Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Kebenaran harus ditegakkan

10 Tetapi kata Paulus: "Aku sekarang berdiri di sini di hadapan pengadilan Kaisar dan di sinilah aku harus dihakimi. Seperti engkau sendiri tahu benar-benar, sedikitpun aku tidak berbuat salah terhadap orang Yahudi. 11 Jadi, jika aku benar-benar bersalah dan berbuat sesuatu kejahatan yang setimpal dengan hukuman mati, aku rela mati, tetapi, jika apa yang mereka tuduhkan itu terhadap aku ternyata tidak benar, tidak ada seorangpun yang berhak menyerahkan aku sebagai suatu anugerah kepada mereka. Aku naik banding kepada Kaisar!" (Kisah Para Rasul 25:10, 11)

Apabila orang benar membiarkan keadilan diselewengkan, maka tidak akan ada lagi orang yang dapat diharapkan untuk menegakkannya. Hal ini sama saja dengan bila petugas kepolisian membiarkan kejahatan tanpa melakukan penegakan hukum, maka tentu adalah sukar untuk diharapkan agar kejahatan tidak merajalela. Oleh karena itu kita tidak boleh berpangku tangan ketika melihat ketidakadilan dan pribadi yang seharusnya menegakkan keadilan ikut menyelewengkannya. Sebab bila kita bersikap tidak peduli terhadap keadaan tersebut maka sesungguhnya kita telah ikut bertanggung jawab atas merosotnya keadilan di tengah masyarakat. Menghadapi keadaan seperti itu kita harus bersuara dan meminta kepada pihak yang berwenang agar menegakkan keadilan sebagaimana seharusnya.

Hal itulah yang dilakukan oleh Paulus di dalam Kisah Para Rasul 25. Di situ dicatat bahwa Festus berniat untuk menyelewengkan keadilan. Ia menawarkan kepada Paulus untuk diadili di Yerusalem, yaitu dengan maksud agar dengan demikian Paulus akan dibunuh oleh orang-orang Yahudi di tengah jalan. Menanggapi ketidakadilan ini Paulus tidak berdiam diri. Ia naik banding kepada Kaisar di kota Roma. Tindakan Paulus tersebut menunjukkan bahwa ia tidak membiarkan keadilan diselewengkan dari yang seharusnya. Hal yang samalah yang perlu kita lakukan. Kita tidak boleh membiarkan ketidakadilan merajalela. Untuk itu kita harus ikut memelihara keadilan dengan meminta kepada pihak yang berwenang, termasuk kepada Tuhan, untuk menegakkannya.

Pertanyaan untuk Direnungkan.
Apakah Anda melihat ketidakadilan terjadi di tengah masyarakat? Apakah yang harus Anda lakukan untuk menanggapi keadaan tersebut?

Tindakam
Tuhan, Engkaulah Sang Hakim yang mahaadil. Engkau menegakkan hukum-Mu di alam semesta ini sebab Engkau mencintai keadilan. Itu sebabnya Engkau tidak akan membiarkan keadilan diselewengkan dan orang-orang yang seharusnya menjaga keadilan justru ikut membengkokkannya. Engkau tidak akan membiarkan orang yang lemah ditindas dan mereka yang tidak berdaya diinjak-injak. Di dalam keadilan-Mu Engkau akan bertindak dan membela mereka yang diperlakukan secara tidak adil. Tolonglah diriku, ya Tuhan, agar aku memiliki hati yang sama seperti diri-Mu. Supaya dengan demikian bukan saja aku tidak ikut membengkokkan keadilan, aku juga ikut memeliharanya dengan tidak berdiam diri ketika keadilan tersebut diselewengkan.

 Doa. 

