Menjelang akhir hidupnya, Musa memberkati suku-suku Israel. Di antara semua berkat itu, berkat bagi suku Lewi menarik perhatian khusus. Lewi disebut sebagai orang yang dikasihi Tuhan. Mereka dipercaya memegang Tumim dan Urim—alat untuk menanyakan kehendak Tuhan—sebuah tanggung jawab rohani yang sangat besar.
Mengapa Lewi menerima kepercayaan itu? Karena mereka lulus dalam ujian dan tantangan. Di Masa dan Meriba, tempat ujian dan pergumulan, Lewi menunjukkan kesetiaan. Saat bangsa Israel jatuh dalam dosa penyembahan lembu emas, Lewi berdiri di pihak Tuhan. Mereka menaati firman Tuhan, meski harus berhadapan dengan keputusan yang sangat berat, bahkan terhadap keluarga sendiri. Kesetiaan mereka tidak setengah-setengah.
Karena itulah Lewi dipilih untuk mengajarkan hukum Tuhan kepada umat. Mereka menjadi alat Tuhan untuk menjaga iman Israel tetap hidup. Padahal sebelumnya, pelayanan kepada Tuhan seharusnya dilakukan oleh anak-anak sulung Israel. Namun Tuhan menggantikan peran itu dengan suku Lewi—sebuah kepercayaan yang lahir dari kesetiaan.
Menariknya, Lewi tidak menerima tanah pusaka seperti suku-suku lain. Mereka justru diserakkan di seluruh Israel. Jika dilihat sepintas, ini tampak seperti kerugian. Bahkan jauh sebelumnya, Yakub pernah menubuatkan bahwa Simeon dan Lewi akan diserakkan karena kesalahan masa lalu. Namun di tangan Tuhan, hukuman itu berubah menjadi sarana berkat. Karena tersebar, Lewi justru dapat menjangkau seluruh Israel dan mengajarkan firman Tuhan ke mana-mana.
Firman ini menguatkan kita hari ini. Mungkin ada bagian hidup kita yang terasa seperti hukuman—kehilangan, keterbatasan, atau kegagalan. Namun, ketika kita tetap setia dan berpegang pada firman Tuhan, Allah sanggup mengubahnya menjadi berkat, bukan hanya bagi kita, tetapi juga bagi banyak orang.
Tuhan tidak menyia-nyiakan kesetiaan. Apa yang dulu terasa menyakitkan, di tangan Tuhan bisa menjadi alat untuk kemuliaan-Nya.












