Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: mukjizat yesus
Tampilkan postingan dengan label mukjizat yesus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mukjizat yesus. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian " Mukjizat di Tengah Keterbatasan "

Mukjizat Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan
Mukjizat di Tengah Keterbatasan
Yohanes 6:1–15
Dalam perjalanan-Nya ke seberang Danau Galilea, Yesus dikerumuni oleh orang banyak. Mereka mengikuti Dia karena tertarik pada mukjizat-mukjizat yang telah dilakukan-Nya. Namun di balik antusiasme orang banyak itu, Yesus melihat sesuatu yang lebih dalam: kebutuhan nyata yang harus dipedulikan.

Ketika hari mulai larut dan perut orang-orang itu lapar, Yesus bertanya kepada Filipus tentang makanan. Pertanyaan ini bukan karena Yesus tidak tahu jawabannya, melainkan untuk menguji iman. Filipus segera menghitung secara logis—uang tidak cukup, sumber daya tidak memadai. Pandangan Filipus mencerminkan kita: sering kali kita menilai keadaan hanya dari apa yang terlihat dan terasa.

Andreas datang dengan sesuatu yang tampak sangat kecil: lima roti dan dua ikan milik seorang anak. Ia sendiri ragu, “Tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Namun justru melalui pemberian yang sederhana itu, Yesus bekerja. Ia mengucap syukur, membagikan roti dan ikan, dan semua orang makan sampai kenyang. Bahkan masih tersisa dua belas bakul penuh.

Mukjizat ini mengingatkan kita bahwa Yesus peduli pada kehidupan manusia secara utuh—bukan hanya rohani, tetapi juga jasmani. Ia tidak menutup mata terhadap kebutuhan dasar umat-Nya. Lebih dari itu, Yesus menunjukkan bahwa keterbatasan manusia bukan penghalang bagi kuasa Allah. Apa yang tampak tidak cukup di tangan manusia, menjadi kelimpahan di tangan Tuhan.

Sering kali kita seperti Filipus—fokus pada kekurangan, ketakutan, dan ketidakmungkinan. Padahal Tuhan mengundang kita untuk seperti anak kecil itu: menyerahkan apa yang ada, meski kecil dan tampak tidak berarti. Dalam penyerahan itulah, Tuhan bekerja.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri:
Apa keterbatasan yang sedang saya hadapi?
Sudahkah saya menyerahkannya kepada Tuhan, atau saya masih sibuk menghitung kekurangannya?

Keterbatasan bukan akhir cerita. Justru di sanalah Tuhan sering menyatakan kuasa dan pemeliharaan-Nya.

Doa
Tuhan Yesus, kami sering melihat hidup hanya dari keterbatasan kami sendiri. Ampuni kami ketika kami ragu dan lupa akan kuasa-Mu. Kami mau menyerahkan segala kekurangan, ketakutan, dan ketidakmampuan kami ke dalam tangan-Mu. Ajarlah kami bersyukur atas apa yang kami miliki dan percaya bahwa Engkau sanggup mencukupkan segala kebutuhan kami. Pakailah hidup kami menjadi berkat bagi sesama. Amin.
Share:

Renungan Harian " Bahaya Legalisme Agama "

Yesus menyembuhkan orang lumpuh di Betesda pada hari Sabat
Bahaya Legalisme Agama
Tiga puluh delapan tahun lamanya seorang pria terbaring lumpuh di tepi kolam Betesda. Ia menunggu pertolongan, namun tidak pernah ada seorang pun yang membantunya. Harapannya kian menipis—sampai Yesus datang menghampirinya. Dengan satu perintah sederhana, hidupnya dipulihkan: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

Mukjizat terjadi. Namun sukacita itu segera dibungkam oleh kemarahan para pemuka agama. Bukan karena seorang lumpuh telah disembuhkan, melainkan karena peristiwa itu terjadi pada hari Sabat. Bagi mereka, aturan lebih penting daripada pemulihan manusia. Bahkan, karena peristiwa itu, mereka mulai merencanakan pembunuhan terhadap Yesus.

Di sinilah wajah kelam legalisme agama terlihat. Ketaatan pada hukum berubah menjadi belenggu yang membutakan hati. Aturan dijunjung tinggi, tetapi kasih diabaikan. Hukum dipelihara, tetapi manusia dilupakan.

Legalisme membuat iman menjadi kaku—semua diukur dengan benar atau salah menurut peraturan, tanpa kepekaan terhadap realitas hidup. Legalisme juga menumbuhkan kesombongan rohani, seolah keselamatan dapat diraih melalui ketaatan manusia, bukan anugerah Allah. Lebih dari itu, legalisme mengikis rasa kemanusiaan, hingga penderitaan orang lain tak lagi menyentuh hati.

Yesus datang membawa kasih karunia. Ia tidak meniadakan hukum, tetapi menggenapinya dengan kasih. Di hadapan-Nya, manusia lebih berharga daripada aturan. Pemulihan lebih utama daripada ritual. Dan kehidupan lebih mulia daripada tradisi.

Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah iman kita masih memberi ruang bagi belas kasih? Ataukah kita tanpa sadar lebih sibuk menjaga aturan, tetapi kehilangan hati Kristus?

Marilah kita berjalan dalam terang kasih karunia, agar iman kita tidak hanya benar secara ajaran, tetapi juga hidup dalam kasih.

Refleksi Pribadi

  • Apakah saya lebih cepat menghakimi daripada mengasihi?

  • Apakah ketaatan saya membawa pemulihan bagi sesama?

Doa

Tuhan Yesus,
ampuni kami jika dalam ketaatan kami,
kami justru kehilangan kasih.
Lunakkan hati kami agar melihat sesama
seperti Engkau memandang mereka.
Ajari kami hidup dalam kasih karunia-Mu,
agar iman kami memulihkan, bukan melukai.
Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.