Gereja Kristen Kalam Kudus Tepas Kesamben Blitar: refleksi hidup
Tampilkan postingan dengan label refleksi hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi hidup. Tampilkan semua postingan

Renungan Harian " Pencatatan yang Jujur "

Catatan jujur tentang Yerusalem yang belum ditaklukkan suku Yehuda
 

Pencatatan yang Jujur

Yosua 15:20–63

Ketika seseorang menceritakan keberhasilannya, biasanya yang ditonjolkan adalah hal-hal gemilang. Kemenangan diperbesar, kelemahan diperkecil, bahkan kegagalan dihapus dari cerita.

Namun Alkitab berbeda.

Dalam daftar panjang kota-kota milik suku Yehuda (ay.20–62), dicatat dengan rinci begitu banyak wilayah yang telah mereka kuasai—lebih dari seratus kota. Tetapi pada bagian akhir, dicatat juga sebuah fakta yang mungkin terasa “mengganggu”: orang Yebus masih tinggal di Yerusalem dan belum dihalau (ay.63).

Bayangkan, dari lebih 100 kota, hanya satu yang belum dikuasai. Secara persentase, itu sangat kecil. Bisa saja tidak dicatat, dan orang mungkin tidak akan mempermasalahkannya. Namun firman Tuhan tetap menuliskannya.

Mengapa?

Karena Alkitab tidak hanya mencatat keberhasilan, tetapi juga kekurangan. Kejujuran ini menunjukkan bahwa sejarah umat Tuhan bukan kisah sempurna tanpa cela, melainkan perjalanan nyata yang berisi kemenangan dan kegagalan.

Kejujuran seperti ini adalah tanda kedewasaan.

Dalam hidup kita pun demikian. Kita mudah membagikan keberhasilan—promosi kerja, pelayanan yang berhasil, keluarga yang diberkati. Namun bagaimana dengan kegagalan? Kesalahan? Kelemahan?

Sering kali kita ingin menutupinya.

Padahal, justru dengan jujur mengakui kelemahan, kita sedang memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Kegagalan bukanlah aib yang harus disembunyikan. Ia adalah bagian dari proses pembentukan.

Kekuatan membentuk kita.
Tetapi kelemahan juga membentuk kita.
Keberhasilan menguatkan iman.
Namun kegagalan mengajarkan kerendahan hati dan ketergantungan pada Tuhan.

Mencatat hidup dengan jujur—baik dalam tulisan, refleksi pribadi, maupun pengakuan di hadapan Tuhan—menolong kita melihat diri secara utuh. Kita belajar bersyukur atas kemenangan dan sekaligus belajar bertobat serta bertumbuh dari kekurangan.

Yerusalem yang belum ditaklukkan itu menjadi pengingat bahwa pekerjaan Tuhan dalam hidup umat-Nya masih berlanjut. Masih ada wilayah yang perlu ditundukkan. Masih ada proses yang harus dijalani.

Kiranya kita berani hidup dengan kejujuran. Tidak melebih-lebihkan keberhasilan, tidak menyembunyikan kegagalan. Sebab dari situlah kita belajar menghargai anugerah Tuhan yang bekerja dalam seluruh perjalanan hidup kita.

Doa

Tuhan, ajarku hidup dengan jujur di hadapan-Mu. Tolong aku bersyukur atas keberhasilan dan rendah hati mengakui kelemahanku. Bentuklah aku melalui setiap pengalaman hidup, supaya aku semakin dewasa dalam iman. Amin.

Share:

Categories

Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.