Renungan Harian " Kikis Ketamakan, Tumbuhkan Kepedulian! "
Ulangan 26 mengingatkan umat Tuhan tentang persembahan sulung, persepuluhan, dan janji berkat Allah. Namun di balik aturan-aturan itu, Tuhan sedang membentuk hati umat-Nya. Ia tidak sekadar mengatur apa yang harus diberikan, melainkan mengajar bagaimana cara memandang berkat.
Persembahan sulung dan persepuluhan adalah pengakuan iman: bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan. Hasil tanah, jerih lelah, dan keberhasilan bukan semata-mata hasil kemampuan manusia, melainkan anugerah Allah yang memelihara hidup. Karena itu, persembahan tidak berhenti di mezbah, tetapi mengalir kepada mereka yang membutuhkan—orang Lewi, orang asing, anak yatim, dan janda.
Tuhan dengan sengaja menempatkan kelompok-kelompok rentan ini sebagai penerima berkat. Mereka yang tidak memiliki tanah, perlindungan, atau penopang hidup diingatkan oleh Tuhan agar tidak diabaikan. Melalui umat-Nya, Tuhan memelihara mereka. Dengan kata lain, kepedulian adalah wujud nyata dari iman yang hidup.
Firman ini juga menegur ketamakan. Ketamakan bukan sekadar soal memiliki banyak, tetapi soal hati yang tertutup. Ketika seseorang menjadi tamak, ia merasa semua yang dimiliki adalah hasil jerih payahnya sendiri dan layak dinikmati sendiri. Di situlah kepedulian mati. Ketamakan dan kepedulian tidak pernah bisa berjalan bersama.
Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Apakah aku masih peka terhadap kebutuhan orang lain?
Apakah aku melihat berkat hanya sebagai milikku, atau sebagai titipan Tuhan?
Tuhan menyediakan banyak “wadah” untuk menumbuhkan kepedulian—gereja, pelayanan, dan orang-orang yang Tuhan hadirkan di sekitar kita. Dalam setiap rezeki yang kita terima, selalu ada bagian yang Tuhan titipkan untuk orang lain. Ketika kita belajar memberi, kita sedang dibebaskan dari ketamakan dan dilatih untuk hidup serupa dengan hati Tuhan.
Ajari kami untuk bersyukur dan tidak terikat pada harta.
Bersihkan hati kami dari ketamakan,
dan tumbuhkan kepedulian yang nyata kepada sesama.
Pakai hidup kami menjadi saluran berkat,
agar nama-Mu dimuliakan melalui apa yang kami miliki.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Renungan Harian " Kikis Kecurangan, Tegakkan Kejujuran! "
Berita tentang korupsi, penipuan, dan kecurangan seakan tidak pernah berhenti mengisi ruang hidup kita. Hampir setiap hari kita disuguhi kisah tentang cara-cara licik demi keuntungan pribadi. Lambat laun, kecurangan terasa seperti sesuatu yang biasa—bahkan dianggap “pintar” oleh sebagian orang.
Namun firman Tuhan hari ini dengan tegas mengingatkan: hidup umat Allah tidak boleh berjalan di jalur yang sama dengan dunia. Ulangan 25 berbicara tentang keadilan dalam perselisihan, kejujuran dalam mencari rezeki, tanggung jawab terhadap sesama, dan peringatan agar tidak meniru kejahatan Amalek. Semuanya mengarah pada satu pesan utama: kecurangan harus dikikis, kejujuran harus ditegakkan.
Timbangan dan efa menjadi gambaran nyata. Alat ukur yang seharusnya menjamin keadilan justru sering dipakai untuk menipu demi keuntungan lebih. Cara-cara seperti itu mungkin menghasilkan banyak dalam waktu singkat, tetapi meninggalkan luka yang dalam—di hati nurani, dalam relasi, dan di hadapan Tuhan.
Firman ini mengajak kita bercermin:
Apakah ada cara-cara tidak jujur yang tanpa sadar kita toleransi?
Apakah ada keuntungan kecil yang kita anggap sepele, padahal tidak benar?
Tuhan mengingatkan kita bahwa rezeki yang diperoleh dengan kecurangan tidak pernah membawa damai. Bahkan, Ia mengaitkan kejujuran dengan masa depan keluarga. Anak-anak kita bukan hanya membutuhkan makanan, tetapi juga teladan hidup yang benar. Rezeki yang jujur mungkin tampak sederhana, tetapi membawa ketenteraman dan berkat yang utuh.
