Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: yohanes 5
Tampilkan postingan dengan label yohanes 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yohanes 5. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian " Maju Tak Gentar, Membela yang Benar "

Keberanian membela kebenaran bersama Yesus berdasarkan Yohanes 5:19–47
Maju Tak Gentar, Membela yang Benar
Ada sebuah lagu perjuangan yang terkenal dengan lirik yang menggugah hati: “Maju tak gentar, membela yang benar.” Kalimat ini terdengar begitu tegas dan berani. Namun, jika direnungkan lebih dalam, muncul sebuah pertanyaan jujur dalam hati kita: apakah membela yang benar sungguh mudah dilakukan? Ataukah, dalam kenyataannya, kita sering memilih diam demi rasa aman?

Yesus memberi kita teladan yang sangat jelas tentang keberanian membela kebenaran. Dalam perikop ini, situasi yang dihadapi-Nya tidaklah ringan. Ia sedang berada di tengah kemarahan para pemuka agama Yahudi. Ancaman kematian sudah nyata. Dalam kondisi seperti itu, kebanyakan orang tentu akan menghindar, menenangkan keadaan, atau setidaknya mengurangi perkataan yang bisa memicu konflik. Namun, Yesus tidak melakukannya.

Dengan penuh keberanian, Yesus justru menyatakan kebenaran tentang siapa diri-Nya. Ia menegaskan hubungan-Nya yang tak terpisahkan dengan Bapa. Apa yang dikerjakan Bapa, itulah yang dikerjakan Anak (ayat 19). Ia menyatakan kuasa untuk membangkitkan orang mati, otoritas untuk menghakimi, dan peran-Nya sebagai pemberi hidup kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (ayat 21–30). Semua perkataan itu adalah kebenaran ilahi—meskipun sangat berisiko.

Kebenaran itu tidak diterima dengan sukacita. Sebaliknya, kemarahan semakin memuncak. Bagi para pemuka agama, perkataan Yesus dianggap sebagai penghujatan. Sejak saat itu, niat untuk membunuh-Nya semakin kuat. Menyampaikan kebenaran memang tidak pernah bebas dari risiko. Sejarah iman mencatat banyak orang yang harus membayar mahal karena kesetiaan pada kebenaran—Yesus sendiri, para rasul, para bapa gereja, hingga orang-orang percaya di sepanjang zaman.

Renungan ini mengajak kita bercermin pada diri sendiri. Di tengah dunia yang sering menolak kebenaran firman Tuhan, bagaimana sikap kita? Apakah kita berani menyatakan kebenaran dengan kasih, atau justru memilih diam agar tidak disalahpahami? Apakah iman kita hanya bertahan saat nyaman, atau tetap teguh ketika ada risiko?

Mengikuti Yesus berarti siap berdiri di pihak kebenaran, bukan dengan sikap kasar atau penuh kebencian, tetapi dengan keberanian yang lahir dari ketaatan kepada Allah. Kiranya kita belajar melangkah bersama Kristus—maju tak gentar, membela yang benar, sekalipun itu menuntut pengorbanan.

Doa
Tuhan Yesus, terima kasih atas teladan keberanian-Mu dalam menyatakan kebenaran. Kami mengakui, sering kali kami takut ditolak, disalahpahami, atau kehilangan kenyamanan. Ampunilah kami. Berikan kami hati yang taat, iman yang teguh, dan keberanian yang lahir dari kasih kepada-Mu. Tolong kami agar mampu hidup setia, menyatakan kebenaran firman-Mu dalam sikap dan perkataan kami setiap hari. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Share:

Renungan Harian " Bahaya Legalisme Agama "

Yesus menyembuhkan orang lumpuh di Betesda pada hari Sabat
Bahaya Legalisme Agama
Tiga puluh delapan tahun lamanya seorang pria terbaring lumpuh di tepi kolam Betesda. Ia menunggu pertolongan, namun tidak pernah ada seorang pun yang membantunya. Harapannya kian menipis—sampai Yesus datang menghampirinya. Dengan satu perintah sederhana, hidupnya dipulihkan: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

Mukjizat terjadi. Namun sukacita itu segera dibungkam oleh kemarahan para pemuka agama. Bukan karena seorang lumpuh telah disembuhkan, melainkan karena peristiwa itu terjadi pada hari Sabat. Bagi mereka, aturan lebih penting daripada pemulihan manusia. Bahkan, karena peristiwa itu, mereka mulai merencanakan pembunuhan terhadap Yesus.

Di sinilah wajah kelam legalisme agama terlihat. Ketaatan pada hukum berubah menjadi belenggu yang membutakan hati. Aturan dijunjung tinggi, tetapi kasih diabaikan. Hukum dipelihara, tetapi manusia dilupakan.

Legalisme membuat iman menjadi kaku—semua diukur dengan benar atau salah menurut peraturan, tanpa kepekaan terhadap realitas hidup. Legalisme juga menumbuhkan kesombongan rohani, seolah keselamatan dapat diraih melalui ketaatan manusia, bukan anugerah Allah. Lebih dari itu, legalisme mengikis rasa kemanusiaan, hingga penderitaan orang lain tak lagi menyentuh hati.

Yesus datang membawa kasih karunia. Ia tidak meniadakan hukum, tetapi menggenapinya dengan kasih. Di hadapan-Nya, manusia lebih berharga daripada aturan. Pemulihan lebih utama daripada ritual. Dan kehidupan lebih mulia daripada tradisi.

Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah iman kita masih memberi ruang bagi belas kasih? Ataukah kita tanpa sadar lebih sibuk menjaga aturan, tetapi kehilangan hati Kristus?

Marilah kita berjalan dalam terang kasih karunia, agar iman kita tidak hanya benar secara ajaran, tetapi juga hidup dalam kasih.

Refleksi Pribadi

  • Apakah saya lebih cepat menghakimi daripada mengasihi?

  • Apakah ketaatan saya membawa pemulihan bagi sesama?

Doa

Tuhan Yesus,
ampuni kami jika dalam ketaatan kami,
kami justru kehilangan kasih.
Lunakkan hati kami agar melihat sesama
seperti Engkau memandang mereka.
Ajari kami hidup dalam kasih karunia-Mu,
agar iman kami memulihkan, bukan melukai.
Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.