Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: Refleksi Alkitab
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Alkitab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Alkitab. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian : Berdoa bagi yang Membangkitkan Amarah

Berdoa bagi yang Membangkitkan Amarah 

Ulangan 9:7–29

Ada orang-orang dalam hidup kita yang begitu mudah membangkitkan amarah—mereka yang keras kepala, tidak tahu berterima kasih, atau bahkan menyakiti kita berulang kali. Respons alami kita adalah kecewa, marah, atau ingin menjauh. Namun, bagian Alkitab hari ini menunjukkan respons yang sangat berbeda melalui teladan Musa.

Bangsa Israel berulang kali membuat Tuhan marah. Sejak keluar dari Mesir sampai tiba di Horeb, mereka melawan, bersungut-sungut, dan bahkan membuat patung tuangan ketika Musa naik gunung menerima loh batu. Mereka begitu tegar tengkuk sehingga Tuhan hendak memunahkan mereka.

Musa pun marah—ia memecahkan loh batu di hadapan bangsa itu. Namun yang menarik, Musa tidak berhenti pada kemarahan. Ia sujud, berpuasa, dan berdoa selama empat puluh hari empat puluh malam agar Tuhan tidak memusnahkan mereka. Walau berkali-kali disakiti, Musa tetap memilih untuk berdiri sebagai perantara di hadapan Allah.

Integritas Musa tampak dari pilihannya untuk berdoa, bukan membenci. Ia tidak membela dosa mereka, tetapi ia tetap memohonkan belas kasihan Tuhan atas mereka.

Renungan ini mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah kita bersedia mendoakan orang-orang yang membangkitkan amarah dalam hidup kita?
Orang yang mengecewakan kita…
Orang yang keras kepala…
Orang yang sulit dikasihi…

Musa menunjukkan bahwa kasih yang sejati bukan hanya terlihat saat segalanya baik, tetapi justru ketika kita berdoa bagi mereka yang menyakiti kita.

Kiranya Tuhan memberi kita hati yang sabar, lembut, dan siap menjadi pembawa damai—bukan hanya bagi mereka yang baik kepada kita, tetapi juga bagi mereka yang sulit.

Pokok Doa

  • Bersyukur atas kuasa Tuhan yang besar dan penyertaan-Nya yang tidak pernah meninggalkan kita.

  • Memohon berkat Tuhan atas rumah tangga, pekerjaan, studi, usaha, pelayanan, gereja, dan keluarga.

  • Berdoa agar hikmat Tuhan bertambah dalam hidup kita, memberi kekuatan untuk mengampuni, mengendalikan diri, dan tetap berjalan dalam proses pemurnian-Nya.

  • Memohon agar kita memiliki hati seperti Musa—yang tetap berdoa, bukan membalas.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami percaya Engkau memampukan kami mengasihi dan mendoakan mereka yang sulit kami hadapi. Amin.

Share:

Renungan Harian : Bukan Kuatku, Tetapi Tuhanku!

Ilustrasi perjalanan hidup dengan cahaya Tuhan sebagai penuntun menuju kemenangan.

Bukan Kuatku, Tetapi Tuhanku! 

Dalam perjalanan hidup, kita sering dihadapkan pada “musuh-musuh” yang terasa jauh lebih besar daripada kemampuan kita. Tekanan hidup, masalah keluarga, kekuatiran masa depan, atau pergumulan pribadi terkadang membuat kita merasa kecil, minder, bahkan pesimis. Sama seperti bangsa Israel yang berdiri di tepi Sungai Yordan, kita pun mungkin melihat tantangan yang tampak mustahil untuk dihadapi.

Bangsa Israel diperintahkan masuk ke negeri dengan kota-kota besar berkubu tinggi, dengan penduduk raksasa seperti bani Enak. Secara manusia, tidak mungkin mereka bisa menang. Ketakutan itu wajar—tetapi Tuhan tidak ingin mereka berfokus pada kekuatan musuh, melainkan pada kekuatan-Nya.

Musa mengingatkan mereka bahwa Tuhan sendiri akan berjalan di depan mereka. Ia adalah api yang menghanguskan, Allah yang menundukkan musuh, dan Pribadi yang memampukan mereka menang. Kemenangan mereka bukan bergantung pada kemampuan mereka, melainkan pada Allah yang menyertai mereka.

Namun, Musa juga memperingatkan: jangan sampai kemenangan membuat mereka sombong. Bukan karena kebenaran atau ketulusan mereka Tuhan memberi kemenangan itu. Justru mereka bangsa yang tegar tengkuk—dan semua itu semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Kemenangan bukan alasan untuk meninggikan diri, melainkan untuk merendahkan hati di hadapan Allah.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri:
Dalam menghadapi tantangan hidup, siapa yang menjadi andalan kita? Kekuatan sendiri atau Tuhan?

Ketika hidup terasa berat, ingatlah bahwa kita memiliki Allah yang besar, dahsyat, dan berkuasa. Dan ketika kemenangan datang, jangan lupa bahwa semua itu terjadi bukan karena “kuatku”, tetapi karena Tuhanku.

Bukan kuatku, tetapi Allahku yang hebat!
Allahku menang di dalam hidupku!

Pokok Doa

  • Bersyukur atas kuasa Tuhan yang jauh melampaui segala kuasa manusia.

  • Memohon penyertaan-Nya atas rumah tangga, pekerjaan, studi, usaha, pelayanan, gereja, masa depan, dan seluruh perjalanan hidup kita.

  • Berdoa agar hikmat Tuhan bertambah dalam hidup kita setiap hari, membawa terobosan, kekuatan, dan proses yang memimpin kita kepada rencana-Nya yang terbaik.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami percaya dan menerima berkat-Mu atas hidup kami. Amin.

Share:

Renungan Harian : Sukses Bukan Hasilnya, tetapi Prosesnya

Ilustrasi jalan di padang gurun dengan cahaya lembut dari langit, melambangkan perjalanan panjang yang dipimpin Tuhan.
 

Saat Sukses Diukur dari Proses, Bukan Hasil

Ada begitu banyak orang mengejar hasil—angka, capaian, pengakuan. Namun firman Tuhan mengingatkan kita bahwa sukses sejati tidak bergantung pada apa yang kita capai, melainkan siapa kita menjadi selama proses itu berlangsung. Dalam perjalanan hidup, Tuhan mengajar kita untuk tetap berpegang pada firman-Nya, berjalan di jalan-Nya, dan menghormati Dia dengan takut akan Dia. Justru di tengah proses itulah, hati kita ditempa dan mata kita dibukakan untuk melihat berkat-Nya, bahkan di tengah kesulitan.

Bangsa Israel tidak serta-merta langsung masuk ke negeri yang baik—negeri dengan sungai, mata air, ladang gandum, kebun anggur, pohon ara, delima, zaitun, dan madu... negeri yang menjanjikan kelimpahan tanpa kekurangan. Semua itu tidak datang dengan cepat, instan, atau tanpa tantangan. Tuhan membawa mereka melalui proses yang panjang—seperti seorang ayah yang dengan penuh kasih mendidik anaknya.

Selama empat puluh tahun, Israel menempuh padang gurun: menghadapi ular ganas, kalajengking, panas yang membakar, dan tanah gersang tanpa air. Tuhan mengizinkan mereka merasakan lapar, tetapi di saat yang sama Ia memberi mereka manna. Semua itu memiliki tujuan: agar mereka mengerti bahwa manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap firman Tuhan. Lewat proses itulah iman dibentuk, karakter diperkuat, dan hati diajar untuk percaya.

Proses selalu mengajarkan bahwa kita tidak dapat melangkah tanpa Tuhan. Pengalaman manis maupun pahit menjadi ruang di mana Tuhan menegur, membimbing, dan menyatakan rencana-Nya. Sama seperti Israel, kita pun dipanggil untuk melihat perjalanan hidup ini bukan sebagai beban, tetapi sebagai kesempatan untuk semakin mengenal Tuhan dan bersyukur.

Sukses bukan soal seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa taat kita berjalan bersama Tuhan.
Maka, tetaplah setia. Teruslah melangkah. Biarkan Tuhan membentuk kita melalui setiap proses, bukan hanya menantikan hasilnya.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.