Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian "Jauhkan Perasaan Iri Hati"

Ilustrasi reflektif tentang iri hati yang disucikan oleh kasih Kristus berdasarkan Yohanes 11:45–57
Jauhkan Perasaan Iri Hati
Mukjizat kebangkitan Lazarus seharusnya membawa sukacita dan pengharapan. Banyak orang melihat kuasa Tuhan dan memilih untuk percaya kepada Yesus. Namun, tidak semua hati merespons dengan iman. Ada juga yang justru melaporkan perbuatan Yesus kepada orang-orang Farisi.

Berita tentang Yesus membuat para pemimpin agama gelisah. Mereka takut kehilangan posisi, pengaruh, dan rasa aman. Di balik jubah keagamaan, tersimpan hati yang penuh kecemasan dan iri. Mukjizat yang membawa hidup malah dianggap sebagai ancaman. Rasa iri itulah yang perlahan berubah menjadi kebencian.

Perkataan Kayafas tentang mengorbankan satu orang demi bangsa terdengar bijaksana, tetapi sesungguhnya lahir dari hati yang tidak tulus. Ia tidak mencari kehendak Tuhan, melainkan jalan untuk menyingkirkan Yesus. Iri hati membuat seseorang mampu membenarkan kejahatan, bahkan atas nama kebaikan dan agama.

Kisah ini menegur kita dengan lembut namun tegas. Ternyata, berada di lingkungan rohani tidak otomatis membuat hati kita benar di hadapan Tuhan. Kita bisa aktif melayani, rajin beribadah, bahkan berbicara tentang Tuhan, tetapi tetap menyimpan iri, benci, dan ambisi pribadi.

Iri hati perlahan mencuri damai sejahtera. Ia membuat kita sulit bersukacita atas berkat orang lain dan mudah mencurigai sesama. Jika dibiarkan, perasaan ini dapat merusak relasi, pelayanan, dan kesaksian hidup kita.

Hari ini, mari kita berhenti sejenak dan memeriksa hati. Adakah iri yang tersembunyi? Adakah kebencian yang kita bungkus rapi dengan alasan rohani? Tuhan rindu kita bukan hanya sibuk dalam pekerjaan-Nya, tetapi juga hidup selaras dengan hati-Nya.

Respons Pribadi
Luangkan waktu untuk jujur di hadapan Tuhan. Mintalah Roh Kudus menyingkapkan isi hati kita. Serahkan setiap perasaan iri dan benci, dan izinkan kasih Kristus memulihkan hati kita.
Doa
Tuhan Yesus, aku datang dengan hati yang terbuka. Ampuni aku jika masih ada iri dan kebencian yang tersembunyi dalam diriku. Bersihkan hatiku dan penuhi aku dengan kasih-Mu. Tolong aku hidup selaras dengan kehendak-Mu, agar hidup dan pelayananku memuliakan nama-Mu. Amin.
Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 1 Februari 2026

Share:

Renungan Harian "Kemenangan dalam Kematian"

Yesus membangkitkan Lazarus sebagai tanda kuasa-Nya atas kematian dan sumber pengharapan bagi orang percaya.
Kemenangan dalam Kematian
Kisah tentang Maria, Marta, dan Lazarus memperlihatkan sebuah relasi yang dekat dan penuh kasih dengan Yesus. Mereka bukan orang asing bagi-Nya—mereka adalah sahabat yang dikasihi-Nya. Ketika Lazarus sakit, Maria dan Marta mengirim kabar kepada Yesus, seolah berkata, “Tuhan, kami membutuhkan Engkau sekarang.” Namun yang terjadi justru tidak seperti yang mereka harapkan. Yesus tidak segera datang. Lazarus mati.

Dalam keheningan penantian dan kepedihan kehilangan, kita belajar bahwa Tuhan tidak pernah absen, meskipun seolah terlambat. Yesus tetap melangkah ke Betania—tempat berbahaya bagi diri-Nya—karena kasih-Nya lebih besar daripada ancaman kematian.

Saat bertemu Marta, Yesus tidak langsung membangkitkan Lazarus. Ia terlebih dahulu menguatkan iman. Kepada Maria, Yesus bahkan menangis. Air mata-Nya menunjukkan bahwa Ia bukan Tuhan yang jauh dan dingin. Ia adalah Tuhan yang turut merasakan duka manusia. Di hadapan kubur Lazarus, Yesus berseru, dan kematian pun kalah. Firman-Nya memanggil kehidupan keluar dari kegelapan.

