Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian "Allah, Bukan Kamu"

Tembok Yerikho runtuh karena kuasa Allah bukan kekuatan manusia 

Allah, Bukan Kamu

Yosua 6

Kisah runtuhnya tembok Yerikho sering kita dengar sejak kecil. Bangsa Israel berjalan mengelilingi kota, meniup sangkakala, lalu tembok itu roboh. Sebuah mukjizat besar terjadi.

Namun di balik kisah itu ada satu pesan yang sangat jelas: kemenangan itu bukan karena kekuatan Israel, melainkan karena Allah.

Tuhan sudah lebih dulu berfirman kepada Yosua bahwa Ia telah menyerahkan Yerikho ke tangan mereka. Janji itu datang sebelum peperangan dimulai. Artinya, kemenangan bukan hasil strategi manusia, tetapi karya Allah yang berdaulat.

Menariknya, Tuhan tidak menyuruh Israel menyerang dengan senjata atau memanjat tembok tinggi itu. Mereka hanya diminta berjalan mengelilingi kota dengan taat. Perintah yang sederhana. Bahkan tampak tidak masuk akal secara militer.

Melalui cara itu, Tuhan sedang mengajar umat-Nya satu hal penting:
Dialah yang berperang. Dialah yang memberi kemenangan.

Ketaatan Israel memang penting. Namun ketaatan itu bukan sumber mukjizat. Ketaatan hanyalah respons iman. Tuhan tidak membutuhkan bantuan manusia untuk menggenapi kehendak-Nya. Tetapi dalam kasih-Nya, Ia mengundang kita untuk ambil bagian agar kita belajar percaya.

Betapa sering kita tanpa sadar berpikir bahwa doa kita dijawab karena kita sudah cukup taat, sudah cukup baik, atau sudah melakukan banyak hal rohani. Seolah-olah perbuatan kita menjadi kunci yang membuka tangan Tuhan.

Renungan ini menegur hati kita dengan lembut:
Apakah kita bergantung pada Tuhan, atau pada usaha kita sendiri?

Ketaatan tetap penting. Namun ketaatan adalah wujud cinta dan kepercayaan kita, bukan alat untuk “memaksa” Tuhan bekerja. Semua yang terjadi tetap berada di bawah kedaulatan-Nya.

Jika hari ini kita sedang menghadapi “tembok Yerikho” dalam hidup—masalah besar, ketakutan, atau tantangan yang tampak mustahil—ingatlah: bukan kekuatan kita yang merobohkannya. Tuhanlah yang bertindak.

Tugas kita sederhana: percaya, taat, dan berjalan bersama-Nya.

Doa

Tuhan, ampuni aku jika aku sering mengandalkan kekuatanku sendiri. Ajarku untuk taat bukan demi mendapatkan sesuatu dari-Mu, tetapi sebagai bukti cintaku kepada-Mu. Tolong aku percaya bahwa Engkaulah yang berperang dan memberi kemenangan dalam hidupku. Amin.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 15 Februari 2026

 

Share:

Renungan Harian "Pemeliharaan Tuhan Itu Pasti"

Pemeliharaan Tuhan dari manna hingga hasil bumi Kanaan

Pemeliharaan Tuhan Itu Pasti

Yosua 5

Kekhawatiran sering datang tanpa diundang. Kita bertanya-tanya: bagaimana hari esok? Cukupkah yang kita miliki? Mampukah kita melewati masa depan?

Kekhawatiran membuat hati gelisah. Bahkan bisa merampas sukacita dan damai sejahtera. Namun firman Tuhan mengingatkan bahwa kekhawatiran tidak pernah menambah apa pun dalam hidup kita. Lalu mengapa kita tetap khawatir? Sering kali karena kita lupa bahwa Tuhan memelihara.

Dalam Yosua 5, kita melihat bagaimana Tuhan memelihara umat Israel dengan cara yang berbeda-beda sesuai keadaan mereka. Selama empat puluh tahun di padang gurun, Tuhan memberi mereka manna dari langit. Mereka hidup sebagai pengembara. Mereka tidak bisa bercocok tanam. Maka Tuhan menyediakan makanan langsung dari surga.

Tetapi ketika mereka masuk ke tanah Kanaan dan mulai menetap, manna berhenti turun. Tuhan tidak lagi memberi dengan cara yang sama. Kini mereka makan dari hasil bumi negeri itu. Tuhan tetap memelihara, tetapi dengan cara yang baru.

Di sini kita belajar sesuatu yang penting:
Pemeliharaan Tuhan itu pasti, tetapi caranya bisa berubah.

Kadang Tuhan memberi “manna” — pertolongan yang ajaib dan tak terduga. Kadang Ia memberi melalui pekerjaan, usaha, relasi, dan proses yang harus kita jalani. Namun sumbernya tetap sama: Tuhan.

Mungkin saat ini kita sedang berada di “padang gurun” kehidupan. Atau mungkin kita sedang memasuki “tanah perjanjian” yang baru. Apa pun musim hidup kita, Tuhan tidak pernah berhenti memelihara.

Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Apakah kita lebih percaya pada cara Tuhan bekerja, atau pada Tuhan yang bekerja?

Jangan biarkan kekhawatiran menguasai hati kita. Mari belajar melihat kembali perjalanan hidup kita. Bukankah sampai hari ini Tuhan tetap mencukupkan? Bukankah kita masih berdiri karena anugerah-Nya?

Pemeliharaan Tuhan tidak pernah terlambat dan tidak pernah salah sasaran. Ia sudah memelihara kita, sedang memelihara kita, dan akan terus memelihara kita.

Karena itu, mari jalani hidup dengan hati yang penuh syukur, bukan penuh takut.

