Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Renungan Harian "Pilihan antara Kehidupan atau Kematian"

Ilustrasi dua pilihan kehidupan dan kematian berdasarkan Ulangan 30 dalam renungan Kristen
Pilihan antara Kehidupan atau Kematian
Dalam hidup ini, kita sering dihadapkan pada banyak pilihan. Namun, di hadapan Tuhan, pilihan itu pada dasarnya hanya ada dua: kehidupan atau kematian. Allah dengan jelas menyatakan kepada umat-Nya bahwa mengasihi Dia berarti hidup, tetapi berpaling dari-Nya membawa kepada kebinasaan.

Melalui Musa, Tuhan menegaskan bahwa sekalipun umat-Nya pernah tidak setia dan mengalami pembuangan, harapan belum tertutup. Jika mereka mau kembali kepada Tuhan dengan segenap hati, Tuhan berjanji akan memulihkan keadaan mereka. Ia akan mengumpulkan, memberkati, dan membawa mereka kembali ke Tanah Perjanjian. Bahkan Tuhan sendiri yang akan “menyunat hati” mereka—mengubah batin mereka—agar mampu mengasihi Dia dan hidup taat kepada firman-Nya.

Firman ini menunjukkan bahwa Tuhan bukan Allah yang cepat membuang, melainkan Allah yang memberi kesempatan untuk bertobat. Namun, kesempatan itu disertai dengan tanggung jawab. Umat diperhadapkan pada dua jalan yang jelas: kehidupan dan kesejahteraan, atau kematian dan kecelakaan. Tidak ada jalan tengah.

Pilihan ini bukan sekadar soal hidup panjang di dunia, tetapi menyangkut kehidupan kekal. Tuhan menuntut kesetiaan, bukan hanya dalam ucapan, tetapi dalam arah hidup. Mengasihi Tuhan berarti menolak ilah-ilah lain—apa pun yang mengambil tempat Tuhan di hati kita.

Firman ini juga sangat relevan bagi kita hari ini. Menjadi orang Kristen tidak otomatis berarti memilih kehidupan. Iman sejati terlihat dari hati yang mengasihi Tuhan dan hidup menurut kehendak-Nya. Yesus sendiri mengingatkan bahwa tidak semua orang yang memanggil nama-Nya sungguh-sungguh mengenal Dia.

Karena itu, mari kita jujur pada diri sendiri. Apakah kita sungguh mengasihi Tuhan, atau hanya terbiasa dengan aktivitas rohani? Apakah hidup kita diarahkan oleh firman Tuhan, atau oleh keinginan pribadi? Firman hari ini memanggil kita untuk mengambil keputusan dengan serius.

Selama hari masih siang dan kesempatan masih diberikan, mari kita memilih kehidupan—hidup yang berkenan kepada Tuhan dan berujung pada keselamatan kekal.

Respons Pribadi
Renungkan pilihan hidup Anda hari ini. Apakah keputusan, sikap, dan arah hidup Anda menunjukkan kasih kepada Tuhan? Ambillah waktu untuk kembali dan menyerahkan hati sepenuhnya kepada-Nya.
Doa
Tuhan yang penuh kasih, aku bersyukur karena Engkau memberi aku pilihan dan kesempatan. Ampuni aku jika sering memilih jalanku sendiri. Bentuklah hatiku agar sungguh mengasihi-Mu dan hidup seturut kehendak-Mu. Aku memilih kehidupan di dalam Engkau. Amin.
Share:

Renungan Harian "Memberikan yang Terbaik untuk Tuhan"

Yohanes 12:1–8
Memberikan yang Terbaik untuk Tuhan
Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk mengekspresikan kasih. Ada yang menunjukkan lewat kata-kata, ada pula yang melalui tindakan nyata. Kadang, bentuk kasih itu terlihat sederhana. Namun, ada kalanya kasih dinyatakan melalui pengorbanan yang tidak kecil.

Maria menunjukkan kasihnya kepada Yesus dengan cara yang sangat berbeda. Di tengah perjamuan, saat Marta sibuk melayani dan Lazarus duduk bersama Yesus, Maria datang membawa minyak narwastu murni yang sangat mahal. Ia meminyaki kaki Yesus, bahkan menyekanya dengan rambutnya. Seluruh ruangan pun dipenuhi bau harum minyak itu.

Tindakan Maria membuat sebagian orang tidak nyaman. Yudas memandangnya sebagai pemborosan. Baginya, minyak itu seharusnya dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin. Namun, perkataannya bukan lahir dari kepedulian, melainkan dari hati yang tidak tulus.

Maria tidak sedang memamerkan apa yang ia miliki. Ia juga tidak menghitung untung rugi. Ia hanya tahu satu hal: Yesus layak menerima yang terbaik. Minyak itu sangat berharga—setara dengan upah hampir satu tahun kerja—namun Maria rela menyerahkannya tanpa ragu. Kasih membuatnya memberi tanpa syarat.

Melalui Maria, kita diajak bercermin. Apa yang selama ini kita berikan kepada Tuhan? Apakah hanya sisa waktu, tenaga, dan perhatian kita? Atau justru hal-hal terbaik yang kita miliki—waktu, kemampuan, harta, bahkan reputasi?

Yesus tidak menolak persembahan Maria. Ia melihat hati yang tulus dan pengabdian yang murni. Yesus juga mengingatkan bahwa hidup ini tidak hanya soal perkara duniawi yang sementara. Ada makna kekal yang sering kali luput dari perhatian kita.

Hari ini, Tuhan tidak menuntut kita memberi sesuatu yang sama seperti Maria. Namun, Ia rindu hati yang sama: hati yang mengasihi, menghormati, dan rela mempersembahkan yang terbaik. Semua yang kita miliki sesungguhnya berasal dari-Nya. Memberi yang terbaik adalah respons syukur atas anugerah keselamatan yang telah kita terima.

Respons Pribadi
Renungkan kembali hidup kita. Apakah Tuhan mendapat tempat utama? Adakah hal berharga yang masih kita tahan karena takut kehilangan? Serahkan semuanya dengan iman dan kasih kepada Tuhan.

Doa
Tuhan Yesus, terima kasih atas kasih dan pengorbanan-Mu bagiku. Ajarku untuk mengasihi-Mu dengan segenap hati. Tolong aku berani mempersembahkan yang terbaik dalam hidupku bagi-Mu, sebagai ungkapan syukur dan iman. Amin.

Share:

Renungan Harian "Jauhkan Perasaan Iri Hati"

Ilustrasi reflektif tentang iri hati yang disucikan oleh kasih Kristus berdasarkan Yohanes 11:45–57
Jauhkan Perasaan Iri Hati
Mukjizat kebangkitan Lazarus seharusnya membawa sukacita dan pengharapan. Banyak orang melihat kuasa Tuhan dan memilih untuk percaya kepada Yesus. Namun, tidak semua hati merespons dengan iman. Ada juga yang justru melaporkan perbuatan Yesus kepada orang-orang Farisi.

Berita tentang Yesus membuat para pemimpin agama gelisah. Mereka takut kehilangan posisi, pengaruh, dan rasa aman. Di balik jubah keagamaan, tersimpan hati yang penuh kecemasan dan iri. Mukjizat yang membawa hidup malah dianggap sebagai ancaman. Rasa iri itulah yang perlahan berubah menjadi kebencian.

Perkataan Kayafas tentang mengorbankan satu orang demi bangsa terdengar bijaksana, tetapi sesungguhnya lahir dari hati yang tidak tulus. Ia tidak mencari kehendak Tuhan, melainkan jalan untuk menyingkirkan Yesus. Iri hati membuat seseorang mampu membenarkan kejahatan, bahkan atas nama kebaikan dan agama.

Kisah ini menegur kita dengan lembut namun tegas. Ternyata, berada di lingkungan rohani tidak otomatis membuat hati kita benar di hadapan Tuhan. Kita bisa aktif melayani, rajin beribadah, bahkan berbicara tentang Tuhan, tetapi tetap menyimpan iri, benci, dan ambisi pribadi.

Iri hati perlahan mencuri damai sejahtera. Ia membuat kita sulit bersukacita atas berkat orang lain dan mudah mencurigai sesama. Jika dibiarkan, perasaan ini dapat merusak relasi, pelayanan, dan kesaksian hidup kita.

