Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Kemarahan Tak Terkendali

Ketika Yakub dan keluarganya menetap di tanah Sikhem, daerah Kanaan (Kejadian 33:18-19), terjadilah peristiwa nahas yang menimpa Dina. Dina, putri Yakub, diperkosa oleh Sikhem, anak Hemor orang Hewi, yang merupakan pangeran negeri itu (Kejadian 34:2). Perbuatan Sikhem adalah kejahatan besar yang melukai tidak hanya Dina, tetapi juga saudara-saudara kandungnya (Kejadian 34:7).

Saudara-saudara Dina, terutama Simeon dan Lewi, sangat marah atas perbuatan ini. Namun, kemarahan mereka dilampiaskan dengan cara yang keji. Mereka menipu Sikhem dan Hemor dengan menyuruh mereka dan semua laki-laki di kota itu untuk bersunat sebagai syarat pernikahan antara Sikhem dan Dina (Kejadian 34:13-17). Setelah laki-laki di kota itu dalam keadaan sakit karena sunat, Simeon dan Lewi menyerang kota tersebut dan membunuh semua laki-laki, termasuk Sikhem dan Hemor (Kejadian 34:25-26). Setelah itu, mereka menawan wanita dan anak-anak serta merampas harta benda kota tersebut (Kejadian 34:27-29).

Kemarahan saudara-saudara Dina adalah hal yang wajar, namun sayangnya, kemarahan itu dilampiaskan dengan cara yang salah. Mereka tidak hanya membalas Sikhem dan Hemor, tetapi juga melakukan kejahatan terhadap orang-orang yang tidak ada kaitannya dengan peristiwa tersebut. Tindakan mereka memperluas kejahatan dengan merampas harta milik orang lain dan menawan mereka yang tidak bersalah. Dosa yang satu membawa mereka kepada dosa yang lainnya, mengakibatkan kekacauan dan kekejian.

Kemarahan itu sendiri pada dasarnya bukanlah perasaan yang terlarang. Ketika kita melihat dosa dan ketidakadilan, tentu saja kita harus marah. Namun, tindakan apa yang kita pilih sebagai tindak lanjut dari kemarahan itu? Apakah kita memilih untuk menyimpan dendam dan melampiaskannya dengan menghalalkan segala cara? Atau, apakah kita memilih untuk menyerahkan sakit hati kita kepada Tuhan, satu-satunya Pribadi yang mampu menolong kita dan layak menghukum mereka yang berbuat jahat?

Berhati-hatilah dengan kemarahan kita, sebab jika tidak ditangani dengan benar, emosi akan membawa kita kepada dosa. Ketika kita mendapat perlakuan tidak adil atau disakiti oleh sesama kita, datanglah kepada Tuhan. Ungkapkanlah kemarahan kita dengan jujur di hadapan Tuhan dan percayalah bahwa Ia akan bertindak menyatakan kebenaran tepat pada waktunya.

Prinsip Mengelola Kemarahan

  1. Sadari Emosi Kita: Mengenali kemarahan adalah langkah pertama. Sadari bahwa kemarahan adalah reaksi alami terhadap ketidakadilan.

  2. Refleksi dan Doa: Gunakan waktu untuk merefleksikan perasaan kita dan berdoa. Serahkan kemarahan kita kepada Tuhan dan minta kebijaksanaan untuk menangani situasi dengan benar.

  3. Hindari Pembalasan: Pembalasan cenderung memperburuk situasi dan melibatkan orang-orang yang tidak bersalah. Biarkan Tuhan yang menghakimi dan menghukum.

  4. Cari Solusi yang Damai: Cari cara untuk menyelesaikan konflik dengan damai. Diskusikan masalah secara terbuka dan jujur, dan berusaha untuk memahami perspektif orang lain.

  5. Belajar Memaafkan: Memaafkan bukan berarti melupakan atau mengabaikan kejahatan, tetapi memilih untuk tidak membiarkan kemarahan menguasai kita. Pengampunan membawa kedamaian dan membebaskan kita dari beban emosi yang negatif.

Dengan mengelola kemarahan kita dengan bijak, kita dapat menghindari tindakan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Mari belajar dari kisah Yakub dan keluarganya untuk menyerahkan kemarahan kita kepada Tuhan dan mencari cara yang benar untuk menangani ketidakadilan.

Share:

Salah Sangka


Di dunia, sering kali kita menjalani prinsip yang bersifat retributif, dimana ada ungkapan "pembalasan lebih kejam daripada perbuatan". Prinsip ini mengandaikan bahwa setiap orang yang telah disakiti pasti akan melakukan pembalasan.

