Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

JANGAN TINGGALKAN KOMUNITAS

BACAAN ALKITAB HARI INI
Ibrani 10:24-25
AYAT HAFALAN
Efesus 2:19-20
Pada tanggal 8 Juli 2022, perdana menteri Shinzo Abe dibunuh oleh seorang pria berusia 41 tahun bernama Tetsuya Yamagami. Menurut berita lokal, ia menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk merencanakan serangan menggunakan senjata rakitannya dan menghadiri acara-acara kampanye Abe. Pria tersebut percaya bahwa Shinzo Abe terkait dengan kelompok agama yang menjadi alasan kehancuran finansial ibunya. Menurut surat kabar Mainichi, Tetsuya mulai sering bolos kerja tanpa izin. Pada pertengahan April 2022 ia menghabiskan jatah cuti dan berhenti bekerja pada bulan Mei. Kantor berita Reuters juga mewawancarai tetangga Tetsuya yang mengatakan bahwa tersangka adalah seorang penyendiri yang tidak menjawab ketika diajak bicara. 
Dari kisah ini kita belajar bahwa seseorang sangat mungkin memutuskan hal-hal yang fatal tanpa pertimbangan ketika mereka terisolasi dalam masyarakat, menjadi seorang penyendiri yang sulit berkomunikasi dan tidak terbuka dengan orang lain, bahkan meninggalkan komunitasnya (dalam hal ini tempat kerjanya). Setiap orang memiliki masalah dalam hidupnya, namun jika kita tetap berada dalam komunitas yang tepat, terutama komunitas rohani, maka kita dapat saling berbagi suka dan duka. Kita bisa mendapatkan kekuatan, saran, koreksi, bahkan solusi. Seperti dalam bacaan Alkitab hari ini supaya kita tidak menarik diri dari pertemuan ibadah, namun hendaknya kita saling menasihati. Melalui komunitas rohani, kita akan mendapat pengaruh yang baik, saling mendukung untuk bertumbuh di dalam Kristus. Di dalam gereja kita, terdapat komunitas yang disebut  Soli Deo Gloria. Komunitas ini adalah sarana bagi kita untuk saling mendewasakan di dalam Kristus, menjadi wadah untuk saling memperhatikan dan mendukung para jemaat, saling mendoakan, menegur, dan menguatkan satu sama lain layaknya sebuah keluarga. Sebegitu pentingnya berada dalam komunitas, maka usahakanlah untuk tetap ada di dalamnya. [TJ]

REFLEKSI DIRI 
1. Apakah Anda sudah tergabung di dalam CORE? Jika tidak, apa yang membuat Anda tidak bergabung di dalamnya dan jika ya, apakah Anda sudah aktif terlibat di dalamnya?
2. Hal apa yang pernah Anda lakukan ketika ada salah satu anggota core Anda menceritakan masalahnya kepada Anda?
YANG HARUS DILAKUKAN
Tergabunglah di dalam komunita gereja. Saling memberi dukungan satu dengan yang lain.
POKOK DOA
Bapa, firman-Mu mengajarkanku bahwa Engkau tidak akan membiarkan aku menghadapi masalah sendiri. Hari ini aku mau bertumbuh dengan rekan seimanku, dengan komunitas yang Kau tetapkan. Di dalam nama Yesus. Amin.

HIKMAT HARI INI 
Perubahan yang besar dimulai dari komunitas yang menemukan apa yang menjadi perhatiannya.
Share:

