Sujud dan teridma kasih
KITA DIPILIH TERIMALAH KEMULIAAN DAN HORMAT KAMI Kuberserah Penuh [Verse] Dalamnya Kasih-Mu Bapa
|
Kesaksian remaja GKKK Tepas
gkkktepas.blogspot.com
gkkktepas.blogspot.com
Ibadah umum jemaat GKKK Tepas
gkkktepas.blogspot.com
KITA DIPILIH TERIMALAH KEMULIAAN DAN HORMAT KAMI Kuberserah Penuh [Verse] Dalamnya Kasih-Mu Bapa
|
Saat kita memiliki barang berharga, kita melindunginya sebaik mungkin. Rumah dipasangi alarm dan dijaga satpam. Gawai baru diberi pelindung agar tidak rusak jika terjatuh. Kendaraan diasuransikan. Semua itu adalah bentuk antisipasi — upaya menjaga sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
Namun, jika barang berharga saja kita jaga sedemikian rupa, bagaimana dengan hidup kita sendiri? Apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga hati dan menantikan kedatangan Tuhan? Bukankah hidup kita jauh lebih berharga dari segala harta duniawi?
Hari Tuhan pasti akan datang. Banyak orang mencoba menebak-nebak kapan waktunya, tetapi Yesus dengan jelas mengatakan bahwa tak seorang pun tahu hari atau jamnya. Daripada sibuk berspekulasi, Yesus mengajar kita untuk berjaga-jaga dan berdoa.
Berjaga-jaga berarti hidup dengan kesadaran penuh bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk menyenangkan hati Tuhan. Kita diajak untuk waspada terhadap hal-hal yang dapat menumpulkan kepekaan rohani: pesta pora, kemabukan, dan kepentingan duniawi yang bisa menjerat hati (ayat 34).
Namun, Yesus tidak hanya berkata “berjagalah”, tetapi menambahkan, “berjagalah sambil berdoa.” Doa membuat kita kuat melawan godaan, memberi ketenangan di tengah badai kehidupan, dan menolong kita tetap fokus pada kehendak Tuhan. Doa bukan sekadar kata-kata, melainkan napas iman — bukti bahwa kita bergantung penuh pada Allah.
Yesus sendiri menjadi teladan. Ia mengajar di Bait Allah setiap hari, dan malam harinya berdoa di Bukit Zaitun (ayat 37). Teladan ini menunjukkan keseimbangan hidup antara pelayanan aktif dan persekutuan pribadi dengan Bapa. Ia tidak hanya berbicara tentang berjaga-jaga, tetapi melakukannya dengan nyata.
Seorang penjaga mercusuar bertugas memastikan lampu pandu tetap menyala di malam hari. Ia tidak bisa tidur sembarangan, karena jika lampu padam, kapal-kapal bisa karam. Begitu juga dengan kita — Tuhan mempercayakan “mercusuar” kehidupan kepada kita. Iman, doa, dan ketaatan adalah cahaya yang harus terus menyala agar dunia melihat Kristus melalui hidup kita.
Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk selalu berjaga-jaga dan tidak terlena oleh kenyamanan dunia. Jadikan doa dan firman-Mu pelita bagi langkah kami. Ketika hati kami mulai lelah atau goyah, kuatkan kami untuk tetap setia dan peka terhadap kehendak-Mu.
Kiranya hidup kami memancarkan terang-Mu, agar banyak orang mengenal kasih dan kebenaran-Mu.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.
Amin.
Hal yang sama berlaku untuk janji kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali. Tak ada seorang pun yang tahu waktunya, bahkan para malaikat pun tidak. Namun, Yesus menegaskan bahwa waktu itu pasti akan datang. Karena itu, Ia mengingatkan kita untuk selalu hidup dalam kesiapan rohani. Ia menunjukkan tanda-tanda akhir zaman dan memberikan pengharapan bahwa penyelamatan kita sudah dekat (ayat 28).
Kesiapan rohani bukan berarti kita hanya menunggu tanpa melakukan apa pun. Sebaliknya, itu berarti hidup dengan hati yang waspada setiap hari. Kita harus menjaga diri agar tidak terjebak dalam godaan dunia yang dapat melemahkan iman. Dunia menawarkan kesenangan, kenyamanan, dan kenikmatan sesaat — hal-hal yang bisa membuat kita lupa pada Tuhan dan lalai akan panggilan kekal kita.
Yesus menasihati kita untuk tetap berdoa dan berjaga-jaga. Doa adalah nafas iman yang menjaga kita tetap kuat. Melalui doa, kita mendapat hikmat untuk mengambil keputusan yang benar dan kekuatan untuk melawan godaan. Tanpa doa, kita mudah terseret oleh arus dunia dan kehilangan arah rohani.
Firman Tuhan adalah pelita bagi jalan hidup kita. Dunia bisa berubah, tetapi firman Tuhan tidak akan berlalu (ayat 33). Karena itu, jadikan firman sebagai dasar setiap langkah hidup. Dengan begitu, kita tidak akan mudah goyah sekalipun dunia di sekitar kita penuh keguncangan.
Bayangkan seorang pengemudi mobil yang berkendara di malam hari. Ia tahu bahwa di depan mungkin ada jalan berlubang atau tanjakan curam, tapi ia tetap melaju dengan penuh kewaspadaan. Ia menyalakan lampu utama agar jalannya terang dan tetap fokus memegang kemudi.
