Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: Yohanes 8
Tampilkan postingan dengan label Yohanes 8. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yohanes 8. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian "Dihina? Tidak Masalah!"

Yesus dihina namun tetap setia menyatakan kebenaran dalam Yohanes 8:48–59
Dihina? Tidak Masalah!
Tidak semua kebenaran akan diterima dengan baik. Bahkan, kebenaran yang datang langsung dari Allah pun bisa ditolak, dicemooh, dan dihina. Itulah yang Yesus alami dalam perikop ini.

Orang-orang Yahudi menanggapi perkataan Yesus bukan dengan kerendahan hati, melainkan dengan penghinaan. Mereka menyebut Yesus sebagai orang Samaria dan menuduh-Nya kerasukan setan. Tuduhan itu bukan sekadar kata-kata kasar, tetapi lahir dari hati yang menutup diri terhadap kebenaran. Hati yang keras akan selalu mencari alasan untuk menolak terang.

Namun, perhatikan sikap Yesus. Ia tidak membalas hinaan dengan hinaan. Ia tidak terpancing emosi. Dengan tegas dan jujur, Yesus menyatakan bahwa Ia menghormati Allah, dan justru merekalah yang tidak menghormati Allah karena menolak firman-Nya. Yesus tidak sedang membela diri, melainkan tetap menyatakan kebenaran—bahkan kepada mereka yang membenci-Nya.

Yesus terus memberitakan keselamatan, walau penolakan demi penolakan Ia terima. Ia menegaskan bahwa mereka sebenarnya tidak mengenal Allah, berbeda dengan Abraham yang bersukacita melihat penggenapan janji Allah. Kebenaran itu tidak membuat mereka bertobat, tetapi justru semakin memicu kemarahan hingga mereka hendak melempari Yesus dengan batu.

Renungan ini mengajak kita bercermin:
Bagaimana sikap kita ketika iman kita dihina?
Apakah kita mudah tersulut emosi, atau justru memilih tetap setia dan bersaksi melalui hidup kita?

Menghidupi firman Tuhan sering kali tidak mudah. Cemooh, penolakan, dan hinaan bisa datang dari siapa saja. Namun, seperti Yesus, panggilan kita bukan untuk membalas, melainkan untuk tetap hidup dalam kebenaran. Sebab, orang yang sungguh mengenal Allah tidak akan berhenti melakukan kehendak-Nya, sekalipun harus berjalan di jalan yang sempit.

Mari kita belajar untuk tidak membiarkan hinaan memadamkan kesaksian kita. Ketika iman direndahkan, kita justru dipanggil untuk semakin rendah hati, berdoa, dan menghadirkan kasih Kristus melalui perkataan dan tindakan kita. Kiranya hidup kita menjadi terang yang membawa dampak, bukan api yang membakar.

Doa

Tuhan Yesus,
Terima kasih atas teladan-Mu yang sempurna. Engkau tetap setia menyatakan kebenaran meski dihina dan ditolak. Ajarlah kami untuk memiliki hati yang lembut, iman yang teguh, dan kasih yang tidak mudah padam. Saat kami menghadapi cemooh karena iman kami, mampukan kami untuk tidak membalas dengan kemarahan, melainkan dengan kehidupan yang memuliakan nama-Mu. Tolong kami, melalui kuasa Roh Kudus, untuk terus hidup dalam pengenalan yang benar akan Allah dan setia melakukan kehendak-Nya.
Amin.

Share:

Renungan Harian "Warisi Iman, Bukan Sekadar Status"

Warisi iman sejati sebagai anak-anak Allah melalui ketaatan kepada Kristus
Warisi Iman, Bukan Sekadar Status
Pernahkah kita merasa lebih bernilai karena relasi, latar belakang, atau identitas tertentu yang kita miliki?

