Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian "Motivasi Mencari Yesus"

Orang banyak mencari Yesus dengan berbagai motivasi di Kapernaum
Motivasi Mencari Yesus
Setelah peristiwa pelipatgandaan roti, orang banyak dengan penuh semangat mencari Yesus. Mereka menyeberang ke Kapernaum, berusaha menemukan-Nya. Dari luar, kegigihan mereka tampak mengagumkan. Namun Injil Yohanes mengajak kita melihat lebih dalam: apa sebenarnya motivasi mereka mencari Yesus?

Jika kita mencermati kisah sebelum dan sesudah bagian ini, menjadi jelas bahwa banyak orang mencari Yesus bukan karena ingin mengenal-Nya secara pribadi, melainkan karena roti yang mengenyangkan dan mukjizat yang memuaskan kebutuhan mereka. Mereka mencari Yesus bukan sebagai Tuhan yang disembah, tetapi sebagai pemberi berkat yang diharapkan.

Kisah ini menjadi cermin yang jujur bagi iman kita hari ini. Kita pun hidup di zaman di mana orang mudah datang mencari Tuhan karena alasan-alasan tertentu: ingin mengalami mujizat, memperoleh pertolongan, menikmati suasana ibadah yang meriah, atau sekadar mengikuti keramaian. Tidak semuanya salah, tetapi pertanyaannya tetap sama: apakah Yesus yang kita cari, ataukah berkat-Nya saja?

Renungan ini mengajak kita berhenti sejenak dan memeriksa hati. Apakah relasi kita dengan Tuhan masih bersifat transaksional—datang ketika butuh, pergi ketika merasa cukup? Ataukah kita sungguh rindu berjumpa dengan-Nya, mendengarkan suara-Nya, dan mengenal hati-Nya?

Santo Agustinus pernah menulis bahwa hati manusia tidak akan pernah tenang sampai ia beristirahat di dalam Tuhan. Kalimat ini mengingatkan kita bahwa sejak semula hidup kita diciptakan untuk relasi dengan Allah. Tidak ada berkat, mukjizat, atau pengalaman rohani apa pun yang dapat menggantikan perjumpaan sejati dengan Dia.

Mencari Yesus berarti datang kepada-Nya dengan hati yang sederhana—bukan untuk memakai Tuhan demi kepentingan diri, melainkan untuk mengasihi dan dikenal oleh-Nya. Dalam relasi yang tulus itulah, jiwa menemukan ketenangan sejati.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Mengapa aku mencari Tuhan?
Apa yang paling aku harapkan ketika datang kepada-Nya?
Apakah aku siap tetap setia meski tanpa mujizat yang kulihat?

Doa
Tuhan Yesus, kami mengakui bahwa sering kali motivasi kami mencari Engkau tidak murni. Kami datang karena kebutuhan, bukan karena kerinduan akan Engkau sendiri. Ampuni kami. Bentuklah hati kami agar sungguh mencari wajah-Mu, bukan hanya berkat-Mu. Ajarlah kami membangun relasi yang tulus, sederhana, dan setia dengan-Mu, sampai hati kami benar-benar beristirahat di dalam Engkau. Amin.
Share:

Renungan Harian " Salah Memahami Kehadiran Tuhan "

Yesus berjalan di atas air menghampiri perahu murid di tengah badai
Salah Memahami Kehadiran Tuhan
Setelah orang banyak hendak menjadikan Yesus raja secara paksa, Ia memilih menyingkir ke gunung seorang diri. Sementara itu, malam turun dengan sunyi. Para murid berangkat menyeberangi danau menuju Kapernaum. Yesus tidak bersama mereka di perahu. Hanya gelap, angin kencang, dan gelombang yang makin mengguncang perjalanan mereka.

Di tengah kelelahan dan ketakutan, sesuatu yang tak terduga terjadi. Mereka melihat Yesus berjalan di atas air, mendekati perahu. Namun alih-alih bersukacita, para murid justru ketakutan. Dalam kondisi fisik yang lemah dan batin yang tertekan, mereka salah memahami kehadiran Yesus. Yang seharusnya menjadi pengharapan, justru mereka anggap sebagai ancaman.

Bukankah sering kali kita pun demikian? Saat badai hidup datang—ketika doa terasa sunyi, jalan terasa gelap, dan tenaga hampir habis—kita mudah salah menafsirkan kehadiran Tuhan. Kita merasa Ia jauh, bahkan menakutkan, karena hidup tidak berjalan seperti yang kita harapkan.

Namun Yesus berkata dengan lembut namun penuh kuasa, “Ini Aku.” Ungkapan ini bukan sekadar sapaan penenang. “Egō Eimi” adalah pernyataan jati diri Ilahi—Tuhan yang sama yang menyatakan diri kepada Musa, Tuhan yang setia menyelamatkan umat-Nya. Yesus hadir bukan hanya untuk menenangkan badai, tetapi untuk menyatakan bahwa Ia tetap ada dan berkuasa.

Menariknya, kehadiran Yesus tidak langsung menghentikan badai. Tetapi ketika Ia naik ke perahu, mereka sampai ke tujuan. Inilah pengharapan iman: Tuhan tidak selalu menghilangkan badai, tetapi kehadiran-Nya menjamin arah hidup kita tidak akan meleset.

Kadang justru di tempat paling sulit—di “pedalaman” hidup kita, saat segala kenyamanan dicabut—kita belajar mengenal Tuhan dengan lebih nyata. Di sanalah iman dimurnikan dan pengharapan diteguhkan.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya dengan jujur:
Apakah aku sedang berada dalam badai?
Apakah aku keliru menilai kehadiran Tuhan karena rasa takutku sendiri?
Maukah aku mengundang Yesus masuk ke dalam “perahu” hidupku?

Ketika Tuhan ada di perahu, tujuan tetap tercapai.

Doa
Tuhan Yesus, sering kali kami salah memahami kehadiran-Mu ketika hidup diguncang badai. Ampuni kami saat ketakutan membuat kami meragukan kasih dan penyertaan-Mu. Hari ini kami membuka hati dan mengundang Engkau masuk ke dalam perahu hidup kami. Kuatkan iman kami untuk percaya bahwa Engkau selalu hadir dan setia menuntun kami sampai tujuan-Mu. Amin.
Share:

Renungan Harian " Mukjizat di Tengah Keterbatasan "

Mukjizat Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan dua ikan
Mukjizat di Tengah Keterbatasan
Yohanes 6:1–15
Dalam perjalanan-Nya ke seberang Danau Galilea, Yesus dikerumuni oleh orang banyak. Mereka mengikuti Dia karena tertarik pada mukjizat-mukjizat yang telah dilakukan-Nya. Namun di balik antusiasme orang banyak itu, Yesus melihat sesuatu yang lebih dalam: kebutuhan nyata yang harus dipedulikan.

Ketika hari mulai larut dan perut orang-orang itu lapar, Yesus bertanya kepada Filipus tentang makanan. Pertanyaan ini bukan karena Yesus tidak tahu jawabannya, melainkan untuk menguji iman. Filipus segera menghitung secara logis—uang tidak cukup, sumber daya tidak memadai. Pandangan Filipus mencerminkan kita: sering kali kita menilai keadaan hanya dari apa yang terlihat dan terasa.

Andreas datang dengan sesuatu yang tampak sangat kecil: lima roti dan dua ikan milik seorang anak. Ia sendiri ragu, “Tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Namun justru melalui pemberian yang sederhana itu, Yesus bekerja. Ia mengucap syukur, membagikan roti dan ikan, dan semua orang makan sampai kenyang. Bahkan masih tersisa dua belas bakul penuh.