Hari ini, mari kita berhenti sejenak dan memeriksa hati. Adakah iri yang tersembunyi? Adakah kebencian yang kita bungkus rapi dengan alasan rohani? Tuhan rindu kita bukan hanya sibuk dalam pekerjaan-Nya, tetapi juga hidup selaras dengan hati-Nya.

Respons Pribadi
Luangkan waktu untuk jujur di hadapan Tuhan. Mintalah Roh Kudus menyingkapkan isi hati kita. Serahkan setiap perasaan iri dan benci, dan izinkan kasih Kristus memulihkan hati kita.
Doa
Tuhan Yesus, aku datang dengan hati yang terbuka. Ampuni aku jika masih ada iri dan kebencian yang tersembunyi dalam diriku. Bersihkan hatiku dan penuhi aku dengan kasih-Mu. Tolong aku hidup selaras dengan kehendak-Mu, agar hidup dan pelayananku memuliakan nama-Mu. Amin.
Share:

Pujian Ibadah GKKK Tepas | 1 Februari 2026

Share:

Renungan Harian "Kemenangan dalam Kematian"

Yesus membangkitkan Lazarus sebagai tanda kuasa-Nya atas kematian dan sumber pengharapan bagi orang percaya.
Kemenangan dalam Kematian
Kisah tentang Maria, Marta, dan Lazarus memperlihatkan sebuah relasi yang dekat dan penuh kasih dengan Yesus. Mereka bukan orang asing bagi-Nya—mereka adalah sahabat yang dikasihi-Nya. Ketika Lazarus sakit, Maria dan Marta mengirim kabar kepada Yesus, seolah berkata, “Tuhan, kami membutuhkan Engkau sekarang.” Namun yang terjadi justru tidak seperti yang mereka harapkan. Yesus tidak segera datang. Lazarus mati.

Dalam keheningan penantian dan kepedihan kehilangan, kita belajar bahwa Tuhan tidak pernah absen, meskipun seolah terlambat. Yesus tetap melangkah ke Betania—tempat berbahaya bagi diri-Nya—karena kasih-Nya lebih besar daripada ancaman kematian.

Saat bertemu Marta, Yesus tidak langsung membangkitkan Lazarus. Ia terlebih dahulu menguatkan iman. Kepada Maria, Yesus bahkan menangis. Air mata-Nya menunjukkan bahwa Ia bukan Tuhan yang jauh dan dingin. Ia adalah Tuhan yang turut merasakan duka manusia. Di hadapan kubur Lazarus, Yesus berseru, dan kematian pun kalah. Firman-Nya memanggil kehidupan keluar dari kegelapan.

Melalui peristiwa ini, kita diingatkan bahwa Yesus bukan hanya memberi kebangkitan—Ia adalah kebangkitan itu sendiri. Tidak ada kubur yang terlalu gelap, tidak ada keadaan yang terlalu mati, tidak ada dosa yang terlalu besar bagi kuasa-Nya.

Renungan ini mengajak kita bercermin:
Apakah hari ini ada bagian hidup kita yang terasa mati—iman yang melemah, pengharapan yang terkubur, atau hati yang mengeras karena kekecewaan? Tuhan masih memanggil. Suara-Nya masih bergema. Pertanyaannya, apakah kita mau keluar dari kubur kita dan percaya kepada-Nya?

Jangan menunda respons terhadap panggilan Tuhan. Jangan membiarkan hati tetap tertutup. Ketika firman diberitakan, itulah suara kehidupan yang sedang memanggil kita untuk bangkit dan hidup baru.

Doa
Tuhan Yesus, Engkau adalah Kebangkitan dan Hidup.
Sering kali aku merasa Engkau terlambat menjawab doaku,
padahal Engkau sedang bekerja dengan cara-Mu yang sempurna.
Hari ini aku menyerahkan segala dukacita, ketakutan, dan
bagian hidupku yang terasa mati ke dalam tangan-Mu.
Panggil aku keluar dari kubur keraguanku.
Pulihkan imanku. Bangkitkan pengharapanku.
Ajarku untuk percaya sepenuhnya kepada firman-Mu,
dan hidup sebagai saksi kuasa-Mu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.