Jangan Salah Ambil Keputusan!
Ketika hati sedang dipenuhi ketakutan, kesedihan, atau kekecewaan, kita mudah mengambil keputusan tanpa berpikir jernih. Dalam kondisi tertekan, sesuatu yang tampak benar belum tentu benar di hadapan Tuhan.
Daud sedang berada dalam keadaan yang sangat sulit karena harus melarikan diri dari Absalom. Di tengah perjalanan, Ziba datang membawa makanan dan keledai untuk Daud. Namun, ia juga menyampaikan tuduhan bahwa Mefiboset telah mengkhianati Daud dan ingin merebut kembali takhta Saul.
Daud langsung mempercayai perkataan Ziba tanpa memeriksa kebenarannya. Akibatnya, ia mengambil keputusan yang merugikan Mefiboset. Belakangan diketahui bahwa cerita Ziba tidak sepenuhnya benar (2 Samuel 19:26-27).
Dari sini kita belajar bahwa keadaan hati yang sedang kacau dapat memengaruhi cara kita mengambil keputusan. Ketika kecewa, marah, takut, atau tertekan, kita mudah mempercayai informasi yang sesuai dengan perasaan kita.
Namun, ada teladan lain dari Daud. Ketika Simei mengutuk dan melemparinya dengan batu, Daud tidak membalas. Ia memilih berserah kepada Tuhan dan menyerahkan penghakiman kepada-Nya (ayat 10-14).
Kita pun akan menghadapi situasi yang membuat hati tidak tenang. Jangan terburu-buru mengambil keputusan. Berhentilah sejenak, bawalah persoalan kepada Tuhan, periksa kebenaran, dan mintalah hikmat-Nya.
Jangan biarkan emosi menentukan langkah kita. Ketika hati tenang di hadapan Tuhan, kita akan lebih mampu melihat masalah dengan jernih dan mengambil keputusan yang benar.
Doa:
Tuhan, ketika hatiku dipenuhi takut, kecewa, atau marah, ajarlah aku untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. Berikan hikmat untuk membedakan yang benar dan salah, serta tuntun setiap langkahku sesuai kehendak-Mu. Amin.