Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: Yohanes 4
Tampilkan postingan dengan label Yohanes 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yohanes 4. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian "Progresivitas Iman"

Iman yang bertumbuh melalui kepercayaan pada firman Yesus
Progresivitas Iman
Iman bukanlah sesuatu yang statis. Ia tidak berhenti pada satu titik, melainkan dipanggil untuk terus bertumbuh, didewaskan, dan dimurnikan. Kisah pegawai istana yang datang kepada Yesus memperlihatkan bagaimana iman dapat berkembang langkah demi langkah.

Pada awalnya, iman pegawai ini lahir dari kebutuhan yang mendesak. Anaknya sakit keras. Ia datang kepada Yesus karena berharap akan mukjizat. Iman tahap pertama ini sangat manusiawi—kita datang kepada Tuhan karena masalah, karena sakit, karena ketakutan, karena tak berdaya. Namun Tuhan tidak menolak iman yang kecil seperti ini.

Tahap berikutnya adalah iman yang percaya akan kuasa Yesus. Pegawai itu yakin bahwa jika Yesus datang ke rumahnya, anaknya pasti sembuh. Ia belum sepenuhnya memahami bahwa Yesus berkuasa melampaui ruang dan jarak, tetapi keyakinannya sudah bertumbuh: Yesus bukan sekadar penolong, melainkan penyembuh sejati.

Puncaknya terjadi ketika ia percaya penuh pada perkataan Yesus, meskipun belum melihat hasilnya. Ia pulang hanya berbekal janji. Dan di tengah perjalanan, kabar itu datang: anaknya hidup. Iman kini tidak lagi bergantung pada penglihatan, tetapi pada kepercayaan yang teguh. Dari sanalah iman itu berbuah—ia bersaksi, dan seisi rumahnya menjadi percaya.

Kisah ini mengajak kita bercermin. Mungkin iman kita dimulai dari doa yang penuh air mata. Namun jangan berhenti di sana. Tuhan rindu membawa iman kita bertumbuh—dari berharap, menjadi percaya, lalu berserah sepenuhnya dan menjadi saksi.

Iman yang hidup akan selalu bergerak. Ia berakar, bertumbuh, dan akhirnya berbuah bagi banyak orang.

Refleksi Pribadi

  • Di tahap iman manakah saya saat ini?

  • Apakah saya masih menuntut tanda, atau sudah belajar percaya pada firman Tuhan?

Doa

Tuhan Yesus,
terima kasih karena Engkau menerima iman kami,
meskipun sering kali masih kecil dan rapuh.
Tumbuhkanlah iman kami agar tidak berhenti pada permintaan,
melainkan berbuah dalam ketaatan dan kesaksian.
Ajari kami percaya pada firman-Mu,
bahkan ketika kami belum melihat jawabannya.
Amin.

Share:

Renungan Harian " Sang Mesias Memperkenalkan Diri "

Yesus memperkenalkan diri sebagai Mesias kepada perempuan Samaria di sumur Yakub
Sang Mesias Memperkenalkan Diri
Percakapan Yesus dengan perempuan Samaria membawa kita pada ketegangan yang lembut: akankah kerinduan terdalam perempuan ini terjawab? Ia menginginkan air yang tidak membuatnya haus lagi—kehidupan yang tidak perlu terus menimba dari kelelahan yang sama.

Yesus tidak langsung menjawab permintaannya. Ia terlebih dahulu menyentuh bagian hidup yang paling tersembunyi. Dengan kasih dan kejujuran, Yesus menyatakan bahwa Ia mengenal seluruh kehidupannya. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyembuhkan. Di hadapan kemahatahuan Yesus, perempuan itu tersadar: ia sedang berjumpa dengan Pribadi yang melampaui logika dan pengertiannya. Dari sanalah pengakuan lahir—Yesus adalah Nabi.

Kemudian Yesus membawa percakapan itu lebih dalam. Ia memperkenalkan ibadah yang sejati. Bukan lagi soal tempat—Yerusalem atau Gunung Gerizim—melainkan soal hati yang mengenal siapa yang disembah. Allah tidak jauh dan terikat ruang. Allah hadir. Ia berdiri tepat di hadapan perempuan Samaria itu, berbicara, mendengar, dan mengasihi.

Di puncak percakapan itu, Yesus melakukan sesuatu yang sangat jarang Ia lakukan: Ia menyatakan diri-Nya sebagai Mesias. Kepada seorang perempuan Samaria—yang dipandang rendah oleh masyarakat—Yesus membuka identitas-Nya dengan jelas. Ini adalah undangan kasih bagi setiap orang yang haus akan kebenaran dan hidup baru.

