Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: hidup benar
Tampilkan postingan dengan label hidup benar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hidup benar. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian "Kejahatan Tidak Pernah Menang"

Kejahatan Tidak Pernah Menang

Hakim-hakim 9:50–57

Kadang kita melihat orang jahat seolah berhasil.
Seolah mereka kuat… tak tersentuh… dan menang.

Namun firman Tuhan hari ini menunjukkan kenyataan yang berbeda.

Abimelekh adalah orang yang penuh ambisi dan kekejaman.
Ia meraih kekuasaan dengan cara yang salah,
dan mempertahankannya dengan kekerasan.

Ia merasa kuat.
Ia merasa berkuasa.

Tetapi semua itu tidak bertahan lama.

Di puncak kekuatannya,
justru di situlah kejatuhannya dimulai.

Bukan oleh raja besar.
Bukan oleh pasukan kuat.
Tetapi oleh hal yang tidak ia duga—
seorang perempuan dengan batu kilangan.

Dalam sekejap, semuanya berakhir.

Kisah ini mengingatkan kita:
kejahatan mungkin terlihat kuat,
tetapi tidak akan pernah menang untuk selamanya.

Tuhan melihat.
Tuhan tahu.
Dan pada waktunya, Tuhan bertindak.

Mungkin hari ini kita bertanya,
“Mengapa orang yang tidak benar terlihat berhasil?”

Namun firman Tuhan mengajak kita untuk percaya:
keadilan Tuhan tidak pernah terlambat.

Sekaligus, ini juga menjadi peringatan bagi kita.

Jangan merasa aman dalam dosa.
Jangan merasa bahwa kesalahan kita tidak terlihat.

Karena setiap perbuatan
akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk hidup berbeda—
hidup dalam kerendahan hati,
hidup dalam kebenaran,
dan hidup yang takut akan Tuhan.

Bukan karena kita takut dihukum,
tetapi karena kita mengasihi Dia.

Doa

Tuhan,
aku sadar bahwa Engkau adalah Allah yang adil.

Jaga hatiku agar tidak hidup dalam kesombongan
dan tidak bermain-main dengan dosa.

Tolong aku untuk tetap setia hidup benar,
meskipun dunia terlihat tidak adil.

Ajarku percaya pada waktu dan keadilan-Mu.

Amin.

Share:

Renungan Harian " Dosa Membawa Kehancuran '

Bangunan runtuh sebagai gambaran dampak dosa yang menghancurkan hidup

 Dosa Membawa Kehancuran

Hakim-hakim 9:22–49

Sering kali dosa terlihat “kecil” di awal.
Seolah tidak berbahaya…
seolah tidak akan berdampak besar.

Namun firman Tuhan hari ini menunjukkan hal yang berbeda.

Kisah Abimelekh adalah contoh nyata.
Ambisinya membuatnya melakukan kejahatan.
Dan dosa itu tidak berhenti di satu titik—
tetapi terus berkembang.

Hubungan rusak.
Kepercayaan hancur.
Kekerasan terjadi.

Bahkan orang-orang yang dulu mendukungnya
akhirnya berbalik melawan.

Mengapa?
Karena dosa tidak pernah membawa damai.

Ia mungkin memberi keuntungan sementara,
tetapi pada akhirnya… membawa kehancuran.

Kita juga bisa mengalaminya dalam hidup.

Saat kita menyimpan kepahitan…
saat kita mulai tidak jujur…
saat kita mengikuti keinginan yang salah…

Semua itu perlahan merusak hati kita.

Hari ini, Tuhan mengingatkan kita dengan kasih:
jangan bermain-main dengan dosa.

Karena dosa tidak hanya merusak hubungan dengan Tuhan,
tetapi juga dengan orang lain… bahkan diri kita sendiri.

Namun kabar baiknya:
Tuhan selalu membuka jalan untuk kembali.

Tidak peduli sejauh apa kita telah jatuh,
Tuhan tetap menunggu kita untuk bertobat.

Hari ini adalah kesempatan untuk kembali.
Kembali kepada jalan yang benar.
Kembali kepada hati yang bersih di hadapan Tuhan.


