Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Pujian Untuk Ibadah Minggu 9 Juni 2024

 


Share:

Tiga Prinsip Penginjilan

Filipus adalah seorang penginjil yang sangat dihormati dan dikenal karena keberhasilannya dalam mempertobatkan banyak orang di kota Samaria. Namun, Allah tidak selalu menugaskan Filipus untuk pekerjaan besar. Allah juga memanggil Filipus untuk pekerjaan yang tampaknya lebih kecil, seperti ketika Ia mengutusnya untuk bertemu dengan seorang sida-sida dari Etiopia di jalan yang sunyi. Dari perikop ini, kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting.

1. Kesiapan untuk Diutus Ke Mana Saja

Filipus menunjukkan kesiapannya untuk diutus ke mana saja oleh Allah. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di Samaria, Allah langsung mengutusnya untuk menginjili seorang sida-sida dari Etiopia. Setelah sida-sida tersebut percaya dan dibaptis, Filipus kemudian dituntun ke kota Asdod untuk memberitakan Injil lagi (Kisah Para Rasul 8:40). Kesediaan Filipus untuk taat pada panggilan Allah tanpa memandang tempat atau keadaan menunjukkan ketulusan dan dedikasi dalam pelayanannya.

2. Allah yang Menuntun Pemberitaan Injil

Keberhasilan penginjilan Filipus bergantung sepenuhnya pada kehendak Allah. Dalam perikop ini, kita melihat bahwa sida-sida yang bertobat dan dibaptis tampaknya sudah disediakan oleh Allah untuk diinjili oleh Filipus. Allah memimpin setiap langkah Filipus, memastikan bahwa pekerjaannya berbuah hasil. Ini mengingatkan kita bahwa dalam pelayanan pekabaran Injil, Allah adalah yang memimpin dan menentukan keberhasilan, bukan usaha manusia semata.

3. Tidak Ada Jiwa yang Lebih Tinggi Prioritasnya

Allah mengajarkan bahwa setiap jiwa berharga, tidak peduli seberapa besar atau kecil tugas itu terlihat. Filipus yang telah berhasil mempertobatkan kota Samaria kemudian diutus untuk melayani hanya satu orang saja. Ini menunjukkan bahwa dalam pelayanan pekabaran Injil, satu jiwa pun sangat berharga di hadapan Allah. Semua orang, tanpa memandang status sosial atau latar belakang, memiliki hak untuk mendengar Injil.

Implementasi Prinsip-Prinsip Ini dalam Kehidupan Kita

Ketiga prinsip di atas dapat kita implementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari:

1. Siap Diutus Ke Mana Saja: Sebagai pemberita Injil, kita harus siap diutus ke mana saja oleh Allah, tanpa memandang tempat atau kondisi. Kesediaan untuk taat pada panggilan Allah adalah kunci dalam pelayanan kita.

2. Mengakui Kedaulatan Allah: Tidak ada ruang bagi kesombongan jika kita berhasil dalam pekabaran Injil. Keberhasilan kita murni karena Allah yang menjadikannya berhasil. Oleh karena itu, kita harus selalu rendah hati dan mengakui kedaulatan Allah dalam setiap aspek pelayanan kita.

3. Menghargai Setiap Jiwa: Kita tidak boleh membeda-bedakan orang dalam aktivitas pekabaran Injil. Setiap orang, tanpa memandang status sosial atau latar belakang, berhak mendengar Injil. Kita harus memastikan bahwa pesan keselamatan ini sampai kepada semua orang, baik kaya maupun miskin, penting maupun sederhana, baik maupun jahat.

Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, kita dapat menjalani pelayanan pekabaran Injil dengan lebih efektif dan sesuai dengan kehendak Allah. Filipus menjadi teladan bagi kita tentang bagaimana seharusnya kita menjalani panggilan kita sebagai pemberita Injil, dengan kesediaan, kerendahan hati, dan kasih yang tulus bagi setiap jiwa.

Share:

Semangat Tak Terpadamkan dalam Penyebaran Injil


Kita sering mendengar bahwa penyebaran Injil mengalami stagnansi dalam kenyamanan, sementara penganiayaan justru memicu pertumbuhan yang luar biasa. Ungkapan "makin dibabat makin merambat" dengan tepat menggambarkan fenomena ini.

Penganiayaan Awal dan Penyebaran Injil

Ketika Stefanus mati sebagai martir, jemaat berada dalam suasana duka yang mendalam (Kisah Para Rasul 8:2). Namun, penganiayaan hebat yang dimulai oleh Saulus (Kisah Para Rasul 8:1b) menjadi titik balik bagi penyebaran Injil. Saulus menyeret orang-orang Kristen dari rumah ke rumah untuk dimasukkan ke dalam penjara (Kisah Para Rasul 8:3). Namun, tindakan keras ini tidak menghentikan semangat jemaat; sebaliknya, mereka menyebar ke berbagai tempat sambil memberitakan Injil (Kisah Para Rasul 8:4).

Tantangan dan Mukjizat dalam Pekabaran Injil

Dalam perjalanan pekabaran Injil, jemaat menghadapi berbagai tantangan, termasuk bertemu dengan orang yang mengaku sebagai kuasa Allah (Kisah Para Rasul 8:9-11). Namun, Allah menyertai mereka dengan tanda dan mukjizat yang nyata, sehingga pesan Injil tersebar secara efektif (Kisah Para Rasul 8:12-13). Ketika rasul-rasul mendengar tentang pertobatan di Samaria, mereka segera mengutus Petrus dan Yohanes untuk melengkapi pelayanan Filipus (Kisah Para Rasul 8:14).

