kelimpahan? Dengarkan kembali suara firman-Nya dan izinkan Tuhan membawa Anda kembali kepada-Nya.

Doa
Tuhan yang penuh kasih, aku mengakui kelemahan dan ketidaksetiaanku. Terima kasih karena Engkau tidak menyerah atas hidupku. Tolong aku peka terhadap teguran-Mu dan mampukan aku untuk sungguh-sungguh bertobat dan kembali kepada-Mu. Amin.
Share:

Renungan Harian "Jangan Takut, Allah Akan Menuntun"

Ilustrasi Tuhan menuntun umat-Nya untuk tidak takut berdasarkan Ulangan 31:1–13
Jangan Takut, Allah Akan Menuntun
Tidak jarang kita merasa gentar saat menerima tanggung jawab baru. Tugas yang ada di depan terasa besar, sementara kemampuan diri terasa kecil. Kekhawatiran dan ketakutan pun mudah muncul. Firman Tuhan hari ini hadir untuk menenangkan hati kita: kita tidak berjalan sendirian.

Musa berada di akhir masa pelayanannya. Ia tidak lagi memimpin bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian. Namun, di tengah peralihan kepemimpinan itu, Musa tidak meninggalkan umat dengan ketidakpastian. Ia menegaskan bahwa TUHAN sendiri yang akan berjalan di depan mereka. Tuhan yang sama yang telah mengalahkan musuh-musuh sebelumnya akan kembali bertindak dan menyerahkan negeri itu ke dalam tangan mereka.

Janji Tuhan ini diulang berkali-kali: TUHAN akan. Tuhan akan menyeberang di depan, Tuhan akan memunahkan musuh, Tuhan akan menyerahkan negeri itu, Tuhan akan menyertai, dan Tuhan tidak akan meninggalkan. Pengulangan ini bukan tanpa makna. Tuhan ingin umat-Nya benar-benar yakin bahwa sumber kekuatan mereka bukanlah pemimpin manusia, melainkan Tuhan sendiri.

Pesan yang sama juga Musa sampaikan kepada Yosua. Tugas memimpin bangsa yang besar tentu bukan perkara mudah. Namun, Yosua dipanggil untuk menguatkan dan meneguhkan hati, bukan karena ia mampu, tetapi karena Tuhan yang berjalan di depan dan menyertainya.

Firman ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah memberi tugas tanpa penyertaan. Jika Tuhan memanggil kita melakukan sesuatu—melayani, mengampuni, melangkah dalam iman, atau memulai hal baru—Tuhan juga menyediakan kekuatan yang kita perlukan. Ketakutan sering muncul ketika kita terlalu fokus pada keterbatasan diri dan lupa pada kebesaran Tuhan.

Namun, penyertaan Tuhan tidak meniadakan tanggung jawab kita. Kita tetap dipanggil untuk taat dan berani melangkah. Iman bukan sekadar menunggu, tetapi bergerak sesuai dengan firman-Nya.

Hari ini, mungkin ada tugas yang sedang Tuhan percayakan kepada kita. Jangan takut. Kuatkan dan teguhkan hati. Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang menuntun, menyertai, dan memampukan.

Respons Pribadi
Renungkan tugas atau panggilan yang sedang Anda jalani. Adakah ketakutan yang menghalangi Anda untuk melangkah? Serahkan kekhawatiran itu kepada Tuhan dan percayalah pada penyertaan-Nya.
Doa
Tuhan, aku sering merasa takut dan ragu saat menghadapi tanggung jawab yang besar. Tolong aku untuk percaya bahwa Engkau berjalan di depanku. Kuatkan dan teguhkan hatiku agar aku taat dan berani melangkah sesuai kehendak-Mu. Amin.
Share:

Renungan Harian "Pilihan antara Kehidupan atau Kematian"

Ilustrasi dua pilihan kehidupan dan kematian berdasarkan Ulangan 30 dalam renungan Kristen
Pilihan antara Kehidupan atau Kematian
Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan pada banyak pilihan. Namun, di hadapan Tuhan, pilihan itu pada dasarnya hanya ada dua: kehidupan atau kematian. Allah dengan jelas menyatakan kepada umat-Nya bahwa mengasihi Dia berarti hidup, tetapi berpaling dari-Nya membawa kepada kebinasaan.

Melalui Musa, Tuhan menegaskan bahwa sekalipun umat-Nya pernah tidak setia dan mengalami pembuangan, harapan belum tertutup. Jika mereka mau kembali kepada Tuhan dengan segenap hati, Tuhan berjanji akan memulihkan keadaan mereka. Ia akan mengumpulkan, memberkati, dan membawa mereka kembali ke Tanah Perjanjian. Bahkan Tuhan sendiri yang akan “menyunat hati” mereka—mengubah batin mereka—agar mampu mengasihi Dia dan hidup taat kepada firman-Nya.

Firman ini menunjukkan bahwa Tuhan bukan Allah yang cepat membuang, melainkan Allah yang memberi kesempatan untuk bertobat. Namun, kesempatan itu disertai dengan tanggung jawab. Umat diperhadapkan pada dua jalan yang jelas: kehidupan dan kesejahteraan, atau kematian dan kecelakaan. Tidak ada jalan tengah.

