Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Tuhan di Setiap Rencana Hidup

Baca: Yakobus 4:13-17

"Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." (Yakobus 4:15)

Perencanaan adalah hal penting dalam menjalani sebuah kehidupan. Dengan perencanaan yang baik dan matang langkah hidup seseorang akan semakin teratur dan makin terarah kepada suatu sasaran yang hendak dituju. Hidup yang terencana adalah bukti bahwa seseorang sangat menghargai waktu dan semua potensi yang Tuhan berikan. Namun sebuah perencanaan jika tidak disertai tekad dan usaha mewujudkannya tidak akan lebih dari sekedar moto dan angan-angan belaka, karena orang yang berhasil adalah yang hidupnya terencana dengan baik dan punya kemauan keras mewujudkan rencananya.


Sebuah perencanaan hidup akan semakin sempurna apabila Tuhan terlibat di dalamnya. Yakobus mengingatkan agar jangan pernah kita melupakan Tuhan dalam setiap perencanaan hidup. Di zaman yang serba modern ini kebanyakan orang tidak lagi melibatkan Tuhan dalam setiap perencanaan hidup, karena merasa diri mampu menentukan langkah hidupnya. Dengan pengalaman, kepintaran, kekuatan, kecanggihan teknologi, uang atau kekayaan yang dimiliki mereka mengira bahwa semua yang direncanakan pasti akan berhasil. "Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati." (Amsal 16:2). Orang yang melupakan Tuhan dalam setiap rencana hidupnya sama artinya meremehkan Tuhan, mengabaikan kehadiran-Nya, menganggap seolah-olah Tuhan tidak ada dan tidak punya kuasa. Yang menjadi akar persoalan adalah kesombongan.


Orang yang sombong dan angkuh meyakini bahwa ia mampu mengatasi semua persoalan hidupnya dengan kekuatan yang dimiliki, padahal ada banyak hal di dunia ini yang tak dapat diprediksi. Apa yang akan terjadi esok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan? Tak seorang pun tahu. "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27:1). Kehidupan ini tidak selurus dan semulus yang kita bayangkan, terkadang ada "kejutan-kejutan" yang tidak pernah kita harapkan, sementara kita hanya bisa menduga-duga dan mengira.


"Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." (Amsal 19:21)

Share:

Percayakan pada Tangan yang Berkuasa

Matius 8:1-27 

Dari manakah datangnya pertolongan saat kita mengalami sakit yang berat dan berkepanjangan? Dari manakah datangnya keselamatan, saat kita terancam bahaya?

Setelah memberikan khotbah-Nya, Yesus turun dari bukit dan menyembuhkan seorang yang sakit kusta. Hanya dengan mengulurkan tangan dan berkata, "Aku mau, jadilah engkau tahir", seketika orang itu sembuh (2, 3). Begitu juga ketika menyembuhkan hamba dari seorang perwira di Kapernaum, Yesus tidak perlu menemuinya, hanya dengan berfirman, hamba itu pun sembuh. Saat Yesus pergi ke rumah Petrus, Dia juga menyembuhkan ibu mertua Petrus dari sakit demam. Selain atas penyakit, Yesus berkuasa juga atas setan. Hanya dengan sepatah kata saja, Yesus mengusir setan-setan dari banyak orang sekaligus (13-16). Bahkan alam pun tunduk atas perintah-Nya (26).

Jelas sekali dalam pelayanan-Nya, Yesus tidak hanya menyampaikan firman yang berisi petunjuk-petunjuk hidup agar orang-orang hidup dalam kebenaran. Ia juga mengadakan banyak mukjizat. Yesus menyatakan kuasa-Nya agar orang-orang memuliakan-Nya. Ia berkuasa atas segala sesuatu. Oleh sebab itu, ada begitu banyak orang yang datang kepada-Nya. Mereka kagum oleh pengajaran Yesus. Mereka juga minta disembuhkan atau ingin melihat mukjizat.