Penyertaan Allah dalam Penyebaran Injil

Allah dengan jelas menyertai pekabaran Injil-Nya. Penderitaan yang berat, bahkan kematian para murid, tidak pernah dapat menghentikan kuasa Injil. Dari zaman para rasul hingga sekarang, Injil telah tersebar ke seluruh dunia, mengubah peradaban, dan menyelamatkan jutaan jiwa.

Yesus Kristus memberikan amanat agung sebelum naik ke surga, memerintahkan untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk (Matius 28:19-20). Bersamaan dengan perintah itu, Yesus juga memberi janji penyertaan dan kuasa-Nya sampai akhir zaman.

Dahulu, para rasul dan bapa gereja berkobar-kobar dalam memberitakan Injil meskipun nyawa mereka adalah taruhannya. Kini, kita hidup di era yang berbeda, tetapi tantangan dalam memberitakan Injil tetap ada. Era postmodern membawa berbagai tantangan baru, seperti relativisme kebenaran dan materialisme yang dapat menghalangi penyebaran Injil. Namun, semangat para rasul menjadi teladan bagi kita untuk tetap bersemangat dalam menjalankan amanat agung ini.

Meskipun kita mungkin tidak menghadapi penganiayaan fisik yang sama seperti para rasul, tantangan dan hambatan yang kita hadapi tetap nyata. Namun, dengan keyakinan bahwa Allah menyertai dan memberikan kuasa-Nya, kita dapat terus memberitakan Injil dengan semangat yang berkobar-kobar, seperti halnya para rasul dan bapa gereja dulu.

Penganiayaan tidak menghentikan penyebaran Injil, tetapi justru memicunya untuk semakin meluas. Dengan keyakinan dan semangat yang sama, kita harus terus berkomitmen untuk memberitakan Injil, terlepas dari tantangan yang kita hadapi. Ingatlah bahwa dalam segala situasi, Allah menyertai kita dan memberikan kuasa-Nya untuk menjalankan amanat agung-Nya.

Share:

 Lagu Ibadah Minggu 26 Mei 2024

Share:

Rahasia Tuhan

“TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia” (NKJV menerjemahkannya: Rahasia Tuhan diberitahukan-Nya kepada mereka yang takut akan Dia). (Mazmur 25:14)

Seorang sahabat sejati tidak hanya berbagi dukacita, tetapi lebih dari itu, mereka berbagi rahasia sukacita mereka. Ini adalah tanda keakraban dan kedalaman hubungan yang melebihi sekadar berbagi kesedihan. Ketika seseorang memilih untuk berbagi kebahagiaan dan sukacita terdalam mereka dengan kita, itu menunjukkan tingkat kepercayaan dan keintiman yang tinggi. Mereka tidak hanya melihat kita sebagai tempat untuk meluapkan keluh kesah, tetapi sebagai bagian dari kebahagiaan mereka.

 Hubungan dengan Allah

Sama halnya dengan hubungan kita dengan sahabat, hubungan kita dengan Allah juga diharapkan memiliki tingkat keakraban dan kedalaman yang serupa. Pada awal perjalanan iman kita, mungkin kita lebih sering datang kepada Allah dengan berbagai permohonan dan keluhan. Namun, seiring dengan pertumbuhan rohani, kita diajak untuk semakin mengenal kehendak Allah dan hidup dalam keintiman dengan-Nya.

1. Mendengarkan Sukacita Allah:

Kita sering sibuk menceritakan rahasia kita kepada Allah, tetapi pernahkah kita memberi ruang bagi Allah untuk berbagi sukacita-Nya dengan kita? Seperti halnya sahabat sejati yang berbagi sukacita, Allah juga ingin kita mengenal sukacita-Nya. Dalam Mazmur 25:12, dikatakan, "Kepadanya Tuhan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya." Hal ini menunjukkan bahwa Allah ingin kita tahu dan mengikuti kehendak-Nya.

2. Menjalin Hubungan Akrab:

Hubungan yang akrab dengan Allah tercermin dalam doa yang menyatu dengan kehendak-Nya, seperti yang diajarkan Yesus dalam Matius 6:10, "Jadilah kehendak-Mu." Ketika kita semakin dekat dengan Allah, kita belajar untuk mengenali suara-Nya dan memahami kehendak-Nya tanpa harus terus-menerus bertanya. Kita menjadi begitu erat dipersatukan dengan Allah sehingga mengikuti kehendak-Nya menjadi sesuatu yang alami bagi kita.

3. Petunjuk dalam Pilihan Sehari-hari:

Ketika kita sudah diselamatkan dan dikuduskan, Allah membimbing kita melalui setiap pilihan yang kita buat. Allah sering memberi kita keragu-raguan atau dorongan hati sebagai petunjuk. Bila kita merasakan keraguan, kita diajak untuk berhenti sejenak dan mempertimbangkan kembali langkah kita. Ini adalah cara Allah menunjukkan jalan-Nya kepada kita. 

4. Mengandalkan Akal Sehat yang Dituntun oleh Allah:

Allah menuntun kita melalui akal sehat yang telah dipenuhi oleh Roh Kudus. Ketika kita hidup dekat dengan Allah dan menyerahkan diri kepada ajaran dan tuntunan-Nya, kita akan semakin jarang merintangi Roh-Nya dengan keraguan yang berulang-ulang. Kita akan lebih intuitif dalam merasakan kehendak Allah dalam setiap langkah kehidupan kita.

Menjadi sahabat sejati berarti berbagi sukacita, bukan hanya dukacita. Demikian pula, menjadi dekat dengan Allah berarti mendengarkan dan memahami sukacita serta kehendak-Nya, bukan hanya menyampaikan permohonan kita. Dalam perjalanan iman kita, mari kita berusaha untuk hidup dalam keintiman dengan Allah, sehingga kita dapat mengenali dan mengikuti kehendak-Nya dengan penuh sukacita dan ketulusan hati.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.