Doa

Tuhan,
aku menyadari bahwa dosa bisa merusak hidupku.

Ampuni aku jika aku pernah meremehkan dosa
dan membiarkannya tinggal dalam hidupku.

Tolong aku untuk berani meninggalkan yang salah
dan kembali kepada-Mu.

Pulihkan hatiku, Tuhan,
dan tuntun aku berjalan dalam kebenaran-Mu.

Amin.

Share:

Renungan Harian " Tetap Setia di Tengah Kebaikan dan Kecewa "

Rantai kasih sebagai simbol kesetiaan yang harus dijaga dalam hidup

Tetap Setia di Tengah Kebaikan dan Kecewa

Hakim-hakim 8:22–35

Kisah Gideon dimulai dengan begitu indah.
Tuhan memakainya untuk membawa kemenangan besar bagi Israel.

Bahkan bangsa itu ingin menjadikannya raja.
Namun Gideon menolak,
karena ia tahu hanya Tuhanlah Raja yang sejati.

Sebuah awal yang baik…
namun sayangnya tidak berakhir dengan baik.

Gideon membuat efod dari emas hasil rampasan.
Dan tanpa disadari, itu menjadi jerat.
Bangsa Israel mulai menyembahnya.

Setelah Gideon meninggal,
mereka kembali meninggalkan Tuhan.
Mereka juga melupakan kebaikan Gideon.

Dari kisah ini, kita melihat sesuatu yang menyedihkan:
manusia mudah lupa.

Lupa akan kebaikan Tuhan.
Lupa akan kesetiaan orang lain.
Dan perlahan, hati kita bisa beralih kepada hal-hal lain.

Bukankah ini juga bisa terjadi dalam hidup kita?

Saat Tuhan memberkati,
kita justru mulai mengandalkan hal lain.
Saat orang lain setia,
kita bisa membalas dengan sikap yang dingin.

Firman hari ini mengingatkan kita dua hal penting:

Jangan membalas kebaikan Tuhan dengan berpaling dari-Nya.
Dan jangan membalas kesetiaan orang lain dengan ketidaksetiaan.

Hidup ini seperti rantai kasih.
Apa yang kita terima, seharusnya kita teruskan.

Namun lebih dari itu,
kita dipanggil untuk tetap berbuat baik—
bahkan ketika orang lain tidak melakukannya kepada kita.

Karena kesetiaan kita bukan tergantung pada orang lain,
tetapi pada Tuhan.

Doa

Tuhan,
terima kasih untuk setiap kebaikan dan kesetiaan yang aku terima.

Ampuni aku jika aku sering lupa dan tidak menghargainya.
Jaga hatiku agar tidak berpaling dari-Mu.

Ajarku untuk tetap setia,
dan terus berbuat baik,
apa pun respons orang lain terhadapku.

Biarlah hidupku memuliakan nama-Mu.

Amin.

Share:

Renungan Harian "Jangan Ikut Arus yang Salah"

Seseorang berdiri berbeda dari kerumunan sebagai simbol tetap setia di tengah dosa massal

Jangan Ikut Arus yang Salah

Hakim-hakim 2:1–5

Ada kalanya kita merasa aman melakukan sesuatu yang salah…
karena banyak orang juga melakukannya.

Seolah-olah, kalau dilakukan bersama-sama, itu menjadi “wajar”.
Seolah-olah, kita tidak akan apa-apa.

Namun firman Tuhan hari ini menunjukkan hal yang berbeda.

Bangsa Israel tidak taat kepada Tuhan.
Mereka tidak menghancurkan mezbah bangsa lain seperti yang diperintahkan.
Dan ini bukan hanya dilakukan oleh satu orang—
tetapi oleh banyak orang, bahkan hampir seluruh bangsa.

Akibatnya, Tuhan menyatakan hukuman.
Ia membiarkan bangsa-bangsa itu tetap ada,
menjadi jerat dan masalah bagi mereka.

Saat itu, bangsa Israel menangis.
Tempat itu dinamai Bokhim—tempat ratapan.

Dari sini kita belajar:
dosa yang dilakukan bersama-sama tetaplah dosa.

Banyaknya orang yang melakukan kesalahan
tidak membuat kesalahan itu menjadi benar.

