Ketika hari mulai larut dan perut orang-orang itu lapar, Yesus bertanya kepada Filipus tentang makanan. Pertanyaan ini bukan karena Yesus tidak tahu jawabannya, melainkan untuk menguji iman. Filipus segera menghitung secara logis—uang tidak cukup, sumber daya tidak memadai. Pandangan Filipus mencerminkan kita: sering kali kita menilai keadaan hanya dari apa yang terlihat dan terasa.
Andreas datang dengan sesuatu yang tampak sangat kecil: lima roti dan dua ikan milik seorang anak. Ia sendiri ragu, “Tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Namun justru melalui pemberian yang sederhana itu, Yesus bekerja. Ia mengucap syukur, membagikan roti dan ikan, dan semua orang makan sampai kenyang. Bahkan masih tersisa dua belas bakul penuh.
Mukjizat ini mengingatkan kita bahwa Yesus peduli pada kehidupan manusia secara utuh—bukan hanya rohani, tetapi juga jasmani. Ia tidak menutup mata terhadap kebutuhan dasar umat-Nya. Lebih dari itu, Yesus menunjukkan bahwa keterbatasan manusia bukan penghalang bagi kuasa Allah. Apa yang tampak tidak cukup di tangan manusia, menjadi kelimpahan di tangan Tuhan.
Sering kali kita seperti Filipus—fokus pada kekurangan, ketakutan, dan ketidakmungkinan. Padahal Tuhan mengundang kita untuk seperti anak kecil itu: menyerahkan apa yang ada, meski kecil dan tampak tidak berarti. Dalam penyerahan itulah, Tuhan bekerja.
Renungan hari ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri:
Apa keterbatasan yang sedang saya hadapi?
Sudahkah saya menyerahkannya kepada Tuhan, atau saya masih sibuk menghitung kekurangannya?
Keterbatasan bukan akhir cerita. Justru di sanalah Tuhan sering menyatakan kuasa dan pemeliharaan-Nya.













