Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Hidupmu Berbeda!

(Lukas 6:20-26)

Hidup sebagai pengikut Kristus bukanlah tentang menyamakan diri dengan dunia, tetapi menjalankan nilai-nilai yang Kristus ajarkan, yang sering kali bertentangan dengan cara dunia hidup.


---

1. Nilai-nilai yang Bertolak Belakang

Yesus mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati ada pada kerendahan hati, kebergantungan pada Allah, dan keberanian menderita demi kebenaran (ayat 20-23). Sebaliknya, dunia sering kali menawarkan kebahagiaan semu berupa kekayaan, kepuasan diri, dan pengakuan dari manusia (ayat 24-26).

Refleksi:

Apakah hidup kita mencerminkan nilai-nilai Kristus atau nilai-nilai dunia?

Sudahkah kita bersukacita dalam penderitaan demi kebenaran, atau justru terjebak mencari pengakuan dari manusia?



---

2. Peringatan untuk Hidup Sejati

Yesus mengingatkan bahaya kemunafikan dan kesalehan yang hanya bertujuan mencari pujian manusia. Nabi-nabi palsu dalam Perjanjian Lama dipuji oleh raja dan rakyat karena mereka menyampaikan hal-hal yang menyenangkan telinga, bukan kebenaran dari Allah (ayat 26b).

Aplikasi:

Sebagai jemaat, jangan hanya ingin mendengar apa yang menyenangkan hati. Carilah firman yang menegur dan membangun iman.

Sebagai pelayan Tuhan, fokuslah pada kebenaran firman Tuhan, bukan pada popularitas atau pujian manusia.



---

3. Hidup yang Berkenan pada Tuhan

Hidup sebagai pengikut Kristus adalah hidup yang berbeda—hidup yang dibangun atas dasar kerendahan hati, kebenaran, dan kasih kepada Allah. Kebahagiaan sejati ditemukan dalam hubungan yang benar dengan Tuhan, bukan dalam kenyamanan duniawi.

Doa:
"Tuhan, jadikan hidupku berbeda. Ajarkan aku untuk memegang teguh nilai-nilai yang Engkau ajarkan, meskipun itu berarti harus melawan arus dunia. Pakailah hidupku untuk menyenangkan-Mu, bukan manusia. Dalam nama Yesus, Amin."


---

Berkat Doa untuk Kita Semua
Semoga Tuhan memberkati hidupmu, pekerjaanmu, dan keluargamu. Kiranya damai sejahtera, sukacita, dan kesehatan dari Tuhan melimpah atasmu. Tuhan Yesus memimpin setiap langkah kita memasuki tahun baru dengan hikmat, kekuatan, dan berkat yang baru. Amin!

Share:

Sertakan Tuhan dalam Pilihan Kita

(Lukas 6:12-16)

Hidup ini penuh dengan pilihan, mulai dari yang sederhana hingga yang menentukan masa depan. Dalam teks ini, Yesus memberi teladan bagaimana melibatkan Tuhan dalam pengambilan keputusan penting, khususnya ketika memilih dua belas murid yang akan menjadi rasul-Nya.

1. Berdoa Sebelum Memilih

Yesus menghabiskan malam dalam doa di atas bukit sebelum menentukan siapa saja yang akan dipilih menjadi murid-Nya (ayat 12). Ini menunjukkan bahwa keputusan besar membutuhkan bimbingan Allah. Yesus, yang adalah Anak Allah, tetap bergantung kepada Allah Bapa dalam setiap langkah-Nya.

Aplikasi:

Sebelum mengambil keputusan besar, kita perlu menyediakan waktu untuk berdoa dengan sungguh-sungguh, bahkan berpuasa jika diperlukan.

Libatkan Tuhan, karena Dia mengetahui apa yang terbaik untuk kita (Ams. 3:5-6).

2. Pemilihan yang Tidak Mudah

Yesus memilih dua belas orang dari banyak pengikut-Nya (ayat 13). Di antara mereka, ada yang kelak menjadi pemimpin besar seperti Petrus dan Yohanes, tetapi ada juga yang akan mengkhianati-Nya, yaitu Yudas Iskariot (ayat 16).

Walaupun Yudas akhirnya mengkhianati Yesus, pilihannya tetap dalam kendali rencana Allah. Melalui pengkhianatan Yudas, misi penebusan dosa digenapi.

Aplikasi:

Pilihan kita mungkin tidak selalu terlihat ideal di mata manusia, tetapi Tuhan dapat memakai setiap keputusan kita untuk kebaikan (Roma 8:28).

Belajarlah percaya bahwa rencana Tuhan lebih besar daripada pemahaman kita.

3. Mengandalkan Tuhan dalam Setiap Pilihan

Yesus menunjukkan bahwa setiap keputusan, besar atau kecil, harus dilandasi oleh hubungan yang intim dengan Allah. Dengan melibatkan Tuhan, kita dapat memiliki keyakinan dan damai sejahtera dalam menjalani konsekuensi dari pilihan kita.

Aplikasi:

Jangan hanya mengandalkan logika atau pendapat orang lain. Sertakan Tuhan dalam doa sebelum memutuskan sesuatu.

Percayalah bahwa Tuhan akan memberi hikmat dan kekuatan untuk menjalani pilihan yang sudah kita ambil.

Kesimpulan

Yesus memberi teladan untuk selalu melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan. Doa bukan hanya sekadar formalitas, tetapi cara kita menyerahkan hidup sepenuhnya kepada bimbingan Tuhan.

Doa:
"Tuhan, ajar kami untuk melibatkan Engkau dalam setiap pilihan hidup kami, baik yang sederhana maupun yang sulit. Berilah kami hikmat untuk memilih yang sesuai dengan kehendak-Mu dan kekuatan untuk menjalani konsekuensinya dengan setia. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin."

Semoga kita selalu menyertakan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan kita!

Share:

Pujian Ibadah Minggu 12.januari 2025

Share:

Firman Tuhan Mengubah Diriku

(Lukas 6:6-11)

Firman Tuhan digambarkan sebagai pedang bermata dua yang tajam. Ia bekerja dengan kuasa untuk mengubah hati, pikiran, dan hidup manusia, dimulai dari diri sendiri sebelum menjangkau orang lain. Namun, sering kali manusia justru menggunakan firman Tuhan untuk menghakimi, bukan untuk membangun.

Ahli Taurat dan orang Farisi dalam perikop ini adalah contoh nyata. Sebagai pemuka agama, mereka mempelajari Kitab Suci, tetapi mereka menggunakan aturan keagamaan untuk mencari kesalahan Yesus. Ketika Yesus menyembuhkan seorang lumpuh pada hari Sabat, mereka melihatnya sebagai pelanggaran hukum, bukan sebagai perbuatan kasih yang menyelamatkan.

Yesus menunjukkan bahwa inti dari firman Tuhan adalah kasih. Ketika Ia menyembuhkan orang lumpuh di hadapan banyak orang, Yesus sedang mengajarkan bahwa firman Allah adalah untuk berbuat baik dan menyelamatkan nyawa (ayat 9). Firman Tuhan seharusnya membangun, menguatkan, dan membawa hidup, bukan menghukum atau menjatuhkan.

Pelajaran bagi kita:

1. Firman Tuhan untuk Mengubah Diri. Sebelum menggunakan firman Tuhan untuk orang lain, biarkan firman itu terlebih dahulu mengubahkan hati dan perilaku kita.


2. Berbuat Kasih dengan Berani. Seperti Yesus, mari kita tunjukkan kasih dengan tindakan nyata, bahkan ketika itu menuntut keberanian melawan pandangan yang salah.


3. Melayani dengan Bela Rasa. Firman Tuhan adalah alat untuk melayani dengan kasih, bukan senjata untuk menyalahkan. Pelayanan kasih sejati membawa kesembuhan, baik secara fisik maupun rohani.



Mari kita menjadikan firman Tuhan sebagai dasar hidup yang terus memperbarui diri dan memampukan kita untuk mengasihi sesama. Dengan demikian, firman itu tidak hanya mengubah diri kita tetapi juga membawa perubahan bagi dunia di sekitar kita.