Sering kali kita berkata dalam hati:
“Semua orang juga melakukannya…”
“Tuhan pasti mengerti…”
“Ini hal biasa…”

Namun Tuhan melihat hati kita.
Ia tidak menilai berdasarkan mayoritas,
tetapi berdasarkan kebenaran.

Hari ini, kita diajak untuk berani berbeda.
Berani berkata “tidak” saat banyak orang berkata “ya” pada dosa.
Berani tetap setia, meskipun harus berjalan sendiri.

Karena kesetiaan kepada Tuhan
lebih penting daripada diterima oleh banyak orang.

Doa

Tuhan,
ampuni aku jika aku sering ikut arus yang salah.

Sering kali aku lebih takut kepada manusia
daripada hidup benar di hadapan-Mu.

Berikan aku keberanian untuk tetap setia,
meskipun harus berbeda dari banyak orang.

Tolong aku untuk hidup dalam kebenaran-Mu setiap hari.

Amin.

Share:

Renungan Harian "Pembela Kebenaran"

Nikodemus membela kebenaran dengan keberanian iman
Pembela Kebenaran
Membela kebenaran bukanlah pilihan yang mudah. Apalagi ketika kita sadar bahwa sikap itu bisa membawa risiko—disalahpahami, ditolak, bahkan disingkirkan. Tidak heran jika banyak orang, termasuk anak-anak Tuhan, memilih diam. Bungkam sering kali terasa lebih aman daripada bersuara.

Namun firman Tuhan hari ini memperkenalkan kita pada seorang yang berani mengambil risiko itu: Nikodemus. Di tengah kemarahan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat yang berusaha menjatuhkan Yesus, Nikodemus berdiri dan bersuara. Ia tidak berteriak, tidak memaki, tetapi menyampaikan kebenaran dengan bijaksana: “Apakah Hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukan-Nya?” (ay. 51).

Nikodemus tahu betul risikonya. Ia bisa menjadi sasaran ejekan, dikucilkan, bahkan mengalami ancaman seperti yang dialami Yesus. Namun ia tetap memilih berpihak pada kebenaran. Keberaniannya bukanlah keberanian yang sembrono, melainkan keberanian yang lahir dari perjumpaan pribadi dengan Yesus.

Kita ingat, Nikodemus pernah datang kepada Yesus pada malam hari (Yohanes 3). Percakapan itu mengubah cara pandangnya. Ia tidak lagi melihat Yesus dengan kacamata para pemimpin agama, tetapi dengan hati yang telah disentuh oleh kebenaran. Pertemuan pribadi dengan Yesus menumbuhkan iman, pengertian, dan keberanian untuk bersikap benar.

Renungan ini mengajak kita bercermin: bagaimana sikap kita ketika kebenaran diperlakukan secara tidak adil? Apakah kita memilih aman dengan diam, atau berani bersuara dengan bijaksana? Orang yang sungguh mengenal Yesus akan memiliki cara pandang yang berbeda. Ia tidak cepat menghakimi, tidak terburu-buru berprasangka buruk, tetapi mau mendengar, mengklarifikasi, dan menilai dengan adil.

Pembela kebenaran tidak diukur dari seberapa keras suaranya, tetapi dari keteguhannya berdiri di pihak yang benar. Ia berani karena benar, namun juga rendah hati dan takut jika salah. Ia tidak membela demi kepentingan pribadi, melainkan demi kebenaran itu sendiri—siapa pun orang yang dibela.

Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk bertanya: sudahkah perjumpaan kita dengan Yesus mengubah keberanian kita? Ataukah kita masih memilih diam demi kenyamanan diri? Kiranya kita belajar dari Nikodemus, berani berdiri di pihak kebenaran dengan hikmat, kasih, dan iman.

Doa

Tuhan Yesus,
kami mengaku bahwa sering kali kami memilih diam
ketika kebenaran diperlakukan secara tidak adil.
Ampuni kami bila kami lebih mencintai rasa aman
daripada keberanian untuk bersaksi.
Tumbuhkan iman kami melalui perjumpaan yang nyata dengan-Mu,
agar kami memiliki keberanian yang lahir dari kebenaran.
Ajarlah kami bersuara dengan hikmat,
bersikap adil tanpa menghakimi,
dan setia berdiri di pihak yang benar.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Share:

Renungan Harian " Kikis Kecurangan, Tegakkan Kejujuran! "

Kikis Kecurangan, Tegakkan Kejujuran
 
Kikis Kecurangan, Tegakkan Kejujuran!

Berita tentang korupsi, penipuan, dan kecurangan seakan tidak pernah berhenti mengisi ruang hidup kita. Hampir setiap hari kita disuguhi kisah tentang cara-cara licik demi keuntungan pribadi. Lambat laun, kecurangan terasa seperti sesuatu yang biasa—bahkan dianggap “pintar” oleh sebagian orang.

Namun firman Tuhan hari ini dengan tegas mengingatkan: hidup umat Allah tidak boleh berjalan di jalur yang sama dengan dunia. Ulangan 25 berbicara tentang keadilan dalam perselisihan, kejujuran dalam mencari rezeki, tanggung jawab terhadap sesama, dan peringatan agar tidak meniru kejahatan Amalek. Semuanya mengarah pada satu pesan utama: kecurangan harus dikikis, kejujuran harus ditegakkan.

Timbangan dan efa menjadi gambaran nyata. Alat ukur yang seharusnya menjamin keadilan justru sering dipakai untuk menipu demi keuntungan lebih. Cara-cara seperti itu mungkin menghasilkan banyak dalam waktu singkat, tetapi meninggalkan luka yang dalam—di hati nurani, dalam relasi, dan di hadapan Tuhan.

Firman ini mengajak kita bercermin:
Apakah ada cara-cara tidak jujur yang tanpa sadar kita toleransi?
Apakah ada keuntungan kecil yang kita anggap sepele, padahal tidak benar?

Tuhan mengingatkan kita bahwa rezeki yang diperoleh dengan kecurangan tidak pernah membawa damai. Bahkan, Ia mengaitkan kejujuran dengan masa depan keluarga. Anak-anak kita bukan hanya membutuhkan makanan, tetapi juga teladan hidup yang benar. Rezeki yang jujur mungkin tampak sederhana, tetapi membawa ketenteraman dan berkat yang utuh.

Hari ini, Tuhan memanggil kita untuk berani hidup berbeda. Mengikis kebiasaan curang, sekalipun itu sudah menjadi budaya. Menegakkan kejujuran, meski harus membayar harga. Inilah jalan hidup yang berkenan kepada Tuhan dan memerdekakan hati.

Doa

Tuhan yang benar dan adil,
Ampuni kami jika selama ini kami masih menoleransi kecurangan dalam hidup kami.
Bersihkan hati dan pikiran kami dari keinginan mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar.
Ajari kami hidup jujur dalam setiap kesempatan,
agar hidup kami menjadi berkat bagi keluarga, sesama, dan memuliakan nama-Mu.
Mampukan kami berdiri teguh dalam kebenaran,
meski dunia memilih jalan yang lain.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Share:

Renungan Harian " Tidak Asal Menuduh "

Ilustrasi siluet seseorang berjalan di jalan berbukit dengan cahaya lembut, melambangkan pencarian keadilan dan hikmat Tuhan.
Tidak Asal Menuduh

Ada kalanya seseorang berada “di tempat yang salah pada waktu yang salah”. Tanpa pernah terlibat, ia justru ikut terseret dalam kecurigaan. Hanya karena dekat dengan lokasi kejadian, ia dimintai keterangan, bahkan harus memberi bukti bahwa dirinya tidak bersalah. Tekanan seperti itu bisa sangat melelahkan—apalagi jika nama baiknya dipertaruhkan.

Bangsa Israel pada zaman Alkitab tidak memiliki teknologi canggih untuk mengungkap kasus pembunuhan. Ketika pelaku tidak ditemukan, mereka bisa saja menuduh siapa pun yang terlihat mencurigakan. Namun Tuhan tidak mengizinkan umat-Nya bertindak sembarangan. Ulangan 21:1–9 memperlihatkan bagaimana Allah menjaga agar tidak ada satu orang pun yang dihukum tanpa dasar.

Melalui upacara pendamaian itu, Tuhan menegaskan satu hal: kebenaran tidak boleh ditegakkan dengan tuduhan tanpa bukti. Tanah yang najis oleh darah harus diperdamaikan, tetapi bukan dengan mengorbankan orang yang tidak bersalah. Tuhan menghormati kehidupan, keadilan, dan nama baik seseorang.

Renungan ini menantang kita untuk bercermin:
Apakah kita pernah terburu-buru menilai, menuduh, atau menyebarkan prasangka tanpa bukti?
Terkadang, hanya karena mendengar sepenggal cerita, kita langsung menyimpulkan sesuatu yang belum tentu benar. Padahal satu kata kita bisa merusak reputasi seseorang atau melukai hati yang tidak bersalah.

Tuhan memanggil kita untuk menjadi umat yang berhati-hati, adil, dan penuh kasih. Bukan menjadi hakim yang sembrono, tetapi menjadi pembawa damai, menjaga relasi, serta menegakkan kebenaran dengan cara yang benar.

Biarlah kita belajar menahan diri, memeriksa hati, dan memastikan bahwa setiap keputusan kita berpihak pada keadilan yang lahir dari kasih Tuhan.

Doa Penutup

Tuhan, ajarilah aku berhati-hati dalam menilai dan berbicara. Jauhkan aku dari sikap mudah menuduh atau menyebarkan prasangka. Bentuklah hatiku agar mencintai kebenaran dan keadilan seperti Engkau mencintainya. Tolong aku meneladani-Mu dalam perkataan dan tindakan, supaya hidupku membawa damai dan menjaga martabat sesama. Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Share:

Renungan Harian : " Jagallah yang Memeliharamu! "

Ilustrasi siluet manusia berjalan menuju cahaya dengan latar lembut, melambangkan keadilan dan perlindungan Tuhan.

Jagallah yang Memeliharamu!

Perang selalu menjadi bagian kelam dari sejarah manusia. Ada perang yang terjadi karena mempertahankan hak, namun ada juga yang muncul dari keserakahan. Israel pun pernah berjalan di jalur ini dalam proses mereka menjadi bangsa pilihan Tuhan. Mereka harus berperang untuk merebut Kanaan—tanah yang Tuhan janjikan dan berikan kepada mereka.

Namun di balik peperangan itu, Tuhan memberikan pengaturan yang sangat unik. Ia melarang Israel merusak pohon-pohon, terutama yang menghasilkan makanan. Larangan itu tampaknya sederhana—bahkan aneh—di tengah situasi perang yang penuh kekerasan. Tetapi Tuhan tahu: kehidupan bangsa itu akan terus berlangsung setelah peperangan berakhir. Mereka tetap membutuhkan makanan untuk bertahan hidup. Pohon-pohon yang mereka temui adalah sumber pemeliharaan yang Tuhan sediakan.

Tuhan sedang mengajar mereka, dan juga kita hari ini: hargailah apa pun yang memeliharamu.
Hargai Tuhan, yang memelihara hidup dari hari ke hari.
Hargai orang-orang yang Tuhan pakai—keluarga, pasangan, sahabat, rekan kerja, jemaat, pemimpin rohani.
Hargai juga alam ciptaan Tuhan—udara yang kita hirup, air yang kita minum, tanah yang memberi hasil, dan pohon-pohon yang menjadi sumber makanan.

Sering kali kita terlalu fokus pada “peperangan” yang kita hadapi: tantangan hidup, tekanan pekerjaan, perjuangan keluarga, atau pergumulan pribadi. Namun di tengah semua itu, Tuhan mengingatkan kita untuk tidak merusak, mengabaikan, atau melupakan sumber pemeliharaan yang Ia berikan. Justru di masa-masa sulit, kita harus menjaga dan merawat apa yang memelihara hidup kita.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya:
— Apakah aku masih menghargai Tuhan sebagai Pemelihara hidupku?
— Apakah aku sudah menjaga orang-orang yang menopang hidupku?
— Apakah aku bersyukur atas setiap berkat kecil maupun besar yang membuatku tetap berdiri sampai hari ini?