Ya Sang Hakim alam semesta, kepada-Mu aku datang berlindung. Naungilah diriku dengan kasih setia-Mu yang teguh itu dan tuntunlah hidupku demi nama-Mu. Bimbinglah aku di jalan-jalan-Mu yang benar serta berikan kepadaku keberanian untuk menyuarakan kebenaran seperti sebagaimana seharusnya. Belalah diriku ketika aku diinjak-injak dan diperlakukan secara tidak adil. Sertailah diriku di setiap waktu dan mampukanlah diriku untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawabku pada hari ini secara maksimal. Peliharalah hidupku di dalam kesetiaan-Mu dan jangan biarkan diriku terjerumus ke dalam pencobaan. Pakailah hidupku menjadi saksi yang memuliakan nama-Mu. Di dalam nama Yesus Kristus, Tuhan dan Rajaku, aku berdoa. Amin.
Share:

Kelurahan Hati Allah

Matius 20:1 16

Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?
Matius 20:15

Dari segi dunia kerja dan pengupahan, perumpamaan ini memberi kesan ketidakadilan. Kok upahnya sama padahal lama jam kerja beda? Mana keadilannya? Akan tetapi, tujuan Tuhan Yesus menceritakan perumpamaan ini memang bukan membahas dunia kerja atau pengupahan. Dia sedang mengajarkan tentang Kerajaan Allah yang pola pikir dan kerjanya berbeda, bahkan berkebalikan dengan dunia. Yesus juga sudah melakukannya dalam bagian lain, misalnya di Matius 19:14 30.

Pesan utama perumpamaan ini adalah kita bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah bukan karena hasil usaha kita tetapi semata mata kemurahan hati atau anugerah Allah. Tidak ada seorang pun bisa membanggakan diri (Ef. 2:8 9). Kita masuk surga bukan karena lebih giat dan rajin berbuat baik atau lebih saleh daripada orang lain. Namun demikian, setelah menerima anugerah keselamatan Allah bukan berarti kita boleh berdiam diri. Sikap diam diri bukanlah sikap seorang yang tahu berterima kasih. Jika seseorang berbuat baik kepada Anda, Anda pasti akan berbuat sesuatu untuk menyatakan rasa terima kasih kepadanya.

Demikian pula, kita seharusnya setelah menerima anugerah melakukan pekerjaan baik buat Allah (Ef. 2:10). Kita harus bekerja melayani Allah segiat giatnya sebagai ungkapan rasa syukur dan sukacita kita. Akan tetapi, kita tidak boleh berpikir bahwa pelayanan atau usaha giat kita itu menambahkan sesuatu pada keselamatan kita. Jangan pula berpikir bahwa karena sudah giat melayani maka kita lebih baik daripada orang lain dan menuntut berkat yang lebih.

Kita tidak boleh bersikap seperti buruh yang masuk pada awal jam kerja. Kita tidak perlu merasa iri jika orang lain tidak serajin dan segiat kita tetapi sepertinya mendapatkan berkat yang melebihi kita dari Tuhan. Motivasi kita dalam melayani Tuhan memang bukan untuk mendapatkan berkat melainkan lebih pada sukacita atas berkat keselamatan dan ungkapan rasa syukur kita kepada Allah. Satu yang harus kita camkan dalam hati, Tuhan akan selalu menjamin kehidupan kita. Satu dinar itu cukup. Berkat keselamatan itu sudah cukup bagi kita.

Refleksi Diri:

Apakah Anda pernah berdoa meminta berkat lebih dari Tuhan karena sudah setia mengikuti Dia atau giat melayani?

Mengapa keselamatan adalah berkat yang paling besar bagi Anda?

Doa. Pagi ini aku bersukur untuk waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan, ajari aku untuk mampu menjaga keselamatan yang adalah anugerah Mu dalam hidupku secara pribadi. Amin
Share:

Menang perlombaan iman

 Ibrani 12:1 3
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
Ibrani 12:1
Seorang mentor atau instruktur pendakian gunung menasihati para pesertanya agar membawa perbekalan makanan yang cukup, sepatu gunung tahan air, pakaian hangat, dan selembar peta. Ia menyarankan para peserta untuk menghindari membawa perbekalan yang berlebihan agar tidak menghalangi mereka untuk melangkah maju dalam mencapai puncak gunung yang dituju.

Penulis surat Ibrani menganalogikan kehidupan orang Kristen bagaikan sebuah perlombaan maraton atau lari jarak jauh. Hanya ada satu tujuan akhir yang mau dicapai, yaitu hidup berkenan atau memuliakan Allah. Manusia diciptakan oleh Tuhan hanya untuk kemuliaan Nya (Yes. 43:7). Itulah sebabnya kita harus menang dalam perlombaan iman. Nah, supaya bisa menang kita juga perlu mempertimbangkan dengan cermat beban apa yang sebaiknya kita bawa dan apa yang harus kita buang. Dalam ayat emas di atas kita diperintahkan untuk menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita.

Istilah menanggalkan artinya menyingkirkan atau membuang semua rintangan yang bisa menghalangi kita untuk maju. Rintangan yang dimaksud adalah segala kekhawatiran, keinginan duniawi, dosa ketidakpercayaan kepada Tuhan, dan segala sesuatu yang dapat membuat perhatian kita teralihkan dari rencana Allah atas hidup kita. Semua itu merupakan beban perjalanan yang tidak semestinya kita bawa, melainkan harus kita tanggalkan segera. Setiap kita pasti ingin menjadi pemenang perlombaan iman, bukan? Mari tanggalkan semua beban kekhawatiran, dosa, gaya hidup yang hedonis, dan berbagai beban yang bisa menghalangi kita untuk maju. Kita perlu berdoa agar Tuhan Yesus menolong kita dalam pertandingan iman dan menyelesaikannya dengan baik. Kita membutuhkan perlengkapan yang Allah sudah sediakan, yaitu firman Tuhan yang menguatkan dan meneguhkan.

Belajarlah untuk selalu mengevaluasi kebiasaan kebiasaan dan keinginan keinginan apa saja yang sepatutnya kita miliki dan yang dibuang, dengan mengujinya berdasarkan kebenaran firman. Bila kita melangkah tanpa beban yang merintangi maka dapat dipastikan kita akan berhasil menyelesaikan perlombaan iman dengan baik, meraih hidup yang berkemenangan, dan memuliakan Tuhan.

Refleksi Diri:

Apa beban beban yang selama ini merintangi Anda dalam perjalanan mengikut Yesus?

Apa hal hal praktis yang bisa Anda lakukan dalam menanggalkan semua rintangan tersebut? Cobalah untuk mengujinya berdasar kebenaran firman Tuhan.
 Doa. Terima kasih Tuhan buat waktuku pagi ini, yang telah kau anugerahkan bagiku. Untuk segala hal yang kukerjakan pagi ini, ajari aku untuk belajar seperti atlit yang lari dalam perlombaan, untuk sampai pada akhirnya, dengan selalu berusaha dan bertanggung jawab. Biarlah waktu Tuhan yang terbaik dan hak Tuhan yang terjadi bagi ku. Amin
Share:

berhenti melarikan Diri

Yunus 1:1 3

Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!
Mazmur 139:23 24

Michael Norman adalah atlet lari berkebangsaan Amerika Serikat. Dimulai dari juara lomba lari jarak 400 meter, kemudian ia terus mencatat rekornya dalam banyak pertandingan pertandingan besar lainnya. Hingga pada tahun 2020, Norman dinobatkan sebagai pelari tercepat jarak 100 meter di dunia. Olahraga lari mungkin bukan hobi atau pekerjaan kita. Namun, bukankah dalam kehidupan kita sedang/pernah mengalami masa masa di mana kita merasa ingin pergi dan berlari jauh? Entah kita mau berlari dari masalah, dari kesulitan hidup atau bahkan dari panggilan Allah.

Yunus dipanggil dan diutus Allah untuk menyampaikan seruan pertobatan bagi bangsa yang jahat di kota Niniwe. Penduduk kota ini digambarkan seperti orang orang Sodom dan Gomora yang hidup dengan sesuka hati, menyembah berhala, dan melakukan tindakan tindakan amoral. Namun, bukannya menaati perintah Allah, Yunus malah melarikan diri ke Tarsis. Tarsis adalah daerah yang jauh dan berlawanan arah dengan kota Niniwe. Ketika Yunus melarikan diri ke Tarsis, ia sebenarnya sedang melarikan diri dari panggilan Allah terhadap dirinya sendiri. Yunus mengira dengan melarikan diri dapat membuat Allah membatalkan perintah Nya.