Tanpa disadari, kedekatan dengan orang yang berpengaruh atau status tertentu dapat membuat kita meninggikan diri. Hal serupa terjadi pada orang-orang Yahudi. Mereka begitu membanggakan identitas sebagai keturunan Abraham, seolah status itu otomatis menjamin hidup yang benar di hadapan Allah.

Yesus tidak menyangkal fakta bahwa mereka memang keturunan Abraham. Namun Yesus menyingkapkan kebenaran yang jauh lebih dalam: mereka tidak hidup seperti Abraham. Niat mereka untuk membunuh Yesus justru membuktikan bahwa mereka tidak mewarisi iman Abraham, bapa orang beriman itu.

Bagi Yesus, iman tidak diukur dari garis keturunan, tetapi dari hati dan ketaatan. Abraham dikenal bukan karena statusnya, melainkan karena ketaatannya kepada Allah. Ia mendengar firman Tuhan dan melakukannya. Sebaliknya, orang-orang Yahudi pada waktu itu menolak Yesus, tidak memahami perkataan-Nya, bahkan memusuhi Dia. Semua itu menunjukkan bahwa hati mereka jauh dari Allah.

Yesus dengan tegas menyatakan bahwa siapa yang berasal dari Allah pasti mendengarkan firman Allah. Ketidakmampuan mereka memahami dan menerima kebenaran bukan sekadar masalah intelektual, tetapi persoalan hati yang tertutup.

Renungan ini menantang kita untuk bercermin. Kita bisa saja memiliki identitas Kristen, aktif dalam pelayanan, dan dikenal sebagai orang beriman. Namun pertanyaannya: apakah kita sungguh mewarisi iman itu? Ataukah kita hanya hidup dari status rohani tanpa ketaatan?

Yesus menyatakan dua tanda yang jelas dari anak-anak Allah: mengasihi Yesus dan mendengarkan firman Allah. Kasih kepada Kristus akan nyata dalam kerinduan untuk taat, bukan sekadar mengaku percaya.

Sebagai “keturunan Abraham” secara rohani, kita dipanggil untuk hidup dalam iman yang sama—iman yang taat, rendah hati, dan bersandar penuh kepada Allah. Bukan status yang menyelamatkan kita, melainkan iman yang hidup dan bertumbuh dalam ketaatan kepada Kristus.

Doa

Tuhan Allah Bapa kami,
ampuni kami bila kami sering membanggakan status rohani
namun lalai hidup dalam ketaatan.
Ajarlah kami untuk tidak hanya mengaku sebagai anak-anak-Mu,
tetapi sungguh-sungguh mewarisi iman yang hidup.
Tolong kami mengasihi Yesus dengan segenap hati
dan memberi telinga yang taat kepada firman-Mu.
Bentuklah hidup kami agar iman kami nyata dalam perbuatan,
dan kami semakin serupa dengan Kristus.
Amin.

Share:

Renungan Harian "Percaya dan Taat: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati"

Percaya dan taat kepada Kristus membawa kemerdekaan sejati dari dosa
Percaya dan Taat: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati
Percaya kepada Kristus bukanlah garis akhir dalam kehidupan iman—justru itulah langkah pertama dari sebuah perjalanan yang panjang.

Banyak orang pada waktu itu percaya kepada Yesus setelah mendengar perkataan-Nya. Secara lahiriah, iman mereka tampak nyata. Namun Yesus tidak berhenti pada pengakuan percaya saja. Ia mengajak mereka melangkah lebih jauh: tinggal di dalam firman-Nya, hidup dalam kebenaran, dan mengalami kemerdekaan sejati.

Sayangnya, kata kemerdekaan justru menimbulkan keberatan. Sebagai keturunan Abraham, mereka merasa tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Mereka mengira Yesus sedang berbicara tentang status sosial dan identitas lahiriah. Padahal Yesus sedang menyingkapkan realitas yang jauh lebih dalam: perbudakan dosa yang tidak disadari manusia.

