Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: Kasih Karunia
Tampilkan postingan dengan label Kasih Karunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasih Karunia. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian "Percaya kepada Kristus: Lebih dari Sekadar Tahu"

Percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat di tengah pergumulan hidup
Percaya kepada Kristus: Lebih dari Sekadar Tahu
Pernahkah kita berhadapan dengan orang yang sulit percaya kepada Allah—atau jangan-jangan, pernahkah kita sendiri berada di posisi itu?

Ada kalanya pikiran dan logika manusia begitu mendominasi, hingga kasih karunia Allah terasa sulit diterima. Firman Tuhan mungkin sering terdengar, ayat-ayat Alkitab mungkin akrab di telinga, tetapi hati tetap tertutup. Itulah yang dialami oleh para pemuka Yahudi ketika mereka mendengar perkataan Yesus tentang diri-Nya.

Ketika Yesus berbicara tentang tempat ke mana Ia akan pergi, mereka justru salah paham. Pikiran mereka terikat pada cara pandang duniawi, sehingga mereka mengira Yesus sedang berbicara tentang kematian karena bunuh diri. Padahal, Yesus sedang menyatakan kebenaran yang jauh lebih dalam: Ia berasal dari surga, bukan dari dunia ini.

Yesus tidak lelah menjelaskan siapa diri-Nya dan apa konsekuensi dari ketidakpercayaan kepada-Nya. Namun, dosa telah membutakan mata rohani mereka. Meskipun penjelasan diberikan berulang kali, mereka tetap bertanya, “Siapakah Engkau?” Bukan karena Yesus tidak jelas, tetapi karena hati mereka tidak mau percaya.

Yesus kemudian menyatakan bahwa akan datang waktunya mereka mengenal siapa Dia sebenarnya—saat Anak Manusia ditinggikan. Salib yang bagi dunia adalah kebodohan, justru menjadi titik terang pengenalan akan Allah. Di sanalah kasih dan kebenaran Allah dinyatakan sepenuhnya.

Renungan ini mengajak kita bercermin. Dosa juga bisa membutakan mata rohani kita. Kita bisa saja aktif secara keagamaan, tetapi belum sungguh percaya. Namun, kasih karunia Allah bekerja menembus kebutaan itu, memampukan kita mengenal Kristus dan menerima keselamatan kekal di dalam Dia.

Percaya kepada Kristus bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan sikap hidup. Percaya berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya, hidup dalam ketaatan, dan tetap berpegang pada firman-Nya di tengah kebimbangan, penderitaan, dan ketidakpastian hidup.

Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
Apakah iman kita hanya sebatas rutinitas rohani, atau sungguh-sungguh bersandar kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat?

Doa

Tuhan Yesus Kristus,
kami mengakui bahwa sering kali kami lebih mengandalkan logika daripada iman.
Ampuni kami bila hati kami tertutup dan lambat percaya kepada firman-Mu.
Bukalah mata rohani kami agar kami sungguh mengenal Engkau,
percaya kepada-Mu sepenuh hati, dan hidup dalam ketaatan.
Teguhkan iman kami di saat hidup terasa sulit dan penuh pergumulan.
Ajarlah kami menjalani hidup bukan sekadar ritual,
melainkan sebagai ungkapan iman yang sejati kepada-Mu.
Amin.

Share:

Renungan Harian " Bahaya Legalisme Agama "

Yesus menyembuhkan orang lumpuh di Betesda pada hari Sabat
Bahaya Legalisme Agama
Tiga puluh delapan tahun lamanya seorang pria terbaring lumpuh di tepi kolam Betesda. Ia menunggu pertolongan, namun tidak pernah ada seorang pun yang membantunya. Harapannya kian menipis—sampai Yesus datang menghampirinya. Dengan satu perintah sederhana, hidupnya dipulihkan: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

Mukjizat terjadi. Namun sukacita itu segera dibungkam oleh kemarahan para pemuka agama. Bukan karena seorang lumpuh telah disembuhkan, melainkan karena peristiwa itu terjadi pada hari Sabat. Bagi mereka, aturan lebih penting daripada pemulihan manusia. Bahkan, karena peristiwa itu, mereka mulai merencanakan pembunuhan terhadap Yesus.

Di sinilah wajah kelam legalisme agama terlihat. Ketaatan pada hukum berubah menjadi belenggu yang membutakan hati. Aturan dijunjung tinggi, tetapi kasih diabaikan. Hukum dipelihara, tetapi manusia dilupakan.

Legalisme membuat iman menjadi kaku—semua diukur dengan benar atau salah menurut peraturan, tanpa kepekaan terhadap realitas hidup. Legalisme juga menumbuhkan kesombongan rohani, seolah keselamatan dapat diraih melalui ketaatan manusia, bukan anugerah Allah. Lebih dari itu, legalisme mengikis rasa kemanusiaan, hingga penderitaan orang lain tak lagi menyentuh hati.

Yesus datang membawa kasih karunia. Ia tidak meniadakan hukum, tetapi menggenapinya dengan kasih. Di hadapan-Nya, manusia lebih berharga daripada aturan. Pemulihan lebih utama daripada ritual. Dan kehidupan lebih mulia daripada tradisi.

Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah iman kita masih memberi ruang bagi belas kasih? Ataukah kita tanpa sadar lebih sibuk menjaga aturan, tetapi kehilangan hati Kristus?

Marilah kita berjalan dalam terang kasih karunia, agar iman kita tidak hanya benar secara ajaran, tetapi juga hidup dalam kasih.

Refleksi Pribadi

  • Apakah saya lebih cepat menghakimi daripada mengasihi?

  • Apakah ketaatan saya membawa pemulihan bagi sesama?

Doa

Tuhan Yesus,
ampuni kami jika dalam ketaatan kami,
kami justru kehilangan kasih.
Lunakkan hati kami agar melihat sesama
seperti Engkau memandang mereka.
Ajari kami hidup dalam kasih karunia-Mu,
agar iman kami memulihkan, bukan melukai.
Amin.

Share:

Renungan Harian "Mencari Kebenaran Sejati"

Yesus mengajarkan kelahiran kembali kepada Nikodemus
Mencari Kebenaran Sejati

Nikodemus datang kepada Yesus pada waktu malam. Ia bukan orang sembarangan—seorang pemimpin agama, pengajar Taurat, dan sosok yang dihormati. Pengetahuan ada padanya, jabatan melekat padanya. Namun, hatinya masih mencari.

Ia tahu Yesus berasal dari Allah. Tetapi pengenalannya belum membawa kepastian. Maka Yesus menyapanya dengan kebenaran yang mengguncang: “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

Yesus tidak berbicara tentang perbaikan diri, bukan pula tentang usaha agama. Ia berbicara tentang kelahiran dari atas—sebuah karya Allah yang mengubah hati manusia. Kebenaran sejati tidak dicapai dengan kecerdasan, melainkan diterima melalui anugerah.

Nikodemus bingung. Ia mencoba memahami dengan logika. Namun Yesus mengarahkannya kepada karya Roh Kudus—seperti angin yang tak terlihat, tetapi kuasanya nyata. Roh Allah bekerja membarui, menyucikan, dan memberi hidup yang baru.

Yesus menegaskan satu hal penting: manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Hanya Dia yang turun dari surga yang dapat menyatakan kebenaran Allah. Kelahiran baru terjadi ketika seseorang percaya dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Yesus.

Renungan ini menegur kita dengan lembut: apakah kita masih mengandalkan pengetahuan rohani, tradisi, dan logika, tetapi belum sungguh berserah? Kebenaran sejati bukan sekadar dipahami, melainkan dialami. Dan itu semua adalah kasih karunia.

Jika hari ini kita dapat percaya, itu bukan karena kehebatan kita—melainkan karena Allah lebih dahulu bekerja dalam hati kita.

