Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: Kasih Allah
Tampilkan postingan dengan label Kasih Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasih Allah. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian "Menyediakan Sarana untuk Pertobatan"

Ilustrasi firman Tuhan sebagai sarana pertobatan berdasarkan Ulangan 31:14–30
Menyediakan Sarana untuk Pertobatan
Sebagai orang percaya, kita sering menyadari satu kenyataan: hati kita masih rapuh. Kita rindu setia kepada Tuhan, tetapi tidak jarang kita jatuh, gagal, dan berpaling. Allah yang kita sembah mengetahui kelemahan itu jauh sebelum kita mengalaminya. Namun, yang mengherankan adalah cara Tuhan menanggapi ketidaksetiaan manusia.

Tuhan berkata kepada Musa bahwa setelah ia meninggal, umat Israel akan berpaling kepada ilah-ilah asing. Mereka akan meninggalkan Tuhan dan mengingkari perjanjian yang telah dibuat. Tuhan mengetahui hal itu dengan sangat jelas, bahkan sebelum umat masuk ke Tanah Perjanjian. Ketidaktaatan mereka bukan kejutan bagi Tuhan.

Akibat dari pemberontakan itu pun dinyatakan dengan tegas. Umat akan mengalami kesesakan dan penderitaan. Namun, di balik peringatan itu, kita melihat kasih Tuhan yang dalam. Tuhan tidak hanya menyatakan hukuman, tetapi juga menyediakan jalan untuk kembali.

Tuhan memerintahkan Musa menuliskan sebuah nyanyian dan mengajarkannya kepada umat Israel. Nyanyian ini akan menjadi saksi—mengingatkan mereka tentang siapa Tuhan dan bagaimana mereka telah melanggar perjanjian-Nya. Saat mereka hidup berkecukupan, kenyang, dan diberkati, nyanyian itu akan menegur ketika hati mereka mulai menjauh dari Tuhan.

Betapa luar biasanya Allah kita. Ia tetap membawa umat masuk ke tanah yang berlimpah susu dan madu, meskipun Ia tahu mereka akan berkhianat. Bahkan sebelum kegagalan terjadi, Tuhan sudah menyiapkan sarana agar umat dapat bertobat dan kembali kepada-Nya.

Firman ini menghibur kita hari ini. Tuhan mengetahui dosa, kelemahan, dan kecenderungan hati kita. Namun, Ia tidak menyerah atas hidup kita. Ia menyediakan pengingat, firman, teguran, dan kesempatan untuk bertobat. Anugerah Tuhan selalu lebih besar daripada kegagalan manusia.

Karena itu, ketika kita jatuh, jangan menjauh dari Tuhan. Ingatlah bahwa Ia telah lebih dulu menyediakan jalan kembali. Datanglah dengan hati yang hancur dan terbuka, sebab Tuhan rindu memulihkan, bukan membinasakan.

Respons Pribadi
Renungkan kembali hidup Anda. Apakah ada bagian hati yang mulai menjauh dari Tuhan karena kenyamanan dan kelimpahan? Dengarkan kembali suara firman-Nya dan izinkan Tuhan membawa Anda kembali kepada-Nya.

Doa
Tuhan yang penuh kasih, aku mengakui kelemahan dan ketidaksetiaanku. Terima kasih karena Engkau tidak menyerah atas hidupku. Tolong aku peka terhadap teguran-Mu dan mampukan aku untuk sungguh-sungguh bertobat dan kembali kepada-Mu. Amin.
Share:

Renungan Harian "Teladan Sang Gembala Agung"

Yesus sebagai Gembala Agung yang menjaga dan menyerahkan hidup bagi domba-domba-Nya dalam Yohanes 10
Teladan Sang Gembala Agung
Yesus menggunakan gambaran yang sangat dekat dengan kehidupan orang Israel: seorang gembala dan domba-dombanya. Gambaran ini bukan sekadar cerita, melainkan undangan untuk memahami siapa Yesus dan bagaimana relasi-Nya dengan kita.

Seorang gembala yang baik dikenal oleh domba-dombanya, dan domba-domba itu pun mengenal suaranya. Ia tidak datang dengan cara mencurigakan, tetapi melalui pintu yang sah. Ia tahu jalan menuju kandang, dan ketika ia berjalan di depan, domba-dombanya mengikuti dengan penuh kepercayaan. Sayangnya, banyak orang pada waktu itu—termasuk orang-orang Yahudi—tidak memahami apa yang Yesus sampaikan. Mereka mendengar, tetapi tidak sungguh-sungguh mengerti.

Yesus kemudian menegaskan bahwa Dialah pintu menuju keselamatan. Ia adalah satu-satunya jalan bagi domba-domba untuk masuk dan keluar, menemukan perlindungan, dan memperoleh hidup yang berkelimpahan. Seperti dalam tradisi kandang domba orang Yahudi, hanya mereka yang memiliki akses melalui pintu yang benar yang dapat masuk ke tempat yang aman. Demikian pula, hanya melalui Yesus manusia menerima keselamatan sejati.

