Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar

Pertobatan yang Radikal

Kata "radikal" sering kali diartikan secara negatif. Padahal, makna sebenarnya adalah sesuatu yang mengakar atau sampai ke akarnya. Dengan pemahaman ini, setiap anak Tuhan seharusnya memiliki cinta yang radikal terhadap Tuhan.

Rasul Paulus mengalami perjumpaan yang mendalam dengan Tuhan, dan hal ini memberikan dampak besar dalam hidupnya. Setelah disembuhkan oleh Tuhan melalui Ananias, dia segera memberitakan Yesus sebagai Anak Allah (20). Saulus pasti sudah menyadari konsekuensi dari tindakannya. Konsekuensi tersebut langsung dia rasakan, seperti ketika orang-orang Yahudi mulai mengincarnya dan berniat untuk membunuhnya (23). Di sisi lain, murid-murid Tuhan pun meragukannya dan tidak mempercayainya.

Namun, meskipun Saulus sangat menyadari risiko yang dihadapinya, dia dengan berani terus mengabarkan Injil Tuhan. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa Tuhan mampu mengubah hidup seseorang secara radikal. Saulus, yang sebelumnya 'radikal' dalam kebenciannya terhadap orang Kristen, kini berbalik secara radikal menjadi pengikut Tuhan. Hingga akhir hidupnya, Saulus melayani Tuhan dengan penuh kesetiaan. Melalui pelayanannya, Injil Tuhan menyebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia.

Pertobatan sejati pasti membawa perubahan. Kata "pertobatan" sendiri berarti berbalik, yakni berubah arah 180 derajat. Jika sebelumnya menghadap ke barat, kini kita beralih ke timur. Jika sebelumnya mengejar dosa dan dunia, kini kita berbalik mengejar Allah. Meskipun kita masih hidup di dunia dan bisa jatuh dalam pencobaan serta berbuat dosa, kita tetap harus mengingat bahwa kita adalah manusia berdosa. Namun, pertobatan adalah komitmen untuk tidak lagi menikmati dosa. Pertobatan membuat kita lebih sadar akan dosa, bahkan membenci dosa. Lebih dari itu, pertobatan seharusnya membawa kita untuk mencintai kehendak Allah dan melakukan pekerjaan-Nya.

Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan diri kita agar pertobatan yang kita jalani benar-benar menghasilkan perubahan. Perubahan tersebut meliputi: perubahan pikiran, perubahan perilaku, perubahan hati, dan perubahan perkataan.

Share:

Pujian Ibadah 01 September 2024

 

Share:

Mencari Penghiburan, Bukan Pembalasan

Meskipun kita tidak diberi tahu alasan spesifik Daud dalam menulis mazmur ini, aroma pengkhianatan terasa jelas.

Setelah menggambarkan secara umum ancaman yang menghimpit hatinya, Daud kemudian fokus pada seorang pengkhianat yang misterius. Nama orang ini tidak disebutkan, tetapi dia dulu adalah sahabat dekat dan orang kepercayaan Daud (14). Mereka sering beribadah bersama (15). Namun, tiba-tiba orang tersebut mengkhianati Daud secara diam-diam. Daud terluka oleh kata-kata orang itu yang penuh kemunafikan: lembut di luar namun mematikan di dalam (21-22).

Bagaimana reaksi Daud terhadap pengkhianatan ini? Sebagai seorang ahli strategi dan pahlawan perang, Daud sebenarnya bisa saja membalas dengan mudah. Namun, dia memilih untuk berseru kepada Allah, percaya bahwa Allah akan mendengarnya (17-18).

Daud mengajak kita untuk mengikuti teladannya. Jika kita dikhianati oleh seseorang yang dekat dengan kita, serahkanlah rasa marah dan kekhawatiran kita kepada Tuhan (23).

Secara alami, ketika kita disakiti oleh seseorang, respons kita adalah keinginan untuk membalas. Kita merasa ada dorongan untuk membalas, cepat atau lambat. Dunia mengajarkan bahwa "Balas dendam paling nikmat disajikan dingin." Namun, mazmur ini mengajarkan kepada kita pelajaran penting: ketika disakiti, musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri. Kita harus mengalahkan dorongan alami untuk membalas.

Ada kalanya pengkhianatan diizinkan oleh Allah agar kita dapat lebih memahami karya salib Kristus. Pikirkan ini: jika sepanjang hidup kita tidak pernah dikhianati oleh orang dekat, bagaimana kita bisa benar-benar memahami penderitaan Kristus? Dia, yang dikhianati oleh murid-Nya sendiri dengan sebuah ciuman, menyerahkan pengkhianat itu kepada Bapa-Nya. Dia tidak membalas.

Yang kita butuhkan ketika disakiti adalah penghiburan, bukan pembalasan. Berdoalah meminta penghiburan dari Allah. Dia, yang pernah dikhianati, memahami rasa sakit kita. Damai sejahtera dari Yesus Kristus menyertai Anda.

