Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Mental toxic

1 Petrus 1:13 16

Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.
1 Petrus 1:13

Mental toxic adalah cara berpikir keliru yang merusak hidup kita, sama seperti racun merusak tubuh. Salah satu bentuk mental toxic adalah toxic positivity, yaitu keyakinan yang tidak wajar bahwa kita harus berpikir positif dalam situasi apa pun bahkan ketika faktanya kita lagi tidak baik baik saja.

Rasul Petrus bicara tentang mental atau pikiran yang positif tetapi yang dimaksud olehnya bukanlah toxic positivity. Ia mengatakan agar menyiapkan akal budi, seperti seseorang yang menggulung jubah panjangnya agar dapat berjalan cepat atau berlari. Ia melanjutkannya dengan waspadalah. Sebenarnya yang dimaksud dari waspada adalah jangan mabuk. Mabuk anggur adalah kebiasaan umum pada masa itu. Tentu mabuk yang dimaksud tidak sekadar mabuk anggur, tetapi maksud Petrus secara lebih mendalam adalah jangan membiarkan pikiran berkelana sehingga teracuni hal hal lain yang mengganggu iman, bahkan membuat kita berdosa. Seorang yang menuruti hawa nafsu adalah seorang yang akal budinya sudah dibajak oleh hawa nafsu tersebut. Inilah mental toxic.

Rasul Petrus berkata dalam 1 Petrus 4:7, Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. Ia mendorong kewaspadaan rohani dalam hal doa. Sementara di 1 Petrus 5:8, Sadarlah dan berjaga jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Ia mengingatkan agar kita waspada dan siap sedia melawan si jahat. Pada ayat 15 ia mendorong pembacanya, hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, Kunci keberhasilan semua ini ada pada mental atau pikiran yang berfokus pada kebenaran Allah. Pikiran yang benar akan membawa pada hidup yang benar.

Mental, pikiran atau akal budi adalah kunci pada kehidupan. Hidup bisa jadi benar atau salah bergantung pada akal budi. Apa yang diutamakan pikiran kita, itulah yang mengarahkan tujuan hidup kita. Itu sebabnya Rasul Paulus sangat menekankan transformasi akal budi (Rm 12:1 2). Tanpa transformasi akal budi, hidup kita akan menuju arah yang salah dan menjadi sia sia. Jangan biarkan diri Anda hidup dengan mental toxic. Berubahlah.

Refleksi Diri:

Apa hal hal yang mendominasi pikiran Anda hari ini?

Bagaimana caranya agar pikiran Anda tidak diracuni hal hal yang salah atau membawa kita pada dosa?
Share:

Sekolah Kehidupan

Yunus 1:4 16

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai rencana Allah.
 Roma 8:28

Sebuah pepatah Mandarin berbunyi: huo dao lao, xue dao lao. Artinya, hidup sampai tua, belajar sampai tua. Semangat yang disampaikan dari pepatah ini adalah kita akan terus belajar selama masih hidup. Sebagai murid Kristus, pertanyaan yang muncul: apakah kita masih terus belajar untuk mengikut Tuhan sekarang? Apakah kita masih peka pada pengajaran Tuhan dalam hidup?

Perikop yang kita baca menyampaikan pesan bahwa Tuhan dapat memakai segala hal dalam kehidupan untuk mengajar orang yang dipanggil Nya. Yunus lari dari panggilan Tuhan untuk mengabarkan pertobatan bagi orang Asyur, para penyembah berhala. Ia menolak menunjukkan kasih Allah dan lari menjauh dari Nya. Allah tidak tinggal diam. Dia menangkap Yunus dengan mengirimkan badai ke laut yang dilintasinya.

