Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

MENYERAHKAN NYAWA

Gema suara Illahi. 
 Gimana kabarnya Bpk ibu sdr yang terkasih dalam Tuhan. Saya harap tetap sehat, dan doa saya selalu dalam penyertaan dan perlindungan Allah. Selamat beribadah di minggu ini. 

1 Yohanes 3:11-17
Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. (1Yoh. 3:16)
Sebuah kutipan kalimat bijak berkata demikian, “Menolong seseorang mungkin tidak akan mengubah seluruh dunia, tetapi dapat mengubah dunia orang yang kita tolong.” Apakah kamu setuju?
Kasih adalah sebuah prinsip dasar hidup kita sebagai orang Kristen. Prinsip itu kita terapkan dalam hidup kita sehari-hari, termasuk dalam memperlakukan orang lain. Orang yang hidup tanpa kasih hanya akan memiliki kebencian dalam dirinya. Orang yang membenci itu bagaikan seorang pembunuh. Ia membunuh karakter, harapan, dan semangat orang lain, bahkan diri sendiri. Padahal, kasih itu berarti memberi kehidupan. Mengasihi dengan “menyerahkan nyawa”, seperti halnya Yesus Kristus, akan menghidupkan dunia ini. Kita bukan tak punya kesempatan untuk benarbenar menyerahkan nyawa kita secara harfiah untuk menolong orang lain. Namun, “menyerahkan nyawa” dapat kita praktikkan dengan cara menolong orang yang kita tahu menderita. Hal itu tentu membutuhkan pengorbanan, yaitu berkorban waktu, tenaga, dana, bahkan juga sering kali berkorban perasaan. Namun, dengan melakukannya kita akan membuat kasih Tuhan dapat dirasakan oleh makin banyak orang.
Saudaraku ada banyak alasan yang dapat membuat kita benci kepada orang lain. Namun, cukup satu alasan untuk mengasihi; yaitu bahwa Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita dengan kasih yang begitu besar. Demikianlah kasih itu juga kita perlihatkan kepada orang lain melalui perbuatan kita. Banyak orang menderita di dunia ini dan kita tidak dapat menolong semua orang. Namun, menolong satu orang akan membuat dunia menjadi lebih baik.

1. Apa yang dilakukan oleh Kain?
2. Bersediakah Anda mengakhiri sebuah kebencian?

Jangan lupa tetap prokes, pakai masker, cuci tangan, jauhi kerumunan, dan terlebih jika belum vaksin segera vaksin. Supaya dapat menolong orang lain dan diri terhindar dari covid 19.
Share:

Menang Atas pergumulan Hidup

Gema suara Illahi. 
 Gimana kabarnya Bpk ibu sdr yang terkasih dalam Tuhan. Saya harap tetap sehat, dan doa saya selalu dalam penyertaan dan perlindungan Allah. Selamat beribadah di minggu ini. 

1 Timotius 6:9 12

Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.
 1 Timotius 6:12a

Jika kita ditanya, apakah hal yang utama di dalam hidup kita saat ini? Apakah yang kita kejar selama hidup di dunia? Sebetulnya kedua pertanyaan ini sudah terjawab dan nampak dari apa yang kita lakukan sehari hari di dalam kehidupan. Berapa banyak waktu, perhatian, dan tenaga serta pikiran yang kita curahkan untuk hal hal yang kita kejar dan inginkan maka hal hal tersebut adalah yang paling utama dalam hidup kita.

Di dalam 1 Timotius 6:9 12, Paulus memberikan nasihat kepada Timotius dan kepada kita semua supaya mengejar hal hal yang bernilai kekekalan. Paulus mengingatkan bahwa jika kita mengejar hal hal duniawi seperti harta atau uang, maka kita akan jatuh di dalam praktik praktik dosa demi mendapatkan hal hal tersebut. Karena itu, Paulus meminta Timotius sebagai manusia Allah (ay. 11a), yaitu orang yang dekat dengan Allah, untuk merebut hidup yang kekal. (ay. 12). Paulus meminta kita untuk mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan (ay. 11b). Sebagai murid Kristus, kita harus mencerminkan karakter Kristus di dalam kehidupan kita.

Inilah pertandingan iman kita. Paulus mengajarkan kepada kita semua untuk bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar. Apakah kita mau ikut cara Tuhan atau cara dunia? Apakah kita mengutamakan melakukan kebenaran atau menikmati kesenangan dunia? Apakah kita mau mengampuni atau menyimpan kepahitan dan dendam? Semua adalah pertandingan. Kita terlibat dan bertanding di dalamnya.

Karena itu saudara saudaraku yang terkasih, kita harus menang di dalam pertandingan iman ini. Tentu bukan dengan mengandalkan diri sendiri tetapi mengandalkan Allah yang telah menyelamatkan kita. Sebagai manusia Allah yang dekat kepada Nya, kita akan terus diberikan kepekaan untuk mau taat kepada Nya. Jika kita menjadi manusia duniawi maka kita akan lebih cinta dunia daripada Allah. Namun, jika kita adalah manusia Allah maka kita akan lebih cinta Allah daripada dunia. Marilah saudaraku, rebutlah kemenangan dan hidup kekal tersebut dengan hidup yang berkemenangan atas dosa dan pencobaan yang kita hadapi. Selamat bertanding dan Tuhan memberkati kita semua.