Mukjizat ini mengingatkan kita bahwa Yesus peduli pada kehidupan manusia secara utuh—bukan hanya rohani, tetapi juga jasmani. Ia tidak menutup mata terhadap kebutuhan dasar umat-Nya. Lebih dari itu, Yesus menunjukkan bahwa keterbatasan manusia bukan penghalang bagi kuasa Allah. Apa yang tampak tidak cukup di tangan manusia, menjadi kelimpahan di tangan Tuhan.

Sering kali kita seperti Filipus—fokus pada kekurangan, ketakutan, dan ketidakmungkinan. Padahal Tuhan mengundang kita untuk seperti anak kecil itu: menyerahkan apa yang ada, meski kecil dan tampak tidak berarti. Dalam penyerahan itulah, Tuhan bekerja.

Renungan hari ini mengajak kita bertanya pada diri sendiri:
Apa keterbatasan yang sedang saya hadapi?
Sudahkah saya menyerahkannya kepada Tuhan, atau saya masih sibuk menghitung kekurangannya?

Keterbatasan bukan akhir cerita. Justru di sanalah Tuhan sering menyatakan kuasa dan pemeliharaan-Nya.

Doa
Tuhan Yesus, kami sering melihat hidup hanya dari keterbatasan kami sendiri. Ampuni kami ketika kami ragu dan lupa akan kuasa-Mu. Kami mau menyerahkan segala kekurangan, ketakutan, dan ketidakmampuan kami ke dalam tangan-Mu. Ajarlah kami bersyukur atas apa yang kami miliki dan percaya bahwa Engkau sanggup mencukupkan segala kebutuhan kami. Pakailah hidup kami menjadi berkat bagi sesama. Amin.
Share:

Renungan Harian " Maju Tak Gentar, Membela yang Benar "

Keberanian membela kebenaran bersama Yesus berdasarkan Yohanes 5:19–47
Maju Tak Gentar, Membela yang Benar
Ada sebuah lagu perjuangan yang terkenal dengan lirik yang menggugah hati: “Maju tak gentar, membela yang benar.” Kalimat ini terdengar begitu tegas dan berani. Namun, jika direnungkan lebih dalam, muncul sebuah pertanyaan jujur dalam hati kita: apakah membela yang benar sungguh mudah dilakukan? Ataukah, dalam kenyataannya, kita sering memilih diam demi rasa aman?

Yesus memberi kita teladan yang sangat jelas tentang keberanian membela kebenaran. Dalam perikop ini, situasi yang dihadapi-Nya tidaklah ringan. Ia sedang berada di tengah kemarahan para pemuka agama Yahudi. Ancaman kematian sudah nyata. Dalam kondisi seperti itu, kebanyakan orang tentu akan menghindar, menenangkan keadaan, atau setidaknya mengurangi perkataan yang bisa memicu konflik. Namun, Yesus tidak melakukannya.

Dengan penuh keberanian, Yesus justru menyatakan kebenaran tentang siapa diri-Nya. Ia menegaskan hubungan-Nya yang tak terpisahkan dengan Bapa. Apa yang dikerjakan Bapa, itulah yang dikerjakan Anak (ayat 19). Ia menyatakan kuasa untuk membangkitkan orang mati, otoritas untuk menghakimi, dan peran-Nya sebagai pemberi hidup kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (ayat 21–30). Semua perkataan itu adalah kebenaran ilahi—meskipun sangat berisiko.

Kebenaran itu tidak diterima dengan sukacita. Sebaliknya, kemarahan semakin memuncak. Bagi para pemuka agama, perkataan Yesus dianggap sebagai penghujatan. Sejak saat itu, niat untuk membunuh-Nya semakin kuat. Menyampaikan kebenaran memang tidak pernah bebas dari risiko. Sejarah iman mencatat banyak orang yang harus membayar mahal karena kesetiaan pada kebenaran—Yesus sendiri, para rasul, para bapa gereja, hingga orang-orang percaya di sepanjang zaman.

