Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

SEDIKIT YANG TERPILIH


Matius 22:1-14
Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." (Matius 22:14)


Dalam situasi ini pandemik covid 19 banyak dampak yang terjadi di dalam kehidupan kita. Misal pemutusan kerja atau phk akan banyak terjadi bagi karyawan. Perusahaan gulung tikar dan sepinya pembeli juga banyak pengangguran dan akhirnya ekonomi ambruk. Ibarat saat ini sedang mengalami pemilihan baru lagi.  Apakah semua akan terpilih tentu tidak. Firman Tuhan sudah mengatakan sedikit yang dipilih.
            Melalui bacaan Alkitab kita hari ini, Yesus kembali memberikan perumpamaan kepada para Imam dan orang farisi, yaitu perumpamaan tentang perjamuan kawin ini. Perumpamaan ini memiliki banyak persamaan dengan perumpamaan sebelumnya, yaitu perumpamaan tentang penggarap kebun anggur.

            Perjamuan kawin memberikan gambaran tentang perjamuan Mesias, dimana undangan diberikan dua kali.  Orang-orang yang menerima undangan pertama mengabaikannya dengan alasan mereka sedang sibuk bekerja. Undangan kedua diberikan kepada orang-orang yang sebenarnya tidak layak menerimanya, tetapi justru orang-orang inilah yang meresponinya dan datang di perjamuan tersebut.

            Dari perumpamaan ini kita bisa belajar dua hal:

Panggilan Allah membutuhkan tanggapan manusia

Injil Yesus Kristus adalah undangan dari surga kepada manusia. Pertama kepada orang-orang Yahudi dan kemudian kepada bangsa-bangsa lain. Undangan ini membutuhkan tanggapan manusia dan ada batas waktunya. Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan manusia (Roma  1:16). Orang yang menolak Injil berarti menolak untuk menerima anugerah keselamatan dari Allah, maka mereka akan menerima murka Allah.

Panggilan Allah merupakan kasih karunia kepada manusia

Para imam dan orang Farisi adalah orang Yahudi yang sebenarnya sudah menerima undangan tersebut tetapi mereka mengeraskan hati menolaknya. Maka undangan keselamatan tersebut akhirnya bergerak kepada bangsa-bangsa lain yang sebelumnya tidak masuk dalam perjanjian dengan Allah. Bagian ini sangat penting kita perhatikan: kita adalah bagian dari orang-orang yang sebenarnya tidak layak menerima undangan keselamatan tersebut tetapi karena kasih karunia-Nya kita dilayakkan untuk mendengar dan beriman kepada berita Injil, bisa percaya kepada Yesus Kristus.

            Oleh sebab  itu kita perlu terus-menerus mensyukuri hidup kita yang sudah dipanggil dan diselamatkan oleh Allah di dalam Yesus Kristus. Wujud rasa syukur terbaik adalah dengan menanggalkan baju lama dan mengenakan baju baru yang telah disediakan Allah untuk merayakan perjamuan Mesias. Meninggalkan hidup lama yang berdosa dan memakai hidup yang baru dalam kebenaran dan kekudusan adalah bukti nyata kita menghormati Allah Yang Maha Kudus yang telah mengundang kita dalam pesta-Nya. (HTB)

kita perlu terus-menerus mensyukuri hidup kita yang sudah dipanggil dan diselamatkan oleh Allah di dalam Yesus Kristus

Doa. Bapa yang mengasihi kami aku berdoa berikan kekuatan dan masa depan bagi yang mengalami phk. Sertai kami semua menjadi orang pilihan Mu amin.
Share:

Persembahan bagi Pekerjaan Tuhan



Bilangan 7


Hal yang menarik dari pasal ini adalah pemberian persembahan dari semua suku di Israel pada hari pengurapan dan pengudusan Kemah Suci. Semua suku memberi sesuai dengan apa yang sudah diatur agar pekerjaan Tuhan di Kemah Suci dapat terlaksana. Selain itu, persembahan juga diberikan pada saat perayaan penahbisan mazbah, yaitu berupa peralatan yang dipergunakan di mazbah Tuhan. Dengan persembahan tersebut, segala kelengkapan pelayanan ibadah dan segala yang diperlukan oleh para pelayan ibadah terpenuhi dengan baik. Semua itu tentu juga akan mendatangkan kebaikan bagi umat dalam melaksanakan ibadah.

Dari nas ini kita belajar bahwa Tuhan menghendaki kita agar terlibat dalam pelayanan. Keterlibatan itu perlu diatur dengan baik, jelas, dan transparan. Dengan begitu, umat dapat mempersembahkan miliknya dengan sukacita.

Dalam konteks masa kini, ada banyak pekerjaan Tuhan yang membutuhkan keterlibatan kita. Ada yang terkait dengan peribadahan, sosial ekonomi, pendidikan, kerukunan antar umat beragama, dan sebagainya. Pelayanan tersebut bisa dikerjakan oleh umat agar tanda-tanda Kerajaan Allah semakin terwujud dalam kehidupan bersama. Tentu saja, pelayanan ini tidak hanya dilakukan oleh gereja. Siapa pun yang bersedia mempersembahkan diri bagi Tuhan bisa terlibat. Misalnya, Pusat Rehabilitasi Yakkum di Yogyakarta yang didirikan untuk menolong penyandang disabilitas fisik yang ada di Indonesia.

Marilah kita memohon kepada Tuhan agar kita diberi kepekaan untuk melihat betapa luasnya cakupan pekerjaan Tuhan di dunia ini. Kita juga memohon hikmat-Nya untuk dapat merintis dan terus mengerjakan pelbagai pekerjaan tersebut bagi keutuhan ciptaan dan kemuliaan-Nya. Kita memohon ampun karena kita sering kali hanya berkutat pada keegoisan diri.

Melalui nas ini kita diajak untuk keluar dari zona nyaman yang menahun dan menjadi berkat bagi sesama. Bersediakah kita? Maukah kita terlibat dalam pekerjaan Tuhan di dunia ini? [MTH]

DOA. Tuhan ajari kami untuk peduli serta peka  dengan pekerjaanmu. Amin
Share:

KESAKRALAN KELUARGA


Markus 10:1-16   

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya. [ayat 15]

     Bagaimana keadaan keluarga anda, dimasa pandemic covid 19 ini. Masih adakah kebahagiaan dan ke harmonisan disaat pekerjaan sulit.. atau mungkin sedang mengalami phk dan juga sepinya pembeli dan pengunjung. Masih bisakah keluarga anda menjadi berkat bagi orang lain dengan kesakralannya.
            Dalam pelayanan-Nya Yesus selalu mendapatkan perlawanan dari orang-orang Farisi yang munafik dan cemburu dengan popularitas [pengaruh] Yesus yang semakin meluas. Bacaan Alkitab kita hari ini merupakan jawaban Yesus yang lugas kepada orang-orang Farisi yang sedang menjerat dan berusaha menjatuhkan Yesus melalui pertanyaan tentang masalah perceraian. Pada masa itu ada dua kelompok yang memiliki pendapat yang saling bertentangan tentang perceraian. Ada satu guru agama yang sangat berpengaruh yang bernama Hillel, yang mengajarkan bahwa seorang laki-laki diperbolehkan menceraikan istrinya dengan alasan yang kecil sekalipun. Demikian juga dalam kehidupan masyarakat Romawi di masa itu sangat bobrok sehingga menceraikan istri itu dianggap sesuatu yang biasa saja.
            Yesus tidak secara langsung menjawab pertanyaan orang Farisi ini, tetapi balik bertanya, "Apa perintah Musa kepada kamu?" Yesus menunjuk kepada Taurat yang diajarkan Musa karena orang Farisi menghormati Musa dan apa yang diajarkannya. Orang Farisi menjawab, bahwa Musa mengijinkannya orang memberikan surat cerai seperti yang tertulis di Ulangan 21:1-4. Bagaimana kemudian Yesus menanggapinya? Ada tiga poin penting yang disampaikan Yesus:
            Pertama, Musa menginjinkan perceraian bukan sebagai perintah/kehendak Allajh tetapi karena kekerasan hati dan dosa manusia.
            Kedua, Allah menetapkan pernikahan agar laki-laki dan perempuan menjadi satu bukan untuk bercerai.
            Ketiga, pernikahan adalah kesatuan yang sakral yang bertujuan untuk menggenapi rencana Allah di dunia.
            Jadi, perceraian bukanlah jalan keluar atas masalah yang terjadi dalam pernikahan. Bagi orang Kristen, setiap masalah yang terjadi dalam pernikahan dilihat sebagai penghalang kesatuan yang harus diatasi di dalam kebenaran dan kuasa Allah. Bukan pernikahannya yang dihancurkan tetapi penghalangnya yang harus disingkirkan.
                        Beralih dari soal perceraian, Yesus mengajarkan pentingnya orang tua mendidik anak-anaknya di jalan Allah dan memastikan mereka mendapatkan berkat-Nya. Anak-anak itu memiliki hati yang lemah lembut untuk diajar dan untuk mengalami kehadiran Tuhan, maka setiap orang tua harus mengajarkan iman kepada anak-anaknya sejak kecil. Kelembutan hati seorang anak secara rohani bahkan dipakai Tuhan sebagai gambaran bagaimana seharusnya hati orang dewasa dalam menyambut Dia. (HTB)
Bagi orang Kristen, setiap masalah yang terjadi dalam pernikahan dilihat sebagai penghalang kesatuan yang harus diatasi             
Share:

Permasalahan Sepele



Bilangan 5:11-31

Saat kita pacaran dulu pernah ada perasaan cemburu bukan. Saat berumah tangga ketika ada anak baik laki atau perempuan kita juga perbah cemburu, di saat anak cewek dekat dengan ayah cowok dekat  ibu. Perasaan cemburu ini mulai ada di saat anak menginjak remaja. Hal sepele namun merusak hati dan jiwa. Lalu apa hubungannya dengan renungan kita hari ini.

