Yesus memberi kita teladan yang sangat jelas tentang keberanian membela kebenaran. Dalam perikop ini, situasi yang dihadapi-Nya tidaklah ringan. Ia sedang berada di tengah kemarahan para pemuka agama Yahudi. Ancaman kematian sudah nyata. Dalam kondisi seperti itu, kebanyakan orang tentu akan menghindar, menenangkan keadaan, atau setidaknya mengurangi perkataan yang bisa memicu konflik. Namun, Yesus tidak melakukannya.
Dengan penuh keberanian, Yesus justru menyatakan kebenaran tentang siapa diri-Nya. Ia menegaskan hubungan-Nya yang tak terpisahkan dengan Bapa. Apa yang dikerjakan Bapa, itulah yang dikerjakan Anak (ayat 19). Ia menyatakan kuasa untuk membangkitkan orang mati, otoritas untuk menghakimi, dan peran-Nya sebagai pemberi hidup kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (ayat 21–30). Semua perkataan itu adalah kebenaran ilahi—meskipun sangat berisiko.
Kebenaran itu tidak diterima dengan sukacita. Sebaliknya, kemarahan semakin memuncak. Bagi para pemuka agama, perkataan Yesus dianggap sebagai penghujatan. Sejak saat itu, niat untuk membunuh-Nya semakin kuat. Menyampaikan kebenaran memang tidak pernah bebas dari risiko. Sejarah iman mencatat banyak orang yang harus membayar mahal karena kesetiaan pada kebenaran—Yesus sendiri, para rasul, para bapa gereja, hingga orang-orang percaya di sepanjang zaman.
Renungan ini mengajak kita bercermin pada diri sendiri. Di tengah dunia yang sering menolak kebenaran firman Tuhan, bagaimana sikap kita? Apakah kita berani menyatakan kebenaran dengan kasih, atau justru memilih diam agar tidak disalahpahami? Apakah iman kita hanya bertahan saat nyaman, atau tetap teguh ketika ada risiko?
Mengikuti Yesus berarti siap berdiri di pihak kebenaran, bukan dengan sikap kasar atau penuh kebencian, tetapi dengan keberanian yang lahir dari ketaatan kepada Allah. Kiranya kita belajar melangkah bersama Kristus—maju tak gentar, membela yang benar, sekalipun itu menuntut pengorbanan.