Tuhan yang memelihara Israel juga adalah Tuhan yang memelihara hidupmu. Ia bekerja melalui cara-cara yang mungkin tidak selalu kausadari, tetapi tangan-Nya tidak pernah berhenti menyentuh perjalananmu.

🙏 Doa Penutup

Tuhan Allah yang memeliharaku, terima kasih untuk setiap penyertaan-Mu yang meneguhkan langkahku. Ajari aku untuk menghargai segala yang Engkau pakai untuk memelihara hidupku—baik orang-orang yang hadir untuk mendukungku, maupun segala ciptaan-Mu yang memberi kehidupan. Jauhkan aku dari sikap merusak, mengabaikan, atau tidak bersyukur. Teguhkan imanku agar aku tetap kuat di tengah segala pergumulan, dan mampukan aku berjalan seturut kehendak-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus, aku berdoa. Amin.

Share:

Renungan Harian ' Perlindungan bagi Semua Orang "

“Ilustrasi cahaya Tuhan menerangi seseorang yang berdiri di antara dua jalan sebagai simbol keadilan dan perlindungan dalam Ulangan 19.”
 
Perlindungan bagi Semua Orang

Tuhan merancang bangsa Israel menjadi umat yang hidup dalam keadilan. Bukan bangsa yang berjalan dengan emosi dan tindakan semaunya, tetapi bangsa yang menghargai kebenaran, hidup tertib, dan melindungi setiap warganya. Ulangan 19 memperlihatkan betapa seriusnya Tuhan menegakkan keadilan—bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menjaga kehidupan bersama.

Tuhan menetapkan kota-kota perlindungan agar orang yang tanpa sengaja menyebabkan kematian tidak langsung menjadi korban amarah atau balas dendam. Itu adalah gambaran betapa Tuhan menghargai nyawa dan memastikan tidak ada hukuman tanpa kejelasan. Namun bagi mereka yang sengaja mengambil nyawa orang lain, Tuhan juga menetapkan hukuman setimpal. Tidak lebih, tidak kurang—agar keadilan ditegakkan dan masyarakat tidak dikuasai rasa takut.

Ia juga melarang penggeseran batas tanah, karena itu bentuk pencurian halus yang merampas hak orang lain. Bahkan dalam pengadilan, Tuhan menuntut saksi lebih dari satu, agar kebenaran tidak ditentukan oleh pendapat atau keberpihakan semata. Dan saksi palsu? Tuhan tidak mentolerir. Mereka harus menerima hukuman sesuai tuduhan yang mereka buat, agar keadilan tidak ternoda oleh kebohongan.

Meski terdengar tegas, semua ini menunjukkan hati Tuhan yang selalu memihak pada perlindungan, kebenaran, dan keadilan. Hukum diberikan bukan untuk menekan, tetapi untuk menjaga agar yang tidak bersalah tidak dihukum, dan yang bersalah tidak luput dari tanggung jawabnya.

Renungan ini menantang kita melihat hidup kita sendiri:
• Apakah kita memperlakukan orang lain secara adil, ataukah kita pernah menghakimi sebelum memahami?
• Apakah perkataan kita menjadi seperti saksi yang jujur, atau malah bisa melukai orang yang tidak bersalah?
• Apakah kita sudah menjadi orang yang menjaga batas—bukan hanya batas tanah, tetapi batas sikap, batas perkataan, batas tindakan—agar tidak merampas hak orang lain?

Tuhan memanggil kita untuk menjadi pribadi yang membawa perlindungan, bukan ketakutan. Menjadi pembela kebenaran, bukan penyebar tuduhan. Dan menjadi orang yang menghadirkan keadilan, mulai dari lingkup terkecil hidup kita.

🙏 Doa Penutup

Tuhan, ajar aku hidup dalam keadilan-Mu. Bentuk hatiku agar mencintai kebenaran dan menjauhi ketidakadilan. Jagalah lidahku supaya tidak menjadi saksi yang melukai orang lain. Tuntun aku untuk menjadi pribadi yang melindungi, bukan menyakiti. Biarlah setiap tindakan dan keputusan hidupku memuliakan Engkau dan menghadirkan keadilan bagi sesama. Amin.
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.