
Rahab bukan orang Israel. Ia tinggal di Yerikho, kota yang sebentar lagi akan ditaklukkan. Namun, dari cerita-cerita yang ia dengar, Rahab mengenal siapa Allah Israel. Ia mendengar bagaimana Tuhan membuka jalan di Laut Teberau dan mengalahkan musuh-musuh Israel. Dari sanalah tumbuh keyakinan di hatinya bahwa Allah Israel adalah Allah yang hidup dan berkuasa.
Ketika para pengintai yang diutus Yosua datang, Rahab dihadapkan pada pilihan sulit. Jika ia melindungi mereka, nyawanya dan keluarganya terancam. Jika ia menyerahkan mereka, ia mungkin aman untuk sementara, tetapi melawan suara hatinya. Rahab memilih untuk berpihak pada Allah. Ia menyembunyikan para pengintai dan mengatur jalan agar mereka dapat kembali dengan selamat.
Iman Rahab tidak berhenti pada pengakuan di bibir. Ia mewujudkan imannya melalui tindakan nyata. Dengan penuh risiko, ia melindungi orang-orang yang ia yakini berada di pihak Allah. Ia pun memohon keselamatan bagi keluarganya, dan Tuhan menghargai imannya.
Kisah Rahab menegur kita dengan lembut: iman sejati bukan iman yang pasif. Iman yang hidup selalu mendorong tindakan, meskipun penuh risiko dan tidak mudah. Rahab mengajarkan bahwa percaya kepada Allah berarti berani mengambil keputusan yang benar, walau tidak selalu aman di mata manusia.
Renungan ini mengajak kita bertanya:
Apakah imanku hanya berhenti pada pengakuan, ataukah sudah terlihat dalam sikap dan tindakanku sehari-hari?
Tuhan rindu melihat iman yang sembada—iman yang berani taat dan siap menanggung konsekuensi, karena percaya bahwa Allah setia menyertai.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar