Maria menunjukkan kasihnya kepada Yesus dengan cara yang sangat berbeda. Di tengah perjamuan, saat Marta sibuk melayani dan Lazarus duduk bersama Yesus, Maria datang membawa minyak narwastu murni yang sangat mahal. Ia meminyaki kaki Yesus, bahkan menyekanya dengan rambutnya. Seluruh ruangan pun dipenuhi bau harum minyak itu.
Tindakan Maria membuat sebagian orang tidak nyaman. Yudas memandangnya sebagai pemborosan. Baginya, minyak itu seharusnya dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin. Namun, perkataannya bukan lahir dari kepedulian, melainkan dari hati yang tidak tulus.
Maria tidak sedang memamerkan apa yang ia miliki. Ia juga tidak menghitung untung rugi. Ia hanya tahu satu hal: Yesus layak menerima yang terbaik. Minyak itu sangat berharga—setara dengan upah hampir satu tahun kerja—namun Maria rela menyerahkannya tanpa ragu. Kasih membuatnya memberi tanpa syarat.
Melalui Maria, kita diajak bercermin. Apa yang selama ini kita berikan kepada Tuhan? Apakah hanya sisa waktu, tenaga, dan perhatian kita? Atau justru hal-hal terbaik yang kita miliki—waktu, kemampuan, harta, bahkan reputasi?
Yesus tidak menolak persembahan Maria. Ia melihat hati yang tulus dan pengabdian yang murni. Yesus juga mengingatkan bahwa hidup ini tidak hanya soal perkara duniawi yang sementara. Ada makna kekal yang sering kali luput dari perhatian kita.
Hari ini, Tuhan tidak menuntut kita memberi sesuatu yang sama seperti Maria. Namun, Ia rindu hati yang sama: hati yang mengasihi, menghormati, dan rela mempersembahkan yang terbaik. Semua yang kita miliki sesungguhnya berasal dari-Nya. Memberi yang terbaik adalah respons syukur atas anugerah keselamatan yang telah kita terima.