Tuhan mengenal Yunus. Dia tahu diperlukan badai kehidupan untuk mengajarkan sesuatu kepadanya. Badai yang dialami oleh Yunus dan para awak kapal begitu luar biasa besar, hingga membuat pelaut profesional sekalipun takut hingga berteriak teriak kepada allah mereka sendiri (ay. 5). Yunus tahu dirinyalah penyebab badai tersebut. Ia bisa memilih untuk diam saja dan mati bersama para awak kapal atau mengakui pelariannya dan menyerahkan diri untuk dibuang ke laut. Yunus akhirnya memilih mengorbankan dirinya dibuang ke laut (ay. 12). Terlihat jelas, Allah secara perlahan sedang mengajar Yunus untuk mengasihi orang orang yang Dia kasihi, meski mereka adalah penyembah berhala. Melalui badai yang dahsyat, Yunus yang enggan mengabarkan pertobatan kepada orang di Niniwe dipakai Tuhan untuk mempertobatkan para pelaut yang juga adalah para penyembah berhala.

Tuhan dapat memakai segala kondisi kehidupan untuk mengajar kita. Mungkin ada keluarga, pekerjaan, atau kesempatan yang hilang dari kita semasa hidup. Melalui sekolah kehidupan yang sedang kita jalani, marilah kembali menghadap kepada Tuhan Yesus dan bertanya di dalam hati, apa yang mau Engkau ajarkan kepadaku, Tuhan? Jangan biarkan harga mahal yang telah kita bayarkan dalam sekolah kehidupan berlalu sia sia. Ayo, jalani hidup sambil terus belajar mengikut Tuhan karena Dia dapat memakai segala hal dalam hidup untuk kebaikan kita.

Refleksi Diri:

Apakah selama ini Anda terus belajar dalam setiap peristiwa hidup untuk menjadi murid Kristus yang lebih baik?

Apa satu hal yang Tuhan coba ajarkan melalui peristiwa kehidupan yang Anda alami?

Share:

Hidup benar bukan cari Aman

1 Raja raja 22:1 18

Tetapi Mikha menjawab: Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa yang akan difirmankan TUHAN kepadaku, itulah yang akan kukatakan.
1 Raja raja 22:14

Adam adalah seorang mahasiswa tingkat pertama. Ia tergolong anak yang rajin masuk kuliah dan pintar. Namun, tidak semua mahasiswa di kelasnya seperti dirinya dalam hal kehadiran. Adam yang berteman dengan beberapa mahasiswa malas sering dititipi absen dengan membuat tanda tangan palsu. Awalnya ia menolak, tetapi malah banyak yang menjauhinya. Untuk cari aman agar tidak meninggalkan teman temannya, akhirnya ia melawan hati nurani. Lama kelamaan ia terbiasa berbohong seperti itu.

Bukankah di berbagai area kehidupan kita juga sering mengorbankan kebenaran supaya tetap aman di dalam pekerjaan, tidak kehilangan teman teman, mendapatkan untung bisnis yang lebih besar, dll. Tetap ingat! Hidup di dalam kebenaran adalah keharusan bagi anak Tuhan.

Nabi Mikha bukan orang yang disukai pada saat itu. Bukan karena ia orang yang ngeselin atau sering buat masalah, tetapi karena selalu mengatakan seturut apa yang Tuhan katakan sekalipun itu sesuatu yang tidak mengenakkan. Saat orang Israel dan Yehuda merencanakan peperangan melawan Aram, mereka mengumpulkan sekitar empat ratus nabi yang semuanya dengan satu suara bulat menyatakan, Maju saja, kalian pasti menang! Salah satu raja ingin mendengar pendapat Mikha. Sebelum menghadap raja, Mikha dititipi pesan agar menubuatkan yang sama persis seperti empat ratus nabi tersebut. Namun, Mikha berkata seperti pada ayat emas di atas.

Mikha bisa saja cari aman ikut suara mayoritas yang salah sehingga tidak akan mendapat masalah. Tetapi ia hanya mau mengatakan suara Tuhan, bukan cari aman, bukan menyenangkan manusia. Singkat cerita, ia mengatakan firman Tuhan bahwa mereka akan kalah berperang. Karena mengatakan kebenaran, Mikha dijebloskan ke dalam penjara. Bagaimana nasib Israel dan Yehuda dalam peperangan? Tentu kalah. Raja Ahab pun mati. Baca deh seluruh kisah seru ini di 1 Raja raja 22:1 40.

Tuhan Yesus tidak pernah cari aman ketika hidup di dunia, justru Dia menghadapi bahaya terbesar, yaitu menanggung hukuman dosa untuk setiap kita supaya kita dibenarkan dan hidup dalam kebenaran. Sebagai orang orang yang ada di dalam Kristus, haruslah kita berjalan di dalam kebenaran firman Tuhan. Buka telinga lebar lebar pada apa yang dikatakan firman Tuhan, simpan dalam hati, dan lakukanlah!

Refleksi Diri:

Apa situasi yang membuat Anda tergoda mencari aman daripada teguh memegang kebenaran?

Apakah Anda mau mengambil sikap yang benar jika selama ini Anda sering cari aman meskipun tahu itu salah?

Doa
Bapa yang kukasihi kepadamulah aku berkenan, pagi hari ini, aku serahkan semua aktifitasku ke dalam kuasamu, kuasailah aku untuk mengaturnya, sehingga dapat apa yang ku ingini. dalam Yesus ku berdoa. Amin.
Share:

Keropos Rohani

Matius 16:1 4

Tetapi jawab Yesus: Pada petang hari karena langit merah, kamu berkata: Hari akan cerah, dan pada pagi hari, karena langit merah dan redup, kamu berkata: Hari buruk. Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda tanda zaman tidak.
 Matius 16:2 3

Saya heran mengapa ada sayap laron di lantai setiap hari. Dibersihkan ada lagi besoknya. Padahal saya tidak pernah melihat mereka beterbangan. Akhirnya, kami menemukan sumbernya: sofa di ruang keluarga kami. Luarnya masih bagus tetapi kayu kerangkanya sudah keropos, habis dimakan rayap.

Tuhan Yesus berbicara tentang hal keropos rohani. Ia menyinggung soal orang Farisi dan Saduki yang meminta tanda ajaib untuk menegaskan bahwa Dia sungguh Mesias. Maksud sebenarnya adalah mereka ingin mencobai Tuhan Yesus. Mereka sedang mencari cari kelemahan Nya. Niat mereka tidak tulus. Mereka tidak bisa atau lebih tepat tidak mau mengakui hal hal positif yang sudah jelas jelas dilakukan Yesus. Tuhan Yesus balik menyindir mereka dengan mengatakan soal memerhatikan cuaca. Setiap orang bisa melakukan hal itu. Maksudnya, untuk mengetahui kondisi cuaca secara umum, seseorang tidak perlu menjadi ahli meteorologi. Tanda tandanya nyata. Pagi ini, ketika saya menulis renungan ini, cuaca agak gelap. Berawan tebal. Kemungkinan besar siang atau sore akan hujan. Sesederhana itu.
Sadar tidak sadar, kita bisa bersikap seperti orang Farisi dan Saduki. Kita sudah mengalami banyak kebaikan dan berkat Tuhan tetapi masih merasa Tuhan itu jauh. Kita masih menuntut Tuhan memberikan ini dan itu, padahal yang kita terima sudah cukup bahkan lebih dari cukup. Kita perlu belajar untuk lebih banyak bersyukur daripada meminta. Sebagai orang yang sudah menyaksikan ajaran dan karya Tuhan Yesus bahkan mendapat jaminan keselamatan, tidak ada alasan untuk minta mukjizat ini itu lagi. Sudah banyak hal baik yang Tuhan perbuat dalam hidup kita. Niat menuntut lebih banyak berkat atau tanda atau mukjizat menunjukkan tanda rohani yang keropos. Luarnya tampak baik baik tetapi dalamnya hancur.
Saudara saudaraku, mari peka melihat kejadian kejadian sederhana di keseharian Anda yang merupakan mukjizat yang Tuhan lakukan. Saya yakin ada banyak peristiwa di dalam hidup yang melaluinya Anda bisa melihat mukjizat kebaikan Tuhan. Bahkan Anda bisa bangun pagi dan menarik napas segar, itu sudah sebuah mukjizat! Rohani Anda tidak keropos, kan?