Share:

Beriman dengan Bersyukur

Mazmur ini merupakan refleksi mendalam tentang kepercayaan yang penuh harapan kepada Allah di tengah pengkhianatan dan bahaya yang nyata. Daud, yang dikhianati oleh orang-orang Zif—mereka yang berasal dari suku Yehuda, sama seperti dirinya—mengalami ancaman serius terhadap hidupnya. Meskipun dikepung oleh bahaya, Daud tidak menyerah pada keputusasaan. Sebaliknya, ia menaruh seluruh harapannya pada Allah.

Pengkhianatan dan Bahaya
Orang-orang Zif, yang sebenarnya adalah kerabat Daud, membocorkan keberadaan Daud kepada Raja Saul yang berusaha membunuhnya. Pengkhianatan ini sangat menyakitkan bagi Daud karena datang dari mereka yang seharusnya melindunginya. Namun, Daud tidak terjebak dalam kebencian atau rasa dendam. Ia malah menyamakan mereka dengan orang lalim yang tidak mengenal Allah.

Keyakinan dalam Allah
Di tengah bahaya yang mengancam nyawanya, Daud tidak memiliki strategi duniawi untuk menyelamatkan dirinya. Ia hanya bisa bersandar pada nama Allah dan keadilan-Nya. Dalam keadaan yang sangat genting, ketika hidupnya tergantung pada seutas benang, Daud tetap yakin bahwa Allah akan menolongnya. Iman ini tidak muncul setelah keselamatan datang, tetapi justru sebelum itu terjadi. Ini menunjukkan keyakinan yang luar biasa bahwa Allah akan bertindak sesuai dengan keadilan dan kasih setia-Nya.

Syukur Sebelum Pertolongan Tiba
Sikap Daud yang berjanji akan mempersembahkan kurban syukur bahkan sebelum keselamatan terjadi merupakan teladan iman yang luar biasa. Daud sudah bersyukur kepada Allah meskipun keselamatan itu belum tiba. Ini adalah bentuk iman yang sejati, di mana kita percaya pada kebaikan dan kuasa Allah bahkan sebelum kita melihat hasilnya.

Pelajaran bagi Kita
Mazmur ini mengajarkan kita untuk memiliki keberanian dan keyakinan yang sama dalam menghadapi masalah hidup kita. Ketika bisnis terancam, kesehatan memburuk, atau hubungan keluarga hancur, kita diajak untuk tetap beriman kepada Allah. Iman kita tidak seharusnya hanya untuk menghilangkan masalah, tetapi lebih dari itu, iman adalah kepercayaan bahwa Allah akan membawa kita melewati setiap kesulitan, dan kita akan kembali mempersembahkan syukur kepada-Nya.

Jadi, dalam setiap kesulitan, ingatlah untuk tetap beriman dan bersyukur, percaya bahwa Allah akan melepaskan kita dari kesesakan dan membawa kita pada kemenangan yang telah Dia janjikan.

Share:

Umat Tuhan di Dunia yang Bejat

Bacaan hari ini memiliki banyak kesamaan dengan Mazmur 14, dengan perbedaan terletak pada ayat 6. Daud memulainya dengan hamartiologi (studi Alkitab tentang dosa). Ia menggambarkan kondisi berdosa dari seluruh umat manusia. "Semua," katanya, "telah menyimpang" dan "rusak" (4). Mereka menolak keberadaan Allah atau berharap Dia tidak ada (2; Mzm. 14:1).

Meskipun mungkin terdengar seperti tuduhan yang berlebihan, Daud menunjukkan bahwa Allah sendiri yang memberikan bukti tersebut. Dari surga, Allah melihat dan menemukan bahwa tidak ada seorang pun yang benar-benar baik (3-4; Mzm. 14:2-3). Kemudian, Paulus menegaskan kebenaran ini dalam Roma 3:10-12.

Menariknya, meskipun dunia dipenuhi oleh orang-orang yang berdosa, Allah menganggap sebagian dari mereka sebagai umat-Nya (5; Mzm. 14:4). Ini secara tersirat menunjukkan bahwa mereka menjadi umat-Nya karena Allah telah membenarkan mereka karena kasih-Nya. Sayangnya, selama mereka masih hidup di dunia, mereka terus-menerus mengalami penindasan dari orang-orang yang bukan umat Allah.

Kabar baiknya adalah bahwa Allah pasti akan membela umat-Nya. Dia berjanji untuk membuat musuh-musuh mereka, yang juga adalah musuh-Nya, merasa takut dan malu (6; Mzm. 14:5-6). Janji ini adalah dasar dari pengharapan dan sukacita kita (7; Mzm. 14:7).

Apakah Anda benar-benar percaya pada janji ini? Anda seharusnya demikian, karena janji Allah adalah berita yang logis. Jika Allah berkenan mengangkat kita sebagai umat-Nya, meskipun sebelumnya kita adalah manusia berdosa, Dia tentu tidak akan membiarkan kita terus-menerus ditindas oleh orang-orang dunia yang berdosa. Atau, dalam kata-kata Rasul Paulus, "Dia yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimana mungkin Dia tidak akan mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-Nya?" (Rm. 8:32)

Kita seharusnya bersyukur karena Allah telah mengangkat kita menjadi umat-Nya. Sertakan rasa syukur ini dalam doa kita hari ini. Katakanlah: "Terima kasih, Tuhan, Engkau memelihara umat-Mu di tengah dunia yang rusak."

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.