Ketika kita menghadapi masa-masa sulit dan tidak tahu ke mana harus meminta pertolongan, datanglah kepada Yesus. Saat penyakit membuat kita menderita dan putus asa, percayalah bahwa Yesus yang sanggup menyembuhkan segala penyakit akan menolong kita. Begitu juga saat kita berada dalam ketakutan terhadap bahaya yang mengancam hidup kita, berharaplah akan pertolongan dan keselamatan dari-Nya. Kita perlu berharap dengan iman ketika memohon anugerah Allah dan kemurahan hati-Nya.

Percayalah, segala sesuatu ada dalam kekuasaan tangan Allah. Jika pada masa lalu Dia berkuasa menyembuhkan orang sakit dan meredakan badai, hari ini pun Dia masih berkuasa. Mari kita bersyukur sebab tangan kuasa Allah menyertai umat-Nya. Amin.

Share:

Buktikan Bila Kau Percaya

Matius 7:13-29 


Ada ungkapan yang mengatakan "Jika benar-benar cinta, tunjukkanlah melalui tindakan, jangan sebatas perkataan saja." Kalimat seperti itu mungkin sering kita dengar ketika mencoba membangun relasi dengan orang yang kita sukai. Pesan yang sama juga berlaku dalam relasi manusia dengan Tuhan.


Jalan yang ada di dunia ini diibaratkan hanya terbagi atas dua jalan. Jalan yang satu lebar, tetapi berujung pada kematian kekal. Jalan yang lain sempit, tetapi berujung pada kehidupan kekal (13, 14). Dari kedua jalan ini kita melihat ada dua tipe manusia yang terlihat sama, tetapi berbeda. Perbedaannya ada pada pangkal dan buahnya.


Pertama, tipe manusia yang melalui jalan lebar. Manusia ini seolah-olah mendengarkan firman Tuhan, beribadah, mengajarkan firman, dan bahkan mungkin melakukan tanda-tanda ajaib. Namun demikian, manusia ini tidak sungguh-sungguh melakukan firman Tuhan (15, 21, 22, 26).

permuliakan

Kedua, manusia yang melewati jalan sempit. Manusia ini mendengarkan firman Tuhan, lalu menghidupi firman tersebut dalam kehidupan pribadi. Ia melakukan kehendak Allah. Ia mempermuliakan Allah Bapa di dalam Anak-Nya (21; bdk. Yoh 13:31; 14:13). Manusia ini tidak akan mudah terombang-ambing atau terbawa arus zaman. Manusia tipe ini kokoh dan teguh dalam iman seperti bangunan yang memiliki pondasi yang kuat. Manusia tipe kedua ini berjalan di dalam Tuhan Yesus dan menuju kepada-Nya, sebab Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup (lih. Yoh 14:6).

Sesungguhnya, setiap orang bisa menjadi pengajar firman Tuhan yang benar-benar melakukan firman-Nya. Setiap orang bisa berdoa, beribadah, dan menghayati firman-Nya dengan sungguh-sungguh. Setiap orang bisa memperoleh mukjizat dari Tuhan Yesus yang ia permuliakan.

Iman kita pada Yesus Kristus harus ditunjukkan melalui hidup yang berbuahkan kebenaran. Kita tidak cukup mendengarkan firman Tuhan saja, tetapi harus melakukan dan menghidupi firman-Nya secara total. Marilah kita hidup beriman dengan memuliakan Allah Bapa di dalam Anak-Nya, Yesus Kristus.Amin.

Share:

Memiliki Dasar yang Kuat

Lukas 6:46-49

"Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun." (Lukas 6:48b)

Orang saleh adalah orang yang senantiasa taat kepada Tuhan dan memperhatikan titah-titah-Nya. Umat seperti inilah yang menjadi kesayangan-Nya, dan selalu ada kebahagiaan bagi orang-orang yang hidupnya saleh. Sebaliknya Tuhan sangat kecewa apabila anak-anak-Nya tidak mau melakukan perintah-Nya, hanya berteori saja. Dalam hal ini, Tuhan Yesus berkata, "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?" (ayat 46).