BAHAYA TAAT TAPI MENGGERUTU

BACAAN ALKITAB HARI INI
Filipi 2:12-16 (:14)
Di dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi, ia menyapa mereka sebagai umat yang taat. Kemudian Paulus menasihati supaya mereka menjalani pengakuan iman mereka dengan sikap dan perilaku yang pantas, yaitu melakukan segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantah, supaya mereka tiada beraib dan tiada bernoda, tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya. Dengan kata lain, Paulus juga ingin mengatakan kepada kita bahwa cara kita menaati itu penting.
Tidak sedikit orang yang menggerutu dan membantah di dalam ketaatannya. Mereka melakukan perintah, namun dengan bersungut-sungut. Mereka melakukan perintah, namun dengan beribu bantahan dalam hati. Motivasi dan semangat di balik melakukan sesuatu itu penting. Sebab standar Tuhan kepada kita bukan sekedar hanya untuk ditaati, namun untuk ditaati sepenuhnya, segera, dan dengan ringan hati. Artinya, ketaatan yang dilakukan dengan rasa jengkel, bantahan, dan sungut-sungut sama dengan ketidaktaatan. Kita harus memperhatikan kebenaran ini dalam setiap aspek ketaatan kita kepada Tuhan dan juga kepada otoritas di atas kita. Tanpa mengabaikan kenyataan bahwa ada banyak sumber kesulitan dan frustrasi yang mungkin menekan kita, entah itu rekan kerja, atasan, orang tua, pasangan, atau anak-anak kita, kita cenderung memperlihatkan keluhan dan keengganan dalam kepatuhan kita sehingga semua orang akan tahu dan melihat harga yang harus kita bayar dalam ketaatan tersebut. Jangan bertahan dengan sikap seperti ini, sekali pun atas perintah yang tidak masuk akal, lebih baik kita bertukar pikiran dan berdiskusi mencari solusi daripada bertahan sebagai pengeluh. Tanamkan dalam pikiran kita sebuah kebenaran sederhana, bahwa Tuhan menghendaki ketaatan yang sepenuhnya, segera, dan dengan ringan hati. Ia senang dengan seseorang yang memberi dengan sukacita (2 Korintus 9:7), seseorang yang memberi tumpangan dengan tidak bersungut-sungut (1 Petrus 4:9), dan yang berdoa dengan tidak munafik (Matius 6:5). (LS)

REFLEKSI DIRI 
1. Apa alasan paling sering yang membuat Anda menggerutu atau berbantahan dalam kepatuhan Anda?
2. Mengapa bersungut-sungut dalam ketaatan sama dengan ketidaktaatan?
YANG HARUS DILAKUKAN
Lakukan segala sesuatu dengan ringan hati.
POKOK DOA
Bapa, aku mohon ampun untuk segala bantahan, sungut-sungut, dan gerutuku dalam menjalankan setiap perintah-Mu. Aku mau belajar untuk melakukan dengan ringan hati, agar Engkau disenangkan. Di dalam nama Yesus. Amin.

HIKMAT HARI INI
Kepatuhan yang disertai sungut-sungut sama dengan ketidakpatuhan.
Share:

AGAR IBLIS LARI DARI PADAMU

Yakobus 4:7

The Pope's Exorcist adalah sebuah film yang diangkat dari kisah nyata Pastor Gabriele Amorth, seorang pengusir setan yang berpengalaman dan telah banyak melakukan praktik eksorsisme. Salah satu yang menjadi sorotan di sepanjang film ini adalah momen-momen ketika Pastor tersebut mengusir setan, di mana ia selalu berkata, “Rendahkanlah dirimu di bawah kuasa Allah” dan juga ucapan, “Dalam nama Tuhan Yesus, orang Nazaret.” Kalimat ini senada dengan kebenaran firman Tuhan yang disampaikan oleh Rasul Yakobus, “Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!” (Yakobus 4:7).
Tuhan Yesus Yesus sendiri menunjukkan bagaimana Iblis akhirnya mundur dari pada-Nya ketika Ia memilih untuk taat pada kebenaran firman Tuhan. Ketika dicobai oleh Iblis di padang gurun, yang Yesus lakukan adalah memperkatakan firman Tuhan dan bertindak seturut kebenaran tersebut. Bukan tak mungkin bagi Yesus untuk melakukan apa yang diminta oleh Iblis, tetapi Yesus memilih untuk tunduk dan taat kepada apa yang dikatakan oleh firman. Sampai tiga kali Yesus menolak untuk melakukan apa yang diminta oleh Iblis, sehingga Iblis pun mundur daripada-Nya dan menunggu waktu yang baik. Prinsip yang sama berlaku dalam kehidupan kita. Kita harus senantiasa menyadari bahwa Iblis terus bekerja seperti singa mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5:8). Iblis juga selalu berusaha untuk memperdaya kita dengan segala siasatnya, sebab Iblis adalah bapa dari segala pendusta (Yohanes 8:44). Tetapi kebenaran firman Tuhan telah memberikan arahan bagaimana agar Iblis lari daripada kita, yaitu melalui ketundukan kita kepada Tuhan. Kita telah diberikan senjata rohani, pedang Roh, yaitu firman Tuhan (Efesus 6:17). Kita juga tahu bahwa firman itu adalah Allah (Yohanes 1:1), dan firman itu telah menjadi Manusia (Yohanes 1:14). Melalui ketaatan kepada firman-Nya dan iman akan kuasa di dalam nama Tuhan Yesuslah, maka Iblis akan lari dari pada kita. Maka, tunduklah kepada Allah. [RS]
REFLEKSI DIRI 
1. Mengapa kita harus tunduk kepada Allah?
2. Bagaimana wujud dari ketundukan kita kepada Allah agar kita menang melawan godaan, siasat, dan serangan Iblis?
YANG HARUS DILAKUKAN
Isilah hati kita dengan firman Tuhan, percayalah dalam kuasa nama Tuhan Yesus, dan taatlah kepada firman-Nya.
POKOK DOA
Bapa, terima kasih Engkau memperlengkapiku dengan pedang rohani, yaitu firman-Mu. Tolong aku ya Roh Kudus untuk taat sepenuhnya kepada firman-Mu, sebab melalui ketundukan kepada-Mulah maka Iblis akan lari dari padaku. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin.

