Orang-orang Yahudi menanggapi perkataan Yesus bukan dengan kerendahan hati, melainkan dengan penghinaan. Mereka menyebut Yesus sebagai orang Samaria dan menuduh-Nya kerasukan setan. Tuduhan itu bukan sekadar kata-kata kasar, tetapi lahir dari hati yang menutup diri terhadap kebenaran. Hati yang keras akan selalu mencari alasan untuk menolak terang.
Namun, perhatikan sikap Yesus. Ia tidak membalas hinaan dengan hinaan. Ia tidak terpancing emosi. Dengan tegas dan jujur, Yesus menyatakan bahwa Ia menghormati Allah, dan justru merekalah yang tidak menghormati Allah karena menolak firman-Nya. Yesus tidak sedang membela diri, melainkan tetap menyatakan kebenaran—bahkan kepada mereka yang membenci-Nya.
Yesus terus memberitakan keselamatan, walau penolakan demi penolakan Ia terima. Ia menegaskan bahwa mereka sebenarnya tidak mengenal Allah, berbeda dengan Abraham yang bersukacita melihat penggenapan janji Allah. Kebenaran itu tidak membuat mereka bertobat, tetapi justru semakin memicu kemarahan hingga mereka hendak melempari Yesus dengan batu.
Renungan ini mengajak kita bercermin:
Bagaimana sikap kita ketika iman kita dihina?
Apakah kita mudah tersulut emosi, atau justru memilih tetap setia dan bersaksi melalui hidup kita?
Menghidupi firman Tuhan sering kali tidak mudah. Cemooh, penolakan, dan hinaan bisa datang dari siapa saja. Namun, seperti Yesus, panggilan kita bukan untuk membalas, melainkan untuk tetap hidup dalam kebenaran. Sebab, orang yang sungguh mengenal Allah tidak akan berhenti melakukan kehendak-Nya, sekalipun harus berjalan di jalan yang sempit.
Mari kita belajar untuk tidak membiarkan hinaan memadamkan kesaksian kita. Ketika iman direndahkan, kita justru dipanggil untuk semakin rendah hati, berdoa, dan menghadirkan kasih Kristus melalui perkataan dan tindakan kita. Kiranya hidup kita menjadi terang yang membawa dampak, bukan api yang membakar.
Amin.
