Yesus menegaskan bahwa siapa pun yang berbuat dosa adalah hamba dosa. Pernyataan ini bukan hanya untuk orang-orang pada zaman itu, tetapi juga untuk kita hari ini. Kita bisa saja mengaku percaya, aktif beribadah, dan merasa diri “baik-baik saja,” namun tanpa ketaatan kepada firman Tuhan, kita masih hidup dalam belenggu yang sama.

Hanya Yesus yang sanggup memerdekakan manusia dari dosa. Kemerdekaan yang Ia tawarkan bukan sekadar kebebasan lahiriah, melainkan pembebasan batin—hidup yang diubahkan dari dalam ke luar.

Renungan ini mengajak kita bercermin dengan jujur. Berapa kali kita merasa tersinggung oleh teguran firman Tuhan? Berapa kali kita berpikir bahwa firman itu untuk orang lain, bukan untuk diri kita? Alih-alih taat, kita justru berdebat dan mempertahankan diri.

Padahal tujuan kita percaya kepada Kristus adalah supaya kita sungguh-sungguh merdeka. Merdeka dari dosa, dari ego, dan dari kehidupan lama. Kemerdekaan sejati itu hanya dapat dialami oleh hati yang rendah, yang mau dibentuk dan diubahkan oleh kebenaran firman Tuhan.

Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk melangkah lebih jauh—dari sekadar percaya, menuju hidup yang taat.

Doa

Tuhan Yesus,
kami bersyukur karena Engkau telah memanggil kami untuk percaya kepada-Mu.
Namun kami mengakui, sering kali kami berhenti pada pengakuan iman saja.
Ampuni kami bila kami menolak ditegur dan enggan diubahkan.
Ajarlah kami untuk tinggal dalam firman-Mu,
taat kepada kebenaran-Mu, dan mengalami kemerdekaan sejati di dalam Engkau.
Rendahkan hati kami agar hidup kami semakin serupa dengan Kristus.
Amin.

Share:

Renungan Harian "Percaya kepada Kristus: Lebih dari Sekadar Tahu"

Percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat di tengah pergumulan hidup
Percaya kepada Kristus: Lebih dari Sekadar Tahu
Pernahkah kita berhadapan dengan orang yang sulit percaya kepada Allah—atau jangan-jangan, pernahkah kita sendiri berada di posisi itu?

Ada kalanya pikiran dan logika manusia begitu mendominasi, hingga kasih karunia Allah terasa sulit diterima. Firman Tuhan mungkin sering terdengar, ayat-ayat Alkitab mungkin akrab di telinga, tetapi hati tetap tertutup. Itulah yang dialami oleh para pemuka Yahudi ketika mereka mendengar perkataan Yesus tentang diri-Nya.

Ketika Yesus berbicara tentang tempat ke mana Ia akan pergi, mereka justru salah paham. Pikiran mereka terikat pada cara pandang duniawi, sehingga mereka mengira Yesus sedang berbicara tentang kematian karena bunuh diri. Padahal, Yesus sedang menyatakan kebenaran yang jauh lebih dalam: Ia berasal dari surga, bukan dari dunia ini.

Yesus tidak lelah menjelaskan siapa diri-Nya dan apa konsekuensi dari ketidakpercayaan kepada-Nya. Namun, dosa telah membutakan mata rohani mereka. Meskipun penjelasan diberikan berulang kali, mereka tetap bertanya, “Siapakah Engkau?” Bukan karena Yesus tidak jelas, tetapi karena hati mereka tidak mau percaya.

Yesus kemudian menyatakan bahwa akan datang waktunya mereka mengenal siapa Dia sebenarnya—saat Anak Manusia ditinggikan. Salib yang bagi dunia adalah kebodohan, justru menjadi titik terang pengenalan akan Allah. Di sanalah kasih dan kebenaran Allah dinyatakan sepenuhnya.

Renungan ini mengajak kita bercermin. Dosa juga bisa membutakan mata rohani kita. Kita bisa saja aktif secara keagamaan, tetapi belum sungguh percaya. Namun, kasih karunia Allah bekerja menembus kebutaan itu, memampukan kita mengenal Kristus dan menerima keselamatan kekal di dalam Dia.

Percaya kepada Kristus bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan sikap hidup. Percaya berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya, hidup dalam ketaatan, dan tetap berpegang pada firman-Nya di tengah kebimbangan, penderitaan, dan ketidakpastian hidup.

Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
Apakah iman kita hanya sebatas rutinitas rohani, atau sungguh-sungguh bersandar kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat?

Doa

Tuhan Yesus Kristus,
kami mengakui bahwa sering kali kami lebih mengandalkan logika daripada iman.
Ampuni kami bila hati kami tertutup dan lambat percaya kepada firman-Mu.
Bukalah mata rohani kami agar kami sungguh mengenal Engkau,
percaya kepada-Mu sepenuh hati, dan hidup dalam ketaatan.
Teguhkan iman kami di saat hidup terasa sulit dan penuh pergumulan.
Ajarlah kami menjalani hidup bukan sekadar ritual,
melainkan sebagai ungkapan iman yang sejati kepada-Mu.
Amin.

Share:

Renungan Harian "Ketika Terang Tuhan Diragukan"

Yesus Terang Dunia menerangi jalan hidup orang percaya di tengah kegelapan
Ketika Terang Tuhan Diragukan
Pernahkah kita diam-diam meragukan firman Tuhan?

Di tengah dunia yang terus maju dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia semakin terbiasa menuntut bukti. Segala sesuatu ingin diukur, diuji, dan dipastikan secara logis. Tanpa disadari, pola pikir ini sering kali kita bawa juga ke dalam kehidupan iman. Firman Tuhan pun akhirnya diperlakukan seperti teori yang harus dibuktikan sebelum dipercaya.

Itulah yang terjadi pada orang-orang Farisi ketika Yesus berkata, “Akulah terang dunia.” Mereka tidak serta-merta percaya. Bagi mereka, kesaksian Yesus tentang diri-Nya sendiri belum cukup. Mereka menuntut pembuktian sesuai standar manusia, seolah kebenaran ilahi harus tunduk pada ukuran logika yang terbatas.

Namun Yesus menyingkapkan satu kenyataan penting: manusia yang hidup dalam kegelapan dosa tidak mungkin mampu menilai terang dengan benar. Dalam kegelapan, penglihatan menjadi kabur. Kebenaran dan kepalsuan sulit dibedakan. Bukan karena terang itu lemah, melainkan karena mata manusia tidak sanggup melihatnya tanpa pertolongan Allah.

Refleksi ini juga menyentuh hidup kita hari ini. Ketika keadaan berjalan baik, kita mudah berkata bahwa firman Tuhan itu benar. Namun saat doa terasa tidak terjawab, saat penderitaan datang silih berganti, atau ketika realitas hidup tidak sejalan dengan harapan, keraguan pun mulai menyelinap. Kita bertanya dalam hati: “Benarkah firman Tuhan masih dapat dipegang?”

Keraguan itu sesungguhnya mengungkapkan keterbatasan kita. Kita membutuhkan terang yang sejati—bukan sekadar penjelasan, melainkan Pribadi yang menerangi hidup. Yesus Kristus, Sang Terang Dunia, bukan hanya memberi jawaban yang benar, tetapi juga menunjukkan jalan yang benar. Ia tidak sekadar menghibur, tetapi menuntun. Ia tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga mengubahkan.

Dunia mungkin menawarkan kenyataan hidup yang masuk akal dan tampak meyakinkan, tetapi sering kali justru menjauhkan kita dari kasih karunia Allah. Sebaliknya, Kristus membawa kita berjalan dalam terang-Nya, meskipun jalannya tidak selalu mudah. Di sanalah kita dibentuk, dimurnikan, dan dibuat semakin serupa dengan Dia.

