Gotong Royong Rohani
Ketika seseorang melakukan kesalahan, kita sering lebih mudah menunjuk dan menghakimi daripada menolong. Apalagi di media sosial, kesalahan seseorang dapat dengan cepat menjadi bahan pergunjingan dan mempermalukannya.
Namun, Paulus mengajarkan cara yang berbeda. Jika seorang saudara jatuh dalam kesalahan, kita dipanggil untuk memulihkannya dengan roh lemah lembut, bukan mempermalukannya. Kita juga diminta untuk saling menanggung beban dan memperhatikan kehidupan satu sama lain.
Menolong orang lain bukan berarti kita merasa lebih baik atau lebih suci. Justru kita harus menyadari bahwa kita pun memiliki kelemahan. Karena itu, ketika melihat seseorang jatuh, jangan buru-buru menghakimi. Ulurkan tangan, berikan penguatan, dan arahkan kembali kepada Tuhan.
Paulus juga mengingatkan tentang hukum menabur dan menuai. Apa yang kita tabur akan kita tuai. Jika kita menabur dalam Roh melalui kasih, kebaikan, kesabaran, dan kesetiaan, janganlah kita menjadi lelah dalam melakukannya. Pada waktunya kita akan menuai, jika kita tidak menyerah.
Mungkin kebaikan yang kita lakukan hari ini belum terlihat hasilnya. Mungkin pertolongan kita tidak dihargai. Namun Tuhan melihat setiap benih kebaikan yang kita taburkan.
Mari membangun budaya yang berbeda: bukan saling menjatuhkan, tetapi saling menopang; bukan mempermalukan, tetapi memulihkan; bukan mencari kesalahan, tetapi menghadirkan kasih.
Apakah kehadiran saya selama ini membuat orang lain semakin kuat, atau justru semakin terluka?
Mulailah dari keluarga, pasangan, sahabat, jemaat, dan rekan kerja. Jadilah orang yang bersedia memikul beban sesama dan terus menabur kebaikan.
🙏 Doa:
Tuhan, ajarku memiliki hati yang lembut terhadap kelemahan sesama. Tolong aku tidak menghakimi, tetapi mau menolong, menguatkan, dan memulihkan. Mampukan aku terus menabur kebaikan. Amin.