Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: Kerendahan Hati
Tampilkan postingan dengan label Kerendahan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kerendahan Hati. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian " Waktu Tuhan "

Yesus mengajarkan kesabaran menanti waktu Tuhan
Waktu Tuhan
Hampir semua orang senang ketika dirinya diakui. Kita ingin dilihat, dihargai, dan dianggap berhasil. Tidak jarang, pengakuan itu dikejar melalui pencapaian, jabatan, kepemilikan, atau popularitas. Pengakuan manusia terasa manis—meski sering kali hanya sementara.

Cara berpikir yang sama muncul pada saudara-saudara Yesus. Menjelang Hari Raya Pondok Daun, mereka mendorong Yesus untuk pergi ke Yudea dan melakukan mukjizat di hadapan banyak orang. Menurut mereka, inilah momentum yang tepat. Bukankah lebih baik tampil di tempat ramai agar dikenal luas? Bukankah kesempatan besar tidak boleh disia-siakan?

Namun Yesus melihat dengan sudut pandang yang berbeda. Ia tidak menolak pesta itu, tetapi Ia menolak dorongan untuk tampil demi popularitas. Dengan tenang Yesus berkata bahwa waktu-Nya belum tiba. Ia akhirnya pergi ke Yerusalem, tetapi diam-diam—tanpa sorotan, tanpa sensasi, tanpa ambisi pribadi. Bagi Yesus, menaati kehendak Bapa jauh lebih penting daripada memenuhi ekspektasi manusia.

Di sinilah kita diajak bercermin. Betapa sering kita tergoda untuk melangkah lebih cepat dari waktu Tuhan. Kita ingin segera dilihat, didengar, dan diakui. Kita merasa “sudah siap”, padahal Tuhan sedang mengajar kita untuk menunggu. Tidak jarang kita membungkus ambisi pribadi dengan alasan rohani: demi kemuliaan Tuhan, padahal yang sedang ditonjolkan adalah diri sendiri.

Renungan ini mengingatkan kita bahwa tidak semua peluang harus diambil, dan tidak semua sorotan harus dikejar. Ada waktu untuk tampil, dan ada waktu untuk berdiam. Ada masa Tuhan membentuk kita dalam keheningan sebelum Ia mempercayakan tanggung jawab yang lebih besar.

Mari kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
Apakah langkah yang sedang kuambil lahir dari ketaatan, atau dari keinginan untuk diakui?
Apakah aku bersedia menunggu, jika Tuhan berkata: “Belum waktunya”?

Belajar menanti waktu Tuhan memang tidak mudah. Namun, berjalan sesuai waktu-Nya akan membawa kita pada tujuan yang benar, dengan hati yang tetap rendah dan kemuliaan yang kembali kepada Tuhan.

Doa

Tuhan yang Mahabijaksana,
kami mengakui bahwa hati kami sering tidak sabar. Kami ingin cepat terlihat, cepat berhasil, dan cepat diakui. Ampuni kami bila kami melangkah mendahului waktu-Mu. Ajarlah kami untuk peka terhadap kehendak-Mu, sabar menanti waktu-Mu, dan setia berjalan sesuai arahan-Mu. Bentuklah hati kami agar tidak mengejar kemuliaan diri, melainkan hanya memuliakan nama-Mu. Amin.

Share:

Renungan Harian " Yesus, Sang Pemeran Utama "

Yohanes Pembaptis menunjuk kepada Yesus sebagai Sang Pemeran Utama
Yesus, Sang Pemeran Utama
Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi pemeran utama. Dalam sebuah kisah, selalu ada peran pendukung yang tak kalah penting. Yohanes Pembaptis memahami hal ini dengan sangat indah. Ia tahu betul siapa dirinya—bukan Mesias, melainkan suara yang mempersiapkan jalan bagi-Nya.

