Renungan Harian : Malu Bukan Tabu
Galatia 1:11-24
Setiap orang memiliki masa lalu. Ada pengalaman yang membuat kita bangga, tetapi ada juga yang ingin kita sembunyikan karena merasa malu. Namun, masa lalu yang kelam tidak berarti hidup kita tidak lagi berguna bagi Tuhan.
Paulus pernah menjadi seorang yang sangat giat dalam agama Yahudi. Ia bahkan menganiaya jemaat dan berusaha menghancurkan iman kepada Kristus. Namun, Allah memanggilnya dengan kasih karunia dan mengubah hidupnya. Paulus kemudian menjadi pemberita Injil kepada bangsa-bangsa lain.
Paulus menegaskan bahwa Injil yang diberitakannya bukan hasil pemikiran manusia. Ia menerimanya melalui penyataan Yesus Kristus. Karena itu, perubahan hidup Paulus bukan sekadar perubahan arah hidup, melainkan karya kasih karunia Allah.
Jemaat-jemaat yang dahulu mengenal Paulus sebagai penganiaya kemudian mendengar bahwa orang yang pernah berusaha membinasakan iman mereka kini justru memberitakan iman kepada Kristus. Masa lalunya tetap menjadi bagian dari kisah hidupnya, tetapi masa lalu itu tidak lagi menentukan siapa dirinya.
Demikian juga dengan kita. Mungkin ada bagian dari masa lalu yang membuat kita malu, menyesal, atau berharap dapat melupakannya. Namun, jangan biarkan masa lalu membuat kita merasa tidak layak dipakai Tuhan. Allah sanggup mengampuni, memulihkan, dan mengubahkan hidup seseorang menjadi kesaksian tentang kasih karunia-Nya.
Masa lalu boleh menjadi bagian dari cerita kita, tetapi bukan penentu akhir hidup kita. Serahkanlah masa lalu kepada Tuhan dan izinkan Dia memakai hidup kita untuk menyatakan kebesaran kasih karunia-Nya.
🙏 Doa
Tuhan Yesus, terima kasih karena kasih karunia-Mu sanggup mengampuni dan mengubahkan kami. Tolong kami menerima pemulihan-Mu dan memakai hidup kami menjadi kesaksian tentang kasih-Mu. Amin.