Yesus bukan hanya pintu, Ia juga Gembala yang baik. Ia menuntun, menjaga, dan melindungi domba-domba-Nya. Ia tidak lari ketika bahaya datang. Ia tidak meninggalkan kawanan-Nya. Bahkan, Ia rela menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan domba-domba itu. Inilah kasih yang sejati—kasih yang berkorban, bukan kasih yang mementingkan diri sendiri.

Namun, perkataan dan tindakan Yesus tidak selalu diterima dengan baik. Banyak orang menolak, meragukan, bahkan mempertentangkan-Nya. Mereka melihat mukjizat, tetapi hati mereka tertutup. Kisah ini mengajak kita merenung:
Apakah kita sungguh mengenal suara Sang Gembala, atau kita hanya mendengar tanpa mau mengikuti?

Dalam kasih-Nya, Allah Bapa menyerahkan Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia. Relasi antara Bapa dan Anak terjalin dalam kasih yang sempurna, dan dari sanalah keselamatan mengalir bagi dunia. Kita yang telah ditebus dipanggil untuk hidup dalam teladan Sang Gembala Agung—hidup dalam kasih, kesetiaan, dan pengorbanan.

Ketika kita meneladani Yesus, hidup kita menjadi kesaksian. Dunia dapat melihat kasih Bapa melalui cara kita mengasihi, menjaga, dan setia dalam panggilan hidup kita. Mari kita terus berjalan di belakang Sang Gembala Agung, mendengarkan suara-Nya, dan hidup sesuai kehendak-Nya.

Doa

Tuhan Yesus,
Engkau adalah Gembala yang baik dan setia. Terima kasih karena Engkau menuntun, melindungi, dan menyerahkan hidup-Mu bagi kami. Ajarlah kami untuk peka mendengarkan suara-Mu dan taat mengikut Engkau. Mampukan kami hidup dalam kasih, kesetiaan, dan pengorbanan, agar hidup kami menjadi kesaksian tentang kasih Bapa bagi dunia.
Amin.

Share:

Renungan Harian: "Kota Perlindungan"

Ilustrasi tangan terbuka di bawah cahaya lembut, melambangkan kasih dan perlindungan Tuhan bagi setiap orang yang mencari pengampunan.

Tema: Kota Perlindungan di Hati Allah

Setiap manusia pernah berbuat salah—kadang karena ketidaksengajaan, kadang karena kelemahan. Dalam hukum Musa, Allah menetapkan kota perlindungan bagi mereka yang tanpa sengaja membunuh sesamanya. Di sanalah mereka bisa melarikan diri, menenangkan diri dari amarah penuntut darah, sambil menunggu keadilan ditegakkan. Allah menyediakan tempat aman, karena Ia bukan hanya Allah yang adil, tetapi juga penuh belas kasihan.

Kota-kota perlindungan itu berbicara tentang hati Allah yang peduli pada mereka yang rapuh dan tidak sempurna. Ia tahu setiap niat di balik tindakan kita. Ia tahu kapan kita benar-benar bersalah, dan kapan kita hanya tersandung tanpa maksud jahat. Dan di situlah kasih-Nya bekerja—memberi ruang untuk bertobat, dipulihkan, dan kembali hidup.

Hari ini, kita mungkin tidak lagi memiliki kota perlindungan seperti zaman Israel. Namun, kita memiliki Yesus Kristus—tempat perlindungan yang sejati. Di dalam Dia, kita menemukan pengampunan, keamanan, dan pemulihan. Ketika dunia menuduh dan hati kita sendiri gemetar karena rasa bersalah, kita boleh datang kepada-Nya.

Apakah kamu sedang merasa tertuduh, lemah, atau kehilangan arah?
Datanglah kepada Yesus. Ia adalah kota perlindunganmu. Di pelukan-Nya, ada keadilan yang penuh kasih, dan kasih yang penuh keadilan.

“Tuhan adalah tempat perlindungan bagi orang yang tertindas, tempat aman di masa kesesakan.”
(Mazmur 9:10)

Share:

Renungan Harian : " Aturan Tuhan "

 “Ilustrasi digital bertema rohani menampilkan siluet seorang pria berdiri di atas bukit memandang salib besar dengan latar matahari terbit dan langit keemasan. Teks di atasnya berbunyi ‘ATURAN TUHAN – Ulangan 4:1–20’.”

Ulangan 4:1–20

Aturan Tuhan: Bukan Beban, Tapi Perlindungan Kasih

Ada satu kata yang sering membuat manusia resah: aturan. Kita cenderung menganggap aturan sebagai batasan yang mengekang kebebasan. Namun, bagi umat Israel, aturan Tuhan justru adalah tanda kasih—penopang hidup yang menjaga mereka tetap ada di jalur yang benar.

Melalui Musa, Tuhan menegaskan bahwa ketaatan pada firman-Nya adalah kunci kehidupan (ayat 1). Ketika Israel mau menaati hukum Tuhan tanpa menambah atau menguranginya (ayat 2), mereka akan menjadi bangsa yang bijaksana dan berakal budi (ayat 6). Dengan kata lain, aturan Tuhan bukanlah beban, melainkan alat pembentuk karakter rohani dan moral umat-Nya.

Israel dipanggil untuk berbeda dari bangsa lain. Mereka tidak boleh ikut menyembah berhala atau mengikuti cara hidup yang rusak. Tuhan ingin mereka ingat siapa mereka: umat pilihan-Nya, yang dikasihi dan dijaga-Nya dengan hukum-hukum yang adil dan sempurna. Semua peraturan itu adalah bentuk nyata dari kasih Tuhan yang tidak ingin umat-Nya binasa.

Sering kali kita memandang perintah Tuhan sebagai beban. Kita merasa diatur, dibatasi, bahkan kehilangan kebebasan. Namun sebenarnya, aturan Tuhan adalah pagar kasih agar kita tidak jatuh ke jurang dosa. Ia tahu betapa rapuhnya hati manusia, betapa mudahnya kita tergoda oleh dunia. Maka Ia memberi firman-Nya bukan untuk mengikat, tetapi melindungi.

Mari bertanya kepada diri sendiri:
Apakah saya melihat aturan Tuhan sebagai penghalang atau pelindung? Apakah saya menaatinya karena takut dihukum, atau karena saya mengasihi Dia yang memberi aturan itu?

Ketaatan sejati lahir bukan dari ketakutan, melainkan dari pengakuan bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Biarlah setiap perintah-Nya menjadi kompas yang menuntun hidup kita pada kehidupan yang penuh damai dan sukacita sejati.

“Sebab perintah-Mu itu pelita, dan pengajaran-Mu itu terang.”
Amsal 6:23a

Share:

Renungan Harian : "Putus Hubungan dengan Fobia"

“Ilustrasi digital bergaya tradisional menggambarkan Musa berbicara dengan tegas di hadapan Raja Sihon di istana Hesbon, melambangkan keberanian melawan ketakutan yang tidak rasional.”

Putus Hubungan dengan Fobia

📖 Isi Renungan :

Pembunuh terbesar keharmonisan dan kedamaian adalah ketakutan yang tidak rasional. Banyak rumah tangga berantakan dan bangsa-bangsa berperang karena manusia memelihara pikiran fobia — ketakutan yang tidak beralasan, namun sangat berkuasa.

Bangsa Israel pernah menghadapi situasi serupa. Mereka harus melewati wilayah orang Amori menuju Tanah Perjanjian dari sebelah timur Sungai Yordan. Namun Raja Sihon, penguasa Hesbon, menolak memberi izin (ayat 30).

Nama Hesbon berasal dari kata khasyab yang berarti menghitung. Ironisnya, Raja Sihon justru gagal “menghitung.” Ia tidak menyadari bahwa kedatangan bangsa Israel dapat membawa keuntungan besar bagi kerajaannya — Musa bahkan berjanji akan membeli makanan dan air dari rakyatnya (ayat 28). Tetapi fobia telah menguasai hatinya. Ia memandang Israel bukan sebagai peluang, melainkan ancaman.

Alkitab mencatat bahwa Tuhan sendiri mengeraskan hati Sihon untuk memperlihatkan kuasa dan keadilan-Nya. Sihon menjadi contoh nyata betapa pikiran yang dikuasai ketakutan dapat menjerumuskan seseorang pada kehancuran.

Kisah ini mengajarkan dua hal penting:

  1. Tuhan selalu membela umat-Nya yang sedang menunaikan misi-Nya.

  2. Ketakutan yang tidak rasional adalah akar kehancuran.

Banyak orang Kristen masa kini juga dikuasai fobia — takut gagal, takut miskin, takut kehilangan kendali, atau bahkan takut melangkah dalam iman. Mereka membayangkan skenario buruk yang belum tentu terjadi, hingga kehilangan damai sejahtera.

Firman Tuhan menegaskan:

“Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban.”
(2 Timotius 1:7)

Hari ini, mari putuskan hubungan dengan roh ketakutan. Serahkan pikiran dan perasaan kita kepada Tuhan. Biarlah kasih-Nya memerdekakan kita, sebab,

“Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.” (1 Yohanes 4:18a)

Dengan roh yang diperbarui, marilah kita hidup dalam keberanian dan ketaatan seperti generasi kedua bangsa Israel — berjalan dalam iman, bukan dalam fobia.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.