Ketakutan akan pembalasan inilah yang dihadapi Yakub sepanjang perjalanannya untuk bertemu Esau. Yakub takut akan reaksi Esau dan bahkan memecah rombongannya menjadi dua untuk mengurangi risiko kehancuran total jika Esau menyerang mereka.

Ketika Esau mendekat, Yakub masih berusaha melindungi orang-orang yang dikasihinya dengan memisahkan anak-anaknya bersama ibu mereka (Kejadian 33:1-2). Dia juga bersujud sampai ke tanah tujuh kali sebagai ungkapan merendahkan diri dan mencari belas kasihan Esau (Kejadian 33:3).

Namun, Yakub salah sangka. Esau, yang diduganya akan melakukan pembalasan, malah mendekap, memeluk, dan menciumnya (Kejadian 33:4). Esau bahkan merasa enggan menerima persembahan Yakub (Kejadian 33:9).

Kita tidak tahu secara pasti apa yang terjadi dalam hidup Esau yang membuatnya tidak lagi menginginkan pembalasan terhadap Yakub. Namun, yang pasti adalah Esau telah mengampuni dan menerima Yakub sepenuhnya sebagai adik kandungnya. Esau tidak mengungkit kesalahan masa lalu, malah menawarkan berbagai kebaikan kepada Yakub. Esau berhasil membuat Yakub salah sangka.

Pengampunan: Nilai Utama Kristen

Pengampunan adalah nilai utama dalam Kristen dan dasar dari relasi kita dengan Tuhan. Kita bisa hidup karena Tuhan mengampuni kita. Oleh karena itu, setiap orang Kristen juga mesti bersedia mengampuni.

Kadang kita merasa bahwa mengampuni itu sulit karena ingatan kita masih mengulang-ulang peristiwa atau perkataan yang menyakitkan. Kita tidak diminta untuk melupakan karena kita tidak menderita amnesia. Namun, kita diundang untuk menerima keberadaan orang yang telah menyakiti kita sebagai sesama yang setara dengan kita, yang patut kita kasihi, dan yang patut mendapatkan kesempatan untuk terus memperbaiki diri.

Mengampuni dan Menerima

Di dunia yang melazimkan pembalasan, mari kita membuat orang salah sangka dengan memberikan pengampunan dan penerimaan! Pengampunan bukan hanya tentang membebaskan orang lain dari kesalahan mereka, tetapi juga tentang membebaskan diri kita dari beban dendam dan sakit hati.

Dengan memberikan pengampunan, kita meneladani Esau yang mampu mengampuni dan menerima Yakub, serta meneladani Tuhan yang telah mengampuni kita. Pengampunan membawa damai dan kebahagiaan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Mari kita hidup dalam pengampunan, menjadi terang bagi dunia yang gelap oleh dendam dan kebencian, dan menunjukkan bahwa kasih dan pengampunan adalah jalan yang lebih baik.

Share:

Pujian Ibadah Minggu 14 Juli 2024

 

Share:

Pniel

Ketika dihadapkan dengan kegelisahan dan kekhawatiran, banyak dari kita mencari berbagai cara untuk menenangkan pikiran. Beberapa orang berbicara dengan teman dekat, sementara yang lain mencari hiburan atau kegiatan yang dapat memberikan kenyamanan sementara. Namun, cerita tentang Yakub memberikan perspektif yang berbeda tentang bagaimana kita dapat menghadapi kegelisahan kita.

Yakub dan Pniel: Sebuah Pergulatan dengan Tuhan

Yakub mengalami kegalauan luar biasa ketika mengetahui bahwa Esau, saudaranya yang ia tipu, datang dengan 400 orang. Ketakutan dan kecemasannya memuncak. Dalam situasi seperti itu, Yakub memilih untuk menyendiri. Dia mengatur agar keluarganya menyeberangi Sungai Yabok, tetapi dia sendiri kembali dan menghabiskan waktu sendirian (Kejadian 32:22-23). Mungkin dia ingin berdoa, berefleksi, atau hanya mencari ketenangan.

Namun, alih-alih mendapatkan ketenangan, Yakub justru bertemu dengan seorang laki-laki yang bergulat dengannya sepanjang malam. Belakangan diketahui bahwa laki-laki tersebut adalah Allah sendiri (Kejadian 32:28). Pergulatan ini tidak hanya fisik tetapi juga spiritual, dan pada akhirnya membawa berkat bagi Yakub. Yakub menamai tempat itu Pniel, yang berarti "wajah Allah", karena dia merasa telah melihat Allah dan tetap hidup (Kejadian 32:30).

Pelajaran dari Kisah Yakub:

  1. Mencari Ketenangan dengan Menyendiri: Yakub menunjukkan bahwa ada kalanya kita perlu menyendiri untuk menenangkan diri dan mencari jawaban. Dalam keheningan dan kesendirian, kita sering kali bisa lebih jernih dalam berpikir dan mendengar suara Tuhan.