Ketika murid-murid Yohanes mulai gelisah karena semakin banyak orang mengikuti Yesus, Yohanes tidak tersinggung atau iri. Sebaliknya, ia berkata dengan kerendahan hati yang mendalam: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Kalimat ini bukan tanda kekalahan, melainkan kemenangan iman.

Yohanes menyadari kebenaran yang teguh. Yesus adalah Mesias yang datang dari surga, sementara dirinya hanyalah manusia dari bumi. Yesus adalah mempelai laki-laki, dan umat-Nya adalah mempelai perempuan. Yohanes hanyalah sahabat yang bersukacita mendengar suara mempelai itu. Yesus menerima misi langsung dari Bapa, dikasihi sepenuhnya, dan diberikan segala kuasa. Dialah satu-satunya Juruselamat yang dijanjikan Allah.

Padahal Yohanes Pembaptis memiliki banyak pengikut. Ia dihormati, bahkan dianggap sebagai Elia. Ia bisa saja menikmati kemuliaan itu. Namun ia memilih untuk menyingkir ke belakang, agar Yesus berdiri di pusat perhatian. Hidup Yohanes adalah panggung yang sengaja ia kosongkan, supaya Kristus terlihat jelas.

Renungan ini menegur kita dengan lembut. Dalam pelayanan, pekerjaan, bahkan kehidupan rohani, siapa yang sedang kita tampilkan? Nama kita, atau nama Yesus? Kita dipanggil bukan untuk mencari sorotan, melainkan untuk setia menjalankan peran—apa pun bentuknya—demi kemuliaan Kristus.

Ketika Yesus menjadi pemeran utama dalam hidup kita, maka hidup kita tidak pernah sia-sia. Justru di situlah sukacita sejati ditemukan.

Doa

Tuhan Yesus,
kami bersyukur karena Engkau adalah Sang Pemeran Utama dalam sejarah keselamatan dan dalam hidup kami. Ajari kami untuk rendah hati, setia pada panggilan, dan tidak mencari kemuliaan diri sendiri. Biarlah melalui hidup, pelayanan, dan pekerjaan kami, nama-Mu semakin besar dan kami semakin kecil.

Kami serahkan seluruh hidup kami ke dalam tangan-Mu: rumah tangga, anak cucu, pekerjaan, usaha, ladang, studi, pelayanan, gereja, dan setiap relasi kami. Tambahkan hikmat seiring bertambahnya hari-hari kami. Berikan kekuatan, terobosan, dan proses yang membentuk kami seturut kehendak-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus,
kami percaya dan berdoa.
Amin.

Share:

Renungan Harian " Siapakah Engkau "

Bayangan orang di padang gurun yang menunjuk ke arah cahaya terang.
Siapakah Engkau? Sebuah Refleksi Tentang Melepaskan Jubah Keakuan
Dunia seringkali memaksa kita untuk menjadi "seseorang". Kita diminta membangun personal branding, menumpuk gelar, dan memamerkan pencapaian agar dianggap ada. Di tengah bisingnya tuntutan untuk menjadi yang utama, sebuah pertanyaan kuno menggema kembali kepada kita hari ini: "Siapakah engkau?"

Pertanyaan ini pernah dilemparkan kepada Yohanes Pembaptis. Ia punya panggung, ia punya massa, dan ia punya pengaruh. Secara manusiawi, ia bisa saja mengaku sebagai Elia atau bahkan Mesias yang dinanti-nanti. Namun, jawaban Yohanes sungguh menggetarkan hati: "Aku bukan..."

Keberanian untuk Menjadi Kecil Ada kekuatan yang luar biasa dalam kalimat "Aku bukan". Yohanes Pembaptis mengajarkan kita bahwa jati diri yang sejati tidak ditemukan dalam pengakuan dunia, melainkan dalam pengakuan akan siapa Yesus bagi kita.