Doa
Tuhan Yesus, kami mengaku bahwa sering kali kami mengenal-Mu dengan pikiran, tetapi belum sungguh menyerahkan hati. Lahirkan kami kembali oleh Roh-Mu. Ajari kami percaya dan berserah penuh kepada-Mu, agar kami hidup dalam kebenaran sejati. Amin.
Share:

Renungan Harian " Pesan Natal yang Sejati "

Sebuah lilin yang menyinari kegelapan, melambangkan Terang yang datang ke dunia.
 
Saat Sang Pencipta Mengetuk Pintu Rumah Kita

Bagi banyak orang, Natal identik dengan kerlip lampu, pohon yang dihias, atau kehangatan keluarga. Namun, Yohanes membawa kita jauh sebelum semua itu ada—ia membawa kita pada kekekalan.

"Pada mulanya adalah Firman..."

Bayangkan ini: Sang Logos, kekuatan yang mengatur seluruh keteraturan alam semesta, Prinsip Agung yang menciptakan bintang dan galaksi, ternyata tidak ingin tinggal jauh di "dunia ide" yang impersonal. Dia tidak ingin menjadi Tuhan yang hanya kita pelajari lewat buku teologi atau hukum-hukum yang kaku.

Dia memilih untuk menjadi manusia. Dia memilih untuk memiliki detak jantung, merasakan haus, dan menghirup udara yang sama dengan kita.

Tuhan yang "Berkemah" di Samping Kita

Dalam ayat 14 dikatakan, "Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita." Kata "diam" di sini dalam bahasa aslinya berarti "mendirikan kemah". Tuhan tidak hanya mampir sebentar; Dia mendirikan kemah-Nya di tengah lingkungan kita yang berantakan, di tengah duka kita, dan di tengah kegelapan dosa kita.

Inilah puncak dari kasih: Allah tidak hanya mengirim pesan keselamatan, Dia menjadi pesan itu sendiri. Dia tidak hanya menunjukkan jalan, Dia menjadi Jalan itu.

Respon Pribadi untuk Hatimu

Sering kali kita merasa Allah itu jauh. Kita merasa bahwa untuk bertemu Allah, kita harus menjadi suci terlebih dahulu, atau mendaki gunung kesalehan yang sangat tinggi. Namun Yohanes 1 mengingatkan kita bahwa Dia yang turun mendatangi kita.

Hari ini, mari kita bertanya secara pribadi ke dalam batin kita:

  • Apakah aku masih melihat Natal hanya sebagai perayaan lahirnya "bayi Yesus", atau aku sudah menyadari bahwa ini adalah kehadiran Pencipta Semesta dalam hidupku?

  • Di bagian hidupku yang mana yang saat ini terasa gelap? Maukah aku membiarkan Sang Terang itu masuk dan meneranginya tanpa rasa malu?

  • Tuhan sudah "mendirikan kemah"-Nya di dunia ini. Apakah aku sudah membuka pintu "kemah" hatiku agar Dia tinggal di dalamnya?

Natal adalah undangan untuk sebuah hubungan. Bukan sekadar tahu tentang Dia, tapi mengenal Dia secara pribadi.

Doa Hari Ini

Ya Tuhan Yesus, Sang Firman yang kekal. Aku tertegun menyadari bahwa Engkau yang begitu agung bersedia menjadi begitu kecil dan terbatas demi aku. Terima kasih karena Engkau tidak membiarkanku berjalan sendiri dalam kegelapan.

Hari ini, aku menyambut Terang-Mu. Terangilah sudut-sudut hatiku yang masih tersembunyi, yang masih penuh dengan keraguan dan dosa. Ampuni aku jika selama ini aku hanya merayakan Natal tanpa benar-benar merayakan kehadiran-Mu.

Ajarlah aku untuk hidup dalam anugerah demi anugerah-Mu. Biarlah melalui hidupku, orang lain juga bisa melihat sedikit cahaya dari Terang-Mu yang abadi. Amin.

Share:

Renungan Harian: "Kota Perlindungan"

Ilustrasi tangan terbuka di bawah cahaya lembut, melambangkan kasih dan perlindungan Tuhan bagi setiap orang yang mencari pengampunan.

