Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: Introspeksi Diri
Tampilkan postingan dengan label Introspeksi Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Introspeksi Diri. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian " Jangan Terlalu Cepat Menghakimi "

Yesus mengajarkan kasih dan pengampunan kepada perempuan yang berdosa

Jangan Terlalu Cepat Menghakimi
Yohanes 7:53–8:11
Menghakimi sering kali terasa begitu mudah. Saat kita melihat kesalahan orang lain, lidah dan pikiran kita cepat bereaksi. Namun ketika kita sendiri jatuh dalam dosa, pengakuan justru terasa berat. Kita sibuk menunjuk keluar, tetapi enggan menoleh ke dalam diri. Tanpa disadari, kita menjadi lebih keras terhadap sesama daripada terhadap diri sendiri.

Kisah yang kita baca hari ini memperlihatkan sekelompok orang Yahudi dan orang-orang Farisi yang membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berzina. Tujuan mereka bukan semata-mata menegakkan hukum, melainkan menjebak Yesus. Mereka berharap Yesus terpeleset dalam jawaban-Nya sehingga dapat dijadikan alasan untuk menjatuhkan-Nya.

Namun respons Yesus sungguh mengejutkan. Ia tidak terpancing emosi, tidak terburu-buru menghakimi, dan tidak pula mengabaikan hukum. Dengan penuh hikmat dan kasih, Yesus berkata, “Siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Kata-kata itu menusuk hati setiap orang yang hadir. Satu per satu mereka pergi, sadar bahwa tidak seorang pun layak berdiri sebagai hakim mutlak.

Yesus kemudian menatap perempuan itu dan memberinya kesempatan baru. Ia tidak membenarkan dosanya, tetapi juga tidak menghancurkan hidupnya. “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.” Di sini kita melihat keseimbangan yang indah antara kebenaran dan kasih. Hukuman tidak dijadikan alat mempermalukan, tetapi pertobatan ditawarkan sebagai jalan pemulihan.

Kisah ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: seberapa sering kita menjadi seperti orang-orang Farisi itu? Cepat bereaksi, cepat menghakimi, tetapi lambat mengintrospeksi diri. Tuhan tidak melarang kita menegur kesalahan, tetapi Ia mengingatkan agar teguran lahir dari hati yang rendah, penuh kasih, dan bertujuan memulihkan—bukan menjatuhkan.

Hari ini, mari kita belajar menghabiskan lebih banyak waktu untuk bercermin pada diri sendiri. Sebelum menunjuk kesalahan orang lain, biarlah firman Tuhan terlebih dahulu menegur hati kita. Sebab orang yang menyadari betapa besar pengampunan yang ia terima, akan lebih mudah mengampuni dan bersikap bijaksana terhadap sesamanya.

Doa

Tuhan Yesus yang penuh kasih,
ampuni kami bila kami terlalu cepat menghakimi sesama
namun lambat mengakui dosa kami sendiri.
Lembutkan hati kami agar mampu melihat orang lain
dengan kasih dan belas kasihan-Mu.
Ajarlah kami menegur dengan hikmat,
bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk memulihkan.
Ubahlah hati kami agar semakin serupa dengan hati-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Share:

renuangan harian : Berdiam Diri dan Introspeksi

 
"Siluet wanita berlutut sambil berdoa di tepi danau saat matahari terbit atau terbenam, dengan tulisan 'BELAJAR DIAM DI HADAPAN TUHAN'. Menggambarkan keheningan, kedamaian, dan saat teduh."

Berdiam Diri dan Introspeksi

📖 Ulangan 1:41–46

Ada saatnya rasa bersalah menuntun kita kepada pertobatan yang sejati, namun ada pula saat ketika rasa bersalah justru mendorong kita bertindak terburu-buru. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel. Setelah mereka menyadari kesalahan karena menolak kehendak TUHAN, mereka mencoba memperbaikinya dengan kekuatan sendiri — menyerbu ke pegunungan tanpa restu Allah. Akibatnya, mereka kalah dan hancur oleh tangan orang Amori.

Mereka mengira tindakan itu adalah bukti penyesalan, padahal sebenarnya itu hanyalah bentuk lain dari pemberontakan. TUHAN telah memerintahkan mereka untuk diam, menunggu, dan belajar dari kesalahan mereka. Tetapi mereka tidak sabar menantikan waktu Allah.

Musa ingin generasi baru belajar dari peristiwa ini: ada waktu untuk bergerak, tetapi juga ada waktu untuk diam. Ketika Tuhan menegur, yang Ia kehendaki bukanlah tindakan tergesa, melainkan hati yang tunduk dan mau diajar. Musa sendiri memberi teladan — ia menerima hukuman Tuhan dengan lapang dada, tanpa memberontak. Ia tahu bahwa kedewasaan rohani tumbuh dari kesediaan untuk berhenti melawan dan membiarkan Tuhan bekerja dalam diam.

Kadang, ketika kita berbuat salah, kita ingin menebusnya dengan tindakan cepat — memberi persembahan besar, berbuat amal, atau menunjukkan bakti dalam cara yang kelihatan. Namun, Tuhan tidak mencari upaya manusia untuk menebus kesalahan. Ia mencari hati yang hancur dan menyesal, yang bersandar penuh pada kasih karunia-Nya.

Mungkin Anda sedang berada dalam masa “diam” yang dipaksakan Tuhan. Jangan anggap itu hukuman tanpa kasih. Justru di sanalah Tuhan sedang menata ulang hidup Anda — mendidik, memurnikan, dan mempersiapkan langkah yang baru.

“Untuk segala sesuatu ada masanya...” (Pkh. 3:1)
“... tidak untuk selama-lamanya Ia menyimpan amarah.” (Mzm. 103:9)

Berdiam dirilah di hadapan Tuhan. Biarkan Dia berbicara, dan jangan terburu-buru menjawab. Dalam keheningan, kasih-Nya bekerja jauh lebih dalam daripada yang dapat kita lakukan dengan segala usaha kita.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.