Mengapa Yunus mati matian melarikan diri dari panggilan Tuhan? Motivasi Yunus menolak perintah Allah adalah kemarahannya terhadap Allah karena tidak jadi membinasakan kota Niniwe (Yun. 4:1). Yunus membenci Niniwe karena penduduknya adalah keturunan Asyur yang merupakan musuh bebuyutan bangsa Israel. Inilah latar belakang kenapa Yunus enggan untuk berhubungan dengan orang orang Niniwe, apalagi sampai harus memberitakan firman Allah kepada mereka. Menurut pemikiran Yunus akan lebih baik jika kota Niniwe tidak bertobat sehingga hukuman Allah turun atas mereka. Respons Yunus menolak panggilan Allah adalah motivasi hati yang salah, yaitu kebencian terhadap musuh, padahal Allah menginginkan keselamatan bagi segala bangsa.

Tuhan Yesus memanggil setiap kita untuk melakukan pelayanan yang Dia percayakan. Ketika kita menolak panggilan Allah atau tidak ikut ambil bagian dalam pelayanan, apakah penolakan tersebut didasari motivasi yang tepat atau motivasi lain (kebencian, ketakutan atau kenyamanan diri) yang tersembunyi yang tidak berkenan di hadapan Nya? Mari mengevaluasi diri dan memperbaiki motivasi kita dalam melayani Tuhan.

Refleksi Diri:

Apa yang membuat Anda menolak pelayanan yang telah dipercayakan Tuhan kepada Anda?

Bagaimana motivasi Anda selama ini dalam melakukan pelayanan? Apakah motivasi tersebut berkenan di hadapan Tuhan Yesus?
Share:

Tidak dapat tenggelam

Markus 7:20 23

Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.

Lukas 14:11

Tanggal 10 April 1912 tercatat sebagai momen Titanic memulai pelayaran pertamanya dari Southampton menuju New York. Dengan panjang 269 meter, lebar 28 meter, tinggi 53 meter dan kapasitas penumpang hingga 2.224 orang, kapal ini merupakan kapal terbesar dan termewah yang pernah berlayar pada masanya. Lebih dari itu, Titanic dipercaya sebagai kapal yang tidak bisa tenggelam. Seorang wanita, sebelum ia dan suaminya menaiki Titanic, dengan perasaan khawatir bertanya kepada awak kapal, Apakah kapal ini benar benar tidak dapat tenggelam? Awak kapal menjawab dengan jumawa, Benar nyonya, bahkan T uhan pun tidak dapat menenggelamkan kapal ini. Dan apa yang terjadi selanjutnya akibat kesombongan para pembuat dan awak kapal Titanic, kita semua tentu tahu.

 Dalam Markus 7:22, T uhan Yesus mengkategorikan kesombongan sebagai kejahatan. Kesombongan dipandang T uhan sebagai dosa bukan hanya karena sifat sombong itu adalah jahat, tetapi terlebih karena kesombongan menunjukkan kondisi hati manusia yang menjauh dari T uhan. Hati yang menjauh dari T uhan akan menghasilkan perbuatan perbuatan yang najis. Itu adalah perbuatan perbuatan yang tidak berkenan kepada T uhan, merugikan diri sendiri, dan menyakiti sesama. Kesombongan apa pun bentuknya adalah kejahatan yang besar karena ia telah membuat manusia pertama (Adam dan Hawa) gagal melihat diri mereka yang sesungguhnya dan gagal melihat siapa T uhan.

 Kesombongan adalah kejahatan yang kita tidak suka orang lain lakukan terhadap kita namun tanpa disadari sering kita lakukan terhadap orang lain. Mari menyadari bahwa kita adalah orang yang sombong dan kesombongan adalah masalah yang besar karena ia menunjukkan bahwa hati kita sedang jauh dari T uhan. Sangat penting ditekankan bahwa hati kita adalah tempat bagi T uhan bertakhta karena hanya dengan demikian kesombongan dapat diatasi. Ingat! Kristus datang ke dunia bukan untuk meninggikan diri melainkan memberi diri Nya bagi manusia berdosa. Dia tidak datang untuk dilayani melainkan melayani. Yesus bahkan datang ke dunia dengan mengosongkan diri sampai titik paling rendah dari kemanusiaan (Fil. 

2:5 8). Kiranya kita rendah di hadapan manusia tetapi tinggi di hadapan T uhan.

Refleksi Diri:

Bagaimana Kristus memandang kesombongan?

Adakah hal hal yang sering Anda sombongkan dari kehidupan Anda? Mintalah kepada Yesus untuk membuat Anda rendah hati dalam hal hal tersebut
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.