Yesus yang sama juga hadir dalam hidup kita hari ini. Ia mengenal seluruh kisah kita, bahkan yang paling ingin kita sembunyikan. Ia tidak menunggu kita sempurna untuk beribadah, tetapi mengundang kita datang dengan hati yang terbuka.

Refleksi Pribadi

  • Apakah saya berani membiarkan Yesus menyentuh bagian hidup yang selama ini saya sembunyikan?

  • Apakah ibadah saya hanya rutinitas, atau perjumpaan nyata dengan Tuhan yang hadir?

Doa

Tuhan Yesus,
Engkau mengenal hidup kami sepenuhnya,
namun tetap menyapa kami dengan kasih.
Ajarlah kami beribadah dalam roh dan kebenaran,
bukan hanya dengan kata, tetapi dengan seluruh hidup.
Nyatakanlah diri-Mu terus dalam perjalanan iman kami.
Amin.

Share:

Renungan Harian "Keuniversalan Keselamatan"

Keuniversalan Keselamatan
Pada masa Yesus hidup, agama Yahudi dikenal sangat eksklusif. Mereka merasa memiliki hak istimewa atas perjanjian Allah, Hukum Taurat, dan Tanah Perjanjian. Akibatnya, tumbuh keyakinan bahwa keselamatan hanya milik orang Yahudi. Bangsa lain—termasuk orang Samaria—dipandang sebagai pihak yang jauh dari anugerah Allah.

Permusuhan antara Yahudi dan Samaria sudah berlangsung lama. Namun justru di tengah tembok pemisah itu, Yesus melangkah dengan cara yang berbeda. Ia datang ke tanah Samaria, duduk di tepi sumur, dan dengan rendah hati meminta minum kepada seorang perempuan Samaria. Sebuah tindakan yang pada zamannya dianggap tidak pantas, bahkan melanggar batas sosial dan religius.

Di peristiwa ini, kita melihat hati Allah yang melampaui sekat-sekat manusia.

Pertama, Yesus membuka percakapan dan menawarkan air hidup—keselamatan yang memulihkan dan memberi hidup kekal. Keselamatan itu tidak dibatasi oleh latar belakang, masa lalu, atau status seseorang.

Kedua, Yesus menegaskan bahwa penyembahan sejati tidak terikat pada tempat tertentu. Allah tidak dibatasi oleh gunung atau bangunan. Ia mencari orang-orang yang menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran—hati yang tulus dan hidup yang selaras dengan kehendak-Nya.

Ketiga, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Mesias kepada perempuan Samaria itu. Sebuah pengakuan yang jarang Ia sampaikan secara terbuka. Ini menunjukkan bahwa Allah mempercayakan pewahyuan terbesar-Nya justru kepada orang yang dianggap kecil dan tersisih.

Keempat, perempuan itu tidak menyimpan pengalaman tersebut bagi dirinya sendiri. Ia pergi, bersaksi, dan mengundang orang lain datang kepada Yesus. Kesaksiannya menjadi pintu bagi banyak orang Samaria untuk mengenal dan percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia.

Melalui kisah ini, kita diingatkan bahwa keselamatan bersifat universal. Mesias bukan milik satu bangsa, suku, atau kelompok tertentu. Ia adalah milik seluruh umat manusia. Allah tidak membatasi kasih-Nya, dan Ia rindu semua orang datang kepada-Nya.

Renungan ini mengajak kita untuk bercermin:
Apakah kita masih membatasi Tuhan dalam kotak-kotak budaya, latar belakang, atau penilaian pribadi? Apakah kita mau membuka hati dan menjadi saluran kasih-Nya bagi siapa pun?

Kiranya hidup kita dipakai Tuhan untuk membawa kabar keselamatan kepada semua orang, tanpa kecuali.

Doa

Tuhan Yesus, terima kasih karena kasih dan keselamatan-Mu melampaui segala batas manusia. Ampuni kami jika selama ini kami membatasi karya-Mu dengan pikiran dan penilaian kami sendiri. Ajarlah kami melihat setiap orang dengan mata kasih-Mu dan berani menjadi saksi tentang Engkau di mana pun kami berada.

Biarlah berkat-Mu mengalir dalam seluruh kehidupan kami:
atas rumah tangga kami, anak-anak dan cucu-cucu kami, pekerjaan, usaha, studi, ladang dan perusahaan, pelayanan, gereja, serta setiap relasi yang Engkau percayakan. Tambahkan hikmat-Mu dari hari ke hari, kuatkan kami dalam setiap proses, dan bukalah jalan terobosan sesuai kehendak-Mu.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa.
Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.