Melalui peristiwa ini, kita diingatkan bahwa Yesus bukan hanya memberi kebangkitan—Ia adalah kebangkitan itu sendiri. Tidak ada kubur yang terlalu gelap, tidak ada keadaan yang terlalu mati, tidak ada dosa yang terlalu besar bagi kuasa-Nya.

Renungan ini mengajak kita bercermin:
Apakah hari ini ada bagian hidup kita yang terasa mati—iman yang melemah, pengharapan yang terkubur, atau hati yang mengeras karena kekecewaan? Tuhan masih memanggil. Suara-Nya masih bergema. Pertanyaannya, apakah kita mau keluar dari kubur kita dan percaya kepada-Nya?

Jangan menunda respons terhadap panggilan Tuhan. Jangan membiarkan hati tetap tertutup. Ketika firman diberitakan, itulah suara kehidupan yang sedang memanggil kita untuk bangkit dan hidup baru.

Doa
Tuhan Yesus, Engkau adalah Kebangkitan dan Hidup.
Sering kali aku merasa Engkau terlambat menjawab doaku,
padahal Engkau sedang bekerja dengan cara-Mu yang sempurna.
Hari ini aku menyerahkan segala dukacita, ketakutan, dan
bagian hidupku yang terasa mati ke dalam tangan-Mu.
Panggil aku keluar dari kubur keraguanku.
Pulihkan imanku. Bangkitkan pengharapanku.
Ajarku untuk percaya sepenuhnya kepada firman-Mu,
dan hidup sebagai saksi kuasa-Mu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Share:

Renungan Harian "Tidak Terpengaruh"

Yesus di tepi Sungai Yordan dengan suasana tenang, melambangkan keteduhan dan iman yang tidak terpengaruh oleh penolakan.
Tidak Terpengaruh
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, istilah me time terasa begitu relevan. Banyak orang membutuhkannya untuk berhenti sejenak, menenangkan pikiran, dan memulihkan diri. Menariknya, jauh sebelum istilah itu dikenal, Yesus telah lebih dahulu memberi teladan tentang pentingnya menyingkir sejenak ketika menghadapi tekanan dan penolakan.

Setelah mengalami penolakan keras di Yerusalem, Yesus tidak membalas dengan kemarahan atau perlawanan. Ia memilih untuk pergi ke seberang Sungai Yordan, ke tempat Yohanes Pembaptis dahulu melayani. Di sana, Yesus seakan kembali ke titik awal panggilan-Nya—merenungkan kesaksian yang pernah disampaikan tentang diri-Nya dan mempersiapkan hati untuk langkah pelayanan selanjutnya.

Di tempat yang sunyi itu, justru banyak orang datang dan percaya kepada Yesus. Mereka teringat akan kesaksian Yohanes, seorang yang tidak melakukan mukjizat, namun perkataannya terbukti benar. Ketika kebenaran ditolak di Yerusalem, kebenaran itu justru diterima di Yordan dan menghasilkan iman yang hidup.

Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa pemberitaan firman Tuhan tidak pernah sia-sia. Mungkin hasilnya tidak langsung terlihat, mungkin pula ditolak di satu tempat, tetapi Tuhan selalu menyediakan tanah yang subur bagi firman-Nya untuk bertumbuh. Tugas kita adalah setia, bukan memaksakan hasil.

Renungan ini juga mengajak kita untuk belajar menyediakan waktu meneduhkan diri—berdoa, mengevaluasi langkah hidup, dan kembali mengingat panggilan Tuhan. Di dunia yang penuh tekanan dan lingkungan yang kadang “toxic”, keheningan bersama Tuhan menolong kita untuk tetap jernih, tidak larut dalam emosi negatif, dan tidak terpengaruh oleh penolakan orang lain.

Jangan biarkan sikap negatif membuat kita ragu akan kebenaran yang kita hidupi. Tidak semua orang menolak firman Tuhan. Selalu ada hati yang siap menerima kasih karunia-Nya. Ketika kita berjalan bersama Tuhan, Ia sendiri yang akan menuntun langkah, membuka jalan, dan mempertemukan kita dengan orang-orang yang menguatkan iman dan pelayanan kita.

Ajakan Refleksi Pribadi

  • Apakah aku sedang terluka oleh penolakan atau kritik orang lain?

  • Sudahkah aku menyediakan waktu untuk menenangkan diri dan datang kembali kepada Tuhan?

  • Lingkungan seperti apa yang selama ini memengaruhi imanku—menguatkan atau justru melemahkan?

Luangkan waktu hari ini untuk diam sejenak di hadapan Tuhan dan menyerahkan kembali seluruh pergumulan hidupmu kepada-Nya.