Tema: Kota Perlindungan di Hati Allah

Setiap manusia pernah berbuat salah—kadang karena ketidaksengajaan, kadang karena kelemahan. Dalam hukum Musa, Allah menetapkan kota perlindungan bagi mereka yang tanpa sengaja membunuh sesamanya. Di sanalah mereka bisa melarikan diri, menenangkan diri dari amarah penuntut darah, sambil menunggu keadilan ditegakkan. Allah menyediakan tempat aman, karena Ia bukan hanya Allah yang adil, tetapi juga penuh belas kasihan.

Kota-kota perlindungan itu berbicara tentang hati Allah yang peduli pada mereka yang rapuh dan tidak sempurna. Ia tahu setiap niat di balik tindakan kita. Ia tahu kapan kita benar-benar bersalah, dan kapan kita hanya tersandung tanpa maksud jahat. Dan di situlah kasih-Nya bekerja—memberi ruang untuk bertobat, dipulihkan, dan kembali hidup.

Hari ini, kita mungkin tidak lagi memiliki kota perlindungan seperti zaman Israel. Namun, kita memiliki Yesus Kristus—tempat perlindungan yang sejati. Di dalam Dia, kita menemukan pengampunan, keamanan, dan pemulihan. Ketika dunia menuduh dan hati kita sendiri gemetar karena rasa bersalah, kita boleh datang kepada-Nya.

Apakah kamu sedang merasa tertuduh, lemah, atau kehilangan arah?
Datanglah kepada Yesus. Ia adalah kota perlindunganmu. Di pelukan-Nya, ada keadilan yang penuh kasih, dan kasih yang penuh keadilan.

“Tuhan adalah tempat perlindungan bagi orang yang tertindas, tempat aman di masa kesesakan.”
(Mazmur 9:10)

Share:

renuangan harian : Berdiam Diri dan Introspeksi

 
"Siluet wanita berlutut sambil berdoa di tepi danau saat matahari terbit atau terbenam, dengan tulisan 'BELAJAR DIAM DI HADAPAN TUHAN'. Menggambarkan keheningan, kedamaian, dan saat teduh."

Berdiam Diri dan Introspeksi

📖 Ulangan 1:41–46

Ada saatnya rasa bersalah menuntun kita kepada pertobatan yang sejati, namun ada pula saat ketika rasa bersalah justru mendorong kita bertindak terburu-buru. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel. Setelah mereka menyadari kesalahan karena menolak kehendak TUHAN, mereka mencoba memperbaikinya dengan kekuatan sendiri — menyerbu ke pegunungan tanpa restu Allah. Akibatnya, mereka kalah dan hancur oleh tangan orang Amori.

Mereka mengira tindakan itu adalah bukti penyesalan, padahal sebenarnya itu hanyalah bentuk lain dari pemberontakan. TUHAN telah memerintahkan mereka untuk diam, menunggu, dan belajar dari kesalahan mereka. Tetapi mereka tidak sabar menantikan waktu Allah.

Musa ingin generasi baru belajar dari peristiwa ini: ada waktu untuk bergerak, tetapi juga ada waktu untuk diam. Ketika Tuhan menegur, yang Ia kehendaki bukanlah tindakan tergesa, melainkan hati yang tunduk dan mau diajar. Musa sendiri memberi teladan — ia menerima hukuman Tuhan dengan lapang dada, tanpa memberontak. Ia tahu bahwa kedewasaan rohani tumbuh dari kesediaan untuk berhenti melawan dan membiarkan Tuhan bekerja dalam diam.

Kadang, ketika kita berbuat salah, kita ingin menebusnya dengan tindakan cepat — memberi persembahan besar, berbuat amal, atau menunjukkan bakti dalam cara yang kelihatan. Namun, Tuhan tidak mencari upaya manusia untuk menebus kesalahan. Ia mencari hati yang hancur dan menyesal, yang bersandar penuh pada kasih karunia-Nya.

