Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: kehidupan rohani
Tampilkan postingan dengan label kehidupan rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kehidupan rohani. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian "Menghakimi dengan Adil"

Yesus mengajar tentang menghakimi dengan adil
Menghakimi dengan Adil
Ketika Yesus mengajar di dalam Bait Allah, orang-orang Yahudi terheran-heran. Mereka mengenal latar belakang Yesus—bukan rabi terdidik, bukan ahli Taurat ternama—namun hikmat dan kuasa yang keluar dari perkataan-Nya tidak dapat disangkal. Keheranan itu segera berubah menjadi penilaian. Mereka melihat dari luar, lalu menyimpulkan dari apa yang tampak.

Yesus menanggapi sikap itu dengan tegas namun penuh kasih. Ia menyatakan bahwa ajaran-Nya berasal dari Bapa yang mengutus-Nya. Lalu Ia menegur cara berpikir mereka: “Jangan menghakimi menurut apa yang tampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Perkataan ini menembus batas waktu dan berbicara langsung ke hati kita hari ini.

Menghakimi sering kali lahir dari kesan sepintas, informasi yang tidak utuh, atau prasangka pribadi. Dalam bahasa aslinya, kata krino berarti menilai, membedakan, bahkan menghukum. Yesus tidak melarang kita untuk menilai, karena dalam hidup kita memang harus membedakan mana yang benar dan salah. Namun Ia memperingatkan agar kita tidak terburu-buru menjatuhkan vonis tanpa hikmat dan keadilan.

Bukankah kita sering jatuh dalam jebakan ini? Kita cepat menyimpulkan, mudah menyalahkan, dan lambat memahami. Kita melihat tindakan seseorang, tetapi tidak mengenal pergumulannya. Kita mendengar satu cerita, lalu membangun penghakiman tanpa mencari kebenaran secara utuh.

Renungan ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri:
Apakah aku lebih sering menghakimi daripada mengasihi?
Apakah penilaianku lahir dari hikmat Tuhan atau dari emosiku sendiri?

Sebagai anak-anak Tuhan, panggilan kita bukan untuk mempermalukan atau menjatuhkan, melainkan menyadarkan dan membangun. Menegur dalam kasih jauh lebih sulit daripada menghakimi, tetapi di situlah iman kita diuji. Ketika kita terlalu sibuk menilai orang lain, sering kali kita kehilangan waktu untuk mengasihi mereka.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk memiliki mata yang jernih dan hati yang lembut—mampu menilai dengan bijak, menegur dengan kasih, dan berjalan dalam kebenaran bersama-sama.

Doa
Tuhan yang penuh hikmat,ampuni kami karena sering kali kami mudah menghakimi hanya dari apa yang tampak. Ajarlah kami untuk melihat dengan mata-Mu dan menilai dengan hati-Mu. Berikan kami hikmat agar setiap perkataan dan sikap kami membangun, bukan melukai. Tolong kami untuk lebih mengasihi daripada menghakimi, dan menegur dengan kebenaran yang disertai kasih. Amin.
Share:

Renungan Harian "Motivasi Mencari Yesus"

Orang banyak mencari Yesus dengan berbagai motivasi di Kapernaum
Motivasi Mencari Yesus
Setelah peristiwa pelipatgandaan roti, orang banyak dengan penuh semangat mencari Yesus. Mereka menyeberang ke Kapernaum, berusaha menemukan-Nya. Dari luar, kegigihan mereka tampak mengagumkan. Namun Injil Yohanes mengajak kita melihat lebih dalam: apa sebenarnya motivasi mereka mencari Yesus?

Jika kita mencermati kisah sebelum dan sesudah bagian ini, menjadi jelas bahwa banyak orang mencari Yesus bukan karena ingin mengenal-Nya secara pribadi, melainkan karena roti yang mengenyangkan dan mukjizat yang memuaskan kebutuhan mereka. Mereka mencari Yesus bukan sebagai Tuhan yang disembah, tetapi sebagai pemberi berkat yang diharapkan.

Kisah ini menjadi cermin yang jujur bagi iman kita hari ini. Kita pun hidup di zaman di mana orang mudah datang mencari Tuhan karena alasan-alasan tertentu: ingin mengalami mujizat, memperoleh pertolongan, menikmati suasana ibadah yang meriah, atau sekadar mengikuti keramaian. Tidak semuanya salah, tetapi pertanyaannya tetap sama: apakah Yesus yang kita cari, ataukah berkat-Nya saja?

Renungan ini mengajak kita berhenti sejenak dan memeriksa hati. Apakah relasi kita dengan Tuhan masih bersifat transaksional—datang ketika butuh, pergi ketika merasa cukup? Ataukah kita sungguh rindu berjumpa dengan-Nya, mendengarkan suara-Nya, dan mengenal hati-Nya?

Santo Agustinus pernah menulis bahwa hati manusia tidak akan pernah tenang sampai ia beristirahat di dalam Tuhan. Kalimat ini mengingatkan kita bahwa sejak semula hidup kita diciptakan untuk relasi dengan Allah. Tidak ada berkat, mukjizat, atau pengalaman rohani apa pun yang dapat menggantikan perjumpaan sejati dengan Dia.

Mencari Yesus berarti datang kepada-Nya dengan hati yang sederhana—bukan untuk memakai Tuhan demi kepentingan diri, melainkan untuk mengasihi dan dikenal oleh-Nya. Dalam relasi yang tulus itulah, jiwa menemukan ketenangan sejati.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Mengapa aku mencari Tuhan?
Apa yang paling aku harapkan ketika datang kepada-Nya?
Apakah aku siap tetap setia meski tanpa mujizat yang kulihat?

Doa
Tuhan Yesus, kami mengakui bahwa sering kali motivasi kami mencari Engkau tidak murni. Kami datang karena kebutuhan, bukan karena kerinduan akan Engkau sendiri. Ampuni kami. Bentuklah hati kami agar sungguh mencari wajah-Mu, bukan hanya berkat-Mu. Ajarlah kami membangun relasi yang tulus, sederhana, dan setia dengan-Mu, sampai hati kami benar-benar beristirahat di dalam Engkau. Amin.
Share:

Renungan Harian " Sang Mesias Memperkenalkan Diri "

Yesus memperkenalkan diri sebagai Mesias kepada perempuan Samaria di sumur Yakub
Sang Mesias Memperkenalkan Diri
Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria membawa kita pada ketegangan yang lembut: akankah kerinduan terdalam perempuan ini terjawab? Ia menginginkan air yang tidak membuatnya haus lagi—kehidupan yang tidak perlu terus menimba dari kelelahan yang sama.

Yesus tidak langsung menjawab permintaannya. Ia terlebih dahulu menyentuh bagian hidup yang paling tersembunyi. Dengan kasih dan kejujuran, Yesus menyatakan bahwa Ia mengenal seluruh kehidupannya. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyembuhkan. Di hadapan kemahatahuan Yesus, perempuan itu tersadar: ia sedang berjumpa dengan Pribadi yang melampaui logika dan pengertiannya. Dari sanalah pengakuan lahir—Yesus adalah Nabi.

Kemudian Yesus membawa percakapan itu lebih dalam. Ia memperkenalkan ibadah yang sejati. Bukan lagi soal tempat—Yerusalem atau Gunung Gerizim—melainkan soal hati yang mengenal siapa yang disembah. Allah tidak jauh dan terikat ruang. Allah hadir. Ia berdiri tepat di hadapan perempuan Samaria itu, berbicara, mendengar, dan mengasihi.

Di puncak percakapan itu, Yesus melakukan sesuatu yang sangat jarang Ia lakukan: Ia menyatakan diri-Nya sebagai Mesias. Kepada seorang perempuan Samaria—yang dipandang rendah oleh masyarakat—Yesus membuka identitas-Nya dengan jelas. Ini adalah undangan kasih bagi setiap orang yang haus akan kebenaran dan hidup baru.

Yesus yang sama juga hadir dalam hidup kita hari ini. Ia mengenal seluruh kisah kita, bahkan yang paling ingin kita sembunyikan. Ia tidak menunggu kita sempurna untuk beribadah, tetapi mengundang kita datang dengan hati yang terbuka.

Refleksi Pribadi

  • Apakah saya berani membiarkan Yesus menyentuh bagian hidup yang selama ini saya sembunyikan?

  • Apakah ibadah saya hanya rutinitas, atau perjumpaan nyata dengan Tuhan yang hadir?

Doa

Tuhan Yesus,
Engkau mengenal hidup kami sepenuhnya,
namun tetap menyapa kami dengan kasih.
Ajarlah kami beribadah dalam roh dan kebenaran,
bukan hanya dengan kata, tetapi dengan seluruh hidup.
Nyatakanlah diri-Mu terus dalam perjalanan iman kami.
Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.