Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Sekerat Roti Kering

Amsal 17:1-6

Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan.

- Amsal 17:1

Dongeng Aladin dan lampu ajaibnya akrab kita dengar. Lampu ajaib yang kalau diusap akan mengeluarkan sesosok jin yang akan menawarkan tiga permintaan. Apa saja yang diminta sang tuan lampu ajaib pasti dikabulkannya. Akibat dongeng ini, sewaktu kecil, saya sering membayangkan apa saja yang kira-kira akan saya minta. Mungkin banyak anak- anak lain yang mendengar dongeng ini berpikir serupa. Jika punya kesempatan seperti itu, apa yang akan Anda minta? Sebagian besar orang langsung terbersit dalam pikirannya adalah soal harta. Harta harus ada dalam salah satu permintaan tersebut karena mereka berpikir, memiliki banyak harta adalah salah satu sumber kenyamanan dan ketenangan dalam hidup. Apakah pemikiran ini benar?

Ayat emas di atas membentangkan sebuah pelajaran berharga. “Makanan daging serumah” menggambarkan sebuah keluarga yang berkelimpahan secara materi, bahkan bukan cuma itu, keluarga ini juga dikenal sebagai keluarga religius. Daging biasanya dikonsumsi dari korban persembahan yang diberikan, ini menunjukkan adanya kegiatan agamawi yang mereka lakukan. Perhatikan bahwa yang mereka miliki adalah daging serumah, makanan yang berlimpah. Namun, yang menyedihkan adalah relasi di dalam rumah itu berantakan, materi berlimpah tetapi relasi tanpa kasih. Relasi yang indah tidak bisa dibeli dengan materi yang berlimpah. Apakah relasi indah yang paling Anda harapkan?

Perbandingan yang juga disampaikan adalah “lebih baik sekerat roti yang kering disertai ketenteraman”. Sekerat roti atau sepotong roti kecil menunjukkan kondisi yang secara materi kurang. Bukan hanya sedikit, rotinya juga kering karena tidak mampu membeli minyak zaitun untuk mencelupkannya. Apakah makanan ini enak? Tentu tidak, tetapi rasa roti itu tidak menjadi masalah ketika relasi di dalamnya penuh kasih. Punya harta banyak tentu tidak masalah, tetapi ingat harta tidak menentukan indahnya relasi. Sekalipun mengalami kesulitan dalam ekonomi, tetap dapat merasakan ketenteraman.

Tuhan Yesus datang ke dunia dengan cara yang paling sederhana, bahkan kematian-Nya dengan cara yang paling buruk. Namun, jalan kemiskinan yang dijalani-Nya bertujuan supaya kita beroleh kekayaan relasi dengan Bapa. Biarlah kita juga mementingkan relasi yang baik dalam hidup berkeluarga, sambil terus berusaha mengasihi anggota keluarga kita dengan kasih Kristus.

Refleksi Diri:

Bagaimana relasi di dalam keluarga Anda? Apakah ada yang masih belum beres?

Apa komitmen Anda untuk menghadirkan ketenteraman di dalam kehidupan berkeluarga Anda?"

Share:

Buka Dulu Topengmu!

Matius 23:1-36

Jawab-Nya kepada mereka: ”Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.

- Markus 7:6

Secara sederhana, kemunafikan mempunyai pengertian berpura-pura percaya atau setia tetapi sebenarnya dalam hatinya tidak. Kemunafikan selalu berbicara tentang menghidupi hidup yang berbeda antara perbuatan dan perkataan. Orang yang munafik juga sering disebut orang yang bermuka dua atau orang yang suka memakai topeng untuk menutupi keaslian diri.

Tuhan Yesus mengecam orang-orang Farisi yang hidup dalam kemunafikan. Mereka adalah kelompok orang-orang beragama yang dihormati oleh masyarakat Yahudi. Mereka sangat mengerti tentang kebenaran Taurat. Namun, yang menarik adalah justru kepada kelompok inilah Tuhan mengecam dan menegur keras karena perkataan dan cara hidup mereka bertentangan dan berbeda dengan apa yang diajarkan firman Tuhan. Orang-orang Farisi menetapkan peraturan-peraturan agama yang berat, tetapi tidak menolong umat untuk menjalankannya (ay. 4). Mereka melakukan kegiatan dan mengenakan jubah-jubah agamawi agar dipandang umat (ay. 5). Mereka juga suka duduk di tempat terhormat di rumah-rumah ibadat atau tempat terbaik di acara-acara perjamuan (ay. 6). Dan masih banyak lagi teguran yang Tuhan Yesus sampaikan mengenai mereka.


Orang-orang Farisi suka memakai “topeng” untuk menyelubungi kelicikan, ketidaktulusan, dan kejahatan hati mereka. Mereka tidak menghidupi kehidupan yang jujur dan otentik di hadapan Tuhan. Mereka menipu orang lain dan bahkan diri mereka sendiri dengan memakai “topeng” agamawi. Orang-orang Farisi merasa sebagai orang yang paling benar di hadapan Allah. Mereka melupakan satu hal bahwa Tuhan tidak bisa ditipu dengan “topeng” yang mereka pakai. Tuhan mengetahui kedalaman hati mereka. Tuhan menuntut supaya mereka “beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” (1Taw. 28:9b).


Saudaraku yang kekasih, kemunafikan selalu membuat orang tidak dapat hidup secara jujur di hadapan Tuhan. Kemunafikan bagaikan sebuah penyakit “kanker” yang jika tidak dihancurkan akan merusak keotentikan hidup kita di hadapan Tuhan. Tuhan Yesus suka dengan orang-orang yang jujur dengan keberadaannya dan itu adalah titik awal yang mengubahkan kita menjadi pengikut-pengikut Kristus yang sejati. Bukalah “topeng” Anda dan jadilah diri Anda sendiri maka Yesus akan mengubahkan kita semakin serupa dengan-Nya.

Refleksi Diri:

Apa hal-hal yang membuat Anda susah untuk terbuka dan otentik? Apakah Anda sudah meminta Tuhan Yesus menyelidiki dan mengubahkan hati Anda?

Apa komitmen yang ingin Anda ambil agar bisa hidup tanpa mengenakan “topeng” di hadapan Tuhan?"

Share:

Senantiasa Bersyukur

1 Tesalonika 5:12-22

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

- 1 Tesalonika 5:18

Matthew Henry, seorang penafsir Alkitab, suatu kali menjadi korban perampokan. Responsnya terhadap kejadian tersebut sangat mengejutkan. Ia menulis, “Aku bersyukur tidak sering dirampok, dan ini adalah pertama kalinya aku dirampok. Bersyukur aku dirampok dan bukan perampok. Aku bersyukur yang dirampok hanya barang bukan nyawa.”

Pada umumnya, orang akan lebih mudah untuk bersyukur dalam kondisi semuanya lancar dibandingkan dalam kesusahan. Kenyataannya tidaklah demikian. Manusia sangat mahir untuk menemukan hal-hal yang tidak memuaskan dirinya dalam setiap berkat yang diterimanya. Misalnya, seorang anak ketika lapar membayangkan makanan enak. Ketika mendapatkan makanan, ia sangat berterima kasih. Namun, setelah mencicipi sedikit makanannya ia mulai mengeluh, “Makanan apa ini? Tidak enak, aku tidak suka. Aku tidak mau makan!”

Rasul Paulus mengajarkan bahwa bersyukur merupakan kehendak Tuhan bagi anak-anak-Nya. Kebenaran ini sangatlah penting, mengingat biasanya orang memahami bersyukur sebagai sebuah respons terhadap keadaan positif yang terjadi di dalam hidup. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa bersyukur bukan hanya sebuah tindakan yang kita lakukan, tetapi merupakan pernyataan siapa diri kita di hadapan Tuhan. Positif atau negatif keadaan yang sedang kita alami, bersyukur merupakan respons yang harus keluar dari dalam diri kita, para murid Kristus. Bukan karena kita mampu dan mau, melainkan karena bersyukur adalah kehendak Tuhan bagi kita. Tuhan ingin anak-anak-Nya dikenal melalui hidup yang senantiasa bersyukur di dalam semua keadaan.

Bersyukur harus dipelajari dan diusahakan. Ini bukanlah kecenderungan alami manusia. Kita harus melatih kepekaan melihat rencana baik Tuhan dalam keadaan lancar maupun tidak. Kita harus bersyukur tanpa melihat ke bawah sambil tertunduk lesu, tetapi lihatlah ke atas sambil mengucapkan puji syukur ke takhta Allah di surga. Renungkanlah setiap pemberian ajaib-Nya di masa lalu dalam kehidupan kita. Dalam keadaan paling kurang sekalipun, kita tetap melimpah karena telah memiliki Kristus Yesus, berkat terbesar dari kasih Allah. Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (Mzm. 136:1).

Refleksi Diri:

Apakah ada hal-hal yang membuat Anda sulit bersyukur kepada Tuhan?

Apa karya-karya Allah dalam hidup Anda semenjak kecil hingga saat ini? Bagaimana Anda dapat mengucap syukur atas karya-karya tersebut?"

Share:

Sukacita Mendekat Tuhan

Mazmur 122:1-9

Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.”
- Mazmur 122:1

Pada dasarnya, manusia pasti membutuhkan pribadi lain di luar dirinya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kenyataan ini benar adanya karena manusia adalah makhluk sosial atau makhluk yang harus berelasi. Manusia diciptakan oleh Tuhan maka dalam menjalani kehidupannya ia pasti harus berelasi dengan Tuhan dan dengan sesama manusia yang diciptakan juga oleh-Nya. Namun, acapkali kita menemukan orang-orang yang dengan sombongnya menyatakan bahwa ia tidak membutuhkan orang lain, bahkan terlebih parah menganggap dirinya tidak membutuhkan Tuhan dalam kehidupannya.

