Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: Kesetiaan kepada Tuhan
Tampilkan postingan dengan label Kesetiaan kepada Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesetiaan kepada Tuhan. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian "Kematian yang Berharga di Mata Allah"

Musa di Gunung Nebo memandang tanah perjanjian sebagai simbol kematian yang berharga di mata Allah
Kematian yang Berharga di Mata Allah
Setiap manusia akan menghadapi kematian sebagai konsekuensi dosa. Namun, firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat kematian dari sudut pandang yang berbeda—bukan sekadar akhir hidup, melainkan bagian dari rencana Allah yang indah bagi orang percaya.

Musa, hamba Tuhan yang setia, naik ke Gunung Nebo atas perintah Tuhan. Dari sana, Allah memperlihatkan seluruh negeri Kanaan—tanah perjanjian yang selama ini Musa perjuangkan bersama bangsa Israel. Musa melihatnya dengan jelas, tetapi ia tidak memasukinya. Setelah tugasnya selesai, Musa meninggal di sana, dalam keadaan masih kuat, matanya tidak rabun, dan tenaganya tidak berkurang.

Alkitab mencatat sesuatu yang sangat menyentuh: Allah sendiri yang menguburkan Musa. Tidak ada seorang pun yang tahu di mana kuburnya sampai hari ini. Seolah Tuhan ingin menjaga Musa dari segala kemungkinan disalahgunakan, bahkan setelah kematiannya. Kematian Musa dijaga dengan penuh hormat oleh Allah sendiri.

Musa tidak mati karena sakit atau kelemahan tubuh, melainkan karena panggilannya telah selesai. Ia telah setia sampai akhir. Bangsa Israel pun berkabung selama tiga puluh hari, tanda betapa Musa dikasihi dan dihargai sebagai pemimpin.

Kita mungkin tidak seperti Musa, tetapi satu hal yang pasti: setiap orang percaya juga berharga di mata Allah. Hidup kita tidak diukur dari seberapa besar pencapaian kita di mata manusia, melainkan dari kesetiaan kita menjalani panggilan Tuhan. Bahkan ketika hidup kita berakhir, Allah tetap memperhatikan dan menghargai setiap jiwa yang kembali kepada-Nya.

Renungan ini mengajak kita bertanya secara pribadi:
Apakah aku sedang hidup dengan kesadaran bahwa hidupku adalah milik Tuhan? Apakah aku setia menjalani panggilan-Nya, apa pun tahap hidupku saat ini?

Kiranya selama kita masih diberi waktu, kita hidup dengan setia, taat, dan penuh pengharapan, sampai suatu hari kita pun boleh pulang dengan damai kepada-Nya.

Doa
Tuhan, terima kasih untuk hidup yang Engkau percayakan kepadaku. Ajarlah aku hidup setia dalam setiap panggilan-Mu, baik dalam hal besar maupun kecil. Tolong aku agar tidak takut akan akhir hidup, tetapi mempersiapkan diriku dengan hidup yang berkenan kepada-Mu setiap hari. Kiranya saat aku selesai menjalani tugasku di dunia ini, hidupku pun berharga di mata-Mu. Amin.
Share:

Renungan Harian " Ngerinya Upah Ketidaksetiaan "

Ilustrasi pilihan hidup antara jalan ketaatan dan ketidaksetiaan.
Di Balik Ketidaksetiaan: Saat Jiwa Kehilangan Perlindungan-Nya

Kita sering berbicara tentang berkat, namun jarang sekali kita berani menatap wajah "akibat" dari pilihan kita sendiri. Dalam Ulangan 28:15-46, kita dihadapkan pada sebuah realitas yang menggetarkan hati: bahwa ketidaksetiaan bukan sekadar kesalahan kecil, melainkan langkah kaki yang menjauh dari satu-satunya sumber kehidupan.

Sebuah Kehilangan yang Menyeluruh Bayangkan sebuah kehidupan di mana setiap sudut yang kita tempuh terasa gersang. Alkitab menggambarkan kutukan ketidaksetiaan menjamah segala lini—dari tempat kita bekerja (ladang), tempat kita menyimpan rezeki (bakul), hingga langkah kaki saat kita masuk dan keluar.

Ini bukan tentang Tuhan yang ingin menghukum dengan kejam, melainkan tentang apa yang terjadi ketika kita memutuskan untuk "berjalan sendiri" di luar naungan-Nya. Tanpa Tuhan, usaha kita menjadi sia-sia, dan keberhasilan kita berubah menjadi kehampaan. Saat kita tidak setia, kita sebenarnya sedang membangun tembok yang menghalangi aliran kasih karunia-Nya dalam hidup kita.

Kasih yang Memanggil Melalui Keadilan Mungkin kita bertanya: "Mengapa Tuhan yang pengasih membiarkan hal semengerikan itu terjadi?" Saudaraku, Tuhan terlalu mengasihi kita untuk membiarkan kita terus tersesat dalam pemberontakan. Rasa sakit, kekecewaan, dan "upah" dari ketidaksetiaan seringkali adalah cara Tuhan "mencubit" nurani kita agar kita sadar: di luar Dia, kita benar-benar tidak memiliki apa-apa. Keadilan-Nya memastikan ada konsekuensi, namun kasih-Nya selalu menyediakan jalan untuk pulang.

Respon Pribadi: Dimana Hatiku Berada? Mari sejenak masuk ke dalam keheningan dan bertanya pada diri sendiri:

  • Apakah ada bagian dari hidupku—pekerjaan, keluarga, atau hobi—yang sedang aku jalankan tanpa melibatkan Tuhan?

  • Apakah aku lebih takut pada kesulitan hidup daripada takut mendukakan hati Tuhan?

Kesetiaan bukanlah tentang melakukan peraturan dengan kaku, melainkan tentang menjaga hubungan cinta dengan Dia. Hari ini, Tuhan tidak sedang menudingkan jari-Nya untuk menghakimimu, melainkan membentangkan tangan-Nya agar kau kembali setia.

Doa untuk Melangkah

Bapa yang Kudus dan Adil,

Tunduk di hadapan-Mu, aku menyadari betapa seringnya hatiku tidak setia. Aku sering berjalan menurut keinginanku sendiri, seolah-olah aku mampu mengatur hidupku tanpa-Mu. Ampuni aku jika ketidaksetiaanku telah mendukakan hati-Mu.

Tuhan, aku tidak ingin hidup dalam "kekeringan" karena jauh dari-Mu. Lembutkanlah hatiku agar aku senantiasa mendengar suara-Mu. Berikanlah aku kekuatan dan keteguhan hati untuk tetap setia, baik dalam suka maupun duka, di kota maupun di ladang, saat masuk maupun saat keluar.

Biarlah hidupku menjadi bukti bahwa kasih-Mu memulihkan dan keadilan-Mu membimbingku di jalan yang benar. Aku ingin bersandar sepenuhnya hanya pada-Mu.

Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.