Hari ini, kita diajak untuk kembali percaya. Bukan karena apa yang dapat kita buktikan, melainkan karena apa yang Allah nyatakan tentang diri-Nya melalui firman-Nya. Terang itu tidak pernah berubah—yang perlu dibaharui adalah hati kita yang mau membuka diri untuk diterangi.

Doa

Tuhan Yesus, Sang Terang Dunia,
ampuni kami bila kami sering meragukan firman-Mu, terutama saat hidup terasa berat dan gelap.
Kami mengakui keterbatasan kami dalam memahami kebenaran-Mu.
Terangilah hati dan pikiran kami, agar kami belajar percaya bukan karena bukti yang kami tuntut,
melainkan karena kesetiaan-Mu yang nyata melalui firman-Mu.
Tuntunlah langkah kami untuk terus berjalan dalam terang-Mu
dan ubahkan hidup kami agar semakin serupa dengan Engkau.
Amin.

Share:

Renungan Harian " Jangan Terlalu Cepat Menghakimi "

Yesus mengajarkan kasih dan pengampunan kepada perempuan yang berdosa

Jangan Terlalu Cepat Menghakimi
Yohanes 7:53–8:11
Menghakimi sering kali terasa begitu mudah. Saat kita melihat kesalahan orang lain, lidah dan pikiran kita cepat bereaksi. Namun ketika kita sendiri jatuh dalam dosa, pengakuan justru terasa berat. Kita sibuk menunjuk keluar, tetapi enggan menoleh ke dalam diri. Tanpa disadari, kita menjadi lebih keras terhadap sesama daripada terhadap diri sendiri.

Kisah yang kita baca hari ini memperlihatkan sekelompok orang Yahudi dan orang-orang Farisi yang membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berzina. Tujuan mereka bukan semata-mata menegakkan hukum, melainkan menjebak Yesus. Mereka berharap Yesus terpeleset dalam jawaban-Nya sehingga dapat dijadikan alasan untuk menjatuhkan-Nya.

Namun respons Yesus sungguh mengejutkan. Ia tidak terpancing emosi, tidak terburu-buru menghakimi, dan tidak pula mengabaikan hukum. Dengan penuh hikmat dan kasih, Yesus berkata, “Siapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” Kata-kata itu menusuk hati setiap orang yang hadir. Satu per satu mereka pergi, sadar bahwa tidak seorang pun layak berdiri sebagai hakim mutlak.

Yesus kemudian menatap perempuan itu dan memberinya kesempatan baru. Ia tidak membenarkan dosanya, tetapi juga tidak menghancurkan hidupnya. “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi.” Di sini kita melihat keseimbangan yang indah antara kebenaran dan kasih. Hukuman tidak dijadikan alat mempermalukan, tetapi pertobatan ditawarkan sebagai jalan pemulihan.

Kisah ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: seberapa sering kita menjadi seperti orang-orang Farisi itu? Cepat bereaksi, cepat menghakimi, tetapi lambat mengintrospeksi diri. Tuhan tidak melarang kita menegur kesalahan, tetapi Ia mengingatkan agar teguran lahir dari hati yang rendah, penuh kasih, dan bertujuan memulihkan—bukan menjatuhkan.

Hari ini, mari kita belajar menghabiskan lebih banyak waktu untuk bercermin pada diri sendiri. Sebelum menunjuk kesalahan orang lain, biarlah firman Tuhan terlebih dahulu menegur hati kita. Sebab orang yang menyadari betapa besar pengampunan yang ia terima, akan lebih mudah mengampuni dan bersikap bijaksana terhadap sesamanya.

Doa

Tuhan Yesus yang penuh kasih,
ampuni kami bila kami terlalu cepat menghakimi sesama
namun lambat mengakui dosa kami sendiri.
Lembutkan hati kami agar mampu melihat orang lain
dengan kasih dan belas kasihan-Mu.
Ajarlah kami menegur dengan hikmat,
bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk memulihkan.
Ubahlah hati kami agar semakin serupa dengan hati-Mu.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.