Ia tahu persis posisinya. Ia hanyalah sebuah suara, bukan Sang Firman. Ia hanyalah saksi, bukan Sang Terang. Bahkan, ia merasa tidak layak sekadar membuka tali kasut Yesus—tugas seorang hamba yang paling rendah sekalipun. Yohanes tidak sedang rendah diri (insecure), ia sedang rendah hati. Ia merasa kecil karena ia telah melihat betapa besarnya Tuhan.

Menemukan Jati Diri dalam Kerendahan Hati Seringkali, masalah dalam hidup kita muncul karena kita terlalu lelah mencoba menjadi pusat dari segalanya. Kita merasa harus mengendalikan semua hal, harus dipuji, dan harus berhasil. Namun, Yohanes mengajak kita untuk beristirahat dari ambisi yang melelahkan itu.

Identitas kita yang paling mulia bukanlah saat kita menjadi "pusat", melainkan saat kita menjadi "penunjuk jalan". Bahwa hidup kita, tutur kata kita, dan luka-luka kita sekalipun, bisa menjadi saksi yang mengarahkan orang lain kepada Yesus, Sang Mesias.

Respon Pribadi Anda Mari masuk ke dalam ruang batin yang paling jujur hari ini:

  • Jika hari ini label kesuksesan, jabatan, dan hartamu ditanggalkan, siapakah engkau di hadapan Tuhan?

  • Apakah ada bagian dalam hidupmu di mana engkau masih mencoba mencuri kemuliaan Tuhan dan ingin dianggap sebagai "pusat"?

  • Maukah engkau hari ini berdamai dengan ketidaksempurnaanmu, dan membiarkan Yesus menjadi satu-satunya yang besar di dalam hidupmu?

Doa untuk Hari Ini

"Tuhan Yesus, Sang Terang yang Sejati, terima kasih karena Engkau telah menemukanku saat aku kehilangan jati diri. Ampuni aku jika selama ini aku terlalu sibuk membangun istanaku sendiri dan lupa bahwa akulah yang seharusnya menjadi pembuka jalan bagi kemuliaan-Mu.

Tanamkanlah di hatiku kerendahan hati seperti Yohanes Pembaptis. Mampukan aku untuk berani berkata 'Bukan aku, tapi Kristus' dalam setiap pekerjaanku, pelayananku, dan tutur kataku. Ajarlah aku merasa cukup hanya dengan menjadi hamba-Mu, karena di dalam ketaatan itulah aku menemukan tujuan hidupku yang sebenarnya. Jadikanlah hidupku saksi-Mu yang setia hari ini. Amin."

Share:

Renungan Harian : Bukan Kuatku, Tetapi Tuhanku!

Ilustrasi perjalanan hidup dengan cahaya Tuhan sebagai penuntun menuju kemenangan.

Bukan Kuatku, Tetapi Tuhanku! 

Dalam perjalanan hidup, kita sering dihadapkan pada “musuh-musuh” yang terasa jauh lebih besar daripada kemampuan kita. Tekanan hidup, masalah keluarga, kekuatiran masa depan, atau pergumulan pribadi terkadang membuat kita merasa kecil, minder, bahkan pesimis. Sama seperti bangsa Israel yang berdiri di tepi Sungai Yordan, kita pun mungkin melihat tantangan yang tampak mustahil untuk dihadapi.

Bangsa Israel diperintahkan masuk ke negeri dengan kota-kota besar berkubu tinggi, dengan penduduk raksasa seperti bani Enak. Secara manusia, tidak mungkin mereka bisa menang. Ketakutan itu wajar—tetapi Tuhan tidak ingin mereka berfokus pada kekuatan musuh, melainkan pada kekuatan-Nya.

Musa mengingatkan mereka bahwa Tuhan sendiri akan berjalan di depan mereka. Ia adalah api yang menghanguskan, Allah yang menundukkan musuh, dan Pribadi yang memampukan mereka menang. Kemenangan mereka bukan bergantung pada kemampuan mereka, melainkan pada Allah yang menyertai mereka.