  2. Menghadapi Pergulatan: Pergulatan Yakub dengan Allah menggambarkan bahwa kadang-kadang, dalam kegelapan dan ketidakpastian hidup, kita akan menghadapi pergulatan yang berat. Namun, justru melalui pergulatan inilah kita dapat menemukan berkat dan pengertian yang lebih dalam tentang rencana Tuhan.

  3. Melihat Wajah Allah di Tengah Pergulatan: Yakub menamai tempat itu Pniel karena dia merasa telah melihat wajah Allah. Ini menunjukkan bahwa dalam setiap pergulatan hidup, Tuhan ada bersama kita. Alih-alih fokus pada masalah, kita diajak untuk melihat kehadiran dan penyertaan Tuhan.

  4. Mengalihkan Fokus ke Tuhan: Ketika kita terjebak dalam kegalauan, mudah untuk terfokus pada masalah dan ketakutan kita. Yakub mengajarkan kita untuk mengalihkan fokus kita dari masalah kepada Tuhan yang selalu menyertai kita dan memberikan berkat-Nya.

Kisah Yakub di Pniel mengajarkan bahwa di tengah kegalauan dan pergulatan hidup, kita perlu mencari wajah Tuhan. Alih-alih mencari pelarian sementara, kita diajak untuk berdoa, berefleksi, dan menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Melalui pergulatan dan kesulitan, Tuhan bekerja untuk membentuk dan memberkati kita. Maka, marilah kita belajar untuk melihat wajah Tuhan dalam setiap pergumulan kita dan menemukan damai sejahtera yang hanya bisa diberikan oleh-Nya.

Share:

Nething

Prasangka buruk, atau dalam bahasa gaulnya disebut "nething", memang bisa merusak hubungan dan menimbulkan masalah yang seharusnya bisa dihindari. Kisah Yakub dan Esau merupakan contoh klasik tentang bagaimana prasangka buruk dapat memengaruhi tindakan dan keputusan seseorang.

Alasan Yakub Berprasangka Buruk:

  1. Kesalahan Masa Lalu: Yakub tahu bahwa dia telah berbuat salah kepada Esau dengan mencuri berkat kesulungan. Rasa bersalah dan ketakutan akan pembalasan membuatnya berprasangka buruk terhadap Esau.

  2. Informasi yang Tidak Jelas: Ketika utusannya melaporkan bahwa Esau datang dengan 400 orang, Yakub langsung mengira yang terburuk. Dia berpikir Esau datang untuk membalas dendam.

Dampak dari Prasangka Buruk Yakub:

  1. Ketakutan dan Kekhawatiran: Yakub merasa sangat takut dan khawatir, yang membuatnya mengambil langkah-langkah untuk melindungi dirinya dan keluarganya. Ia memecah rombongannya dan mengirim persembahan untuk melunakkan hati Esau.

  2. Tindakan Pencegahan yang Berlebihan: Yakub merasa perlu memecah rombongannya menjadi dua kelompok agar jika salah satu diserang, kelompok yang lain bisa selamat. Ini menunjukkan betapa besar ketakutan yang disebabkan oleh prasangka buruknya.

Pembelajaran dari Kisah Yakub:

  1. Prasangka Buruk Tidak Berdasar: Nething tidak hanya membuat kita khawatir tanpa alasan yang jelas, tetapi juga dapat memengaruhi hubungan kita dengan orang lain. Yakub tidak tahu pasti apa yang akan dilakukan Esau, tetapi prasangkanya yang buruk membuatnya mengambil tindakan yang berlebihan.

  2. Komunikasi yang Terbuka: Daripada berprasangka buruk, penting untuk membuka komunikasi dengan orang yang bersangkutan. Bertanya langsung atau mencari informasi dari sumber yang terpercaya bisa membantu mengklarifikasi situasi dan mengurangi ketakutan yang tidak perlu.

  3. Mencari Jalan Tengah: Jika kita menemukan bahwa prasangka kita benar, kita harus mencari cara untuk mengatasi situasi tersebut dengan bijaksana dan tanpa memperburuk hubungan. Jika tidak benar, kita harus mengubah cara pikir kita dan memperbaiki hubungan dengan orang tersebut.

Nething atau prasangka buruk bisa merusak hubungan dan menimbulkan kekhawatiran yang tidak perlu. Untuk menghindari hal ini, kita harus berusaha membuka komunikasi dan mencari kebenaran dari prasangka kita. Dengan demikian, kita bisa menentukan langkah yang bijak dan memperbaiki hubungan dengan orang lain. Tuhan mengajarkan kita untuk hidup dalam kasih dan pengertian, bukan dalam ketakutan dan prasangka buruk.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.