Yesus tidak langsung menjawab permintaannya. Ia terlebih dahulu menyentuh bagian hidup yang paling tersembunyi. Dengan kasih dan kejujuran, Yesus menyatakan bahwa Ia mengenal seluruh kehidupannya. Bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyembuhkan. Di hadapan kemahatahuan Yesus, perempuan itu tersadar: ia sedang berjumpa dengan Pribadi yang melampaui logika dan pengertiannya. Dari sanalah pengakuan lahir—Yesus adalah Nabi.
Kemudian Yesus membawa percakapan itu lebih dalam. Ia memperkenalkan ibadah yang sejati. Bukan lagi soal tempat—Yerusalem atau Gunung Gerizim—melainkan soal hati yang mengenal siapa yang disembah. Allah tidak jauh dan terikat ruang. Allah hadir. Ia berdiri tepat di hadapan perempuan Samaria itu, berbicara, mendengar, dan mengasihi.
Di puncak percakapan itu, Yesus melakukan sesuatu yang sangat jarang Ia lakukan: Ia menyatakan diri-Nya sebagai Mesias. Kepada seorang perempuan Samaria—yang dipandang rendah oleh masyarakat—Yesus membuka identitas-Nya dengan jelas. Ini adalah undangan kasih bagi setiap orang yang haus akan kebenaran dan hidup baru.
Yesus yang sama juga hadir dalam hidup kita hari ini. Ia mengenal seluruh kisah kita, bahkan yang paling ingin kita sembunyikan. Ia tidak menunggu kita sempurna untuk beribadah, tetapi mengundang kita datang dengan hati yang terbuka.
Refleksi Pribadi
-
Apakah saya berani membiarkan Yesus menyentuh bagian hidup yang selama ini saya sembunyikan?
-
Apakah ibadah saya hanya rutinitas, atau perjumpaan nyata dengan Tuhan yang hadir?
Doa
Tuhan Yesus,
Engkau mengenal hidup kami sepenuhnya,
namun tetap menyapa kami dengan kasih.
Ajarlah kami beribadah dalam roh dan kebenaran,
bukan hanya dengan kata, tetapi dengan seluruh hidup.
Nyatakanlah diri-Mu terus dalam perjalanan iman kami.
Amin.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar