Ada kalanya pikiran dan logika manusia begitu mendominasi, hingga kasih karunia Allah terasa sulit diterima. Firman Tuhan mungkin sering terdengar, ayat-ayat Alkitab mungkin akrab di telinga, tetapi hati tetap tertutup. Itulah yang dialami oleh para pemuka Yahudi ketika mereka mendengar perkataan Yesus tentang diri-Nya.
Ketika Yesus berbicara tentang tempat ke mana Ia akan pergi, mereka justru salah paham. Pikiran mereka terikat pada cara pandang duniawi, sehingga mereka mengira Yesus sedang berbicara tentang kematian karena bunuh diri. Padahal, Yesus sedang menyatakan kebenaran yang jauh lebih dalam: Ia berasal dari surga, bukan dari dunia ini.
Yesus tidak lelah menjelaskan siapa diri-Nya dan apa konsekuensi dari ketidakpercayaan kepada-Nya. Namun, dosa telah membutakan mata rohani mereka. Meskipun penjelasan diberikan berulang kali, mereka tetap bertanya, “Siapakah Engkau?” Bukan karena Yesus tidak jelas, tetapi karena hati mereka tidak mau percaya.
Yesus kemudian menyatakan bahwa akan datang waktunya mereka mengenal siapa Dia sebenarnya—saat Anak Manusia ditinggikan. Salib yang bagi dunia adalah kebodohan, justru menjadi titik terang pengenalan akan Allah. Di sanalah kasih dan kebenaran Allah dinyatakan sepenuhnya.
Renungan ini mengajak kita bercermin. Dosa juga bisa membutakan mata rohani kita. Kita bisa saja aktif secara keagamaan, tetapi belum sungguh percaya. Namun, kasih karunia Allah bekerja menembus kebutaan itu, memampukan kita mengenal Kristus dan menerima keselamatan kekal di dalam Dia.
Percaya kepada Kristus bukan sekadar pengakuan di bibir, melainkan sikap hidup. Percaya berarti menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya, hidup dalam ketaatan, dan tetap berpegang pada firman-Nya di tengah kebimbangan, penderitaan, dan ketidakpastian hidup.
Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:
Apakah iman kita hanya sebatas rutinitas rohani, atau sungguh-sungguh bersandar kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat?
Ampuni kami bila hati kami tertutup dan lambat percaya kepada firman-Mu.
Bukalah mata rohani kami agar kami sungguh mengenal Engkau,
percaya kepada-Mu sepenuh hati, dan hidup dalam ketaatan.
Teguhkan iman kami di saat hidup terasa sulit dan penuh pergumulan.
Ajarlah kami menjalani hidup bukan sekadar ritual,
melainkan sebagai ungkapan iman yang sejati kepada-Mu.
Amin.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar