Hidup Menurut Segala Jalan-Nya
Ada satu kerinduan hati Tuhan yang begitu jelas dalam firman ini: bahwa kita hidup menurut segala jalan-Nya—mengasihi Dia, beribadah dengan segenap hati dan jiwa, dan memegang perintah-perintah-Nya demi kebaikan kita sendiri (ay. 12–13). Tuhan tidak menuntut kita tanpa alasan. Ia ingin kita berada di jalan yang benar, jalan yang membawa kehidupan, berkat, dan damai sejahtera.
Untuk dapat berjalan menurut jalan-Nya, kita perlu memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Bukan sekadar tahu apa yang Ia kehendaki, tetapi benar-benar menghidupinya. Ibadah yang sejati bukan hanya hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati yang melekat kepada-Nya. Saat kita hidup dekat dengan Tuhan, langkah kita pun mulai selaras dengan langkah-Nya.
Mengapa kita harus mengikuti jalan-Nya?
Karena Dialah pemilik langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit. Ia menguasai bumi beserta segala isinya. Ia adalah Allah segala ilah, Tuhan segala tuan—besar, kuat, dan dahsyat (ay. 14–17). Bila Ia adalah sumber segalanya dan penguasa atas seluruh keberadaan, maka sungguh tepat jika kita merendahkan diri dan menyelaraskan hidup kita kepada-Nya. Jalan-Nya lebih tinggi, lebih bijaksana, dan membawa kehidupan.
Tuhan memanggil kita untuk beribadah hanya kepada-Nya dan berpaut kepada-Nya semata. Ibadah itu dinyatakan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan nyata. Tuhan meminta kita "menyunatkan hati"—melepaskan kekerasan hati, berhenti membanggakan diri, dan mulai peduli pada sesama. Ia peduli pada anak yatim, janda, dan pendatang; Ia memberi contoh agar kita melakukan hal yang sama: memberi, merangkul, dan menolong (ay. 18–19).
Di sinilah ibadah sejati itu terlihat: ketika hidup kita mencerminkan karakter Tuhan.
Musa memberikan teladan taat. Ketika Tuhan memerintahkan memahat dua loh batu, membuat tabut, dan meletakkannya sesuai perintah-Nya, Musa melakukannya tanpa menawar, tanpa menunda. Ia tunduk sepenuhnya pada firman Tuhan.
Melalui hidupnya, Musa mengajarkan bahwa mengikuti jalan Tuhan berarti taat, bukan sekadar tahu apa yang benar.
Hari ini, Tuhan juga menantikan respons kita.
Apakah kita siap menghidupi jalan-Nya?
Apakah kita mau beribadah dengan hati yang utuh, bukan setengah?
Apakah kita bersedia memedulikan orang-orang yang membutuhkan, sebagaimana Tuhan memedulikan mereka?
Mari kita kembali menata hati kita. Mari berjalan di jalan-Nya, bukan jalan kita sendiri.
Kiranya setiap langkah kita menjadi pujian bagi Tuhan yang besar, kuat, dan penuh kasih.
Doa Penutup
Tuhan, kami bersyukur karena kuasa-Mu melampaui segala kuasa di bumi dan di surga. Kami memohon penyertaan-Mu untuk melindungi kami dan keluarga kami.
Biarlah berkat-Mu mengalir dalam rumah tangga kami, pekerjaan kami, usaha kami, studi kami, pelayanan kami, dan seluruh langkah hidup kami. Engkau yang memberkati sawah, ladang, perusahaan, toko, kantor, pelanggan, dan setiap rencana hidup kami.
Tuhan, tambahilah hikmat kami setiap hari. Kuatkan kami dalam proses, bukakan terobosan demi terobosan, dan bimbing kami agar selalu berjalan seturut kehendak-Mu.
Kami menyerahkan calon pendamping, masa depan, dan pelayanan kami ke dalam tangan-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus, kami berdoa.
Amin. Tuhan Yesus memberkati.