Kita mungkin terhenyak ketika membaca nas ini karena Alkitab berbicara tentang hukum mengenai perkara cemburuan. Di situ dituturkan tentang apa yang mesti dilakukan ketika seseorang sedang cemburu. Hukum ini ditetapkan di tengah konteks umat Israel setelah keluar dari perbudakan di Mesir. Hukum yang sangat patriarkis karena hanya melihat kesalahan dari sisi perempuan.

Dari nas ini, kita belajar satu hal bahwa menyelesaikan perkara cemburuan sangat penting. Perkara ini diselesaikan bukan hanya oleh kedua belah pihak, tetapi juga melalui prosesi keagamaan.

Proses ini serius karena penyelesaian perkara tersebut tidak hanya berdampak pada ketenteraman hidup sepasang suami istri, tetapi juga anak dan keluarga besar.

Pada saat itu, tampaknya seorang laki-laki bisa main hakim sendiri terhadap istrinya. Ia bisa memukuli, bahkan membunuh istrinya karena cemburu. Demi menghindari situasi tersebut, hukum tentang perkara cemburuan ini muncul.

Dalam konteks masa kini, hukum ini mendobrak pemahaman kita selama ini yang beranggapan bahwa cemburu adalah hal kecil dan tidak perlu dibesar-besarkan. Nas ini mengajak kita agar menyelesaikan perkara kecil atau sepele agar tidak menjadi besar. Penyelesaiannya pun harus melibatkan aspek religius. Artinya, Tuhan dilibatkan dalam proses penyelesaian.

Penyelesaian terhadap persoalan cemburuan dalam tingkat tertentu sering kali membutuhkan mediator. Tugasnya untuk mempertemukan kedua pihak yang sedang bersengketa. Dalam hal ini, pelayan Tuhan di gereja bisa diharapkan membantu untuk menemukan jalan keluar.

Marilah kita bertekad untuk tidak mengabaikan persoalan yang sering kali dipandang wajar, sepele, atau kecil. Kita mesti menyelesaikan persoalannya sedini mungkin. Penyelesaiannya pun tidak hanya secara manusiawi, tetapi juga religius agar persoalan itu tidak semakin parah. Juga, walaupun suatu perkara adalah sepele, penyelesaiannya harus dengan sikap bijaksana. [MTH]

Doa: Ya Tuhan Allah bapa yang mengasihi kami. Berikan hamba juga jemaatmu hati yang sanggup dan dapat mengampuni serta menyelesaikan hal yang sepele bersama Tuhan, Supaya ada kebijaksanaan. Amin.
Share:

Melayani Allah


Bilangan 3-4
Pada 1700-an, William Carrey, seorang guru dan pembuat sepatu dari Inggris, memiliki kerinduan sederhana. Ia ingin menjadi pemberita Kabar Baik bagi orang-orang di sekitarnya. Sampai pada suatu saat dalam sebuah rapat gereja, ia menyatakan ingin menjadi misionaris. Kerinduannya untuk melayani Tuhan dalam hidupnya membuatnya pergi menjalankan misi ke India. Dalam dunia misi, ia adalah salah seorang tokoh yang dihormati dan disegani.

Di dalam bangsa Israel, orang-orang yang dipanggil untuk melayani Tuhan adalah suku Lewi (3:5-8). Mereka rela mendedikasikan hidup untuk Tuhan karena mereka adalah kepunyaan Tuhan (3:12-13, 41, 45). Alih-alih kematian akibat penghukuman Tuhan, anak-anak sulung bangsa Israel dikuduskan supaya mereka menerima pekerjaan di Kemah Suci. Sesuai dengan firman Tuhan, orang Lewi bertanggung jawab atas kegiatan dan sarana ibadah bangsa Israel (4:47-49).

Dalam penebusan Kristus, setiap orang percaya telah diluputkan dari maut. Setiap orang yang percaya dalam nama Tuhan Yesus Kristus adalah umat milik-Nya.

Kita sudah dikuduskan untuk menjadi pelayan Tuhan. Oleh karena itu, satu-satunya hal yang sepatutnya mengisi kehidupan kita adalah ibadah yang kudus dan berkenan di hadapan-Nya. Hidup ini bukan milik kita untuk memuaskan hawa nafsu. Ingatkah kita akan panggilan pertobatan dan Amanat Agung Yesus Kristus? Selama ini apa yang kita kerjakan? Pengejaran hawa nafsu yang sia-sia, atau pekerjaan baik yang meninggikan nama Tuhan?

Barangkali kita dipercaya untuk mengerjakan tugas yang berbeda-beda, tetapi kita harus ingat bahwa kita semua adalah pelayan kepunyaan Tuhan.

Kita tidak bisa membuat aturan sesuka hati. Satu-satunya yang kita taati sekarang adalah Tuhan. Maka dari itu, sesuai dengan firman-Nya, aspek apa pun dari diri kita sudah selayaknya didedikasikan untuk melayani-Nya.

Mari kita melayani Tuhan dengan bertanggung jawab, tidak lagi dalam kecemaran, namun dalam ketaatan dan kekudusan. [AST]
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.