Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian "Memilih Kebenaran atau Reputasi?"

Seseorang berdiri dalam cahaya sebagai simbol memilih kebenaran dalam firman Tuhan

Memilih Kebenaran atau Reputasi?

Renungan dari Yohanes 12:9–11

Dalam hidup, ada saat-saat ketika kita harus memilih antara kebenaran atau reputasi. Pilihan ini tidak selalu mudah. Mengakui kebenaran kadang bisa membuat kita kehilangan posisi, dihina, atau dipandang buruk oleh orang lain. Karena itu tidak sedikit orang yang memilih menjaga reputasi daripada berdiri di pihak kebenaran.

Namun firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa pilihan seperti itu bukan hal baru.

Setelah Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian, banyak orang datang untuk melihat Yesus dan juga Lazarus. Ia menjadi bukti nyata bahwa Yesus memiliki kuasa atas hidup dan mati.

Tetapi para imam kepala justru merasa terancam. Mereka takut kehilangan kekuasaan dan pengaruh mereka. Bukannya menerima kebenaran yang jelas terlihat, mereka malah berencana untuk membunuh Lazarus agar bukti kuasa Yesus bisa dihilangkan.

Mereka lebih memilih mempertahankan reputasi daripada menerima kebenaran.

Namun usaha mereka sia-sia. Banyak orang justru percaya kepada Yesus karena apa yang terjadi pada Lazarus. Kebenaran tidak bisa dihancurkan begitu saja.

Seorang teolog bernama Agustinus pernah berkata bahwa kebenaran seperti seekor singa—tidak perlu dipertahankan dengan keras, cukup dilepaskan dan ia akan membela dirinya sendiri. Artinya, kebenaran pada akhirnya akan tetap berdiri, meskipun ada orang yang mencoba menutupinya.

Renungan ini mengajak kita melihat diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, apakah kita berani berdiri di pihak kebenaran?
Ataukah kita lebih sering memilih diam demi menjaga nama baik atau kenyamanan?

Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk hidup dalam kebenaran. Reputasi yang baik memang penting, tetapi kebenaran jauh lebih penting.

Lebih baik kehilangan reputasi karena mempertahankan kebenaran, daripada kehilangan kebenaran demi mempertahankan reputasi.

Doa

Tuhan, ajar aku untuk mencintai kebenaran lebih dari apa pun. Beri aku keberanian untuk berdiri di pihak yang benar, meskipun itu tidak mudah. Tolong aku agar tidak mengorbankan kebenaran demi menjaga reputasi di mata manusia. Biarlah hidupku memuliakan Engkau. Amin.

Share:

Renungan Harian "Jejak Iman Seorang Hamba Setia"

 

Jejak langkah menuju cahaya sebagai simbol jejak iman dalam firman Tuhan

Jejak Iman Seorang Hamba Setia

Renungan dari Yosua 24:29–33

Banyak orang ingin dikenang setelah meninggalkan dunia ini. Ada yang ingin dikenang karena kesuksesan, harta, atau prestasi yang mereka capai. Semua itu memang tidak salah. Namun ada sesuatu yang jauh lebih berharga untuk ditinggalkan, yaitu jejak iman.

Yosua adalah salah satu contoh indah tentang seseorang yang meninggalkan jejak iman yang kuat.

Sejak muda, Yosua sudah setia mengikuti Tuhan. Ia melayani Musa dan belajar berjalan dalam ketaatan. Ketika tiba waktunya, Tuhan memanggilnya untuk menggantikan Musa memimpin bangsa Israel.

Tugas itu tidak mudah.
Ia harus menggantikan pemimpin besar seperti Musa.
Ia harus memimpin bangsa yang sering keras hati.
Ia harus menghadapi musuh-musuh yang kuat di tanah Kanaan.

Secara manusia, Yosua tentu merasa takut dan gentar. Karena itu Tuhan berulang kali menguatkan dia dan berkata, “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu.”

Yosua memilih untuk tetap taat pada firman Tuhan. Dengan kesetiaan yang terus dijaga, ia memimpin bangsa Israel mengalami kemenangan demi kemenangan. Tuhan bekerja melalui hidupnya.

Yang paling indah dari kehidupan Yosua terlihat pada akhir hidupnya. Firman Tuhan mencatat bahwa selama Yosua hidup, bangsa Israel tetap beribadah kepada Tuhan. Artinya, kehidupan Yosua menjadi teladan iman bagi orang-orang di sekitarnya.

Ia tidak hanya memimpin dengan kata-kata, tetapi juga dengan hidupnya.

Renungan ini mengajak kita bertanya kepada diri sendiri:
Jejak apa yang akan kita tinggalkan suatu hari nanti?

Apakah orang-orang di sekitar kita akan semakin dekat dengan Tuhan karena hidup kita?
Ataukah hidup kita tidak memberi pengaruh apa-apa bagi iman orang lain?

Tidak ada kehidupan yang sempurna. Namun kita bisa memilih untuk hidup setia kepada Tuhan setiap hari.

Seperti Yosua, marilah kita berjalan dalam iman dan ketaatan sampai akhir hidup kita. Biarlah suatu hari nanti Tuhan berkata kepada kita: “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.”

Doa

Tuhan, terima kasih untuk teladan kesetiaan Yosua. Tolong aku untuk hidup setia kepada-Mu setiap hari. Ajarku untuk taat pada firman-Mu dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarku. Biarlah hidupku meninggalkan jejak iman yang memuliakan nama-Mu. Amin.

Share:

Renungan Harian " Pilihlah Tuhan Hari Ini "

Seseorang berdiri di persimpangan jalan sebagai simbol memilih Tuhan dalam firman Tuhan

Pilihlah Tuhan Hari Ini

Renungan dari Yosua 24:1–28

Hidup kita dipenuhi dengan berbagai pilihan.
Kita memilih tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, bahkan pasangan hidup. Setiap pilihan biasanya kita pikirkan dengan matang karena memengaruhi masa depan kita.

Namun ada satu pilihan yang jauh lebih penting daripada semua pilihan itu—pilihan yang bukan hanya memengaruhi hidup kita di dunia, tetapi juga kekekalan kita.

Itulah pilihan untuk mengikut Tuhan.

Di akhir hidupnya, Yosua mengumpulkan bangsa Israel dan mengingatkan mereka tentang perjalanan panjang yang telah Tuhan lakukan bagi mereka. Dari zaman nenek moyang mereka, Tuhanlah yang memanggil, memimpin, melindungi, dan memberikan tanah perjanjian kepada mereka.

Semua itu adalah bukti kesetiaan Tuhan.

Setelah mengingatkan karya Tuhan tersebut, Yosua menantang bangsa Israel untuk membuat sebuah keputusan penting: apakah mereka akan tetap menyembah Tuhan atau mengikuti allah-allah lain.

Di tengah tantangan itu, Yosua memberikan teladan yang sangat kuat. Ia berkata,
“Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.”

Yosua tidak menunggu keputusan orang lain. Ia terlebih dahulu menentukan pilihan hidupnya. Ia tahu bahwa mengikut Tuhan bukan sekadar tradisi atau ikut-ikutan, tetapi sebuah keputusan pribadi yang harus dijalani dengan kesadaran penuh.

Yosua juga mengingatkan bahwa pilihan ini tidak mudah. Mengikut Tuhan berarti meninggalkan hal-hal yang dapat menjadi berhala dalam hidup kita.

Renungan ini juga berbicara kepada kita hari ini.

Apa yang paling menguasai hati kita?
Apakah Tuhan benar-benar menjadi yang utama dalam hidup kita?
Ataukah ada hal-hal lain yang diam-diam menggantikan posisi Tuhan?

Hari ini kita juga dihadapkan pada pilihan yang sama. Kita tidak bisa hidup di tengah-tengah. Kita harus menentukan sikap.

Mari dengan sungguh-sungguh berkata seperti Yosua:
aku dan keluargaku akan tetap mengikut Tuhan.

Doa

Tuhan, terima kasih karena Engkau telah setia memimpin hidupku sampai hari ini. Tolong aku untuk memilih Engkau setiap hari dalam hidupku. Beri aku keberanian untuk meninggalkan segala sesuatu yang dapat menjauhkan aku dari-Mu. Biarlah hidupku dan keluargaku selalu setia menyembah Engkau. Amin.

Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 15 Maret 2026

 

Share:

Renungan Harian "Tetap Berpaut pada Tuhan"

Orang berpegangan pada batu karang sebagai simbol berpaut pada Tuhan dalam firman Tuhan

Tetap Berpaut pada Tuhan

Renungan dari Yosua 23

Setiap orang yang berada di akhir hidupnya biasanya akan menyampaikan pesan yang paling penting bagi orang-orang yang ditinggalkan. Pesan itu bukan sekadar kata-kata biasa, tetapi sesuatu yang dianggap sangat berharga.

Demikian juga dengan Yosua. Di akhir hidupnya, ia memberikan wasiat kepada bangsa Israel. Dari seluruh pesan yang ia sampaikan, inti pesannya sebenarnya sangat sederhana namun sangat penting:

tetap berpaut kepada Tuhan.

Bangsa Israel saat itu sedang menikmati masa yang baik. Mereka telah memasuki tanah perjanjian. Mereka hidup dalam keamanan dan kelimpahan. Justru dalam keadaan seperti itulah bahaya sering muncul—hati manusia mudah berpaling dari Tuhan.

Yosua tahu bahwa godaan terbesar bagi umat Tuhan bukan hanya penderitaan, tetapi juga kenyamanan. Ketika hidup terasa cukup, kita bisa mulai bersandar pada kekuatan sendiri, pada harta, atau pada hal-hal yang terlihat.

Karena itu Yosua mengingatkan mereka akan dua hal penting.

Pertama, ingatlah perbuatan Tuhan di masa lalu.
Semua yang mereka miliki bukan hasil kekuatan mereka sendiri. Tuhanlah yang berperang bagi mereka, Tuhanlah yang memberi kemenangan, dan Tuhanlah yang membawa mereka sampai di tanah perjanjian.

Ketika kita mengingat karya Tuhan dalam hidup kita, hati kita akan tetap rendah hati dan terus bergantung kepada-Nya.

Kedua, jangan terpengaruh oleh lingkungan yang menjauhkan dari Tuhan.
Bangsa Israel hidup di tengah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Jika mereka tidak berhati-hati, mereka bisa mengikuti cara hidup yang sama dan akhirnya berpaling dari Tuhan.

Hal ini juga berlaku bagi kita. Dunia di sekitar kita sering menawarkan banyak hal yang bisa menjauhkan kita dari Tuhan.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Apakah aku masih berpaut pada Tuhan?
Ataukah aku mulai lebih bergantung pada diriku sendiri?

Tetaplah dekat dengan Tuhan. Ingatlah selalu kebaikan-Nya, dan jagalah hati agar tidak terbawa oleh pengaruh yang menjauhkan kita dari-Nya.

Doa

Tuhan, terima kasih atas segala kebaikan-Mu dalam hidupku. Engkau yang memimpin dan menolongku sampai hari ini. Tolong aku untuk selalu berpaut kepada-Mu dan tidak mengandalkan kekuatanku sendiri. Jagalah hatiku agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang menjauhkan aku dari-Mu. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.