HIKMAT HARI INI
Ketundukan kepada Allah tampak melalui ketaatan kita terhadap firman-Nya.
Share:

“Kuatkanlah Hatimu”?

Zakharia 8:9-13

Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, ...
- Filipi 2:12

Entah berapa kali Tuhan memerintahkan “kuatkanlah hatimu”. Sesudah Tuhan menghukum orang-orang Israel yang mencobai-Nya ketika keluar dari Mesir dengan cara memutar-mutar mereka di padang gurun selama empat puluh tahun, Tuhan memberikan perintah ini sebelum mereka memasuki Tanah Perjanjian (Yos. 1:9). Kini, sesudah Tuhan menghukum umat-Nya di dalam pembuangan di Babel, Dia sekali lagi memberikan perintah ini ketika mereka baru saja kembali ke Tanah Perjanjian.
Meski terlihat sama dalam terjemahan LAI, di dalam bahasa aslinya perintah pada bagian ini agak berbeda. Perintah “kuatkanlah hatimu” dalam bahasa Ibrani berbunyi, “kuatkanlah tanganmu” (teḥĕzaqnāh yəḏêḵem). Jadi, bagian ini sebenarnya bukan membicarakan hati, tetapi membicarakan tangan. Apa maksudnya?
Dalam bagian ini, Tuhan berjanji bahwa Dia akan membawa pemulihan kepada umat-Nya. Tuhan akan memberi mereka damai sejahtera, melimpahi mereka dengan anugerah-Nya (ay. 12), dan yang paling penting menjadikan mereka berkat bagi segala bangsa (ay. 13). Jadi, secara logika manusia, apa yang mereka pikirkan dan akan lakukan? Ahh.. santai-santai saja lah. Toh, Tuhan sudah berjanji dan pasti akan menggenapinya. Jadi, nggak masalah kalau saya tidak melakukan apa-apa, bukan?
Ini adalah logika manusia. Seolah mengantisipasi pikiran ini, dua kali Tuhan mengingatkan mereka, “kuatkan tanganmu!” baik sesudah dan sebelum janji diberikan. Dengan kata lain, fakta bahwa Tuhan beranugerah tidak lantas menghilangkan mereka dari tanggung jawab!
Inilah sebabnya, meski kita telah diselamatkan oleh Tuhan Yesus, Rasul Paulus tetap mengingatkan, “Kerjakan keselamatanmu!” Memang kita diselamatkan oleh anugerah, bukan perbuatan, tetapi ini tidak seharusnya membuat kita malas. Kita harus bekerja dengan giat, bukan untuk memperoleh keselamatan, tetapi justru karena kita telah diselamatkan!
Apa yang telah kita kerjakan bagi-Nya? Yang paling minimal, apakah kita menjadi kutuk atau berkat bagi orang-orang di sekeliling kita (ay. 13)? Menjadi berkat bukan hanya sekedar melakukan kewajiban kita sesuai peran kita di dalam lingkungan sosial tertentu. Menjadi berkat berarti melakukan lebih dari kewajiban kita, guna melayani sesama kita. Dan tentu saja, untuk melayani membutuhkan tangan yang kuat.
Refleksi Diri:
Apakah kehidupan Anda sebagai orang Kristen membuat Anda makin rajin melakukan kebaikan atau justru makin malas?
Apa hal-hal yang telah Anda lakukan, yang melebihi kewajiban Anda, untuk melayani sesama?"
Share:

Diet vs Puasa

Zakharia 7:1-7
Hari itu harus menjadi sabat, hari perhentian penuh, bagimu dan kamu harus merendahkan diri dengan berpuasa. Itulah suatu ketetapan untuk selama-lamanya.

— Imamat 16:31
Seorang teman non-Kristen pernah bertanya kepada saya, “Kenapa kamu juga berpuasa? Kan tidak diwajibkan di agamamu?” Saya yang saat itu masih belum menjadi hamba Tuhan, menjawab setengah bercanda, “Sekalian diet.” Apa sebenarnya tujuan berpuasa? Di bagian ini, orang-orang Israel yang telah mendengar penglihatan-penglihatan Zakharia, bertanya kepada Tuhan, “Apakah kami perlu berpuasa untuk menunjukkan pertobatan kami?” Jawaban Tuhan pada ayat 5-7 bernada sarkastik sekali. Tuhan seolah bertanya balik, “Memangnya selama ini kamu benar-benar berpuasa?”

 Puasa bukanlah untuk mengurangi kalori, tetapi untuk merendahkan diri. Demikianlah yang dikehendaki Tuhan. Coba saja baca perintah Tuhan di dalam Imamat 16:29, 31; 

23:27, 29, 32 dan sebagainya. Frasa yang banyak digunakan pada ayat-ayat tersebut adalah “merendahkan diri dengan berpuasa”. Yang penting adalah sikap merendahkan diri di hadapan Tuhan. Puasa hanyalah ekspresi sikap tersebut.

 Namun kenyataannya, puasa yang selama ini dilakukan umat Tuhan hanyalah rutinitas rohani belaka. Tidak ada kesungguhan hati untuk bertobat. Apa bedanya dengan diet?

 Orang Kristen zaman Perjanjian Baru seperti kita memang tidak diwajibkan untuk berpuasa. Namun, esensinya tetap berlaku, yakni bahwa kita harus merendahkan diri di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya Imamat 16:31 mengatakan bahwa merendahkan diri adalah ketetapan untuk selama-lamanya.

 Malah, tuntutan kepada kita lebih tinggi. Meski tidak ada puasa wajib, Tuhan meng-hendaki kita agar senantiasa merendahkan diri di hadapan-Nya, tidak hanya satu kali se-tahun atau sebelum Perjamuan Kudus saja, tetapi setiap saat ketika kita memikirkan atau melakukan dosa. Sayangnya, seringkali kita sudah menyiapkan seribu satu alasan untuk berdalih di hadapan Tuhan. “Kenapa kamu marah kepada istrimu?” “Karena dia terlambat menyiapkan makan, padahal aku sudah lapar sehabis pulang kerja.” “Kenapa kamu mendiamkan suamimu?” “Karena dia lupa memperbaiki pipa ledeng.” Kita selalu bisa berdalih di hadapan Tuhan.

 Bagian ini tidak hanya mengajarkan tentang puasa, tetapi prinsip tentang merendahkan diri. Merendahkan diri berarti sadar bahwa dosa adalah dosa. Sudahlah, tidak perlu mencari seribu satu alasan seolah-olah Tuhan tidak tahu keadaan kita. Tuhan Yesus memang mengerti keadaan kita, tetapi ini tidak berarti Dia memberi lampu hijau untuk dosa.

Refleksi Diri:

• Cobalah menghitung dosa yang Anda lakukan dalam sehari. Bandingkan berapa kali Anda secara jujur merendahkan diri dan berapa kali Anda berdalih kepada Tuhan.

• Mana yang lebih banyak? Maukah Anda belajar merendahkan diri di hadapan Tuhan?"
Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.