Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Jangan Lamban untuk Beriman

 

📖 Lukas 24:13–35

Diskusi teologis tanpa kehadiran Yesus hanya berakhir menjadi tukar pikiran kosong yang tak membuahkan iman. Hal ini tercermin dalam perjalanan dua murid menuju Emaus. Mereka berbicara panjang lebar tentang peristiwa besar di Yerusalem, namun hati mereka tetap diselimuti kebimbangan.

Intelektualitas yang tinggi atau semangat yang berkobar-kobar bukanlah tanda pasti dari iman sejati. Dibutuhkan campur tangan langsung dari Kristus untuk menumbuhkan iman dalam hati manusia. Baru ketika Yesus hadir di tengah mereka, iman mereka bertunas. Dan saat Yesus "menghilang", mereka telah mengenal-Nya dengan mata hati yang baru.

"Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?" (ay. 32)

📌 Iman yang Diberi Nutrisi dari Allah

Kleopas dan temannya membuktikan bahwa pengetahuan tentang Alkitab belum tentu langsung berbuah iman. Meski mereka memahami sejarah dan nubuat, Yesus tetap menegur mereka karena lamban untuk percaya (ay. 25). Mereka baru benar-benar "melihat" Yesus saat Ia memecahkan roti, tanda kehadiran-Nya yang nyata dalam "Perjamuan Kudus" (ay. 30–31).

Allah tahu bahwa iman kita butuh dipelihara. Karena itu, Ia memberikan Perjamuan Kudus—sumber nutrisi rohani yang menguatkan kita. Saat roti dipecah dan anggur dibagikan, kita diingatkan akan kasih Kristus yang hidup dan terus hadir di tengah kita.

"Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman." (Yoh. 6:55)

📌 Sambutlah Kehadiran-Nya dengan Iman

Dalam setiap ibadah, Perjamuan Kudus menjadi momen istimewa untuk bertemu Yesus. Bukan sekadar ritual, tetapi perjumpaan rohani yang nyata. Mari jangan berlambat-lambat untuk percaya. Ketika Yesus mengetuk hati kita, sambutlah Dia segera! (bdk. Why. 3:20).

Allah sabar menanti kita. Ia mengundang kita bukan hanya untuk mengetahui tentang-Nya, tetapi untuk mengalami kehadiran-Nya. Saat kita dipanggil untuk melayani di ladang-Nya, jangan ragu untuk melangkah maju dalam iman.

Share:

Waktu Terbaik untuk Ujian Iman

📖 Lukas 24:1–12

Melaksanakan ibadah di tengah suasana duka bukanlah perkara mudah. Para murid Yesus menghadapi Sabat dengan hati yang hancur setelah kematian Guru mereka di kayu salib. Namun di tengah kekalutan itu, beberapa perempuan berinisiatif pergi ke makam Yesus untuk memberi penghormatan terakhir.

Tanpa diduga, mereka menerima kabar terbesar dalam sejarah: Yesus telah bangkit! Meski berita itu melampaui nalar manusia, mereka memilih untuk percaya kepada wahyu yang disampaikan oleh malaikat.

"Mengapa kamu mencari Dia yang hidup di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit." (ay. 5–6)

📌 Iman yang Teruji dalam Masa Sulit

Sebaliknya, para murid laki-laki menanggapi berita itu dengan skeptis. Prasangka budaya terhadap kesaksian perempuan mengaburkan mata hati mereka (ay. 11). Namun Allah berkenan meninggikan iman para perempuan itu. Dalam ketulusan dan keberanian mereka, iman yang sejati lahir—sebuah keputusan pribadi untuk percaya, meskipun nalar berkata lain.

Ujian terbaik iman bukan terjadi saat semuanya berjalan lancar, melainkan justru di masa-masa tergelap. Kekuatan fisik, latar belakang sosial, bahkan pengalaman hidup tidak menjamin seseorang bisa tetap percaya. Iman sejati adalah keputusan pribadi yang disemai dalam anugerah Allah.

📌 Percaya Meski Tidak Melihat

Di zaman ini, prasangka budaya dan logika manusiawi masih bisa menjadi hambatan besar dalam perjalanan iman kita. Kita perlu membebaskan diri dari pola pikir dunia yang bertentangan dengan kebenaran firman Allah. Tidak semua kebenaran ilahi dapat dijelaskan dengan logika manusia. Seperti yang dikatakan Yesus:

"Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya." (Yoh. 20:29)

Saat hidup terasa terguncang, saat pertolongan belum tampak, itulah waktu terbaik untuk menguji iman kita. Mari berdoa:

"Tuhan, tolonglah saya untuk tetap percaya kepada-Mu."

Share:

Di Puncak maupun di Lembah

📖 Lukas 23:50–56

Yusuf dari Arimatea, seorang anggota Sanhedrin yang terhormat, telah lama menantikan hadirnya Kerajaan Allah. Ia mengharapkan Yesus sebagai Mesias, Raja keturunan Daud yang dijanjikan. Namun harapannya seolah runtuh ketika ia menyaksikan Yesus disalibkan dan mati.

Di tengah kekecewaan dan realitas yang tidak sesuai dengan ekspektasinya, Yusuf tidak membiarkan rasa kecewa menguasai hatinya. Ia justru mengambil langkah berani: ia menghormati Yesus dengan memberikan makam barunya untuk tempat peristirahatan terakhir Sang Raja Yahudi.

"Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus." (ay. 52)

📌 Menghormati Allah di Segala Keadaan

Dari Yusuf kita belajar: saat situasi tidak berjalan sesuai keinginan kita, tetaplah hormat kepada Tuhan. Rasa hormat tidak boleh bergantung pada suasana hati atau keadaan sekitar. Sama seperti perempuan yang meminyaki tubuh Yesus sebelum kematian-Nya (Mrk. 14:8; Mat. 26:12), kita dipanggil untuk menghormati Allah di setiap kesempatan, bahkan ketika keadaan tampak suram.

Perasaan familier kadang bisa mengikis rasa hormat. Karena itu, kita perlu menjaga hati agar tidak memperlakukan Allah dengan sikap biasa-biasa saja. Baik saat iman kita berada di puncak maupun di lembah kehidupan, Allah tetap layak dihormati dengan seluruh keberadaan kita.

📌 Setiap Kesempatan Adalah Waktu untuk Memuliakan Allah

Nasib manusia bisa berubah, suasana hati bisa naik-turun, namun kemuliaan Allah tetap kekal. Hari ini, tanyakan pada diri sendiri:
"Kebaikan apa yang dapat saya lakukan untuk memuliakan Yesus?"

Tidak perlu menunggu panggung atau sorotan. Kebajikan yang tersembunyi dilihat oleh Allah, dan Ia yang dalam kasih-Nya akan membalas setiap tindakan yang lahir dari hati yang menghormati Dia (bdk. Mat. 6:6, 18).

Share:

Kepasrahan Diri Merangsang Pengakuan

📖 Lukas 23:44–47

Saat kegelapan menyelimuti seluruh Yerusalem, Yesus, Anak Allah yang sulung, menyerahkan nyawa-Nya kepada Bapa di surga. Peristiwa ini mengingatkan kita pada tulah terakhir di Mesir ketika anak-anak sulung dibunuh dan negeri itu berada dalam kegelapan (bdk. Kel. 11–12). Kini, Sang Terang Dunia berserah dalam kepasrahan total untuk mengalahkan maut dan menebus manusia.

“Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” (ay. 46)

Dalam kegelapan dunia dan keheningan surga, Yesus menunjukkan bahwa kepasrahan kepada Bapa adalah jalan menuju kemenangan. Demikian juga kita, saat menghadapi masa-masa kelam dalam hidup, dipanggil untuk belajar berserah. Ketika tanda-tanda pertolongan Allah belum tampak, dan suara-Nya terasa jauh, kita diajak untuk tetap memandang salib Kristus dan mempercayai rencana keselamatan-Nya.

📌 Kepasrahan yang Menggugah Orang Lain

Sikap berserah Yesus tidak hanya menunjukkan ketaatan-Nya, tetapi juga merangsang pengakuan iman dari orang lain. Kepala pasukan Romawi, yang menyaksikan peristiwa itu, akhirnya memuliakan Allah (ay. 47).

Demikian pula, dalam hidup kita, keteguhan iman di tengah penderitaan bisa menjadi kesaksian yang menggugah hati keluarga, sahabat, bahkan mereka yang belum mengenal Allah. Sikap pasrah yang penuh harap kepada Tuhan dapat menjadi alat bagi Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya.

Menghasilkan pertobatan memang adalah karya Roh Kudus. Namun, Allah berkenan memakai hidup kita sebagai instrumen untuk menyatakan kebenaran-Nya. Berserahlah! Sebab dalam kegelapan, terang Kristus bersinar paling terang.

Share:

Memberi yang Terbaik

Allah menetapkan bahwa tidak semua milik umat dapat digunakan sebagai nazar. Ada hal-hal yang secara khusus sudah menjadi milik-Nya dan tidak boleh ditawar-tawar lagi.

“Segala persembahan persepuluhan... adalah milik TUHAN, itu kudus bagi TUHAN.” (ay. 30, parafrase)

Anak sulung, baik dari manusia maupun hewan, sudah menjadi milik TUHAN sejak semula (ay. 26). Begitu juga dengan milik yang sudah dipersembahkan secara khusus untuk TUHAN tidak boleh ditebus atau dijual kembali (ay. 28). Termasuk persepuluhan dari hasil panen atau ternak, semuanya adalah milik-Nya.

📌 Prinsip Memberi yang Tuhan Ajarkan

  1. Tuhan Layak Menerima yang Terbaik
    Tidak ada ruang untuk mempersembahkan sesuatu dengan asal-asalan. Persembahan kepada TUHAN, termasuk persepuluhan, harus diberikan dengan sikap hati yang benar — dengan sukacita dan hormat.

  2. Kita Memberi dari Apa yang Sudah Tuhan Beri
    Semua yang kita miliki berasal dari Allah. Ketika kita memberi, sesungguhnya kita sedang mengembalikan sebagian dari apa yang telah Ia percayakan kepada kita.

  3. Bukan Hanya Harta, Tetapi Hidup Kita Juga
    Persembahan sejati bukan hanya berupa materi. Allah rindu agar kita juga mempersembahkan hidup kita — waktu, tenaga, talenta, bahkan impian kita — bagi kemuliaan-Nya.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.