Refleksi diri:

Apa yang Anda kejar di dalam hidup? Apakah hal hal bersifat kekekalan atau malah keduniawian?

Sebagai manusia Allah, bagaimana strategi Anda untuk menang dalam pertandingan iman selama hidup di dunia?


Jangan lupa tetap prokes, pakai masker, cuci tangan, jauhi kerumunan, dan terlebih jika belum vaksin segera vaksin. Supaya dapat menolong orang lain dan diri terhindar dari covid 19.
Share:

Tak lagi di percaya

Gema suara Illahi. 
 Gimana kabarnya Bpk ibu sdr yang terkasih dalam Tuhan. Saya harap tetap sehat, dan doa saya selalu dalam penyertaan dan perlindungan Allah. Selamat beribadah di minggu ini. 

1 Samuel 13:1 14

Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.
 1 Samuel 13:14

Butuh waktu dan banyak usaha untuk membangun kepercayaan. Menjaga kepercayaan orang lain tidaklah mudah. Ketika seseorang tak lagi dipercaya maka ia bisa kehilangan segalanya. Sebuah hubungan yang baik dapat hancur karena orang tidak lagi percaya kita. Karier seseorang bisa hancur seketika karena kepercayaan yang dikhianati. Sebuah janji indah pun bisa batal karena si pemberi janji tak lagi bisa dipercaya dan si penerima janji menyangsikan ucapannya.

Demikian pula dengan Raja Saul yang telah mengkhianati kepercayaan Allah terhadap dirinya. Awalnya Saul sangat dipercaya Tuhan. Tuhan mengangkatnya menjadi raja Israel yang pertama dan berjanji akan mengokohkan kerajaannya jika ia setia. Namun sayang, ia mengkhianati Tuhan. Saul tidak sabar untuk menantikan kehadiran Samuel dan nekat mengambil alih tugas keimaman yang seharusnya tidak boleh dilakukannya, yaitu membakar korban persembahan kepada Allah. Pelanggaran demi pelanggaran dilakukannya demi ambisi pribadi. Teguran dari Tuhan pun diabaikan Saul sehingga ia sudah tidak lagi dipercaya Tuhan. Janji pengokohan kerajaan tidak terjadi karena Tuhan telah memilih Daud untuk menggantikan posisi Saul sebagai raja Israel. Kecerobohan tindakan Saul kiranya menjadi peringatan serius bagi kita saat ini.

Menjaga kepercayaan Tuhan tidaklah mudah. Seorang yang dipercaya Tuhan adalah seorang yang tetap tunduk, taat, dan setia melakukan kehendak dan agenda Nya, bukan kehendak dan agenda sendiri. Pada akhirnya waktu dan situasi yang akan menguji apakah kita mampu menjaga kepercayaan Tuhan. Ya, ada saatnya di mana Tuhan akan membawa kita pada sebuah situasi yang begitu mendesak, menakutkan, dan menuntut penyelesaian
segera. Saat itulah hati kita diuji! Kepercayaan itu ibarat selembar kertas. Sekali saja terkoyak dan kusut, ia tidak akan pernah kembali sempurna lagi. Sebab itu jagalah kepercayaan Tuhan dan orang lain terhadap kita.

Refleksi diri:

Apakah Anda dapat dipercaya? Apakah Anda tetap konsisten hidup di dalam kehendak Tuhan dan setia menantikan Nya di tengah situasi yang sulit?

Apa yang Anda lakukan untuk memelihara kepercayaan Tuhan terhadap Anda?

Jangan lupa tetap prokes, pakai masker, cuci tangan, jauhi kerumunan, dan terlebih jika belum vaksin segera vaksin. Supaya dapat menolong orang lain dan diri terhindar dari covid 19.
Share:

MENJADI MANUSIA

Gema suara Illahi. 
 Gimana kabarnya Bpk ibu sdr yang terkasih dalam Tuhan. Saya harap tetap sehat, dan doa saya selalu dalam penyertaan dan perlindungan Allah. Selamat beribadah di minggu ini. 

Lukas 10:25-37

Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk. 10:37)

Menjadi manusia bukanlah sekadar bernapas, bergerak, dan hidup. Menjadi manusia adalah mewujudkan sisi kemanusiaan dalam setiap napas, gerak, dan langkah kehidupan. Sangat mudah untuk menjadi manusia bagi diri sendiri ketika segala hal dipandang dari sisi kepentingan diri sendiri. Itulah sisi egois manusia. Hal sulit untuk dilakukan adalah menjadi manusia bagi sesama. Itu adalah hal yang alamiah dan berharga untuk diwujudkan.

Seorang imam dan Lewi membiarkan korban penyamun tergeletak hampir mati di pinggir jalan. Menyapa pun tidak. Mereka hanya berjalan melewati korban dari seberang jalan. Ini adalah contoh perilaku manusia yang tidak menjadi sesama manusia, bukan? Tidak ada belas kasihan sekalipun pertolongan sangat dibutuhkan di depan mata mereka. Berbeda dengan seorang Samaria yang tergerak untuk menolong. Tidak hanya membalut luka, ia membawa korban ke tempat aman. Perumpamaan tentang orang Samaria ini adalah kisah klasik dalam Alkitab. Kisahnya sederhana, pesannya sangat jelas. Diceritakan ulang dalam berbagai versi, baik itu dalam bentuk film, drama, maupun renungan di gereja-gereja.

Jemaat yang terkasih ucapan Yesus, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”, menjadi perintah penting bagi kita. Kita diingatkan agar jangan cuma mendengar kisah kebaikan orang Samaria ini. Yang penting adalah mewujudkan sisi kemanusiaan kita dalam memperlakukan manusia yang lain. Menolong sesama yang membutuhkan tanpa pamrih. Itulah hal mendasar untuk menjadi manusia seperti yang Tuhan mau.
1. Apa saja yang dilakukan orang Samaria itu untuk menolong?
2. Siapa yang akan kita tolong di hari ini?

Jangan lupa tetap prokes, pakai masker, cuci tangan, jauhi kerumunan, dan terlebih jika belum vaksin segera vaksin. Supaya dapat menolong orang lain dan diri terhindar dari covid 19.
Share:

Prioritas utama Doa

Gema suara Illahi. 
 Gimana kabarnya Bpk ibu sdr yang terkasih dalam Tuhan. Saya harap tetap sehat, dan doa saya selalu dalam penyertaan dan perlindungan Allah. Selamat beribadah di minggu ini. 

Lukas 5:12 16

Akan tetapi Ia mengundurkan diri ke tempat tempat yang sunyi dan berdoa.
Lukas 5:16

Too Busy Not to Pray adalah judul sebuah buku karya Bill Hybels. Judul buku tersebut menggelitik pikiran sekaligus menegur sebab ketika sibuk justru kita sering tidak berdoa. Inilah pergumulan banyak orang Kristen. Kita terlalu sibuk dengan rutinitas harian. Apalagi bagi para profesional yang juga menjadi aktivis gereja. Terlalu banyak hal hal yang terlihat mendesak untuk dilakukan, termasuk membuka medsos menjadi aktivitas wajib bagi sebagian besar orang pada zaman era digital ini. Akibatnya, doa menjadi aktivitas yang tidak berarti dan salah satu hal yang sangat mudah kita coret dari jadwal harian kita, bukan?

Sebenarnya, satu satunya manusia yang paling berhak mencoret aktivitas doa dari jadwal hariannya adalah Yesus Kristus. Sebab sebagai Anak Allah, Dia memiliki kuasa yang tidak terbatas untuk mengendalikan dunia. Dia juga memiliki relasi yang erat dengan Bapa Nya. Meskipun demikian, aktivitas doa tetap menjadi prioritas paling utama dalam kehidupan Yesus. Berulang kali Lukas menulis Yesus berdoa (3:21; 6:12; 9:18, 28 29; 11:1; 23:46). Bahkan ketika semakin banyak orang yang membutuhkan pertolongan Yesus, Dia tetap mengundurkan diri ke tempat yang sunyi untuk berdoa (ay. 16). Yesus mengajarkan bahwa doa harus menjadi prioritas paling utama justru pada saat saat ketika kita sibuk dan penuh tekanan.Terlalu sibuk? Justru seharusnya berdoa.

Adalah keliru jika seorang pelayan Tuhan terlalu sibuk melayani Tuhan sampai sampai tidak lagi memiliki waktu untuk berelasi dengan Tuhan yang ia layani. Ia bagaikan sebuah layang layang yang ingin terbang tinggi lalu memutuskan benang tali layangan karena dirasa menghambatnya. Akibatnya layang layang terbang tanpa arah dan tujuan, akhirnya jatuh terhempas di tanah.

Marilah kita meneladani Yesus. Jika Anak Allah saja memprioritaskan doa maka kita pun tidak bisa mengabaikan doa dalam kehidupan kita. Prioritaskan waktu datang ke hadirat Tuhan, tetaplah berdoa (1Tes. 5:17) karena di balik doa, ada berkat kekuatan, penghiburan, damai sejahtera dan ketenangan. Kapan terakhir kali Anda berdoa?

Refleksi diri:

Bagaimana kehidupan doa Anda saat ini? Apakah doa menjadi prioritas yang paling utama Anda?

Apa komitmen yang Anda ingin ambil dalam memprioritaskan berdoa?

Jangan lupa tetap prokes, pakai masker, cuci tangan, jauhi kerumunan, dan terlebih jika belum vaksin segera vaksin. Supaya dapat menolong orang lain dan diri terhindar dari covid 19.
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.