Doa
Tuhan Yesus,terima kasih atas teladan-Mu yang mengajarkanku untuk tidak terpengaruh oleh penolakan dan situasi yang menekan. Ajarku untuk tahu kapan harus melangkah dan kapan harus meneduhkan diri di hadapan-Mu. Mampukan aku tetap setia pada kebenaran firman-Mu, meski tidak selalu diterima oleh semua orang. Lindungi hatiku dari pengaruh lingkungan yang menjauhkan aku dari kehendak-Mu. Teguhkan imanku, dan tuntun setiap langkah hidupku, sekarang dan selamanya. Amin.
Share:

Renungan Harian " Menang atas Tantangan "

Yesus menghadapi tantangan dan penolakan orang Yahudi dalam Yohanes 10:22–39
 
Menang atas Tantangan
Ada sikap yang sering muncul ketika seseorang tidak mau bertanggung jawab atas pilihannya sendiri: menyalahkan orang lain dan memposisikan diri sebagai korban. Sikap inilah yang dalam istilah masa kini dikenal sebagai playing victim. Tanpa disadari, sikap serupa juga tampak dalam perjumpaan orang-orang Yahudi dengan Yesus di Bait Allah, di Serambi Salomo.

Mereka datang kepada Yesus dengan nada menuntut. Mereka berkata bahwa Yesus membuat mereka bimbang tentang siapa diri-Nya. Namun sesungguhnya, kebimbangan itu bukan berasal dari kurangnya penjelasan, melainkan dari hati yang menolak untuk percaya. Yesus telah menyatakan siapa diri-Nya melalui perkataan dan pekerjaan yang dilakukan-Nya. Ia berbicara tentang panggilan-Nya, tentang karya yang diberikan Bapa, bahkan tentang kesatuan-Nya dengan Bapa. Tetapi semua itu tidak mereka terima.

Penolakan iman akhirnya melahirkan tindakan yang ekstrem. Dalam ketidakpercayaan, mereka mencoba melempari Yesus dengan batu. Mereka lalu mengubah tuduhan, menyatakan bahwa Yesus menghujat Allah. Padahal, mereka sendiri telah menyaksikan pekerjaan Allah dinyatakan melalui Yesus. Seandainya mereka mau membuka hati, pekerjaan-pekerjaan itu seharusnya membawa mereka pada pengenalan yang benar: bahwa Yesus dan Bapa adalah satu.

Yesus menjawab semua tuduhan itu dengan kebenaran dan keteguhan hati. Ia tidak gentar, tidak mundur, dan tidak berhenti menyatakan kehendak Bapa. Sekalipun mereka kembali berusaha menangkap-Nya, Yesus luput dari tangan mereka. Ini menunjukkan bahwa tidak ada tantangan, ancaman, atau penolakan yang dapat menggagalkan rencana Allah.

Firman ini mengingatkan kita bahwa kehadiran kebenaran tidak selalu disambut dengan sukacita. Bahkan, perbuatan baik pun bisa ditolak, dicurigai, atau diserang. Ketika iri hati dan kesombongan menguasai hati, kebenaran akan terasa mengganggu dan sulit diterima.

Dalam perjalanan iman, kita pun tidak lepas dari tantangan. Saat kita berusaha melakukan kehendak Tuhan, tidak jarang kita berhadapan dengan penolakan, kesalahpahaman, atau perlakuan tidak adil. Pertanyaannya bukan apakah tantangan itu ada, melainkan bagaimana kita menyikapinya.

Tantangan tidak diberikan untuk menjatuhkan kita, melainkan untuk membentuk kita. Ketika kita memilih tetap setia, mengelola tantangan dengan iman, dan menyerahkannya kepada Tuhan, kita sedang belajar untuk menang—bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi dalam kasih dan rencana Allah. Inilah panggilan setiap anak Tuhan: tetap berdiri teguh, terus melakukan kehendak-Nya, dan menjadi pemenang di tengah segala tantangan.

Doa
Tuhan Yesus, Terima kasih karena Engkau memberi teladan dalam menghadapi penolakan dan tantangan. Ajarlah kami untuk tidak bersikap seperti korban, melainkan hidup dalam iman dan ketaatan. Saat kami menghadapi kesulitan, kuatkan hati kami agar tetap setia melakukan kehendak-Mu. Mampukan kami melihat tantangan sebagai bagian dari rencana-Mu yang membentuk dan meneguhkan iman kami. Di dalam Engkau, kami percaya kami adalah pemenang.

Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.