Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: Yohanes 3
Tampilkan postingan dengan label Yohanes 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yohanes 3. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian " Yesus, Sang Pemeran Utama "

Yohanes Pembaptis menunjuk kepada Yesus sebagai Sang Pemeran Utama
Yesus, Sang Pemeran Utama
Tidak semua orang dipanggil untuk menjadi pemeran utama. Dalam sebuah kisah, selalu ada peran pendukung yang tak kalah penting. Yohanes Pembaptis memahami hal ini dengan sangat indah. Ia tahu betul siapa dirinya—bukan Mesias, melainkan suara yang mempersiapkan jalan bagi-Nya.

Ketika murid-murid Yohanes mulai gelisah karena semakin banyak orang mengikuti Yesus, Yohanes tidak tersinggung atau iri. Sebaliknya, ia berkata dengan kerendahan hati yang mendalam: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Kalimat ini bukan tanda kekalahan, melainkan kemenangan iman.

Yohanes menyadari kebenaran yang teguh. Yesus adalah Mesias yang datang dari surga, sementara dirinya hanyalah manusia dari bumi. Yesus adalah mempelai laki-laki, dan umat-Nya adalah mempelai perempuan. Yohanes hanyalah sahabat yang bersukacita mendengar suara mempelai itu. Yesus menerima misi langsung dari Bapa, dikasihi sepenuhnya, dan diberikan segala kuasa. Dialah satu-satunya Juruselamat yang dijanjikan Allah.

Padahal Yohanes Pembaptis memiliki banyak pengikut. Ia dihormati, bahkan dianggap sebagai Elia. Ia bisa saja menikmati kemuliaan itu. Namun ia memilih untuk menyingkir ke belakang, agar Yesus berdiri di pusat perhatian. Hidup Yohanes adalah panggung yang sengaja ia kosongkan, supaya Kristus terlihat jelas.

Renungan ini menegur kita dengan lembut. Dalam pelayanan, pekerjaan, bahkan kehidupan rohani, siapa yang sedang kita tampilkan? Nama kita, atau nama Yesus? Kita dipanggil bukan untuk mencari sorotan, melainkan untuk setia menjalankan peran—apa pun bentuknya—demi kemuliaan Kristus.

Ketika Yesus menjadi pemeran utama dalam hidup kita, maka hidup kita tidak pernah sia-sia. Justru di situlah sukacita sejati ditemukan.

Doa

Tuhan Yesus,
kami bersyukur karena Engkau adalah Sang Pemeran Utama dalam sejarah keselamatan dan dalam hidup kami. Ajari kami untuk rendah hati, setia pada panggilan, dan tidak mencari kemuliaan diri sendiri. Biarlah melalui hidup, pelayanan, dan pekerjaan kami, nama-Mu semakin besar dan kami semakin kecil.

Kami serahkan seluruh hidup kami ke dalam tangan-Mu: rumah tangga, anak cucu, pekerjaan, usaha, ladang, studi, pelayanan, gereja, dan setiap relasi kami. Tambahkan hikmat seiring bertambahnya hari-hari kami. Berikan kekuatan, terobosan, dan proses yang membentuk kami seturut kehendak-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus,
kami percaya dan berdoa.
Amin.

Share:

Renungan Harian "Mencari Kebenaran Sejati"

Yesus mengajarkan kelahiran kembali kepada Nikodemus
Mencari Kebenaran Sejati

Nikodemus datang kepada Yesus pada waktu malam. Ia bukan orang sembarangan—seorang pemimpin agama, pengajar Taurat, dan sosok yang dihormati. Pengetahuan ada padanya, jabatan melekat padanya. Namun, hatinya masih mencari.

Ia tahu Yesus berasal dari Allah. Tetapi pengenalannya belum membawa kepastian. Maka Yesus menyapanya dengan kebenaran yang mengguncang: “Jika seseorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

Yesus tidak berbicara tentang perbaikan diri, bukan pula tentang usaha agama. Ia berbicara tentang kelahiran dari atas—sebuah karya Allah yang mengubah hati manusia. Kebenaran sejati tidak dicapai dengan kecerdasan, melainkan diterima melalui anugerah.

Nikodemus bingung. Ia mencoba memahami dengan logika. Namun Yesus mengarahkannya kepada karya Roh Kudus—seperti angin yang tak terlihat, tetapi kuasanya nyata. Roh Allah bekerja membarui, menyucikan, dan memberi hidup yang baru.

Yesus menegaskan satu hal penting: manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Hanya Dia yang turun dari surga yang dapat menyatakan kebenaran Allah. Kelahiran baru terjadi ketika seseorang percaya dan menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Yesus.

Renungan ini menegur kita dengan lembut: apakah kita masih mengandalkan pengetahuan rohani, tradisi, dan logika, tetapi belum sungguh berserah? Kebenaran sejati bukan sekadar dipahami, melainkan dialami. Dan itu semua adalah kasih karunia.

Jika hari ini kita dapat percaya, itu bukan karena kehebatan kita—melainkan karena Allah lebih dahulu bekerja dalam hati kita.

Doa
Tuhan Yesus, kami mengaku bahwa sering kali kami mengenal-Mu dengan pikiran, tetapi belum sungguh menyerahkan hati. Lahirkan kami kembali oleh Roh-Mu. Ajari kami percaya dan berserah penuh kepada-Mu, agar kami hidup dalam kebenaran sejati. Amin.
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.