Mungkin Anda sedang berada dalam masa “diam” yang dipaksakan Tuhan. Jangan anggap itu hukuman tanpa kasih. Justru di sanalah Tuhan sedang menata ulang hidup Anda — mendidik, memurnikan, dan mempersiapkan langkah yang baru.

“Untuk segala sesuatu ada masanya...” (Pkh. 3:1)
“... tidak untuk selama-lamanya Ia menyimpan amarah.” (Mzm. 103:9)

Berdiam dirilah di hadapan Tuhan. Biarkan Dia berbicara, dan jangan terburu-buru menjawab. Dalam keheningan, kasih-Nya bekerja jauh lebih dalam daripada yang dapat kita lakukan dengan segala usaha kita.

Share:

Renungan Harian : " Tetap Taat kepada Tuhan Walau Dihukum "

Ilustrasi Musa berdiri di atas bukit padang gurun, memegang tongkat dan menatap Tanah Perjanjian dengan penuh penyerahan, melambangkan ketaatan kepada Tuhan walau dihukum.

Tetap Taat kepada Tuhan Walau Dihukum

📖 Ulangan 1:34–40

Musa menggambarkan betapa beratnya hukuman bagi mereka yang meragukan Tuhan. Sepuluh pengintai yang menebar ketakutan mati di padang gurun. Seluruh generasi pertama Israel tidak diizinkan masuk ke Tanah Perjanjian — hanya Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun yang diperkenankan menikmati janji Tuhan.

Namun, di antara mereka, ada satu nama yang juga tidak lolos: Musa sendiri. Bukan karena ia tidak beriman, melainkan karena satu tindakan kecil yang tampak sepele — ia memukul batu di Meriba, padahal Tuhan hanya menyuruhnya berbicara kepada batu itu (Bil. 20:8, 12).

Bagi manusia, kesalahan itu mungkin terlihat kecil. Tetapi bagi seseorang yang begitu dekat dengan Allah, ketaatan penuh adalah panggilan yang mutlak. Semakin besar kedekatan dan kepercayaan yang Tuhan berikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk taat tanpa syarat.

Musa menyadari itu. Ia tidak membela diri, tidak menawar hukuman Tuhan. Ia tetap melayani, tetap setia memimpin bangsa Israel — meski tahu bahwa kakinya takkan pernah menginjak tanah yang dijanjikan. Ia memilih untuk taat, bukan karena hadiah, tetapi karena kasih.

Refleksi Pribadi

Kita hidup di zaman di mana dosa sering dianggap ringan. Kejahatan bisa ditemukan di ujung jari, dan hati manusia perlahan kehilangan rasa gentar akan Tuhan. Bahkan di dalam gereja, banyak yang lupa bahwa murka Allah nyata, dan bahwa disiplin Tuhan adalah tanda kasih, bukan kebencian.

Musa memberi teladan luar biasa. Ia tidak memberontak ketika dihukum. Ia tidak mundur dari panggilan karena kecewa. Ia mengakui bahwa keadilan Tuhan itu suci dan sempurna. Ia tahu, lebih baik jatuh ke dalam tangan Tuhan daripada ke tangan manusia, sebab besar kasih setia-Nya.

Ketika Tuhan menegur atau mendisiplinkan kita, jangan lari. Jangan pahit. Datanglah pada-Nya dengan hati yang tunduk. Hukuman Tuhan bukan akhir, melainkan bentuk pemurnian. Ia ingin kita kembali hidup dalam ketaatan dan kasih yang sejati.

Doa

Tuhan, ajarku untuk tetap taat meski harus melalui teguran dan hukuman-Mu. Bila aku jatuh, biarlah aku jatuh ke dalam tangan kasih-Mu yang mendidik. Lunakkan hatiku agar tidak membantah, tetapi tunduk dan belajar berjalan kembali dalam kehendak-Mu. Amin.

📅 Renungan Harian | Gereja Kalam Kudus Tepas

Label (saran): Renungan Harian, Firman Tuhan, Ketaatan, Kasih Karunia, Ulangan

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.