Mazmur 122 adalah ungkapan isi hati seorang anak Tuhan, bernama Daud. Sebagian besar kita tentu sangat mengenal profil Daud. Ia seorang raja yang sangat berpengaruh dan terkenal di sepanjang sejarah bangsa Israel. Bukan hanya berpengaruh di dalam sejarah kehidupan orang Israel, bahkan pengaruh Daud menjalar sampai ke peradaban dunia hingga saat ini. Daud sesungguhnya memiliki ratusan alasan untuk bersukacita karena segala yang dimilikinya. Ia mampu mendapatkan semua yang dibutuhkan dan diinginkannya setiap saat.

Daud memiliki harta, tahta, wanita, popularitas dan semua hal lainnya yang sangat diingini oleh setiap manusia di muka bumi. Namun, yang sangat menarik adalah Daud justru bersukacita bukan karena semua yang dimilikinya, melainkan karena bisa dan boleh mendekat kepada Tuhan, di dalam rumah Tuhan. Bagi Daud, mendekat kepada Sang Pencipta menjadi sumber sukacitanya yang tidak dapat tergantikan oleh apa pun. Daud sadar sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan maka ia tidak bisa lepas dari kekuasaan Tuhan. Daud paham bahwa di tengah kekayaan dan kekuasaan yang dimilikinya, ia memerlukan relasi yang dekat dengan Tuhan yang memberikannya hikmat, kebijaksana, kekuatan dan anugerah untuk menjalani kehidupannya.

Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita masih merasa memerlukan Tuhan dalam menjalani kehidupan? Atau justru kita merasa tidak memerlukan Tuhan lagi dan tidak memiliki keinginan untuk mendekat kepada Tuhan Yesus? Sebagai manusia yang diciptakan oleh Tuhan, kita tidak mungkin bisa mengerti apa arti hidup tanpa menemukannya di dalam Tuhan yang menciptakan kita dan memberikan kekuatan dalam menjalani hidup.

Refleksi Diri:

Bagaimana Anda menjalani hidup sebagai makhluk sosial selama ini?
Bagaimana relasi Anda selama ini dengan Tuhan? Apakah Anda masih bersukacita jika bisa dan boleh mendekat kepada-Nya?"
Share:

Pentingnya Mengenal Dosa

Yunus 4:5-11

supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
- Roma 5:21

Paham dosa di dunia sekuler mengalami pemudaran dan hal ini menimbulkan berbagai masalah. Seperti yang dikatakan mendiang Pdt. Daniel Lucas Lukito dalam bukunya Pudarnya Konsep Dosa (2021), “Jadi situasi dunia kekinian yang secara diam-diam atau terang-terangan menolak konsep dosa yang biblikal justru menjadi akar dari segala persoalan yang meluas dalam lingkup mental, moral, dan sosial.” Pudarnya konsep dosa juga menimbulkan masalah kepada orang-orang dalam kisah Yunus ini.

Pudarnya konsep dosa membuat orang Niniwe terus melakukan kejahatan. Sejarah mencatat Kerajaan Asyur (Niniwe adalah ibukota Asyur) sebagai salah satu kerajaan yang kejam. Mereka tega melakukan berbagai hal mengerikan terhadap tahanan perangnya. Ternyata, masalah mendasar mereka adalah tidak memiliki kompas moral, seperti yang dikatakan oleh Allah, “… kota yang besar itu, … yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri …” (ay. 11). Mereka seperti orang yang tersesat dan tidak memiliki kebenaran untuk dipegang. Karena itu, ketika Yunus memberitakan penghakiman mereka langsung bertobat (lih. Yun. 3:4).

Pudarnya konsep dosa juga membuat Yunus ingin melihat kehancuran Niniwe. Hal ini merupakan masalah karena keinginan tersebut muncul dari hati Yunus yang sombong. Ia merasa lebih benar dari “para penyembah berhala” (termasuk orang Niniwe, lih. Yun. 2:8-9), bahkan lebih benar dari keputusan Allah (Yun. 4:2-3). Yunus sebagai sorang nabi, gagal mengenal hati Allah dan sepenuh hati melakukan kehendak-Nya. Jika masalah orang Niniwe tidak memiliki kompas moral maka masalah Yunus adalah gagal mengidentifikasi dirinya sebagai orang yang berdosa.

Pudarnya konsep dosa juga dapat membuat orang Kristen kehilangan arah hidup dan sukacita mengikut Tuhan Yesus. Identitas mendasar orang Kristen adalah orang berdosa yang tidak layak menerima anugerah keselamatan tetapi diselamatkan oleh Tuhan. Jika dosa sudah menjadi hal yang tidak serius bagi kita maka keselamatan dari Tuhan Yesus juga tidak akan dibutuhkan. Mari menjalani hidup dengan tetap awas terhadap dosa-dosa yang ada, sebelum dosa-dosa tersebut merenggut sukacita dan tenaga kita untuk hidup bagi Tuhan Yesus.

Refleksi Diri:

Bagaimana Anda memandang persoalan dosa di dalam diri atau keluarga Anda? Apakah Anda memandangnya dengan serius?
Apakah ada dosa-dosa tertentu yang masih Anda susah untuk lepaskan?"
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.