✨ Menyelami Kedalaman Kasih: Hati yang Dibebaskan untuk Membebaskan
Saudaraku yang terkasih, mari sejenak kita menepi dari hiruk pikuk kehidupan dan menanyakan pada diri sendiri: Bagaimana kita menjalani iman ini?
Kita sering bersemangat menyambut setiap berkat yang Tuhan curahkan, setiap kebaikan dan anugerah yang membanjiri hidup kita. Kita menantikan janji kasih-Nya yang tak berkesudahan. Namun, ketika tiba giliran kita untuk menjadi sungai berkat itu, mengapa tangan kita sering kali mengepal? Mengapa hati kita mudah memilih-milih siapa yang layak menerima belas kasih, dan siapa yang kita anggap "bukan urusan kita"?
Jika kita menerima kasih tanpa mau menyalurkannya, kita hanyalah sebuah waduk yang menampung, bukan mata air yang memberi kehidupan. Kita tak ubahnya seperti dunia yang kita coba tinggalkan—penuh standar ganda, mencari untung, dan hanya peduli pada diri sendiri.
Melalui Ulangan pasal 15, Tuhan membawa kita pada standar hidup yang melampaui logika dunia. Ia berbicara tentang Keadilan Sejati—bukan keadilan 'mata ganti mata', tetapi keadilan yang menyejahterakan bersama.
Bayangkanlah: Tahun Penghapusan Utang. Setiap tujuh tahun, seluruh beban utang orang miskin harus dilepaskan. Ini adalah amnesti ilahi yang bukan hanya melegakan dompet, tetapi membebaskan martabat seseorang. Demikian juga perintah untuk membebaskan budak pada tahun ketujuh. Tuhan tidak sekadar menetapkan aturan; Ia menanamkan semangat pembebasan dalam denyut nadi umat-Nya. Mengapa? Karena kita juga pernah dibebaskan!
Ketika kita diperintahkan untuk mempersembahkan yang sulung dan yang terbaik—anak lembu, sapi, domba tanpa cacat—Tuhan sedang melatih mata hati kita. Ia mengajar kita untuk bersyukur, untuk tidak membiarkan harta benda menjadi berhala yang membutakan kita dari wajah sesama yang menderita.
Ini saatnya kita menghentikan standar ganda itu. Jika kita telah menerima pengampunan yang tak terbatas, kita dipanggil untuk memberikan pengampunan dan keadilan yang tak berbatas pula.
Apa satu tindakan konkret yang akan Anda lakukan hari ini untuk berlaku adil dan menjadi berkat bagi seseorang yang terpinggirkan?
🕊️ Doa Penutup
Bapa yang Mahakasih, kami bersyukur karena Engkau telah membebaskan dan mengampuni kami dari segala utang dosa. Lembutkanlah hati kami yang sering keras dan perhitungan. Biarlah Roh Kudus-Mu membimbing kami agar tidak lagi buta terhadap ketidakadilan di sekitar kami.
Tolonglah kami, ya Tuhan, untuk menangkap semangat dari hukum-hukum-Mu, yaitu Kasih dan Pembebasan. Beri kami keberanian untuk berbuat adil, melepaskan penindasan, dan menjadi tangan-Mu yang menjangkau mereka yang terbeban. Demi kemuliaan nama-Mu. Amin.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar