Mengeras, Lalu Pecah
Diperbudak oleh Nafsu Memperbudak
Keluaran 9:1-7
Setiap orang adalah budak dari sesuatu, termasuk Firaun, raja Mesir. Kali ini, TUHAN, Allah orang Ibrani, memberikan ultimatum kepada Firaun: "Lepaskan atau rasakan akibatnya!" Firaun harus melepaskan bangsa Israel; jika tidak, seluruh Mesir akan menerima hukuman dari Allah.
Konsekuensi jika ultimatum itu diabaikan adalah munculnya penyakit sampar yang akan memusnahkan jutaan ternak bangsa Mesir secara serentak (2-3). Firaun tidak diberi banyak waktu untuk berpikir atau berdiskusi dengan para menterinya. Ia hanya punya waktu sampai esok hari (5).
Seperti sebelumnya, Firaun tetap memilih untuk memperbudak bangsa Israel. Ia ingin mempertahankan kekuasaannya atas para budak, namun akibatnya, seluruh rakyat Mesir harus menderita. Mereka kehilangan jutaan ternak yang sangat penting sebagai sumber mata pencaharian dan pangan hewani. Firaun lebih peduli pada egonya daripada kesejahteraan rakyatnya.
Pernyataan "setiap orang rentan diperbudak oleh sesuatu" terbukti benar. Ada yang diperbudak oleh keinginan, ketakutan, kenikmatan, hobi, kehormatan, hubungan, kekuasaan, uang, masa lalu, dan lain-lain. Dalam cerita ini, Firaun diperbudak oleh hasrat untuk memperbudak orang lain. Hasrat itu membuatnya menjadi budak kekuasaan. Setiap orang yang diperbudak pasti mengalami penderitaan.
Tanyakanlah pada diri kita masing-masing: Apakah saya seorang pemimpin atau budak? Apakah saya merdeka atau hamba? Apakah saya dikuasai oleh keinginan untuk mengendalikan orang lain? Dapatkah saya lepas dari perbudakan ini?
Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus menyampaikan tekad yang serupa dalam tulisannya, "... aku tidak mau membiarkan diriku diperhamba oleh apa pun" (lihat 1Kor. 6:12). Sebagai pemimpin jemaat mula-mula, Paulus selalu memikirkan dan berusaha untuk yang terbaik bagi jemaat. Semoga kita juga bisa menerapkan tekad yang sama dalam kehidupan kita.
Perlindungan Khusus terhadap Umat
Keluaran 8:20-32
Bencana bisa terjadi di mana saja dan dapat menimpa siapa saja, termasuk umat Allah. Namun, Allah bisa membuat pengecualian agar umat-Nya terlindungi dari bencana.
Mulai dari tulah keempat, berupa lalat pikat, Allah menunjukkan sesuatu yang berbeda. "Tetapi, pada hari itu Aku akan mengecualikan tanah Gosyen, tempat umat-Ku tinggal, sehingga di sana tidak terdapat lalat pikat, supaya engkau mengetahui bahwa Aku, TUHAN, ada di negeri ini. Sebab, Aku akan membuat perbedaan antara umat-Ku dan bangsamu. Besok mukjizat ini akan terjadi" (22-23). Tuhan kemudian melakukan seperti yang telah Ia firmankan; banyak lalat pikat masuk ke dalam istana Firaun, ke rumah para pejabatnya, dan ke seluruh tanah Mesir (24).
Baru pada tulah keempat ini, umat Israel yang tinggal di Gosyen tidak terkena dampaknya. Tuhan melakukannya untuk menunjukkan bahwa Ia hadir di Mesir. Dengan ini, Tuhan menunjukkan perbedaan antara umat-Nya dan bangsa Mesir.
Kita melihat bahwa Allah sengaja memperlihatkan perbedaan dalam pemeliharaan-Nya bagi umat-Nya dan mereka yang bukan umat-Nya. Hal ini sering kita temukan dalam Alkitab. Misalnya, aturan mengenai pembebasan budak Ibrani pada tahun ketujuh (lihat Kel. 21:2) hanya berlaku untuk budak Ibrani, yang merupakan umat Allah. Jelaslah bahwa Allah memberikan perlindungan khusus kepada umat-Nya.
Mungkin kita tidak selalu bisa melihat perbedaan perlindungan Allah bagi orang percaya dan mereka yang tidak percaya. Namun, sebagaimana umat Allah di Gosyen dilindungi, kita dapat mempercayai bahwa Allah melindungi kita sebagai umat-Nya, dengan perlindungan yang khusus dibanding mereka yang bukan umat-Nya. Perlindungan ini diberikan semata-mata karena kita adalah milik Allah.
Bersyukurlah atas perlindungan khusus yang Allah berikan kepada umat-Nya. Kiranya, kita semakin menyadari betapa berbahagianya kita menjadi umat yang dimiliki oleh Allah.
Hukuman Berkali Lipat
Keluaran 8:16-19
Ketika Allah memberikan hukuman dan manusia tetap tidak mau bertobat, biasanya Allah akan memberikan hukuman yang lebih berat. Prinsip ini juga terlihat dalam sepuluh tulah yang terjadi di Mesir.
Berbeda dengan tulah pertama dan kedua, tulah ketiga diberikan tanpa peringatan. Mungkin TUHAN tidak memberikan peringatan ini sebagai balasan atas Firaun yang telah melanggar janjinya (lihat 8:15). TUHAN langsung menyuruh Musa agar Harun mengulurkan dan memukulkan tongkatnya ke debu tanah, sehingga debu itu berubah menjadi nyamuk di seluruh tanah Mesir (16). Debu yang dahulu digunakan untuk membentuk manusia (lihat Kej. 2:7), kini digunakan sebagai alat tulah. Para ahli sihir Mesir berusaha melakukan hal serupa untuk menciptakan nyamuk, tetapi mereka tidak berhasil (18). Kemudian mereka berkata kepada Firaun: "Ini adalah perbuatan tangan ilahi!" (19).
Dalam hal ini, kita melihat peningkatan dalam kedahsyatan tulah yang TUHAN kirimkan. Jika pada tulah pertama dan kedua para ahli sihir Mesir bisa meniru menggunakan mantra mereka, kini mereka tidak mampu. Mereka menyadari bahwa ini bukanlah hasil dari mantra, melainkan perbuatan ilahi. Pada tulah-tulah berikutnya, kedahsyatan semakin meningkat.
Alkitab menunjukkan bahwa saat Allah memberi hukuman dan manusia tidak mau bertobat, Allah akan meningkatkan hukumannya. Hal ini juga berlaku bagi umat-Nya. Dalam kitab Imamat, kita membaca bahwa jika umat terus mengabaikan peringatan dan tidak bertobat, Allah akan menghajar mereka dengan lebih keras hingga tujuh kali lipat, dan peringatan ini disebutkan empat kali (lihat Im. 26:18, 21, 24, 28).
Allah memberikan hukuman sebagai panggilan untuk bertobat. Jadi, jika kita mendapat hukuman, segeralah bertobat! Jangan sampai hukuman menjadi lebih berat karena kita bersikeras seperti Firaun.
Melalui kasih-Nya, Allah menghukum kita yang berdosa. Semoga kita memiliki hati yang siap untuk bertobat dan berusaha menaati Allah.











