Taat Saja, Itu Cukup!
Ketaatan adalah wujud nyata iman. Sebaliknya, ketidaktaatan sering kali lahir dari hati yang ragu atau tidak percaya sepenuhnya kepada Tuhan.
Dalam Yosua 11, tantangan yang dihadapi Israel jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Yabin, raja Hazor, menggalang kekuatan dari banyak raja di wilayah utara. Pasukan mereka digambarkan “sebanyak pasir di tepi laut” dengan kuda dan kereta perang yang sangat banyak (ay.1–5). Secara militer, ini ancaman yang menakutkan.
Namun Tuhan kembali berfirman, “Janganlah takut kepada mereka…” (ay.6). Janji penyertaan dan kemenangan kembali ditegaskan.
Apa respons Yosua? Ia taat.
Ia tidak menawar perintah Tuhan. Ia tidak mencari strategi alternatif yang lebih “aman”. Ia melakukan tepat seperti yang diperintahkan TUHAN (ay.9). Bahkan dicatat bahwa ia melakukan semuanya seperti yang telah diperintahkan TUHAN kepada Musa (ay.12, 15). Tidak dikurangi, tidak ditambah.
Di sinilah letak kekuatan Yosua: bukan pada kecakapannya sebagai panglima, tetapi pada ketaatannya sebagai hamba Tuhan.
Sering kali kita merasa taat ketika keadaan mendukung. Namun ketaatan sejati justru terlihat ketika situasi terasa mustahil. Ketika lawan tampak lebih besar. Ketika sumber daya terbatas. Ketika hasil belum terlihat.
Yosua menunjukkan bahwa firman Tuhan cukup menjadi pegangan. Janji Tuhan cukup menjadi dasar keberanian. Ia tidak perlu melihat seluruh peta kemenangan; ia hanya perlu melangkah dalam ketaatan.
Dalam hidup, banyak hal tidak bisa kita kendalikan:
-
Kita tidak bisa mengontrol tindakan orang lain.
-
Kita tidak selalu memahami alasan di balik situasi sulit.
-
Kita tidak selalu memiliki semua fakta.
Tetapi satu hal yang bisa kita kendalikan adalah respons kita: apakah kita akan taat atau tidak.
Ketaatan mungkin tampak sederhana. Bahkan terkadang terasa “hanya itu-itu saja.” Namun justru di situlah letak kedewasaan iman. Taat saja. Itu cukup.
Karena pada akhirnya, kemenangan bukan hasil kepintaran kita, melainkan karya Tuhan bagi mereka yang setia melakukan kehendak-Nya.
Doa
Tuhan, ajarku untuk taat bukan karena keadaan mendukung, tetapi karena aku percaya kepada-Mu. Ketika tantangan terasa besar, kuatkan aku untuk tetap berpegang pada firman-Mu. Biarlah hidupku ditandai oleh ketaatan yang setia. Amin.