Refleksi Diri:
Mengapa ada orang Kristen yang sedikit sedikit meminta mukjizat dari Tuhan? Apakah ini tanda kerohanian yang sehat?
Bagaimana membangun kebiasaan bersyukur dalam hidup Anda?

Doa. 
Ya Bapa Terima kasih buat waktu pagi ini, untuk aku bisa bersyukur sebelum beraktifitas, jadikan hidupku berarti dan jangan sampai keropos rohani. Amin
Share:

Memberi lebih banyak

Lukas 21:1 4

Lalu Ia berkata: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi
lebih banyak dari pada semua orang itu.
 Lukas 21:3

Seorang peternak berkata kepada istrinya bahwa ia ingin mempersembahkan seekor anak sapi untuk Tuhan. Beberapa hari kemudian induk sapi peternak ini melahirkan dua ekor anak sapi, tapi sayang, satunya cacat. Peternak berpikir anak sapi yang cacat itulah yang akan diberikan kepada Tuhan. Kita pun sering bersikap seperti peternak itu, bukan? Ketika diberkati, kita mengambil yang terbaik buat diri sendiri dan menyerahkan yang kurang baik atau yang cacat buat Tuhan.

Firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sangat peduli mengenai uang dan persembahan. Dia memerhatikan orang orang kaya dan seorang janda miskin memberi persembahan (ay. 1 2). Bedanya, orang orang kaya memberi dalam jumlah besar, sedangkan janda miskin itu hanya memberi dua peser (Mrk. 12:41). Peser (Yunani: lepta/lepton) adalah mata uang terkecil dari uang logam Yunani. Satu dinar senilai dengan 128 lepta, upah sehari untuk seorang pekerja. Jadi, yang dipersembahkan sang janda miskin bernilai 1/64 upah rata rata sehari seorang pekerja. Ini menunjukkan bahwa janda ini sangat miskin sehingga hanya bisa memberi sedikit sekali. Namun, herannya yang dipuji Yesus adalah justru janda miskin itu, bukan orang kaya (ay. 3). Mengapa? Karena Tuhan Yesus menilai dari motivasi orang memberi persembahan. Janda miskin memberi lebih banyak karena ia memberi dari kekurangannya, seluruh nafkah hidupnya (ay. 4). Artinya, bukan lebih banyak secara kuantitas, tetapi lebih pada kualitas pengorbanannya bagi Tuhan sampai sampai hanya menyisakan sedikit bagi dirinya sendiri. Jadi, nilai persembahan tidak diukur dari jumlah nominal semata, melainkan dari jumlah pengorbanan. Tuhan Yesus melihat motivasi janda itu dalam memberi karena kasih, rasa syukur, dan ibadahnya yang sejati kepada Tuhan. (Rm. 12:1 2).

Ayo introspeksi diri, bagaimana sikap dan motivasi kita memberi persembahan selama ini? Marilah memberi persembahan kepada Tuhan dengan motivasi yang benar, bukan supaya dilihat atau dipuji orang. Juga bukan untuk mengharapkan balasan berkat yang berlipat ganda dari Tuhan, tetapi karena kita mau mengasihi Tuhan yang lebih dulu mengasihi kita dengan memberikan nyawa Nya untuk menebus dosa kita. Hidup kita hanya untuk menyenangkan Dia.

Refleksi Diri:

Apa dasar Tuhan Yesus menegaskan bahwa janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang?

Apa langkah konkret yang dapat Anda lakukan dalam hal memberi yang terbaik bagi Tuhan?

Doa. 
Bapa yang baik pagi yang indah ini, kau izinkan kami sujud di altarmu memohon ampun dan ridhomu, atas segala hal yang akan ku kerjakan di hari ini, apapun yang ku dapat dan kuterima ajari aku untuk bersyukur serta dapat memberi lebih banyak, meskipun tidak ada yang dapat kami berikan, ajari aku untuk memiliki hikmat dalam memberi, semua rencanaku hari ini adalah pemberianmu, agar ku dapat menjadi alat pemberianmu Itu. Temukan aku dengan orang damai agar aku dapat menceritakan Kemuliaanmu. Amin
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.