Hari ini, Tuhan memanggil kita untuk berani hidup berbeda. Mengikis kebiasaan curang, sekalipun itu sudah menjadi budaya. Menegakkan kejujuran, meski harus membayar harga. Inilah jalan hidup yang berkenan kepada Tuhan dan memerdekakan hati.
Bersihkan hati dan pikiran kami dari keinginan mencari keuntungan dengan cara yang tidak benar.
Ajari kami hidup jujur dalam setiap kesempatan,
agar hidup kami menjadi berkat bagi keluarga, sesama, dan memuliakan nama-Mu.
Mampukan kami berdiri teguh dalam kebenaran,
meski dunia memilih jalan yang lain.
Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Renungan Harian : Menumbuhkan Kepekaan
Pernahkah kita menyadari bahwa setiap keberuntungan yang kita miliki hari ini sering kali membuat kita lupa pada rasa sakit di masa lalu? Di dalam Ulangan 24, Tuhan tidak sekadar memberikan sederet aturan hukum yang kaku. Ia sedang membisikkan sebuah pengingat lembut bagi jiwa kita: "Ingatlah, engkau pun dahulu adalah budak di Mesir."
Refleksi Keheningan: Antara Batu Kilangan dan Napas Sesama Tuhan melarang umat-Nya mengambil "batu kilangan" sebagai jaminan hutang. Mengapa? Karena bagi mereka yang kekurangan, batu itu adalah alat penyambung nyawa untuk mengolah makanan. Mengambilnya berarti merampas hak seseorang untuk bertahan hidup.
Sering kali, tanpa sadar kita melakukan hal yang sama. Kita mengejar keuntungan maksimal, menuntut hak kita secara penuh, hingga tak sengaja "mengambil batu kilangan" orang lain—mungkin dalam bentuk memotong upah, menunda pembayaran, atau sekadar menutup mata terhadap lingkungan sekitar demi kenyamanan pribadi. Kita begitu sibuk mempercantik "bait" dan menimbun saldo, hingga lupa bahwa fungsi utama kita adalah menjadi saluran berkat, bukan wadah penampung yang egois.
Menyisakan "Sudut Ladang" di Hati Kita Tuhan juga meminta agar saat panen tiba, janganlah kita mengambil semuanya hingga bersih. Sisakanlah sedikit bagi mereka yang asing, yatim, dan janda. Ini bukan tentang sisa-sisa yang tak berharga, melainkan tentang ruang di dalam hati.
Apakah di dalam rencana keuangan kita, di dalam waktu kita, dan di dalam ambisi kita, masih ada ruang bagi "orang-orang miskin" yang Tuhan tempatkan di sekitar kita? Ataukah ladang hidup kita sudah begitu bersih dipanen oleh keserakahan, sehingga tak ada lagi remah kasih yang bisa dipungut oleh mereka yang lapar?
Sebuah Respon Pribadi Sahabat, mari sejenak melihat ke dalam:
Sudahkah gereja atau diri kita sendiri hanya menjadi "megah di dalam," namun "asing bagi lingkungan sekitar"?
Adakah "batu kilangan" milik sesama yang tanpa sengaja sedang kita genggam erat hari ini?
Kepekaan tidak lahir dari kelimpahan, tetapi dari ingatan akan anugerah. Kita bisa memberi karena kita sadar bahwa kita pun pernah berada di "Mesir" dan Tuhanlah yang membebaskan kita.
Doa untuk Menumbuhkan Empati
Ya Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan, Terima kasih telah mengingatkanku melalui firman-Mu hari ini. Ampuni aku jika selama ini hatiku mulai mengeras oleh keserakahan dan kenyamanan duniawi. Aku sering lupa bahwa semua yang kumiliki adalah titipan-Mu untuk dibagikan, bukan untuk ditimbun.
Lembutkanlah hatiku, ya Bapa. Berikan aku mata yang mampu melihat penderitaan sesamaku, dan tangan yang ringan untuk mengulurkan bantuan. Mampukan aku untuk menyisakan "sudut ladang" dalam hidupku bagi mereka yang membutuhkan. Biarlah hidupku—dan gereja-Mu—tidak hanya menjadi terang di atas mimbar, tetapi menjadi pelayan yang nyata di tengah kegelapan dunia.
Ajari aku untuk setia menghargai nyawa dan martabat sesama lebih dari sekadar materi. Biarlah belas kasihan-Mu mengalir melaluiku hari ini.
Amin.














