Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

🎵 Lagu Perjalanan Hidup

 
"Lagu Perjalanan Hidup" menggambarkan langkah hidup yang diarahkan dan dikuatkan oleh firman Tuhan.

“Maka bernyanyilah orang Israel: ‘Memancarlah air, nyanyikanlah nyanyian bagi air itu!’”
(Bilangan 21:17)

📖 Renungan

Pernahkah Anda memperhatikan anak-anak yang bernyanyi riang saat dalam perjalanan? Lagu-lagu itu bukan hanya pengisi waktu — seringkali, itu adalah cermin dari hati mereka: gembira, bebas, dan penuh harapan.

Bangsa Israel juga pernah menyanyikan lagu di tengah perjalanan mereka. Bukan di istana atau pesta, tapi di padang gurun, saat mereka berhenti di sebuah sumur yang disebut Be’er. Sumur itu mengingatkan mereka bahwa di tengah kegersangan, Tuhan tetap menyediakan air — kehidupan. Lalu, mereka menyanyikan pujian.

Menariknya, mereka membandingkan sumur yang digali oleh raja-raja lain dengan sumur yang disediakan TUHAN. Apa yang bagi dunia merupakan hasil kuasa manusia, bagi Israel adalah bukti pemeliharaan ilahi. Mereka tahu: tongkat kerajaan sejati adalah tangan TUHAN sendiri.


💬 Refleksi bagi Kita

Kita pun sedang dalam perjalanan — bukan di padang gurun, tetapi dalam dinamika kehidupan ini. Ada tantangan, keletihan, bahkan kehilangan arah. Tapi renungan hari ini mengajak kita berhenti sejenak, memandang ke belakang, dan menyanyikan syukur atas setiap pemeliharaan Tuhan.

Apakah kita masih memiliki lagu di tengah perjalanan?
Apakah kita bisa berkata: “Tuhan yang memelihara, Tuhan yang menyertai”?


💡 Pelajaran Rohani

  • 🎶 Lagu di tengah perjalanan adalah tanda iman. Lagu Israel muncul bukan setelah sampai di tujuan, tapi saat mereka masih di jalan.

  • 💧 Pemeliharaan Tuhan sering hadir dalam bentuk sederhana, seperti air di tengah gurun.

  • ✝️ Iman kita tumbuh saat kita belajar bersyukur di tengah perjalanan, bukan hanya ketika segala sesuatu selesai.

  • 🙌 Jangan lupa menyanyikan pujian — bahkan di tengah lelah, karena itulah kekuatan kita.


🙏 Doa Renungan

Tuhan, ajarku untuk tetap bernyanyi dalam perjalanan hidup ini.
Di saat jalanku terasa berat, biarlah hatiku tetap percaya.
Terima kasih untuk sumur air kehidupan yang Engkau sediakan di tengah kegersangan.
Dalam Yesus aku berjalan, dan kepada-Mu aku bersyukur. Amin.

Share:

Pujian Ibadah Minggu 25 Mei 2025

Share:

🪞 Cermin Kehidupan

 
"Cermin Kehidupan" mengajak kita bercermin pada firman Tuhan untuk mengenali dan membenahi hidup.

“Setiap orang yang dipagut, jika ia memandang ular tembaga itu, ia akan tetap hidup.”
(Bilangan 21:8)

📖 Renungan

Apa yang terjadi ketika kita bercermin? Kita melihat diri kita apa adanya. Ada kekurangan yang bisa diperbaiki, ada kelebihan yang bisa disyukuri. Cermin tidak menipu, dan justru karena itu ia menolong.

Pengalaman bangsa Israel di padang gurun adalah cermin kehidupan kita. Mereka mengalami kemunduran, kehilangan, dan penolakan. Bahkan ketika mereka menang karena pertolongan Tuhan, alih-alih bersyukur, mereka bersungut-sungut. Maka, Tuhan mengizinkan ular-ular tedung memagut mereka. Tapi ketika mereka bertobat, Tuhan menyuruh Musa membuat ular tembaga — tanda pengingat yang membawa kesembuhan, bukan kutuk.

🔍 Refleksi bagi Kita

Setiap dari kita perlu bercermin secara rohani.
Apa yang sedang kita keluhkan hari ini? Apakah kita lebih banyak bersungut-sungut daripada bersyukur?

Tuhan tidak pernah berubah. Ia tetap Allah yang murah hati dan memberi kesempatan kedua. Tapi Tuhan juga rindu kita belajar dari kesalahan, bukan sekadar menyalahkan keadaan.

Ular tembaga itu adalah lambang pertobatan. Ia mengingatkan: hidup yang rusak bisa dipulihkan bila kita memandang Tuhan dengan rendah hati. Dalam Yesus, lambang itu menjadi nyata. Dia ditinggikan, supaya setiap orang yang memandang kepada-Nya dengan iman, memperoleh hidup.

💡 Pelajaran untuk Kita

  • 🪞 Perjalanan hidup bisa menjadi cermin rohani. Kadang kita tidak sadar bahwa kita sedang memberontak.

  • 🙏 Allah rindu kita merenungkan sikap hati, bukan hanya keadaan luar.

  • ✝️ Yesus adalah wujud kasih karunia itu. Dialah yang menyembuhkan dan menghidupkan.

  • 🔄 Pertobatan membawa pemulihan. Saat kita datang kepada Tuhan, Ia menyambut dengan anugerah.

🙏 Doa Renungan

Tuhan, sering kali aku bersungut dan tidak bersyukur.
Ajarku melihat hidup ini sebagai cermin,
tempat Engkau menunjukkan kasih dan kebenaran-Mu.
Kiranya melalui setiap peristiwa, aku belajar rendah hati dan bertobat.
Dalam nama Yesus, Sang Penopang hidupku. Amin.

Share:

👣 Generasi Penerus

Bilangan 20:22–29

Harun mati di sana... lalu Musa dan Eleazar turun dari gunung.
(Bilangan 20:28)

📖 Renungan

Ada saat untuk memimpin, dan ada saat untuk menyerahkan tongkat estafet. Inilah yang terjadi di Gunung Hor. Di sana, di hadapan seluruh umat, Musa menanggalkan pakaian jabatan Harun dan mengenakannya kepada Eleazar, anaknya. Hari itu, satu generasi menutup perjalanan — dan satu generasi baru dipanggil untuk melanjutkan.

Harun, imam besar yang telah mendampingi Musa begitu lama, tidak diizinkan masuk ke Tanah Perjanjian. Tapi karya Tuhan tidak berhenti. Tugas keimamatan diteruskan, bukan dihentikan. Pakaian jabatan berpindah, tapi tanggung jawab tetap berjalan.


🔍 Refleksi untuk Kita

Di zaman ini, siapa yang sedang kita siapkan?
Di rumah, di gereja, di pelayanan — apakah ada Eleazar-Eleazar yang kita bimbing, kita bentuk, kita beri teladan?

Sering kali, kita sibuk melakukan pekerjaan sendiri tanpa memikirkan penerus. Tapi pelayanan bukan tentang kita saja. Ini tentang kesinambungan. Kita boleh pergi, tapi misi Tuhan harus tetap hidup.


💡 Pelajaran Penting

  • 🔄 Setiap pemimpin harus menyiapkan pengganti. Tidak ada jabatan kekal, tapi karya Tuhan harus terus berjalan.

  • 🙏 Taat pada kehendak Tuhan meski tidak selalu sesuai harapan. Harun tidak masuk Kanaan, tapi ia tetap setia sampai akhir.

  • 👣 Pemuridan adalah proses yang disengaja. Tidak otomatis. Harus ada pembinaan dan penyerahan yang penuh kasih dan kepercayaan.

  • 💔 Kehilangan adalah bagian dari kehidupan. Tapi bersama Tuhan, kita menghadapi duka dengan iman dan pengharapan.


🙏 Doa Renungan

Tuhan, ajar aku untuk melayani bukan demi nama, tapi demi warisan rohani.
Bentuk aku menjadi pribadi yang rela membimbing dan menyerahkan tanggung jawab kepada generasi berikutnya.
Ajarku untuk mempersiapkan mereka dengan kasih dan kerendahan hati.
Kiranya Engkau meneguhkan para pemimpin rohani kami dalam melanjutkan panggilan-Mu.
Dalam nama Yesus. Amin.

Share:

🤝 Mengalah dalam Mencapai Tujuan

Bilangan 20:14-21

“Lalu orang Edom berkata kepadanya: ‘Engkau tidak boleh melalui daerah kami.’ Maka orang Israel berbalik dari padanya.” — Bilangan 20:21

Tidak semua jalan menuju tujuan itu mulus. Kadang, jalan yang paling dekat justru tertutup. Itulah yang dialami bangsa Israel. Mereka tidak meminta banyak — hanya ingin lewat. Mereka bahkan bersedia membayar jika sampai meminum air dari tanah Edom. Tapi permintaan itu ditolak. Bukan hanya ditolak, mereka bahkan diancam akan diserang.

Apa respons Israel? Bukan kemarahan. Bukan peperangan. Tapi mengalah. Mereka memilih berputar arah, menempuh jalan yang lebih panjang, lebih melelahkan, lebih berat — demi satu hal: menggenapi tujuan Tuhan.


📖 Refleksi Bagi Kita

Di zaman sekarang, kita juga sering dihadapkan dengan penolakan, bahkan dari orang yang seharusnya “saudara.” Mungkin dalam pelayanan, dalam membangun komunitas, atau ketika gereja ingin hadir di tengah masyarakat.

Penolakan itu menyakitkan. Tapi respons kita sangat menentukan:
Apakah kita membalas dengan kekerasan? Atau tetap sabar dan berjalan dalam damai?

Kadang, mengalah bukan berarti kalah, tetapi tanda bahwa kita mengerti jalan Tuhan lebih penting daripada harga diri.


💡 Hikmat Praktis

  • Mengalah bukan berarti menyerah — tetapi memberi ruang bagi Tuhan bekerja.

  • Mengalah bukan lemah — justru butuh kekuatan untuk tetap sabar dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

  • Mengalah bukan kehilangan arah — justru itu jalan memutar yang Tuhan pakai untuk membentuk hati kita.


🙏 Doa Renungan

Tuhan, ajar aku untuk tidak mudah terbakar oleh penolakan atau emosi.
Tuntun aku untuk tetap sabar dan bijaksana ketika jalanku tertutup.
Kiranya aku tidak menyerah, tapi juga tidak melawan dengan cara dunia.
Biarlah aku belajar seni mengalah agar rencana-Mu digenapi dalam hidupku.
Dalam nama Yesus. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.