Kekristenan bukanlah sekedar berseru-seru, "Tuhan, Tuhan!", bukan pula sekedar menjadi pendengar pasif. Lebih dari itu kita harus menjadi pelaku firman yaitu melakukan perkataan Yesus. Alkitab mengatakan, "...hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (Yakobus 1:22). Setiap orang yang melakukan firman Tuhan "...sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu." (ayat 48a), namun "...barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar." (ayat 49a).

Jadi ada dua jenis bangunan yang secara fisik tampak sama. Namun perbedaan dan kualitas bangunan itu baru terlihat apabila terjadi guncangan dari luar. Bangunan yang dasarnya kuat tidak akan goyah walaupun air bah dan banjir melandanya. Berbeda dengna bangunan yang didirikan di atas tanah tanpa pondasi yang kuat; secepat badai, taufan dan juga air bah datang, secepat itu pula bangunan itu akan roboh dan tinggal puing-puing.

Saat-saat ini kita harus membangun "rumah rohani" kita: membangun iman, ketaatan, ketekunan, kesetiaan dan sebagainya, yang kesemuanya harus berlandaskan firman Tuhan yang didirikan di atas dasar batu karang yaitu Tuhan Yesus sendiri. Perbedaan kualitas "bangunan rohani" masing-masing orang akan terlihat nyata saat badai persoalan itu datang dan menyerang kita.

Sudahkan kita membangun "rumah rohani" kita dengan benar? Jika belum, segeralah berbenah sebelum terlambat!
Gbu. Amin
Share:

Berfokus dan Bergantung pada Allah

Matius 4:1-11 

Berpuasa dalam jangka waktu cukup lama tentu dapat membuat kondisi fisik manusia menurun. Tidak terkecuali dengan Tuhan Yesus. Dalam kondisi yang demikian, Ia diperhadapkan pada serangan Iblis.

Iblis mencobai Yesus dengan meminta Yesus mengubah batu menjadi roti. Iblis tahu itulah yang dibutuhkan oleh Yesus setelah 40 hari 40 malam berpuasa, yaitu memenuhi kebutuhan fisik-Nya (2). Melalui pencobaan ini Iblis ingin mengalihkan Yesus dari hal-hal rohani kepada hal-hal jasmani. Iblis juga ingin agar Yesus berusaha memenuhi kebutuhan-Nya dengan bergantung pada kekuatan-Nya sendiri dan bukan pada Allah.

Namun, Tuhan Yesus tidak terkecoh dengan semua itu. Ia tetap bergantung pada Bapa-Nya dan tidak menuruti perkataan Iblis. Ia menjawab tantangan dan mematahkan serangan Iblis dengan firman Tuhan. Ia menegaskan kepada Iblis bahwa hidup dan mati manusia tidak ditentukan oleh kebutuhan fisik, melainkan oleh Allah, Sang Pemberi dan Pemelihara Hidup.

Melalui perikop ini, kita belajar bahwa Iblis selalu berusaha menjauhkan kita dari Allah. Iblis mengalihkan pikiran kita dari hal-hal rohani kepada hal-hal jasmani. Iblis memanfaatkan materi dan kekhawatiran hidup.

Iblis sering mengacau ketika kita sedang menyenangkan Allah. Misalnya, Iblis membujuk kita untuk mengikuti pertemuan bisnis ketimbang beribadah, menonton acara televisi ketimbang mendengarkan firman Tuhan, dugem sampai pagi ketimbang melakukan saat teduh. Pada akhirnya, kita kehilangan momen bersama Tuhan. Kita tidak bisa menikmati firman-Nya, sehingga tidak lagi peka mendengar suara-Nya.

Kita sering bertindak salah karena memakai cara kita sendiri. Kita mengambil jalan pintas agar bisa lepas dari kekhawatiran dan menyelesaikan persoalan hidup dengan cara kita sendiri. Kita makin menjauh sehingga tidak lagi bergantung pada Dia. Mari kita mengarahkan pikiran dan hati kita kepada Allah dan tetap bergantung pada-Nya dalam menghadapi segala tantangan. Di Tahun ini kita masih tetap hidup dalam bayang bayang kesuraman dan ketakutan. Berfokuslah dan bergantung kepada Allah. Amin
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.