Diundi
Yosua 14:1–5
Membagi sesuatu kepada banyak orang bukan perkara mudah. Selalu ada potensi perbandingan, kecurigaan, bahkan rasa tidak adil. Apalagi jika yang dibagikan adalah tanah pusaka—warisan yang akan menentukan masa depan setiap suku.
Setelah menyeberangi Sungai Yordan, masih ada sembilan setengah suku yang belum menerima bagian mereka. Tanah Kanaan luas dan beragam. Jika pembagian dilakukan sepenuhnya berdasarkan keputusan manusia, sangat mungkin muncul tuduhan pilih kasih atau penyalahgunaan kuasa.
Karena itu, TUHAN memerintahkan agar pembagian dilakukan dengan undi (ay.2).
Undian di sini bukan sekadar metode teknis, melainkan wujud ketaatan dan pengakuan akan kedaulatan Allah. Israel tidak membagi tanah menurut keinginan sendiri (ay.5). Mereka tunduk pada cara yang Tuhan tetapkan.
Secara manusiawi, undian terlihat seperti sesuatu yang “acak.” Namun bagi umat Tuhan, tidak ada yang benar-benar kebetulan. Di balik undian itu, Allah yang berdaulat tetap bekerja. Ia menentukan bagian setiap suku sesuai dengan rencana-Nya.
Menarik juga melihat bahwa suku Lewi tidak menerima tanah pusaka seperti suku-suku lain. Bukan karena mereka kurang penting, melainkan karena mereka memiliki panggilan khusus sebagai pelayan Tuhan. Mereka hidup dari persembahan umat dan ditempatkan di kota-kota yang tersebar, agar dapat melayani seluruh Israel.
Ini mengajarkan bahwa “bagian” setiap orang memang berbeda. Tidak semua menerima bentuk berkat yang sama. Ada yang mendapat wilayah luas, ada yang mendapat peran pelayanan. Namun semuanya sama-sama berada dalam rancangan Tuhan.
Dalam hidup kita pun demikian. Kadang kita membandingkan bagian kita dengan orang lain:
-
Mengapa ia mendapat lebih?
-
Mengapa jalannya lebih mudah?
-
Mengapa perannya terlihat lebih besar?
Yosua 14 mengingatkan bahwa Tuhanlah yang menentukan bagian kita. Tugas kita bukan membandingkan, melainkan menerima dan mengelola bagian itu dengan setia.
Jika Tuhan berdaulat dalam pembagian tanah Kanaan, Ia pun berdaulat atas:
-
Keluarga tempat kita dilahirkan,
-
Talenta yang kita miliki,
-
Kesempatan yang kita terima,
-
Musim hidup yang sedang kita jalani.
Percayalah, bagian yang Tuhan tetapkan selalu cukup untuk maksud-Nya dalam hidup kita.
Doa
Tuhan, ajarku menerima bagian yang Engkau tetapkan bagiku dengan hati yang bersyukur. Jauhkan aku dari iri hati dan perbandingan. Tolong aku setia mengelola setiap tanggung jawab yang Engkau percayakan. Amin.
















