Ulangan 16:18–20
Melalui firman ini, TUHAN berbicara tegas kepada para hakim—mereka yang memegang keputusan hidup orang lain. Hakim dipanggil untuk mengadili dengan jujur, tanpa memutarbalikkan kebenaran, tanpa memandang muka, dan tanpa menerima suap. Sebab suap membutakan mata orang bijaksana dan menggelapkan kebenaran.
Suap tidak selalu berbentuk uang. Kadang ia hadir dalam bentuk kenyamanan, relasi, atau keinginan agar urusan cepat selesai. Saat itu terjadi, keadilan dikorbankan, dan yang lemah kembali menjadi korban.
Firman ini menegur kita semua. Di meja kerja, di keluarga, di pelayanan, bahkan dalam keputusan kecil sehari-hari—apakah kita masih memilih kebenaran ketika itu merugikan diri sendiri? Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna, tetapi setia mengejar keadilan.
Mengejar keadilan berarti berani berkata tidak pada jalan pintas, dan berkata ya pada kebenaran, apa pun risikonya.
Refleksi Pribadi
-
Di bagian hidup mana saya tergoda untuk “mempermudah” dengan cara yang tidak benar?
-
Apakah keputusan saya hari ini memuliakan Tuhan atau hanya menguntungkan diri sendiri?
Kuatkan hati kami untuk menolak suap dalam bentuk apa pun,
dan mampukan kami hidup jujur meski itu tidak mudah.
Biarlah hidup kami menjadi kesaksian tentang kebenaran-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.