Doa:
Bapa di surga, kami bersyukur atas firman-Mu yang hidup dan berkuasa. Jadikanlah firman-Mu alat untuk mengubah hidup kami, agar kami menjadi saksi kasih-Mu bagi sesama.

Berkatilah keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan segala usaha kami. Kiranya damai sejahtera, kesehatan, dan hikmat-Mu menyertai kami di tahun yang baru ini. Berikan kekuatan agar kami terus bertumbuh dalam iman dan menjadi terang di tengah dunia.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami bersyukur dan berdoa.

Amin.

Share:

Motivasi yang Benar dalam Menaati Aturan

Lukas 6:1-5

Menaati aturan adalah hal yang penting untuk menjaga keteraturan dan kehidupan bersama. Namun, ketaatan harus dilandasi dengan motivasi yang benar, bukan hanya kepatuhan harfiah yang kaku. Dalam perikop ini, Yesus mengajarkan bagaimana memahami dan menaati aturan dengan kasih dan pengertian yang mendalam.

1. Ketaatan Harfiah Orang Farisi

Orang Farisi memandang aturan Sabat secara letterlijk (harfiah) tanpa memperhatikan konteks atau tujuan di balik aturan tersebut. Ketika mereka melihat murid-murid Yesus memetik gandum untuk dimakan pada hari Sabat, mereka langsung menegur dan menganggapnya sebagai pelanggaran hukum Sabat (ayat 1-2).

Pendekatan ini menekankan legalitas dan formalitas semata, tanpa mempertimbangkan kebutuhan manusia atau kasih yang seharusnya menjadi inti dari aturan tersebut.

2. Ketaatan Yesus: Kasih di Atas Legalitas

Yesus menunjukkan bahwa aturan harus dipahami dalam konteks yang lebih luas. Ia mengingatkan orang Farisi tentang tindakan Daud yang memakan roti sajian di Bait Allah untuk menghindari kelaparan (ayat 3-4).

Meskipun secara teknis tindakan itu melanggar aturan, motivasinya untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadikannya dapat dibenarkan. Yesus kemudian menegaskan bahwa "Anak Manusia adalah Tuan atas hari Sabat" (ayat 5), menunjukkan bahwa tujuan utama aturan adalah untuk memuliakan Tuhan dan memelihara kehidupan manusia.

3. Prinsip Ketaatan yang Sejati

Yesus mengajarkan bahwa:

  • Ketaatan harus lahir dari kasih kepada Tuhan: Kita menaati aturan bukan untuk kepentingan aturan itu sendiri, tetapi sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan (Mat. 22:37-38).
  • Ketaatan harus memelihara kehidupan: Perintah Tuhan selalu bertujuan untuk kebaikan manusia. Ketika aturan diterapkan tanpa mempertimbangkan dampaknya pada kehidupan, aturan itu kehilangan maknanya.
  • Ketaatan harus disertai kasih kepada sesama: Semua aturan Tuhan dirancang untuk menjaga hubungan kita dengan sesama (Mat. 22:39-40).

Aplikasi dalam Hidup

  1. Evaluasi Motivasi: Apakah kita menaati firman Tuhan untuk menunjukkan kesalehan ataukah karena kasih kepada Tuhan?
  2. Utamakan Kasih: Dalam setiap keputusan, pastikan kasih dan kepedulian kepada sesama menjadi landasan.
  3. Jangan Menghakimi: Hindari sikap mencari-cari kesalahan orang lain. Fokuslah pada pertumbuhan iman kita sendiri.

Doa:
"Tuhan Yesus, tolonglah kami untuk menaati firman-Mu dengan kasih dan pemahaman yang benar. Jauhkan hati kami dari sikap legalistis dan bantulah kami untuk selalu memprioritaskan kasih kepada-Mu dan sesama. Dalam nama Yesus, kami berdoa. Amin."

Semoga renungan ini mendorong kita untuk menaati aturan Tuhan dengan hati yang tulus dan motivasi yang benar. 🙏

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.