Namun, Musa juga memperingatkan: jangan sampai kemenangan membuat mereka sombong. Bukan karena kebenaran atau ketulusan mereka Tuhan memberi kemenangan itu. Justru mereka bangsa yang tegar tengkuk—dan semua itu semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Kemenangan bukan alasan untuk meninggikan diri, melainkan untuk merendahkan hati di hadapan Allah.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri:
Dalam menghadapi tantangan hidup, siapa yang menjadi andalan kita? Kekuatan sendiri atau Tuhan?

Ketika hidup terasa berat, ingatlah bahwa kita memiliki Allah yang besar, dahsyat, dan berkuasa. Dan ketika kemenangan datang, jangan lupa bahwa semua itu terjadi bukan karena “kuatku”, tetapi karena Tuhanku.

Bukan kuatku, tetapi Allahku yang hebat!
Allahku menang di dalam hidupku!

Pokok Doa

  • Bersyukur atas kuasa Tuhan yang jauh melampaui segala kuasa manusia.

  • Memohon penyertaan-Nya atas rumah tangga, pekerjaan, studi, usaha, pelayanan, gereja, masa depan, dan seluruh perjalanan hidup kita.

  • Berdoa agar hikmat Tuhan bertambah dalam hidup kita setiap hari, membawa terobosan, kekuatan, dan proses yang memimpin kita kepada rencana-Nya yang terbaik.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami percaya dan menerima berkat-Mu atas hidup kami. Amin.

Share:

Renungan Harian : " Jangan Sampai Post Power Syndrome "

Musa berdiri di puncak gunung Pisga, memandang ke tanah perjanjian dari kejauhan. Cahaya lembut dari langit menerangi wajahnya yang tenang, melambangkan penyerahan dan kedamaian hati
Jangan Sampai Post Power Syndrome

(Ulangan 3:23–29)

✨ Versi Reflektif untuk Website:

Musa tahu bahwa waktunya hampir tiba. Ia tidak akan masuk ke tanah perjanjian karena telah melanggar kekudusan Tuhan (Bil. 20:10–13). Ia tahu pula bahwa tongkat kepemimpinan akan beralih ke tangan Yosua. Namun, hati Musa tidak dikuasai oleh iri, kecewa, atau amarah. Ia tidak berusaha mempertahankan posisi yang telah Tuhan percayakan kepadanya, melainkan tetap setia melayani sampai akhir.

Doa terakhir Musa bukan tentang jabatan atau kuasa, tetapi tentang kerinduannya untuk melihat negeri yang Tuhan janjikan (ayat 23–25). Ia hanya ingin menyaksikan keindahan karya Tuhan, bukan mempertahankan panggung pelayanan. Di akhir hidupnya, Musa membuktikan bahwa kasih dan kerendahan hati lebih besar dari ambisi pribadi.

Kisah Musa mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati bukan soal kekuasaan, melainkan ketaatan. Dunia memandang jabatan sebagai simbol harga diri, tetapi di mata Tuhan, jabatan hanyalah sarana untuk melayani. Ketika tiba saatnya melepaskan, pemimpin sejati akan melakukannya dengan damai — karena ia tahu bahwa yang terpenting bukan siapa yang memimpin, melainkan siapa yang ditaati: Tuhan.

Sayangnya, banyak orang hari ini jatuh dalam post power syndrome — kehilangan arah dan jati diri setelah kekuasaan berakhir. Namun, bagi orang yang hidup dalam rencana Tuhan, kehilangan posisi bukan akhir dari panggilan. Justru di sanalah Tuhan mengajar kita untuk menemukan makna sejati: menjadi hamba yang tetap rendah hati dan taat, sekalipun tanpa panggung.

Mari kita belajar dari Musa — tetap melayani dengan setia, mendukung generasi berikutnya, dan menaruh harapan hanya kepada Tuhan yang kekal. Jabatan boleh berganti, tetapi panggilan untuk setia tidak akan pernah usai.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.