Begitu juga dengan kehidupan rohani kita. Firman Tuhan adalah cahaya yang menerangi jalan kita di tengah kegelapan dunia. Selama kita terus berjaga dan berdoa, Tuhan akan menuntun langkah kita sampai tujuan akhir — keselamatan kekal bersama-Nya.
Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk selalu berjaga-jaga dan tidak terlena oleh kesenangan dunia. Berilah kami kekuatan untuk hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada-Mu setiap hari. Jadikan hati kami peka terhadap kehendak-Mu dan teguhkan iman kami agar tetap berdiri kokoh sampai Engkau datang kembali.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa.
Amin.
Yerusalem — kota yang dahulu menjadi kebanggaan umat Israel dan simbol kehadiran Allah — pada akhirnya harus mengalami kehancuran. Yesus menubuatkan masa sulit itu sebagai konsekuensi dari ketidaktaatan umat-Nya. Kota yang dulu menjadi pusat penyembahan kini berubah menjadi tempat penderitaan dan tangisan.
Namun, di balik nubuat tentang kehancuran itu, Yesus tidak meninggalkan umat-Nya tanpa pengharapan. Ia mengingatkan mereka untuk tetap waspada, peka terhadap tanda-tanda zaman, dan menaati firman Tuhan. “Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat” (ayat 20). Mereka yang mendengar dan menaati peringatan itu diminta segera bertindak — meninggalkan kota dan mencari perlindungan.
Ketaatan pada firman Tuhan menjadi kunci penyelamatan. Dalam situasi krisis, tindakan yang cepat dan tepat sering kali hanya dapat dilakukan oleh mereka yang benar-benar peka terhadap suara Tuhan. Tuhan tidak pernah membiarkan umat-Nya tanpa arah. Ia selalu memberi jalan keluar bagi mereka yang bersandar kepada-Nya.
Pesan ini juga berlaku bagi kita saat ini. Dunia yang kita tinggali penuh dengan tantangan dan gejolak: bencana alam, penyakit, tekanan hidup, bahkan kekerasan dan ketidakadilan. Semua itu mudah membuat kita takut, putus asa, atau merasa ditinggalkan Tuhan. Namun, Yesus mengingatkan kita untuk tetap teguh. Ia hadir di tengah badai kehidupan kita.
Ketika kita setia dan berpegang pada firman Tuhan, kita sedang membangun kehidupan di atas dasar yang kokoh. Dunia mungkin berubah, tetapi kasih dan kuasa Tuhan tidak pernah goyah. Ia menuntun langkah kita dengan hikmat-Nya. Dalam setiap air mata, kesedihan, dan perjuangan, Tuhan bekerja untuk kebaikan kita.
Karena itu, jangan biarkan ketakutan menguasai hati kita. Jangan berpaling dari Tuhan hanya karena keadaan tidak sesuai harapan. Justru di saat gelap, iman kita diuji dan dimurnikan. Biarlah setiap kesulitan menjadi kesempatan untuk belajar percaya lebih dalam dan bersandar lebih erat kepada Tuhan.
Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, banyak hal dapat menggoyahkan iman kita. Berita tentang peperangan, bencana, dan kekacauan membuat hati resah. Tak jarang muncul pula orang-orang yang membawa ajaran menyesatkan sambil mengatasnamakan Tuhan. Semua ini bisa membuat kita bertanya-tanya: apa yang sedang terjadi dengan dunia ini?
Murid-murid Yesus pun memiliki kegelisahan yang sama. Mereka bertanya, “Guru, kapan semua itu akan terjadi? Apa tandanya, apabila itu akan terjadi?” (ayat 7). Pertanyaan itu lahir dari rasa takut akan masa depan — rasa takut yang juga sering kita alami saat melihat dunia yang kian tidak menentu.
Namun, Yesus tidak memberi mereka waktu pasti atau jawaban tentang “kapan”. Sebaliknya, Ia menegaskan, “Waspadalah, jangan kamu disesatkan!” (ayat 8). Yesus tahu, bahaya terbesar bukanlah peperangan, bukan bencana, melainkan hati yang kehilangan arah dan iman yang goyah.
Bertahan dalam iman tidak berarti kita bebas dari rasa takut atau kekhawatiran. Namun, Yesus mengajak kita untuk menatap lebih dalam — kepada Dia yang memegang kendali. Saat dunia tampak goyah, Yesus tetap setia. Ia berjanji, bahkan “sehelai rambut pun tidak akan hilang” tanpa seizin Bapa (ayat 18).
Iman yang teguh tidak diukur dari seberapa besar kita bisa menolak penderitaan, tetapi dari seberapa kuat kita tetap percaya di tengah badai kehidupan. Ketika kita tetap berdoa, tetap mengasihi, dan tetap setia meski keadaan sulit, sesungguhnya kita sedang menyatakan kuasa Allah dalam hidup kita.
Mari kita belajar meneladani Yesus yang bertahan dalam penderitaan dan tetap taat sampai akhir. Percayalah, setiap kesulitan yang kita hadapi bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita, tetapi kesempatan agar iman kita bertumbuh makin dewasa dan berakar kuat di dalam Dia.
Tuhan Yesus, di tengah dunia yang penuh ketidakpastian ini, kuatkanlah iman kami. Ajari kami untuk tetap percaya, meski keadaan tidak menentu. Kami ingin belajar berserah sepenuhnya kepada-Mu, sebab kami tahu Engkau memegang kendali atas hidup kami. Jadikan kami saksi kasih dan keteguhan iman-Mu di mana pun kami berada.
Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.