Yesus menanggapi sikap itu dengan tegas namun penuh kasih. Ia menyatakan bahwa ajaran-Nya berasal dari Bapa yang mengutus-Nya. Lalu Ia menegur cara berpikir mereka: “Jangan menghakimi menurut apa yang tampak, tetapi hakimilah dengan adil.” Perkataan ini menembus batas waktu dan berbicara langsung ke hati kita hari ini.
Menghakimi sering kali lahir dari kesan sepintas, informasi yang tidak utuh, atau prasangka pribadi. Dalam bahasa aslinya, kata krino berarti menilai, membedakan, bahkan menghukum. Yesus tidak melarang kita untuk menilai, karena dalam hidup kita memang harus membedakan mana yang benar dan salah. Namun Ia memperingatkan agar kita tidak terburu-buru menjatuhkan vonis tanpa hikmat dan keadilan.
Bukankah kita sering jatuh dalam jebakan ini? Kita cepat menyimpulkan, mudah menyalahkan, dan lambat memahami. Kita melihat tindakan seseorang, tetapi tidak mengenal pergumulannya. Kita mendengar satu cerita, lalu membangun penghakiman tanpa mencari kebenaran secara utuh.
Renungan ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri:
Apakah aku lebih sering menghakimi daripada mengasihi?
Apakah penilaianku lahir dari hikmat Tuhan atau dari emosiku sendiri?
Sebagai anak-anak Tuhan, panggilan kita bukan untuk mempermalukan atau menjatuhkan, melainkan menyadarkan dan membangun. Menegur dalam kasih jauh lebih sulit daripada menghakimi, tetapi di situlah iman kita diuji. Ketika kita terlalu sibuk menilai orang lain, sering kali kita kehilangan waktu untuk mengasihi mereka.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk memiliki mata yang jernih dan hati yang lembut—mampu menilai dengan bijak, menegur dengan kasih, dan berjalan dalam kebenaran bersama-sama.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar