Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian: "Kota Perlindungan"

Ilustrasi tangan terbuka di bawah cahaya lembut, melambangkan kasih dan perlindungan Tuhan bagi setiap orang yang mencari pengampunan.

Tema: Kota Perlindungan di Hati Allah

Setiap manusia pernah berbuat salah—kadang karena ketidaksengajaan, kadang karena kelemahan. Dalam hukum Musa, Allah menetapkan kota perlindungan bagi mereka yang tanpa sengaja membunuh sesamanya. Di sanalah mereka bisa melarikan diri, menenangkan diri dari amarah penuntut darah, sambil menunggu keadilan ditegakkan. Allah menyediakan tempat aman, karena Ia bukan hanya Allah yang adil, tetapi juga penuh belas kasihan.

Kota-kota perlindungan itu berbicara tentang hati Allah yang peduli pada mereka yang rapuh dan tidak sempurna. Ia tahu setiap niat di balik tindakan kita. Ia tahu kapan kita benar-benar bersalah, dan kapan kita hanya tersandung tanpa maksud jahat. Dan di situlah kasih-Nya bekerja—memberi ruang untuk bertobat, dipulihkan, dan kembali hidup.

Hari ini, kita mungkin tidak lagi memiliki kota perlindungan seperti zaman Israel. Namun, kita memiliki Yesus Kristus—tempat perlindungan yang sejati. Di dalam Dia, kita menemukan pengampunan, keamanan, dan pemulihan. Ketika dunia menuduh dan hati kita sendiri gemetar karena rasa bersalah, kita boleh datang kepada-Nya.

Apakah kamu sedang merasa tertuduh, lemah, atau kehilangan arah?
Datanglah kepada Yesus. Ia adalah kota perlindunganmu. Di pelukan-Nya, ada keadilan yang penuh kasih, dan kasih yang penuh keadilan.

“Tuhan adalah tempat perlindungan bagi orang yang tertindas, tempat aman di masa kesesakan.”
(Mazmur 9:10)

Share:

🌿 Renungan Harian : Dialah Allah di Dalam Hidupku

 
“Seseorang berdoa di bawah sinar matahari terbit, melambangkan penyerahan diri dan kesetiaan kepada Allah.”

(Ulangan 4:30–40)

Ketika hidup membawa kita menjauh dari Tuhan—karena kesibukan, kesalahan, atau keinginan diri—kita sering lupa bahwa di balik semua itu, ada Allah yang tetap setia menantikan kita kembali.
Seperti bangsa Israel yang pernah berpaling, hati Tuhan tidak berubah. Ia tetap menunggu, tetap mengasihi, tetap memanggil, “Kembalilah kepada-Ku.”

Musa mengingatkan bangsa Israel bahwa mereka akan tersesat bila melupakan Tuhan, bahkan kehilangan arah dan pengharapan. Namun, di balik teguran itu, tersimpan kasih yang dalam: “Apabila engkau mencari TUHAN, Allahmu, maka engkau akan menemukannya, asal engkau mencari Dia dengan segenap hati dan jiwamu” (ayat 29).
Betapa luar biasa kasih setia Allah—Dia tidak pernah menyerah terhadap umat-Nya, bahkan ketika mereka menyerah terhadap diri sendiri.

Allah kita adalah Allah yang penyayang, setia, dan tidak pernah melupakan janji-Nya. Ia memilih umat-Nya bukan karena mereka sempurna, melainkan karena kasih-Nya yang sempurna. Ia berbicara, menuntun, dan mengangkat kembali mereka yang mau kembali kepada-Nya.

Hari ini, Tuhan juga berbicara kepada kita:

“Akulah satu-satunya Allah dalam hidupmu. Jangan ada yang lain di hadapan-Ku.”

Mari berhenti sejenak dan merenung—siapakah yang benar-benar bertahta dalam hidupku hari ini?
Apakah Tuhan masih menjadi pusat segala hal yang kulakukan, ataukah sudah tergantikan oleh hal lain yang tampak lebih penting?

Kesetiaan kepada Tuhan bukan sekadar kewajiban rohani, melainkan jalan menuju kebaikan hidup yang sejati. Di dalam ketaatan, ada damai. Di dalam kasih Tuhan, ada kekuatan untuk bertahan.

Kiranya hari ini kita datang kembali kepada-Nya dengan hati yang lembut dan berkata:

“Tuhan, Engkaulah satu-satunya Allah dalam hidupku. Aku ingin Engkau tetap bertahta, selamanya.”

Share:

Renungan Harian : Kekudusan Hidup

Ilustrasi Musa mengingatkan bangsa Israel tentang kekudusan Allah, dengan cahaya api melambangkan hadirat Tuhan yang kudus.

Kekudusan Hidup

📖 Ulangan 4:21–29

Kita sering lupa bahwa hidup yang kita miliki ini bukan sekadar milik kita sendiri. Sama seperti bangsa Israel, kita pun dipilih oleh Allah bukan karena kita sempurna, melainkan karena kasih dan anugerah-Nya. Israel bukan bangsa yang selalu taat, bahkan sering menyakiti hati Tuhan. Namun, kasih-Nya begitu besar—Ia menuntun mereka keluar dari perbudakan dan memberi mereka tanah yang dijanjikan.

Namun, bahkan Musa—seorang hamba Tuhan yang begitu setia—tidak luput dari teguran. Ketika ia gagal menghormati kekudusan Tuhan dengan memukul batu bukannya berbicara kepadanya (Bil. 20:2–13), Tuhan menegaskan: kekudusan-Nya tidak bisa diabaikan. Musa boleh memimpin umat, tapi ia tidak boleh melupakan bahwa Tuhan adalah Allah yang kudus, yang tak bisa dipermainkan.

Di hadapan bangsa Israel, Musa memperingatkan mereka agar tidak melupakan perjanjian dengan Tuhan. Jangan beralih kepada ilah lain, sebab Allah Israel adalah “api yang menghanguskan”—kekudusan-Nya membakar setiap dosa dan ketidaktaatan. Bila Israel berpaling, mereka akan mengalami penderitaan, tercerai-berai, dan kehilangan hadirat Tuhan. Namun di balik teguran itu, ada kasih yang besar: Allah ingin memurnikan umat-Nya, agar mereka kembali berseru kepada-Nya dengan hati yang tulus.

Sobat rohani, Tuhan yang sama juga berbicara kepada kita hari ini. Ia masih Allah yang kudus—yang mengasihi, namun juga membenci dosa. Kita tidak bisa bersandiwara di hadapan-Nya. Kita bisa tampak saleh di mata manusia, tetapi Tuhan mengenal isi hati kita. Kekudusan bukan sekadar tidak berbuat dosa, melainkan hidup dengan hati yang terus melekat kepada Tuhan.

Hari ini, mari berhenti sejenak dan bertanya:
Apakah hidup kita mencerminkan kekudusan Allah?
Apakah kita masih menyimpan dosa yang belum kita lepaskan?

Allah memanggil kita untuk kembali. Ia rindu kita hidup kudus, sebab hanya dalam kekudusanlah kita dapat tinggal dekat dengan-Nya. Mari kita bersihkan hati kita di hadapan Tuhan dan memilih untuk hidup bagi Dia saja.
“Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:16)

Share:

Renungan Harian : " Aturan Tuhan "

 “Ilustrasi digital bertema rohani menampilkan siluet seorang pria berdiri di atas bukit memandang salib besar dengan latar matahari terbit dan langit keemasan. Teks di atasnya berbunyi ‘ATURAN TUHAN – Ulangan 4:1–20’.”

Ulangan 4:1–20

Aturan Tuhan: Bukan Beban, Tapi Perlindungan Kasih

Ada satu kata yang sering membuat manusia resah: aturan. Kita cenderung menganggap aturan sebagai batasan yang mengekang kebebasan. Namun, bagi umat Israel, aturan Tuhan justru adalah tanda kasih—penopang hidup yang menjaga mereka tetap ada di jalur yang benar.

Melalui Musa, Tuhan menegaskan bahwa ketaatan pada firman-Nya adalah kunci kehidupan (ayat 1). Ketika Israel mau menaati hukum Tuhan tanpa menambah atau menguranginya (ayat 2), mereka akan menjadi bangsa yang bijaksana dan berakal budi (ayat 6). Dengan kata lain, aturan Tuhan bukanlah beban, melainkan alat pembentuk karakter rohani dan moral umat-Nya.

Israel dipanggil untuk berbeda dari bangsa lain. Mereka tidak boleh ikut menyembah berhala atau mengikuti cara hidup yang rusak. Tuhan ingin mereka ingat siapa mereka: umat pilihan-Nya, yang dikasihi dan dijaga-Nya dengan hukum-hukum yang adil dan sempurna. Semua peraturan itu adalah bentuk nyata dari kasih Tuhan yang tidak ingin umat-Nya binasa.

Sering kali kita memandang perintah Tuhan sebagai beban. Kita merasa diatur, dibatasi, bahkan kehilangan kebebasan. Namun sebenarnya, aturan Tuhan adalah pagar kasih agar kita tidak jatuh ke jurang dosa. Ia tahu betapa rapuhnya hati manusia, betapa mudahnya kita tergoda oleh dunia. Maka Ia memberi firman-Nya bukan untuk mengikat, tetapi melindungi.

Mari bertanya kepada diri sendiri:
Apakah saya melihat aturan Tuhan sebagai penghalang atau pelindung? Apakah saya menaatinya karena takut dihukum, atau karena saya mengasihi Dia yang memberi aturan itu?

Ketaatan sejati lahir bukan dari ketakutan, melainkan dari pengakuan bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi kita. Biarlah setiap perintah-Nya menjadi kompas yang menuntun hidup kita pada kehidupan yang penuh damai dan sukacita sejati.

“Sebab perintah-Mu itu pelita, dan pengajaran-Mu itu terang.”
Amsal 6:23a

Share:

Renungan Harian : " Jangan Sampai Post Power Syndrome "

Musa berdiri di puncak gunung Pisga, memandang ke tanah perjanjian dari kejauhan. Cahaya lembut dari langit menerangi wajahnya yang tenang, melambangkan penyerahan dan kedamaian hati
Jangan Sampai Post Power Syndrome

(Ulangan 3:23–29)

✨ Versi Reflektif untuk Website:

Musa tahu bahwa waktunya hampir tiba. Ia tidak akan masuk ke tanah perjanjian karena telah melanggar kekudusan Tuhan (Bil. 20:10–13). Ia tahu pula bahwa tongkat kepemimpinan akan beralih ke tangan Yosua. Namun, hati Musa tidak dikuasai oleh iri, kecewa, atau amarah. Ia tidak berusaha mempertahankan posisi yang telah Tuhan percayakan kepadanya, melainkan tetap setia melayani sampai akhir.

Doa terakhir Musa bukan tentang jabatan atau kuasa, tetapi tentang kerinduannya untuk melihat negeri yang Tuhan janjikan (ayat 23–25). Ia hanya ingin menyaksikan keindahan karya Tuhan, bukan mempertahankan panggung pelayanan. Di akhir hidupnya, Musa membuktikan bahwa kasih dan kerendahan hati lebih besar dari ambisi pribadi.

Kisah Musa mengingatkan kita bahwa kepemimpinan sejati bukan soal kekuasaan, melainkan ketaatan. Dunia memandang jabatan sebagai simbol harga diri, tetapi di mata Tuhan, jabatan hanyalah sarana untuk melayani. Ketika tiba saatnya melepaskan, pemimpin sejati akan melakukannya dengan damai — karena ia tahu bahwa yang terpenting bukan siapa yang memimpin, melainkan siapa yang ditaati: Tuhan.

Sayangnya, banyak orang hari ini jatuh dalam post power syndrome — kehilangan arah dan jati diri setelah kekuasaan berakhir. Namun, bagi orang yang hidup dalam rencana Tuhan, kehilangan posisi bukan akhir dari panggilan. Justru di sanalah Tuhan mengajar kita untuk menemukan makna sejati: menjadi hamba yang tetap rendah hati dan taat, sekalipun tanpa panggung.

Mari kita belajar dari Musa — tetap melayani dengan setia, mendukung generasi berikutnya, dan menaruh harapan hanya kepada Tuhan yang kekal. Jabatan boleh berganti, tetapi panggilan untuk setia tidak akan pernah usai.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.