Renungan ini mengajak kita bercermin pada diri sendiri. Di tengah dunia yang sering menolak kebenaran firman Tuhan, bagaimana sikap kita? Apakah kita berani menyatakan kebenaran dengan kasih, atau justru memilih diam agar tidak disalahpahami? Apakah iman kita hanya bertahan saat nyaman, atau tetap teguh ketika ada risiko?

Mengikuti Yesus berarti siap berdiri di pihak kebenaran, bukan dengan sikap kasar atau penuh kebencian, tetapi dengan keberanian yang lahir dari ketaatan kepada Allah. Kiranya kita belajar melangkah bersama Kristus—maju tak gentar, membela yang benar, sekalipun itu menuntut pengorbanan.

Doa
Tuhan Yesus, terima kasih atas teladan keberanian-Mu dalam menyatakan kebenaran. Kami mengakui, sering kali kami takut ditolak, disalahpahami, atau kehilangan kenyamanan. Ampunilah kami. Berikan kami hati yang taat, iman yang teguh, dan keberanian yang lahir dari kasih kepada-Mu. Tolong kami agar mampu hidup setia, menyatakan kebenaran firman-Mu dalam sikap dan perkataan kami setiap hari. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Share:

Renungan Harian " Bahaya Legalisme Agama "

Yesus menyembuhkan orang lumpuh di Betesda pada hari Sabat
Bahaya Legalisme Agama
Tiga puluh delapan tahun lamanya seorang pria terbaring lumpuh di tepi kolam Betesda. Ia menunggu pertolongan, namun tidak pernah ada seorang pun yang membantunya. Harapannya kian menipis—sampai Yesus datang menghampirinya. Dengan satu perintah sederhana, hidupnya dipulihkan: “Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah.”

Mukjizat terjadi. Namun sukacita itu segera dibungkam oleh kemarahan para pemuka agama. Bukan karena seorang lumpuh telah disembuhkan, melainkan karena peristiwa itu terjadi pada hari Sabat. Bagi mereka, aturan lebih penting daripada pemulihan manusia. Bahkan, karena peristiwa itu, mereka mulai merencanakan pembunuhan terhadap Yesus.

Di sinilah wajah kelam legalisme agama terlihat. Ketaatan pada hukum berubah menjadi belenggu yang membutakan hati. Aturan dijunjung tinggi, tetapi kasih diabaikan. Hukum dipelihara, tetapi manusia dilupakan.

Legalisme membuat iman menjadi kaku—semua diukur dengan benar atau salah menurut peraturan, tanpa kepekaan terhadap realitas hidup. Legalisme juga menumbuhkan kesombongan rohani, seolah keselamatan dapat diraih melalui ketaatan manusia, bukan anugerah Allah. Lebih dari itu, legalisme mengikis rasa kemanusiaan, hingga penderitaan orang lain tak lagi menyentuh hati.

Yesus datang membawa kasih karunia. Ia tidak meniadakan hukum, tetapi menggenapinya dengan kasih. Di hadapan-Nya, manusia lebih berharga daripada aturan. Pemulihan lebih utama daripada ritual. Dan kehidupan lebih mulia daripada tradisi.

Renungan ini mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah iman kita masih memberi ruang bagi belas kasih? Ataukah kita tanpa sadar lebih sibuk menjaga aturan, tetapi kehilangan hati Kristus?

Marilah kita berjalan dalam terang kasih karunia, agar iman kita tidak hanya benar secara ajaran, tetapi juga hidup dalam kasih.

Refleksi Pribadi

  • Apakah saya lebih cepat menghakimi daripada mengasihi?

  • Apakah ketaatan saya membawa pemulihan bagi sesama?

Doa

Tuhan Yesus,
ampuni kami jika dalam ketaatan kami,
kami justru kehilangan kasih.
Lunakkan hati kami agar melihat sesama
seperti Engkau memandang mereka.
Ajari kami hidup dalam kasih karunia-Mu,
agar iman kami memulihkan, bukan melukai.
Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.