Doa

Tuhan, ampunilah aku ketika aku lebih memilih khawatir daripada percaya. Ajarku melihat pemeliharaan-Mu dalam setiap musim hidupku. Teguhkan hatiku untuk percaya bahwa Engkau tidak pernah meninggalkanku. Penuhi hidupku dengan syukur dan damai sejahtera. Amin.

Share:

Renungan Harian "Batu Peringatan"

Batu peringatan di Gilgal sebagai tanda karya Tuhan

Batu Peringatan

Yosua 4

Dalam hidup, orang sering membuat tanda untuk mengenang sesuatu yang penting. Ada batu peresmian bangunan, ada pula batu nisan. Semua itu menjadi penanda bahwa pernah terjadi sesuatu yang bermakna.

Demikian juga Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk membuat batu-batu peringatan setelah mereka menyeberangi Sungai Yordan. Batu-batu itu diambil dari tengah sungai, dari tempat para imam berdiri ketika air terbelah. Lalu batu-batu itu ditegakkan di Gilgal.

Mengapa Tuhan memerintahkan hal itu?

Supaya umat-Nya tidak lupa. Supaya mereka selalu ingat bahwa Tuhanlah yang membuat Sungai Yordan terbelah dan memberi mereka jalan masuk ke Tanah Perjanjian. Batu-batu itu akan menjadi bahan cerita bagi anak cucu mereka. Ketika generasi berikutnya bertanya, “Apa arti batu-batu ini?”, mereka bisa menceritakan tentang kuasa dan kesetiaan Tuhan.

Tuhan tahu manusia mudah lupa. Kita cepat melupakan pertolongan-Nya ketika hidup kembali terasa biasa. Kita sering lebih mengingat masalah daripada mukjizat.

Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Apakah kita memiliki “batu peringatan” dalam hidup kita?

Mungkin bukan batu secara harfiah. Bisa berupa catatan doa yang dijawab Tuhan, kesaksian hidup, foto momen pemulihan, atau cerita yang terus kita bagikan kepada keluarga. Hal-hal itu menolong kita mengingat bahwa Tuhan pernah dan terus bekerja.

Ketika kita mengingat karya Tuhan, iman kita diteguhkan. Ketika kita menceritakannya, iman orang lain dibangun. Iman tidak hanya dijaga, tetapi juga diwariskan.

Mari mulai membangun “batu-batu peringatan” dalam hidup kita. Ingatlah setiap kebaikan Tuhan. Ceritakan kepada anak, keluarga, dan siapa pun yang mau mendengar. Supaya semakin banyak orang percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.

Doa

Tuhan, ajar aku untuk tidak melupakan karya-Mu dalam hidupku. Tolong aku peka melihat pertolongan-Mu setiap hari. Mampukan aku menceritakan kebaikan-Mu kepada generasi berikutnya, supaya iman kami semakin kuat. Amin.

Share:

Renungan Harian "Panggilan-Nya Pasti Diteguhkan"

Tuhan meneguhkan panggilan Yosua melalui mukjizat Sungai Yordan
Panggilan-Nya Pasti Diteguhkan
Setiap orang menerima panggilan hidup yang unik dari Tuhan. Namun, tidak jarang kita meragukan panggilan itu—terutama saat menghadapi kesulitan, masa krisis, atau bahkan di tengah rutinitas yang terasa biasa saja. Kita ingin diyakinkan: Benarkah Tuhan memanggil aku?

Keraguan semacam ini juga pernah dialami Yosua. Ia dipanggil untuk memimpin Israel menggantikan Musa—seorang pemimpin besar yang sulit tergantikan. Tanggung jawab itu berat. Namun, Tuhan tidak membiarkan Yosua melangkah dengan keraguan. Tuhan meneguhkan panggilan-Nya.

Sebagaimana Musa diteguhkan melalui peristiwa Laut Teberau yang terbelah, demikian pula Yosua diteguhkan melalui mukjizat Sungai Yordan. Sungai yang biasanya berarus deras itu tiba-tiba berhenti mengalir. Airnya terbelah, dan bangsa Israel berjalan di tanah yang kering. Mukjizat ini bukan sekadar peristiwa ajaib, melainkan tanda jelas bahwa Tuhan menyertai Yosua dan meneguhkan panggilannya di hadapan seluruh umat.

Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa panggilan Tuhan tidak pernah berdiri sendiri. Tuhan yang memanggil adalah Tuhan yang setia meneguhkan. Peneguhan itu bisa datang dalam bentuk yang luar biasa, tetapi sering kali juga hadir lewat hal-hal sederhana—pertolongan kecil, kekuatan di saat lemah, atau damai sejahtera yang tidak dapat dijelaskan.

Renungan ini mengajak kita untuk menengok kembali perjalanan hidup kita. Di mana saja kita melihat tangan Tuhan bekerja? Mungkin bukan melalui mukjizat besar, tetapi melalui kesetiaan-Nya yang terus menyertai langkah demi langkah.

Jika hari ini kita masih bertanya-tanya tentang panggilan hidup kita, firman Tuhan meneguhkan bahwa Ia tidak pernah lalai. Ia menciptakan kita dengan maksud yang baik dan rencana yang mulia. Karena itu, jangan berkecil hati. Teruslah percaya, hayati panggilan Tuhan atas hidup kita, dan jalani setiap langkah dengan penuh syukur.

Doa
Tuhan, terima kasih karena Engkau mengenal hidupku dan memanggilku dengan tujuan yang indah. Ketika aku ragu, teguhkanlah hatiku. Tolong aku peka melihat karya-Mu dalam hidupku dan setia melangkah bersama-Mu. Amin.
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.