🔒 Tidak Mudah Tergoda
“Apa yang akan difirmankan TUHAN, itulah yang akan kukatakan.”
(Bilangan 24:13)
💭 Renungan
Dalam dunia yang serba instan dan materialistis, godaan datang dari segala arah—jabatan, uang, kekuasaan, atau kenyamanan. Tak jarang, dunia menuntut kita menukar integritas dengan keuntungan pribadi. Pilihan untuk taat kepada Allah sering kali bukan pilihan yang populer, dan justru mendatangkan tantangan.
Itulah yang dialami oleh Bileam, seorang pelihat yang “berhubungan” dengan Allah. Ia ditawari harta oleh Balak, penguasa Moab, agar mengutuki Israel. Walaupun sempat tergoda, Allah menegurnya melalui malaikat, dan akhirnya Bileam memilih taat. Ia tetap pergi menemui Balak, tetapi hanya dengan izin dan mandat dari Tuhan: mengatakan apa yang Tuhan perintahkan.
🚫 Godaan Tidak Berhasil
Ketika Balak memaksa Bileam untuk mengutuki Israel, yang terjadi justru sebaliknya—berkat untuk Israel. Balak marah besar (ay. 10), tetapi Bileam dengan tegas menjawab bahwa apa pun yang Tuhan katakan, itulah yang ia ucapkan. Bahkan tawaran kekayaan sebesar apa pun tidak menggoyahkan pendiriannya (ay. 13). Sebuah sikap yang langka dan berani dalam dunia yang penuh kompromi.
🧭 Refleksi untuk Kita
Kita pun dihadapkan pada banyak pilihan setiap hari. Tidak semua tawaran dunia salah secara langsung, tetapi banyak yang membawa kita menjauh dari nilai-nilai Kerajaan Allah. Maka penting untuk tidak hanya tahu kehendak Allah, tetapi juga berani menaatinya, meskipun itu berarti kehilangan kenyamanan atau ditolak orang lain.
Ketaatan yang sejati adalah kesetiaan kepada Allah, bahkan ketika tidak ada satu pun orang yang mendukung.
🙏 Doa Renungan
Tuhan, dalam dunia yang penuh godaan dan kompromi,
tolong aku untuk tetap setia kepada-Mu.
Berikan aku kepekaan untuk mengetahui kehendak-Mu,
dan kekuatan untuk melaksanakannya.
Jadikan aku pribadi yang tidak mudah tergoda,
sebab aku tahu, Engkaulah harta yang paling berharga.
Amin.
✨ Dikuatkan Menjadi Saksi-Nya
“Kamu adalah saksi dari semuanya ini.”
(Lukas 24:48)
💭 Renungan
Dalam hidup, kesedihan dan pergumulan berat dapat membuat kita kehilangan arah dan makna. Pikiran terasa penuh, hati seperti lumpuh, dan harapan seakan pupus. Kita mungkin bertanya: Di mana Tuhan dalam semua ini? Murid-murid Yesus juga merasakan hal serupa setelah kematian Guru mereka di kayu salib.
Namun saat Kristus yang bangkit hadir di tengah mereka, suasana itu berubah. Mula-mula mereka tak percaya dan takut, bahkan mengira melihat hantu (ay. 37). Tapi Yesus tidak menegur dengan kemarahan. Ia menunjukkan luka-Nya, menyapa mereka dengan damai, bahkan meminta makanan untuk dimakan (ay. 39–43). Luka yang dulu menjadi tanda kekalahan, kini menjadi sumber kekuatan dan keyakinan.
🔥 Luka yang Menjadi Kuasa
Tindakan Yesus mengubah luka menjadi tanda kemenangan menunjukkan bahwa:
Luka yang diserahkan kepada Tuhan akan dipakai-Nya menjadi kesaksian.
Yesus tidak menghapus bekas luka-Nya—karena dari situlah para murid dikuatkan. Lalu, setelah membukakan pengertian mereka tentang Kitab Suci (ay. 45), Yesus memberi misi:
“Kamu adalah saksi dari semuanya ini.” (ay. 48)
Mereka yang semula takut, kini dipenuhi sukacita. Yang semula ragu, kini menjadi utusan. Inilah karya pemulihan Yesus: menguatkan yang lemah untuk bersaksi.
✝️ Untuk Kita Hari Ini
Apakah hari-hari ini Anda sedang bergumul? Apakah luka dan beban terasa tak tertanggungkan? Jangan menyerah. Yesus yang sama hadir juga hari ini. Ia tidak menuntut kita kuat, tetapi menawarkan kuasa-Nya untuk menguatkan dan mengutus kita.
Mari bersaksi bukan karena kita sudah sempurna, tetapi karena kita sudah disentuh dan dipulihkan oleh-Nya.
🙏 Doa Renungan
Ya Yesus, dalam luka dan kelemahanku, Engkau hadir.
Tunjukkan kepadaku kuasa kebangkitan-Mu yang mengubah duka menjadi kekuatan.
Bangkitkan kembali harapanku dan jadikan aku saksi-Mu,
yang hidup memuliakan nama-Mu.
Dalam nama-Mu yang bangkit dan mulia aku berdoa. Amin.
✋ Memaksakan Kehendak
“Masakan aku mengutuki yang tidak dikutuki Allah? Masakan aku mencela yang tidak dicela TUHAN?”
(Bilangan 23:8)
💭 Renungan
Setiap kita pasti memiliki kehendak—keinginan tentang masa depan, impian pribadi, bahkan hasrat yang kita pikir baik bagi diri sendiri atau orang lain. Tetapi kehendak manusia yang tidak dikendalikan sering menjadi bumerang, apalagi jika dipaksakan kepada Tuhan. Inilah yang dilakukan Balak, raja Moab.
Balak berambisi menghentikan Israel dengan cara rohani: meminta nabi Bileam untuk mengutuki umat Allah. Saat keinginan itu ditolak oleh firman Tuhan yang disampaikan lewat Bileam, Balak tidak menyerah. Ia mencoba berbagai cara, termasuk memindahkan lokasi penyampaian kutuk—berharap hasilnya berbeda. Namun, kehendak Allah tidak berubah: Israel diberkati, bukan dikutuk.
🔍 Refleksi
Balak adalah cermin kita ketika:
-
Kita tahu kehendak Tuhan, tapi tetap ngotot dengan keinginan pribadi.
-
Kita berpikir tempat, situasi, atau orang bisa memengaruhi keputusan Allah.
-
Kita mencari cara rohani untuk meyakinkan Tuhan melakukan kehendak kita, bukan sebaliknya.
Pemaksaan kehendak kepada Tuhan bukan hanya sia-sia, tapi juga menunjukkan ketidakpercayaan terhadap kebaikan dan kebijaksanaan-Nya.
✝️ Tunduk kepada Tuhan
Bileam, meskipun punya masa lalu yang kompromi, menunjukkan ketaatan dalam bagian ini. Ia berkata jujur: bahwa ia tidak bisa berbicara lebih dari apa yang difirmankan Allah. Bileam sadar bahwa berkat atau kutuk adalah hak Tuhan sepenuhnya, bukan alat manipulasi manusia.
Yesus Kristus pun menunjukkan teladan ketaatan yang sempurna saat berkata:
“Bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu yang jadi.” (Luk. 22:42)
Jika Tuhan yang Mahatahu telah berkehendak, maka sebagai ciptaan, peran kita adalah tunduk dan taat—di situlah kita menemukan damai sejati.
🙏 Doa Renungan
Ya Tuhan, ampunilah aku ketika aku bersikeras memaksakan kehendakku atas-Mu.
Ajarku percaya bahwa kehendak-Mu selalu yang terbaik.
Bentuk hatiku agar taat dan rendah hati,
serta tuntun aku agar berserah dalam rencana-Mu yang mulia.
Dalam nama Kristus Yesus, aku berdoa. Amin.
🪨 Dikuasai Kebebalan
“Apa yang akan difirmankan Allah ke dalam mulutku, itulah yang akan kukatakan.”
(Bilangan 22:38)
💭 Renungan
Kita hidup di dunia yang sering mendorong kita untuk menguasai, mengendalikan, bahkan memanipulasi. Tidak sedikit orang merasa bahwa uang, jabatan, atau relasi bisa dijadikan alat untuk mengatur segalanya—termasuk kehendak Tuhan. Padahal hidup bukan tentang memaksa rencana kita terjadi, melainkan tentang mengikuti kehendak-Nya dengan taat.
Inilah yang dilakukan oleh Balak, raja Moab. Ia berpikir bahwa dengan kekuasaan dan kekayaan, ia bisa mengendalikan seorang nabi Allah—Bileam—untuk mengutuki umat Israel. Ia melihat situasi sebagai sesuatu yang bisa ia atur sendiri demi mencapai tujuannya. Tapi rencananya tidak berjalan mulus.
Balak tidak tahu batas kekuasaannya. Ia mengira bisa memperalat Bileam, padahal Bileam justru telah ditegur keras oleh Allah dan kini hanya mau menyampaikan apa yang Allah perintahkan. Namun, Balak tetap keras kepala—dikuasai oleh kebebalannya sendiri.
🔍 Refleksi
Berapa sering kita bersikap seperti Balak?
-
Merasa Tuhan bisa kita kendalikan sesuai keinginan kita.
-
Mengabaikan peringatan-Nya demi memuaskan ambisi pribadi.
-
Memaksa situasi berjalan sesuai rencana kita, tanpa mencari kehendak Tuhan lebih dulu.
Kebebalan bukan hanya soal ketidaktahuan, tapi keengganan untuk tunduk. Dan bila kita terus hidup dalam kebebalan, maka kita sedang menjauh dari jalan berkat dan menuju kehancuran.
✝️ Tunduk pada Allah
Bileam menjadi contoh yang penting—meskipun awalnya tergoda oleh harta, namun akhirnya ia belajar untuk tunduk total pada perintah Allah. Ia tidak membiarkan diri dikuasai oleh Balak, karena ia sadar bahwa Allah melihat dan menimbang hati manusia.
Kristus memanggil kita untuk taat penuh, bukan setengah hati. Ketaatan itu dimulai dengan menyadari bahwa kita bukan penguasa hidup ini—Allah-lah pemilik dan pengatur segala sesuatu.
🙏 Doa Renungan
Tuhan, ampuni aku saat aku mencoba mengatur segalanya menurut kehendakku.
Aku ingin belajar taat seperti Bileam,
dan melepaskan setiap kebebalan dalam hatiku.
Arahkan aku kepada rencana-Mu yang sempurna,
agar hidupku memuliakan nama-Mu.
Dalam nama Kristus Yesus aku berdoa. Amin.