Pilihan ini bukan sekadar soal hidup panjang di dunia, tetapi menyangkut kehidupan kekal. Tuhan menuntut kesetiaan, bukan hanya dalam ucapan, tetapi dalam arah hidup. Mengasihi Tuhan berarti menolak ilah-ilah lain—apa pun yang mengambil tempat Tuhan di hati kita.

Firman ini juga sangat relevan bagi kita hari ini. Menjadi orang Kristen tidak otomatis berarti memilih kehidupan. Iman sejati terlihat dari hati yang mengasihi Tuhan dan hidup menurut kehendak-Nya. Yesus sendiri mengingatkan bahwa tidak semua orang yang memanggil nama-Nya sungguh-sungguh mengenal Dia.

Karena itu, mari kita jujur pada diri sendiri. Apakah kita sungguh mengasihi Tuhan, atau hanya terbiasa dengan aktivitas rohani? Apakah hidup kita diarahkan oleh firman Tuhan, atau oleh keinginan pribadi? Firman hari ini memanggil kita untuk mengambil keputusan dengan serius.

Selama hari masih siang dan kesempatan masih diberikan, mari kita memilih kehidupan—hidup yang berkenan kepada Tuhan dan berujung pada keselamatan kekal.

Respons Pribadi
Renungkan pilihan hidup Anda hari ini. Apakah keputusan, sikap, dan arah hidup Anda menunjukkan kasih kepada Tuhan? Ambillah waktu untuk kembali dan menyerahkan hati sepenuhnya kepada-Nya.
Doa
Tuhan yang penuh kasih, aku bersyukur karena Engkau memberi aku pilihan dan kesempatan. Ampuni aku jika sering memilih jalanku sendiri. Bentuklah hatiku agar sungguh mengasihi-Mu dan hidup seturut kehendak-Mu. Aku memilih kehidupan di dalam Engkau. Amin.
Share:

Renungan Harian "Memberikan yang Terbaik untuk Tuhan"

Yohanes 12:1–8
Memberikan yang Terbaik untuk Tuhan
Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk mengekspresikan kasih. Ada yang menunjukkan lewat kata-kata, ada pula yang melalui tindakan nyata. Kadang, bentuk kasih itu terlihat sederhana. Namun, ada kalanya kasih dinyatakan melalui pengorbanan yang tidak kecil.

Maria menunjukkan kasihnya kepada Yesus dengan cara yang sangat berbeda. Di tengah perjamuan, saat Marta sibuk melayani dan Lazarus duduk bersama Yesus, Maria datang membawa minyak narwastu murni yang sangat mahal. Ia meminyaki kaki Yesus, bahkan menyekanya dengan rambutnya. Seluruh ruangan pun dipenuhi bau harum minyak itu.

Tindakan Maria membuat sebagian orang tidak nyaman. Yudas memandangnya sebagai pemborosan. Baginya, minyak itu seharusnya dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin. Namun, perkataannya bukan lahir dari kepedulian, melainkan dari hati yang tidak tulus.

Maria tidak sedang memamerkan apa yang ia miliki. Ia juga tidak menghitung untung rugi. Ia hanya tahu satu hal: Yesus layak menerima yang terbaik. Minyak itu sangat berharga—setara dengan upah hampir satu tahun kerja—namun Maria rela menyerahkannya tanpa ragu. Kasih membuatnya memberi tanpa syarat.

Melalui Maria, kita diajak bercermin. Apa yang selama ini kita berikan kepada Tuhan? Apakah hanya sisa waktu, tenaga, dan perhatian kita? Atau justru hal-hal terbaik yang kita miliki—waktu, kemampuan, harta, bahkan reputasi?

Yesus tidak menolak persembahan Maria. Ia melihat hati yang tulus dan pengabdian yang murni. Yesus juga mengingatkan bahwa hidup ini tidak hanya soal perkara duniawi yang sementara. Ada makna kekal yang sering kali luput dari perhatian kita.

Hari ini, Tuhan tidak menuntut kita memberi sesuatu yang sama seperti Maria. Namun, Ia rindu hati yang sama: hati yang mengasihi, menghormati, dan rela mempersembahkan yang terbaik. Semua yang kita miliki sesungguhnya berasal dari-Nya. Memberi yang terbaik adalah respons syukur atas anugerah keselamatan yang telah kita terima.

Respons Pribadi
Renungkan kembali hidup kita. Apakah Tuhan mendapat tempat utama? Adakah hal berharga yang masih kita tahan karena takut kehilangan? Serahkan semuanya dengan iman dan kasih kepada Tuhan.

Doa
Tuhan Yesus, terima kasih atas kasih dan pengorbanan-Mu bagiku. Ajarku untuk mengasihi-Mu dengan segenap hati. Tolong aku berani mempersembahkan yang terbaik dalam hidupku bagi-Mu, sebagai ungkapan syukur dan iman. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.